Nafkah Batin Suamiku

Nafkah Batin Suamiku
bab 21


__ADS_3

"La, mas..." Avan penuh sesal memandang wajah Kayla.


"KENAPA KALIAN SEMUA MAKHLUK YANG JAHAT PADAKU?" Teriak Kayla meluapkan semua rasa marahnya.


"Kayla..."


"Aku benci padamu mas! AKU BENCI KAMU!" Kayla menutup telinganya dan berlari jauh dari kafe yang saat itu tak begitu ramai. Namun, beberapa pasang mata menjadikan mereka tontonan.


Avan ingin bergerak mengejar, namun kakinya tertahan. Kalimat benci yang terlontar dari bibir Kayla membuat hatinya enggan melangkah. Ia menatap Raize dengan sengit,"Apa kau akan diam saja dan tidak menyusulnya?"


Raize tersenyum getir.


"Bukan aku yang seharusnya mengejar. Tapi kamu."


Kalimat dari Raize semakin membuat darah Avan mendidih. Tangan Avan mengepal semakin kuat.


"Dia tidak mencintai ku lagi, dia ingin bersama denganmu. Kayla ingin kembali pada suaminya. Karena itu, aku mengantarnya kemari." Terang Raize mendekat pada suami Kayla itu."Terima kasih karena sudah menjaganya, Kayla tidak mengatakan apapun tentang kesuciannya. Aku baru mendengarnya sekarang, dari mu."

__ADS_1


Avan memacu mobilnya, berkeliling mencari jejak Kayla. Hati pria itu semakin kacau karena tak jua menemukan Kayla. Avan bahkan menghubungi beberapa orang yang mungkin Kayla kenal dan Kayla datangi. Tapi tak satupun dari mereka yang mengetahui. Avan juga meminta beberapa orangnya untuk mencari Kayla.


Avan mengusap rambutnya kebelakang dengan frustasi. Ia terus mencari ke tempat-tempat yang mungkin Kayla kunjungi. Dirinya terus di liputi rasa bersalah dan cemas. Mencemaskan keadaan Kayla, sangat mengkhawatirkannya.


"Aaarrrggg, dimana kamu, La?" Teriak Avan yang masih frustasi mencari keberadaan istrinya.


Avan segera meraih gawainya saat benda itu berdering. Berharap menerima kabar baik tentang Kayla.


"Bagaimana?"


Avan terdiam menunggu seseorang di sebrang sana berbicara.


Semburat jingga mewarnai langit yang perlahan berganti pekat. Avan memarkirkan mobilnya di halaman rumah. Lalu dengan cepat keluar dari kendaraan besi itu. Langkah kaki Avan yang bergerak cepat, berubah melangkah pelan begitu melihat Kayla duduk memeluk lutut di depan pintu.


Avan melangkah mendekat, menapaki lantai teras berwarna hitam itu. Lalu berhenti tepat di depan tubuh Kayla yang menenggelamkan wajahnya di antara lutut. Tangan Avan terangkat hendak menyentuh kepala Kayla. Namun, tangan itu berhenti, mengepal dan menarik kembali.


"Ila..." Sebut Avan berjongkok menyamakan tinggi.

__ADS_1


Kayla mengangkat kepalanya, menatap wajah Avan di hadapan. Mata Kayla yang sembab kembali berair, wajah Kayla masih saja tetap cantik meski sedang menangis. Avan menyentuh pipi Kayla, mengusap butiran bening yang membasahi.


"Kenapa duduk di sini? Kenapa tidak masuk ke dalam?" Tanya Avan lembut.


"Ila nggak bawa kunci, kuncinya di dalam tas Ila yang tertinggal di Kopi Manis." Jawab Kayla sesengukan.


Avan mengukir senyum di wajahnya yang sendu, "Mas minta maaf."


Bahu Kayla berguncang, tangisnya pun pecah. Melihat tangis pilu Kayla, Avan meraih tubuh mungil istrinya. Lalu memeluk erat gadis cantik itu.


"Maaf, La. Mas udah jahat padamu. Mas benci melihatmu menangis, tapi justru mas yang membuatmu menangis seperti ini." Avan menatap keatas, hanya agar air matanya tak jatuh."Maaf, La."


Suara Azan magrib berkumandang, terdengar sayup dari ujung kompleks. Avan melonggarkan pelukannya, membuat sedikit jarak agar dapat melihat wajah Kayla yang masih berair dan sembab. Tangan Avan mengusap pipi istrinya, lalu mengukir senyum.


"Udah magrib, ayo masuk untuk menghidupkan lampu rumah kita," Avan menatap lembut manik mata Kayla.


Avan menuntun Kayla melangkah memasuki rumah. Istrinya itu, masih sesenggukan. Dengan lembut Avan mengenggam jemari Kayla. Membawa istrinya kembali pulang ke dalam rumah mereka.

__ADS_1


***


__ADS_2