Nafkah Batin Suamiku

Nafkah Batin Suamiku
bab 26


__ADS_3

"Tenang aja, Kayla nggak akan tau."


Jantung Kayla berdetak sangat cepat tubuhnya juga tiba-tiba terasa sangat lemas saat ia tak sengaja mendengar suara Avan yang sedang menghubungi seseorang di seberang sana. Pagi itu Kayla mencari suaminya untuk sarapan. Ia akhirnya berhasil menemukan sosok yang dia cari di halaman belakang, tak jauh dari tempat biasa kayla menjemur pakaian. Sayang, saat Kayla membuka mulut hendak memanggil, ia justru mendengar kalimat yang membuat kecurigaan nya bertambah.


"Jangan bilang mas Avan selingkuh," gumam Kayla lirih memegangi lututnya yang terasa lemas. Istri Avan itu bahkan sampai hampir limbung di buatnya."Dia bicara dengan siapa? Kenapa aku gak boleh tau?"


Kayla terus bergumam menyuarakan pikirannya. Ia terkejut saat Avan tiba-tiba mendekat seusai menelpon.


"Ila, kamu kenapa?" Tanya Avan dengan wajah cemas dan khawatir melihat Kayla gemetar memegangi lututnya.


Kayla menatap wajah suaminya, ia sangat ingin bertanya, tapi bagaimana jika nantinya Avan berbohong. Ia sangat takut jika benar Avan ternyata berselingkuh. Ia belum siap menerima kenyataan itu.


"Ila, kamu pucat, kamu sakit? Bisa jalan nggak? Kamu ngapain di sini? Mas gendong ya?" Kalimat tanya bernada khawatir itu sedikit membuat Kayla bimbang, apa mungkin pria yang terlihat sangat perduli dan mengkhawatirkan nya itu akan tega mengkhianati dirinya?


Tanpa menunggu jawaban dari Kayla yang terus bungkam, Avan langsung mengangkat tubuh istrinya dan membawanya ke kamar. Membaringkan tubuh itu di atas tempat tidur dengan sangat hati-hati.


"Apa yang kamu rasain, La? Apa yang sakit?"


Kayla masih menatap Avan dengan perasaan yang tak menentu. Kenapa kelakuan Avan akhir-akhir ini terus membuat dirinya curiga. Mulai dari sering tertangkap basah membalas pesan sampai percakapan telepon yang baru saja Kayla dengan pagi ini. Tapi, semua sikap manis Avan pada nya sama sekali tak berubah. Avan masih tetap menjadikan diri nya seperti ratu.


"Ila?"


"Aku nggak apa-apa, mas. Cuma sedikit sedikit lemas." Jawab Kayla asal. Tapi, tadi ia memang lemas karena mendengar percayakan Avan. Jadi dia tidak bohong.


"Lemas? Jangan-jangan kamu anemia?"


"Mungkin juga, atau..." Kayla menggantung kalimatnya, dan perutnya berbunyi di tengah keheningan itu.


"Lapar?"


Kayla tersenyum kecil mendengar tebakan Avan. Ia hanya ingin memancing Avan untuk sedikit membuka apa yang pria itu rahasiakan. Tapi perut Kayla justru berbunyi, sampai membuat Avan berpikir Kayla hanya lapar.


Avan terkikik, dan di ikuti oleh suara kikikan Kayla. Hingga mereka tertawa untuk waktu yang cukup lama. Pria berambut gondrong itu tiba-tiba mendekatkan wajahnya, lalu mencium bibir Kayla. Bibir yang bertaut, dan lidah yang saling merasa. Wajah Avan bergeser dan tengelam di leher Kayla. Memberi sensasi geli saat bibir Avan menyentuh kulitnya.

__ADS_1


"Mass, aku masuk pagi..."


"Oo iya, lupa." Avan tersenyum menatap wajah Kayla yang semakin merona. Senyum malu karena menginginkannya di waktu yang tidak tepat. Avan berdiri dan menarik tangan Kayla agar bangun."Ayo sarapan."


Kayla dan Avan sudah duduk di meja makan. Pria itu memandang menu sarapan pagi kali ini. SOP ikan patin, tempe goreng dan sambal. Kayla mengambil piring untuk Avan, mengisinya dengan dua centong nasi lalu menuang SOP Ika patin, menambah dua potong tempe goreng dan tak terlewatkan sambal nya.


"Maaf ya mas, ila cuma sempat masak ini." Ucap Kayla sambil meletakkan piring Avan.


"Nggak papa, La."


"Nggak sempet tadi, mas, mau bikin-bikin yang lain." Sambung Kayla lagi, kini giliran dia mengisi piring miliknya dengan nasi dan lauknya.


