Nafkah Batin Suamiku

Nafkah Batin Suamiku
bab 17


__ADS_3

Kayla memandang rumah minimalis begitu turun dari motornya setelah pulang kerja. Hari ini Kayla memang pulang terlambat karena suatu keadaan yang mendesak di instalasi.


Beberapa hari ini, Kayla memang meminta ijin pada sang suami untuk membawa motor sendiri. Avan pun langsung mengiyakan, namun ia masih terus memantau Kayla, karena memang tak ingin hal buruk terjadi pada sang istri.


Kayla melepas helm dan melihat jam yang melingkar di lengannya. Waktu menunjukkan pukul delapan malam, dan rumah masih gelap. Kayla bertanya-tanya apa kiranya yang terjadi. Ia yakin jika suaminya pastilah pulang untuk sekedar menghidupkan lampu walau pekerjaannya belum selesai.


Ada rasa bersalah di hati Kayla. Selama ini sudah berada dalam kebimbangan antara suami atau cinta dari masa lalu. Terlebih, setelah kepergian emak dan bapak, Kayla hanya terus merenung tentang hatinya. Hati yang tak bisa berbohong siapa pemiliknya.


Kayla melangkahkan kaki menapaki teras yang masih gelap. Mengambil kunci di dalam tas bahunya, lalu memasukkan ke lobang kunci memutar sebanyak dua kali. Kayla menarik lagi kunci ditangan dan memasukan nya ke dalam tas. Istri dari Avan itu mendorong pintu sampai terbuka. Ruangan terasa sangat gelap karna tak ada pencahayaan sama sekali.


Kayla melangkah dan mengucapkan salam, tangan Kayla meraba tembok di sisi pintu dan menyalakan lampu. Kayla terperanjat melihat Avan duduk di sofa ruang tamu menatapnya dengan pandangan yang entah apa.


"Wa'alaikum salam," ucap Avan berdiri.


"Kok gelap-gelapan, mas?" Tanya Kayla merasa gugup.


"Sengaja nungguin kamu tadi."


"Mas mau ngagetin Ila ya?"


Avan mengukir senyum di wajahnya. "Mandilah dulu, mas udah siapkan air hangat. Juga baju ganti untuk mu."


Kayla tertegun, merasa sangat heran. Memang biasanya Avan memperhatikan dirinya, memberi banyak hal padanya. Sampai perlahan hatinya terbuka, meski ia sendiri tak yakin siapa penghuni hatinya kini. Apakah masih Raize yang bertahta, ataukah berganti Avan rajanya. Kayla tak tau, kedua pria itu membuatnya bimbang akhir-akhir ini.


"Mas, nggak biasanya sampai nyiapin baju buat Ila."


Bibir Avan melekuk ke atas membentuk sebuah senyuman. "Ini malam yang spesial. Bersihkan dirimu, badanmu pasti lengket." Tutur Avan mendorong pelan punggung Kayla hingga ke depan pintu kamar mandi.

__ADS_1


Kayla menatap Avan merasa bingung dan tak mengerti. Pria berambut gondrong itu tersenyum, sembari tangannya menentang tas milik Kayla. Ragu, namun Kayla tetap menurut dan menutup pintu kamar mandi. Benar saja, di dalam kamar mandi, ada bak besar berisi air hangat yang ditaburi kelopak bunga mawar untuk Kayla berendam. Kayla bahkan dapat mencium aroma menenangkan dan segar di ruangan itu. Kayla tersenyum, Avan selalu bisa membuatnya merasa menjadi ratu.


Setelah usai dengan ritual mandinya, Kayla memakai pakaian yang Avan telah siapkan. Baju terusan tumpuk berwarna hijau tanpa lengan sangat pas di tubuh Kayla. Begitu Kayla membuka pintu, ia langsung mendapat sambutan dari Avan yang membawa sebuket bunga berwarna merah untuknya.


"makasih mas." kata kayla menerima bunga dari sang suami. Membawa bunga itu mendekat dalam dekapan dan menghirup aromanya.


"Mas udah siapkan makan malam."


