Nafkah Batin Suamiku

Nafkah Batin Suamiku
Bab 23


__ADS_3

Di luar kamar Kayla, Avan sibuk di dapur. Pria berambut gondrong yang mengikat rambutnya asal itu mengenakan kaus hijau dan celana hitam pendek. Avan melirik jam di pergelangan tangannya, lalu melanjutkan lagi aktifitas memasaknya.


Avan berjalan ke depan pintu kamar Kayla. Tangan nya membawa piring berisi slace pancake, dan satu tangan terangkat bersiap mengetuk pintu. Tangan itu mengambang di udara. Wajah Avan terlihat ragu, hingga ia hanya terdiam di sana. Suami Kayla itu melangkah pergi. Lalu kembali lagi tanpa membawa apapun. Avan mengetuk pintu kamar Kayla. Terdengar suara lirih dari dalam, lalu pintu itu terbuka dengan segaris celah. Kayla mengintip dari balik pintu, tanpa mengatakan apapun. Senyum Avan melekuk di wajahnya.


"Ila, mas bikin menu baru untuk Kopi Manis. Bantu mas review, ya?"


Kayla bergeming dan bungkam. Tangan Avan terulur menarik tangan Kayla hingga keluar dari kamarnya. Wajah Avan terkejut melihat pakaian Kayla malam itu. Wajah Kayla pun tampak bersemu merah, tiba-tiba saja dia merasa malu. Berpakaian terbuka di depan suaminya. Avan mengukir senyum, dan melanjutkan langkahnya menarik tangan kayla.


"Sebelum ini masuk ke menu, mas ingin Ila mencobanya dulu." Ucap Avan menuntun Kayla untuk duduk di ruang keluarga. Di depan televisi yang menyala, menyiarkan drama Korea yang biasa Kayla tonton. Di atas meja satu piring slice pancake tampak menggoda dengan hiasan weapcream dan ceri di atasnya.


Avan mengambil satu potong pancake dan mendekatkan ke mulut Kayla.


"Enak?" Tanya Avan setelah pancake itu sudah pindah ke dalam mulut Kayla.


Kayla mengangguk, "enak, mas. Enggak terlalu manis, dan nggak enek pas di mulut. Rasa nya juga lumer."

__ADS_1


Senyum Avan terukir di wajahnya. "Makanlah lagi." Ucap Avan mengusap sudut bibir Kayla yang terkena sisa weapcream dengan jempolnya. Tubuh Kayla terasa kaku, jantungnya berdebar tak karuan, dan wajahnya perlahan menghangat. Ia hanya diam membiarkan Avan mengusap bibirnya.


"Sudah bersih." Kata pria berambut gondrong itu mengusap jempol dan telunjuknya yang tertempel sisa weapcream dari bibir Kayla. Keduanya bungkam, kecanggungan tiba-tiba terasa diantara mereka berdua. Rasa canggung itu membuat Avan mendekatkan jempol dan telunjuk yang terkena weapcream ke mulut nya. Lalu menjilat dan menyesap sisa weapcream.


Di tengah kecanggungan itu, Kayla merasa makin tak karuan, jantung terus saja berdetak tak beraturan. Ia mengambil potongan pancake untuk mengusir rasa tak nyaman dan kikuk. Di sampingnya, Avan tak jauh berbeda, melirik Kayla melalui ekor matanya. Jantung Avan pun bedetak tak karuan melihat wanita yang berpenampilan menggoda di sampingnya. Avan menguatkan diri, tangannya mengepal di atas pahanya. Dorongan di dalam diri jelas ada, sebagai seorang lelaki normal. Terlebih Kayla adalah wanita yang halal untuk dirinya.


Avan mengatur nafas, menutup mata sejenak dan melirik Kayla lagi. Gadis di sampingnya itu terlihat seksi dengan pakaian malam yang cukup terbuka dan trasparan. Dada Kayla terlihat menonjol dan berhimpitan, belahan dadanya bahkan dapat Avan lihat dengan jelas. Avan menelan ludahnya susah. Lirikan mata pria berambut gondrong itu menyusuri tubuh Kayla hingga ke pahanya. Sembilan puluh persen paha putih mulus Kayla dapat Avan lihat dengan jelas.


Avan menutup matanya lagi, menelan ludahnya dengan kasar. Semakin lama, tubuhnya semakin panas. Ia terus menekan hasrat yang berkobar di dalam dirinya.


Kayla ikut berdiri, semakin merasa buruk dengan dirinya. Mungkin memang benar Avan tak lagi menginginkan nya. Ia sudah seperti wanita penggoda dengan baju dinasnya, dan avan mengabaikannya. Itu yang ada dalam pikiran wanita bertubuh langsing itu. Kayla tersenyum pahit, memandang punggung Avan yang perlahan menjauh.


"Mas."


Avan menghentikan langkahnya seketika, melihat ke arah Kayla yang menggigit bibir kuat agar tak menangis. Kayla tak mengatakan apapun lagi setelah panggilannya. Gadis itu tak melakukan apapun atau mengatakan sesuatu. Hanya diam dengan perasaan yang tak karuan. Mungkin dia akan hancur dan merasa sangat buruk jika Avan meninggalkannya saat ini.

__ADS_1


Avan terus berperang dalam pikiran dan perasaannya. Ia sangat menginginkan Kayla. Tapi, ia tak mau memaksa dan membuat Kayla tak nyaman. Sangat ingin, tapi tak mau jika kayla sendiri belum siap. Avan menatap wajah Kayla yang hampir menangis dan menatapnya dengan pandangan memohon. Avan menggenggam erat tangannya sendiri di sisi tubuhnya. Ia melangkah berharap tak melakukan kesalahan. Avan berhenti tepat di hadapan Kayla yang masih menggigit bibir yang bergetar dan mata yang berair. Menatap wanita yang mati-matian menahan tangis.


Tangan Avan terangkat menyentuh pipi Kayla. Belahan dada Kayla terlihat sangat jelas meski Avan tak mengarahkan pandangan matanya ke sana. Avan menelan ludahnya kasar, perlahan wajahnya mendekat dan sedikit miring sampai menyentuh bibir Kayla. Dulu ia pernah melakukannya, dan Kayla tak merespon apapun. Avan mencoba menggerakkan bibirnya, menyesap rasa manis di bibir luar Kayla yang masih mengatup. Di luar dugaan, Kayla membalas ciumannya. Istrinya itu menggerakkan bibirnya selaras dengan gerakan yang Avan lakukan. Lamat-lamat, Avan dapat rasakan lidah Kayla membelai lidahnya dengan kelembutan. Avan pun tak menyia-nyiakannya, sambutan dari Kayla semakin membuat Avan untuk menuntut lebih. Tangan Avan bergeser dari pipi ke bekalang kepala, dan tangan yang lainnya memeluk pinggang Kayla hingga tubuh mereka tak berjarak lagi. Satu tangan Kayla menempel di dada Avan, dan yang lainnya berada di pinggang pria itu.


"Ila..."


Nafas Kayla terhembus membuat kepulan asap panas yang berbenturan dengan nafas suaminya.


"Ila... Istriku..."


"Iya, mas Avan, suamiku..."


Bibir Avan melekuk senyuman.


"Ila istriku, malam ini... Ijinkan mas memberimu..." Avan menjeda ucapannya, membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba terasa kering, "nafkah batin."

__ADS_1


Kayla tersenyum sembari mengangguk, dan merasakan lagi kehangatan yang avan berikan malam itu. Malam pertama bagi kedua anak manusia yang telah hidup bersama satu tahun lamanya.


__ADS_2