
Hari ini, Kayla dan Avan libur bersamaan. Avan yang sebenarnya memilih tetap di rumah karena ada Kayla libur. Kegiatan mereka tak ada yang spesial, hanya membersihkan rumah bersama. Kayla yang menyapu, Avan membersihkan jendela. Sejak malam pertama mereka beberapa hari yang lalu, Kayla rutin tidur di kamar Avan.
"Ila, barang-barang kamu di pindahin aja ke kamar kita."
"Terus kamar Ila gimana?"
"Ya udah, kosongin, kalau pas ada yang berkunjung bisa tidur di sana." Terang Avan mengelap jendela depan rumah.
"Iya mas, habis ini Ila beresin."
"Biar mas aja, La, yang angkut-angkut. Kamu baresin masak."
"Iya, mas." Patuh Kayla.
Seusai menyapu, Kayla berjalan tempat cuci baju. Ia mengambil peralatan mengepel, mengisi air dan menuang sabun lantai. Kayla sengaja memilih yang beraroma buah, karena terasa lebih segar. Wanita cantik itu lalu berjalan membawa perangkat pel itu ke depan. Dan mulai mengepel area ruang tamu.
"Mas, hati-hati kalau lewat ya, Ila pel, licin."
"Iya dek."
Dek lagi, dan lagi-lagi itu membuat wajah Kayla menghangat. Aroma buah dari sabun lantai menguar, namun hati Kayla yang berbunga. Indahnya pernikahan, baru Kayla rasakan setelah setahun bersama.
Tidak hanya Kayla, Avan pun tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Setelah melalui banyak luka dan rasa sakit, melalui beratnya meluluhkan hati Kayla. Kini ia dapatkan juga, bukan hanya cinta dan hatinya, tubuhnya juga.
"Kebahagiaan seperti ini, aku mohon jangan cepat berakhir."
Pekerjaan Avan mengelap jendela sudah selesai, dengan langkah berhati-hati Avan berjalan lebih ke dalam. Melihat Kayla sedang mengepel lantai ruang keluarga di depannya, Avan tersenyum. Perlahan Avan mendekat, semakin dekat dan dekat. Lalu memeluk Kayla yang sempat terkejut.
"Mas, Ila lagi ngepel nih."
__ADS_1
"Mas tau, kok. Apa kamu kira mas buta?"
"Enggak, tapi..."
"Ila ku sayang..."
"Mas...."
Wajah Kayla semakin menghangat, ditengah pelukan dari sang suami.
"Mas, nanti nggak selesai-selesai." Ucap Kayla, meski begitu, ia menikmati dekapan suami nya.
"Sebentar aja, La mas masih kangen."
"Kan nggak jauhan, baru tadi ketemu."
"Iihh, mas!" Ucap Kayla gemas mencubit perut suaminya. Avan menggelinjang, dan menjauh dengan suara kekehan kecil.
"Mas beresin kamar dulu, ya. Masak yang enak."
"Iya chef Juna." Sahut Kayla menggelengkan kepala. Lalu melanjutkan lagi mengepelnya. Ruang keluarga, kamar tamu, ruang depan, semua sudah Kayla pel. Kini wanita itu berjalan memasuki kamar, ia tertegun melihat Avan yang tengah sibuk berbalas hingga tersenyum-senyum sendiri.
"Katanya mau beresin kamar, tau nya malah cengengesan di kamar sambil pegang hape. Chatingan sama siapa sih?" Gumam Kayla berbisik untuk dirinya sendiri.
"Eheemm.." Dehem Kayla mengagetkan Avan sampai gawainya hampir lepas dari genggaman. Wajah Avan pun terlihat sangat tegang menyadari kehadiran Kayla yang tiba-tiba. Pria berambut gondrong itu juga terlihat salah tingkah dan tersenyum kikuk pada istrinya.
Kayla tak mengatakan apapun, dan mulai mengepel lantai kamar. Sesekali ujung matanya melirik Avan sempat membalas pesan yang masuk. Sebelum Avan kembali membereskan kamar.
"Sebenarnya dia chattingan sama siapa sih?"
__ADS_1
Sampai Kayla selesai mengepel kamar, gawai Avan sempai berbunyi beberapa kali. Namun pria itu mengabaikannya, mungkin karena ada Kayla dan merasa tak enak hati. Akan tetapi, itu justru membuat Kayla curiga dan kesal.
"Kenapa pas ada aku dia malah sibuk beberes, padahal tadi sangat santai bermain hp." Gerutu Kayla dalam hati sambil melangkah keluar kamar membawa alat pel nya.
Setelah mengepel usai, Kayla membereskan perangkat kebersihan nya ke tempat semula. Rasa gundah di hatinya tak kunjung usai, ia sangat ingin tau apa yang membuat Avan asyik bermain hp, ia sangat yakin Avan sedang berbalas pesan dengan seseorang. Suaminya itu terlihat sangat senang tadi. Kayla menyentak nafasnya kuat-kuat, untuk menghilangkan rasa sesak di dada. Disaat hubungannya dengan Avan membaik, kenapa ia justru merasa curiga pria itu mulai berpaling dan menemukan seseorang yang lebih menarik?
Kayla menghela nafasnya sekali lagi, mencoba menyingkirkan pikiran buruk tentang Avan yang terus mengusiknya. Kayla berjalan ke dapur, mengeluarkan beberapa sayuran dari lemari es untuk dia masak. Selama ia memetik beberapa sayur untuk SOP-nya, ia melihat ke arah kamar sekali dua kali. Ia ingin tau apa yang Avan tengah lakukan, apakah membereskan kamar atau masih asik berbalas pesan dengan seseorang.
"La, mas keluar sebentar ya," Avan muncul dari kamar dengan pakaian yang sangat rapi dan tampan. Pria itu memakai kaus hijau di balik jaket denim dan celana cinos warna hitam.
Kayla langsung berdiri dari duduknya, "mas mau kemana?"
"Keluar bentar, nggak ada satu jam kok."
"Iya kemana?" Tanya Kayla yang mulai gelisah.
Avan terdiam sebentar, gawai nya berbunyi pertanda pesan masuk. "Ke rumah Farid," jawabnya sembari mengecek ponselnya.
Kayla tau Farid salah satu pekerja Avan yang di beri kepercayaan untuk mengelola salah satu resto Avan.
"Mau apa ke sana mas?" Tanya Kayla berjalan mendekat.
"Urusan kerjaan, mas berangkat ya." Pamit Avan cepat-cepat memasukan ponselnya ke dalam saku jaket. Pria berambut gondrong itu tersenyum dan menyodorkan tangannya pada Kayla.
"Kenapa dia tidak menawariku untuk ikut?" Gerutu Kayla dalam hati, tangannya menyalami dan mencium tangan sang suami.
"Mas pergi ya, assalamualaikum." pamit Avan mencium kening istrinya. Lalu berjalan keluar dengan langkah panjang.
Kayla memandang punggung Avan dengan bibir cemberut, "wa'alaikum salam."
__ADS_1