"Nggak papa, La. Maaf ya, mas nggak bantuin kamu. Nanti sore, biar mas yang masak yang siapin semuanya." Janji Avan.


Sudut bibir Kayla terangkat ke atas membentuk lekukan senyuman. "Mas, ila bawa motor sendiri ya,"


"Oke," Avan pun langsung mengiyakan.


Waktu berputar, kini, Kayla sudah berpindah di rumah sakit. Menjadi seorang perawat dan bertemu dengan banyak pasien membuat Kayla teringat akan orang tuanya. Seperti saat ini, dia baru saja selesai mengganti perban seorang pria seumuran pak Rahman. Rahang tegas dan wajah yang menghitam karena matahari, mengingatkan Kayla pada sang ayah. Terlebih pasien itu sangat ramah seperti bapaknya. Pasien tua itu bahkan di tunggui oleh sang istri yang lagi-lagi membuat Kayla teringat pada emak.


Kayla melayani dan sempat bercanda pada kedua lansia itu. Dengan begitu, sedikit mengobati rasa rindunya pada bapak dan emak. Tapi, setelah Kayla keluar dari ruangan, ia di liputi rasa sedih dan rindu. Sedih karena hingga kini, ia tak berani menghubungi orang tuanya. Setelah kemarahan mereka tempo hari. Kayla menatap layar di ponselnya yang terpampang wajah bapak dan emak Rohman. Kedua lansia itu tampak tertawa ke arah kamera. Kayla tersenyum kecut, mata berair setiap kali mengingat bapak dan emaknya pergi dengan membawa amarah.


"Emak, bapak, maafin Kayla. Apa kalian masih marah pada Ila?" Gumam wanita itu lirih.


Detik berlalu, berubah menjadi jam. Sampai waktunya Kayla mengakhiri shift nya dan pulang. Kayla memasuki rumah yang memang di biarkan terbuka oleh suaminya. Sedikit heran, karena biasanya jika ia pulang, Avan masih di kopi manis atau di salah satu restonya.


"Assalamualaikum, mas!" Seru Kayla begitu masuk ke dalam rumah, dan duduk di ruang tamu, melepas sepatu dan tasnya.


"Wa'alaikum salam," sahut Avan muncul dari arah dalam.


"Mas kok di rumah?"


Avan tersenyum, "kan mas dah bilang mau masakin buat Ila."

__ADS_1


"Mas dah masak?"


"Udah, tinggal goreng tempe." Jawab Avan, "ila mandi dulu, terus, gorengin tempe ya?"


"Kok nggak skalian sih mas, goreng tempenya?" Protes Kayla memajukan bibir beberapa senti.


"Sengaja, biar kamu yang goreng." Avan nyengir."buruan mandi, mas udah laper nih."


***


"Mas,"


"Iya, La?"


"Handuk, tadi lupa nggak bawa."


"Bentar."


Sesaat Kayla menunggu, lalu terdengar pintu di ketuk. Kayla membuka sedikit untuk memberi celah. Tangan Avan terulur bersamaan dengan handuk di sana.


"Makasih mas." Ujar Kayla mengintip dari balik pintu.


Seusai mandi dan berpakaian santai, Kayla ke dapur, di sana Avan sudah selesai memarinasi tempe, tinggal kayla goreng saja. Kayla menghidupkan kompor, lalu menaruh wajan di atas nya dan menuang minyak. Setelah panas, barulah Kayla memasukkan tempe.


Di tengah aktifitas mengoreng tempe, Avan tiba-tiba mendekat dan mematikan kompor. Kayla berbalik, menatap Avan protes.


"Kok dimatiin sih? Ila kan belum selesai nggorengnya."


Avan melirik piring di samping kompor, ada 8 potong yang sudah matang. "Nggak apa-apa, ini sudah cukup." Ujarnya, membingkai wajah istrinya. Menatap manik mata Kayla dengan sayang. Merasa ditatap seintens itu, wajah Kayla bersemu merah. Pria berambut gondrong yang mengikat rambutnya dengan kencang itu mengukir senyum di wajahnya. Perlahan wajah Avan mendekat, mengecup kening kayla, dan berlama-lama di sana.


"Uuuggghh, mas..." Gumam Kayla dalam hati tak bisa mengontrol debaran di dada. Tak seperti dulu, setiap dekat dengan pria pemilik rambut gondrong itu, Kayla selalu mendapati jantungnya berdegup tak karuan. Mungkinkah ini yang di sebut cinta karena terbiasa?


Kecupan Avan berpindah dari kening ke alis, berpindah ke mata kiri lalu ke mata sebelah kanan. Hidung, pipi, membuat debaran di dada Kayla makin menggila. Sampai ia merasakan bibir Avan menyentuh bibir nya.

__ADS_1


__ADS_2