
"Kamu sudah siap?" Tanya Raize, tangannya terangkat untuk memeluk tubuh Kayla. Namun, wanita yang masih berstatus sebagai istri Avan itu mundur selangkah. Wajah Raize tampak sangat terkejut Kayla menghindari pelukannya. Namun, Raize mencoba maklum. Di rumah itu, Kayla adalah istri Avan. Raize tersenyum tipis memandang wajah Kayla yang terlihat sembab. Wanita yang ia cintai itu terlihat sangat cantik dengan gamis toska dan jilbabnya.
"Ini barang mu?"
Kayla mengangguk samar,
"Apa kita akan berangkat sekarang?"
Lagi-lagi Kayla hanya mengangguk samar. Selama dalam perjalanan ke mansion milik kakek Yaris. Kayla bungkam. Sementara Raize mulai membuat rencana untuk mereka berdua jika menikah nanti.
Kayla merasa kosong. Ia tak lagi merasakan getaran yang sama saat bertemu dengan Raize. Kayla terus merasa gamang, hatinya benar-benar kalut dengan keadaan saat ini. Kayla turun dari dalam mobil setelah Raize membuka pintu dan mengulurkan tangannya. Mereka berjalan dengan tangan yang saling bertautan. Dan hati Kayla masih merasa kosong.
Kayla duduk di ruang utama, pikirannya tidak fokus meski kakek Yaris memberi banyak pertanyaan, raizelah yang menjawabnya.
"Kenapa aku merasa kosong? Kenapa dada ini terasa sangat sesak dan membuatku sulit bernafas? Apa yang terjadi padaku? Bukankah ini yang aku impikan selama ini? Menikah dengan Raize? Hidup bahagia bersamanya? Kenapa aku sekarang tak merasa bahagia? Kenapa aku justru merasa sedih?" Kayla terus bermonolog, hati dan pikirannya menjadi singkron saat bayangan wajah Avan begitu jelas di pelupuk mata.
"Kenapa.... Bayangan wajah mas Avan terus menari di pelupuk mata?"
Kayla berdiri seketika, ia menyadari, bukan Raize yang dia cintai kini. Tapi suaminya.
"Di sana kita bisa menikah meski beda keyakinan. " Ucap Raize. Pria bule itu terperangah melihat Kayla tiba-tiba berdiri."Baby? Kamu baik-baik saja?"
Kayla menatap kakek Yaris dan Raize bergantian. Mencoba menguatkan hati untuk menyampaikan perasaannya.
"Kakek, Raize... Aku..."
***
Di sisi lain,
__ADS_1
Avan duduk dengan lesu di salah satu sudut bangku di rooftop Kafe Kopi Manis. Avan memandang layar ponselnya. Jempol Avan beberapa kali menggeser slite foto Kayla di sana. Pria berambut gondrong itu tersenyum kecut. Sudah jadi pilihan hatinya untuk melepaskan Kayla agar istrinya itu bahagia. Namun keadaan hati tak bisa di bohongi. Ia tetap merasa sakit, tetap serasa nyeri dan tetap mencintai Kayla.
Avan menarik nafas dalam, lalu menyentak perlahan. Avan mulai menghapus foto milik Kayla, dia harus berjuang untuk menyembuhkan luka hatinya. Hati yang sudah terlanjut remuk tak berbentuk. Avan menyisakan satu foto Kayla saat mereka mereka dulu pernah berlibur di pantai. Wajah Kayla yang cantik dan tersenyum ke arah kamera.
Avan beranjak dan berbalik, ia terkejut melihat Kayla baru saja menginjakkan kaki di rooftop. Dengan air mata yang menetes, dan perlahan di seka kasar, Kayla mendekat.
Jantung Avan berdetak kencang, melihat Kayla rasa sakit itu timbul lagi. Hati yang telah Avan tata berantakan lagi.
"Kayla, kenapa..."
"Jahat kamu, mas!" Potong Kayla menyambar.
Avan terdiam,
"Kamu jahat! Setelah kamu mengambil keperawananku, kamu kembalikan aku pada Raize. Kamu jahat, jahat banget. Kamu menyakitiku jauh lebih buruk dari Raize. Kamu jahat mas!" Teriak Kayla menangis pilu.
Avan tersenyum getir, memandang sekeliling. Tentu saja beberapa pengunjung melihat ke arah mereka. Avan memandang Kayla lagi, mendengar tangisan pilu Kayla membuat hati Avan tersayat.