Kayla masih sedikit berada dalam keheranannya, tapi, ia tetap mencoba mengikuti langkah pria yang kini menggenggam tangannya dengan lembut menuju ruang keluarga.


Di dalan ruangan yang tampak remang karena tak adanya pencahayaan selain dari beberapa batang lilin dan lampu tumbler di setiap sudut ruang keluarga yang di sulap sangat romantis. Kayla menatap wajah Avan yang masih setia menggandengnya. Menadang Avan yang menuntunnya untuk duduk di depan meja yang penuh dengan makanan dan kue sepasang pria dan wanita yang sedang bergandengan.


"Ada apa ini, mas?" tanya kayla yang sudah tak sanggup lagi menahan rasa penasaran dan rasa bingungnya.


"Happy anniversary, istriku."


Seperti mengerti arti dari tatapan Kayla. Avan membuka suara sembari tangannya menghidupkan lilin di depan kue sepasang pria dan wanita.


"Aku sangat khawatir tak bisa merayakan aniversary kita. karena itu, aku memajukan jadi malam ini." ungkap Avan tersenyum memandang kayla.


"Ayo tiup lilinnya." ucap Avan lagi duduk sedikit lebih dekat pada istrinya. Memandang sejenak wajah Kayla yang masih bungkam. Lalu berganti melihat nyala api lilin yang bergoyang."Satu, dua, tiga."


Avan mulai meniup lilin, melihat suaminya, kayla pun melakukan hal yang sama. Lilin padam, ruang keluarga itu menjadi semakin remang. Avan menepuk tangannya. Dan lampu yang lain pun ikut menyala meski tak begitu terang.


"Kenapa mas berpikir kita tak akan menemui anniversary bersama?"


Avan tak menjawab, pria itu justru memotong kue berbentung sepasang suami istri tepat di tangan kedua nya yang bertautan. Menyerahkan satu bagian pada Kayla, dan bagian laki-laki untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


"Makanlah."


Avan mengambil gelas berkaki tinggi, mengangkat sedikit mendekatkannya pada Kayla. Kayla mengerti, suaminya ingin mengajak minum. Kayla pun mengambil gelas dan menyentuhkan gelas miliknya dengan gelas Avan, hingga menimbulkan suara gelas beradu.


Kayla meminumnya, begitupun dengan Avan.


"Ini semua, mas yang masak. Ila bilang, masakan mas yang paling enak bukan? Karena itu, mas ingin membuatkan yang sepesial untukmu." Ungkap Avan mengambil piring Kayla untuk mengisinya dengan butiran nasi. Namun, dengan cepat Kayla mengambil alih centong dan piring.


"Ini tugas Ila mas."


Avan tersenyum, dan membiarkan Kayla melakukannya."Tugasmu, hanya patuh pada suami, La."


"Dan Ila ingin melayani mas malam ini, karena mas sudah memberi banyak hal untuk Ila. Boleh kan?"


Avan menarik sudut bibirnya ke atas hingga melekuk senyuman.


Malam itu, Avan dan Kayla menikmati makan malam mereka yang terasa nikmat dan romantis. Sampai usai acara makan malam, dan mereka hanya duduk berdua sambil minum lemon jus. Avan memandang pasangan kue di atas meja yang belum sempat mereka makan.


"Ila, kue ini ibarat kita berdua. Yang awalnya bersama lalu berpisah."


Wajah Kayla berubah, ia menoleh menatap suami dengan cepat dan dengan pandangan tak mengerti menuntut penjelasan.


"Mas menyayangimu, La. Tapi, mas tak bisa membuatmu bahagia, mas tak bisa membuatmu berpaling pada mas. Mas tak bisa membuatmu jatuh cinta seperti yang pernah mas ucapkan dulu. Maafkan mas, mas terlalu tidak berdaya dengan kekokohan hatimu." Ucap Avan menatap manik mata Kayla yang juga menatapnya.


"Cinta kalian berdua terlalu kuat untuk mas berdiri sebagai tembok pemisah."


_______

__ADS_1


__ADS_2