Kayla tak menjawab, gadis itu tetap menangis pilu dan menyentuh dadanya yang terasa sesak.
"Jadi, dia tidak menerimamu karena kamu sudah tidak perawan lagi?"
Hanya melihat Kayla yang menangis pilu, Avan merasa sudah mendapatkan jawabannya. Avan terdiam, hatinya merasa sakit dan marah di waktu yang bersamaan. Pria berambut gondrong itu mengambil langkah maju, menarik tangan Kayla dan berjalan cepat. Gadis yang tengah menangis itu masih sesenggukan dan tampak bingung karena Avan tiba-tiba menariknya dan terlihat sangat marah.
Sampai di depan resto Avan berhenti karena melihat Raize di sana. Avan melepaskan tangan Kayla, berjalan maju seorang diri dan memukul wajah Raize. Dokter muda itu terkejut tiba-tiba mendapat pukulan di wajahnya. Avan menarik kerah depan Raize, memukul sekali lagi pria bule itu. Raize sama sekali tak melakukan perlawanan, pukulan Avan sangat cepat dan tak memberi jeda. Kayla pun tak kalah terkejut melihat Avan yang biasa baik-baik saja, tiba-tiba memukul Raize tanpa ampun. Istri Avan itu menutup mulutnya yang terbuka lebar karena terkejut dengan tindakan Avan.
Avan mencengkram kuat kerah leher Raize. Dan menatap tajam wajah Raize.
"Kau bilang akan membahagiakan nya. Kau bilang tidak akan menyakiti nya. Di mana janjimu, hahh?" Ucap Avan tepat di depan wajah Raize.
__ADS_1
Raize bingung dengan sikap Avan yang tiba-tiba marah itu.
"Dia baru saja kembali padamu, kau sudah membuatnya menangis, dia baru saja kembali padamu. Dan kau sudah membuatnya terluka lagi? Apa kau ini laki-laki? Dimana janjimu?" Geram Avan menatap semakin tajam Raize dengan amarah yang sudah di ubun-ubun."Apa kau kecewa karena dia sudah tidak perawan lagi? Apa kau menolaknya karena dia sudah tidur denganku? Bagaimana bisa kau sepicik itu? Apa hanya segitu cinta yang kau punya? Apa ini cinta yang kau gadangkan padaku?"
Amarah Avan semakin memuncak, pria itu memukul lagi wajah Raize. Kayla berlari mendekat menahan lengan suaminya dengan masih berurai air mata.
"Mas!"
Tangan Avan terkepal kuat hingga buku-buku jarinya memucat. Meredam semua rasa marah di hati di pikirannya. Ia yakin, Kayla menahannya karena tak ingin Raize ia pukuli lagi.
"Uhuk, sepertinya kamu salah paham..." Ucap Raize akhirnya membuka suara. Setelah membiarkan Avan meluapkan amarah padanya.
"Dia masih perawan."
Raize terdiam, dan Kayla menoleh seketika pada Avan. Bagaimana bisa dirinya masih perawan sementara semalam mereka sudah melakukan hubungan suami istri. Noda di sprai itu buktinya.
"Kayla, masihlah seorang wanita suci. Jika dia bilang kami sudah berhubungan semalam, itu tidak benar."
"Mas..." Suara parau Kayla menyebut suaminya.
"Maaf, aku hanya menguji, menguji kalian." Ucap Avan lirih, mata Avan memandang wajah Kayla yang masih basah oleh air mata dan meminta penjelasan darinya. Tangan Avan terangkat mengusap butiran bening yang membasahi pipi wanita yang dia cintai.
"Aku memasukan obat tidur di minuman mu. Dan noda merah di seprai itu, bukanlah darah perawan mu. Maaf, La. Mas hanya ingin tau, mas tidak menyangka kamu akan setuju disaat kamu akan kembali pada pacarmu, dan kamu justru menyerahkannya padaku. Dan..." Avan berpindah menatap sengit Raize. "Aku ingin tau reaksinya jika tau kamu sudah tidak perawan lagi. Ternyata, dia pria bajingan..."
PLAK!
Kayla menampar wajah Avan. Perasaan gadis itu makin tak karuan dengan apa yang baru saja dia dengar. Bagaimana Avan bisa Setega itu menipunya. Air mata Kayla makin deras mengalir.
"Apa semua laki-laki bebas melakukan maunya? Apa semua laki-laki bebas mempermainkan ku seperti ini?"
__ADS_1
_______