Nafkah Batin Suamiku

Nafkah Batin Suamiku
bab 7 - berlibur


__ADS_3

"Van, ini kok baju-baju kamu ada di sini?"


"Oohh, itu? Memang Avan simpan di sana, Bun. Yang di kamar itu lemari buat Ila. Soal nya, ila kan wanita, pasti bakal butuh lebih banyak ruang buat baju dan barang-barang dia nanti. Dari pada Avan angkut-angkut, skalian aja lemari di kamar itu buat aku, lemari di kamar sebelah buat Ila." Jelas Avan, agar sang bunda tidak lagi curiga. Karena memang dia tadi belum sempat memindahkan pakaiannya, sang bunda sudah terlanjur datang.


"Oohh, bunda kira kalian pisah ranjang atau gimana. Lagi marahan kok tadi kek baik-baik aja." Bunda mengungkap kecurigaan nya.


"Ya enggak lah, Bun." Kelit Avan meraih bahu Kayla agar duduk semakin dekat dengannya."Iya kan sayang?"


Kayla tersenyum kecil, dan meletakkan kepalanya di dada pria berambut gondrong itu. Dalam hatinya, Kayla berkata, 'kenapa perasaan orang tua begitu kuat?'


"Kalau kalian ada masalah itu di bicarakan baik-baik, ya. Jangan lantas terus marahan yang berlarut-larut. Bertengkar sekali-kali boleh, tapi terus baikan." Bunda memberi wejangan.


"Bunda sama ayah juga bukannya harmonis setiap hari, ada saja kadang yang jadi bahan bertengkar, masalah handuklah, masalah kopi lah, masalah ngambil baju di lemari lah. Banyak pokok nya, tapi, kami lantas bisa berbaikan lagi." Sambung bunda melirik suaminya yang sedang menyeruput kopi.


"Benar, bertengkar itu bisa menjadi bumbu pernikahan agar semakin erat. Tapi juga bisa menjadi bumerang jika kita tak pandai mengatasinya. Atasi dengan kepala dingin, berserah pada yang di atas. Dan yang terpenting selalu di bicarakan baik-baik dengan pasangan, jangan dengan orang luar. Kalian mengerti, kan?" Ayah pun ikut menimpali.


Avan dan Kayla saling pandang, lalu mengangguk bersamaan.


"Van, kalau lagi marahan, ajaklah dia ke peraduan. Itu cara paling jitu, lalu bicarakan sambil bikin anak." Lanjut ayah terkikik bersama bunda. Entah apa yang mereka kenang bersama sampai bisa terkikik seperti itu.


"Iya, ayah, bunda. Kami ngerti kok." Ucap Avan lagi menarik dekat bahu Kayla dan mengecup keningnya.


***


"Bun, kami pergi dulu ya." Avan berpamitan pada bundanya untuk mengantar Kayla.


"Udah mau berangkat Kayla?"

__ADS_1


"Iya Bun. Maaf ya, Kayla nggak bisa nemenin bunda selama di sini." Jawab Kayla mencium tangan sang bunda.


"Udah, tenang aja. Kan ada Avan. Nanti bunda sama ayah bisa sama Avan dulu. Lagian kan, kamu emang nggak bisa sembarangan ijin-ijin nggak masuk." Ucap bunda memaklumi pekerjaan Kayla.


"Makasih atas pengertiannya ya bunda," ucap Kayla tersenyum memandang ibu dari suaminya dengan pandangan bersalah.


"Udah, sana berangkat, ntar malah telat lagi."


Kayla mengangguk, lalu duduk di jog motor Avan. Setelah Avan membantunya memakai helm. Avan memang selalu begitu, semua yang selalu pria itu lakukan untuk membuat Kayla nyaman. Setiap bepergian dengan motor, suaminya selalu yang memasangkan helm hingga terkait sempurna. Senyum tak pernah tertinggal dari wajah pria berambut gondrong itu.


"Pegangan ya, La."


Kayla melihat pada mertuanya yang masih memandang ke arahnya. Tangan Kayla terulur memeluk perut Avan. Itu semua ia lakukan untuk membuat sang mertua tak curiga, jika cinta belum hadir di hatinya.


Melihat hubungan Kayla dan Avan baik-baik saja dan harmonis tentu bunda merasa senang. Setelah berpamitan, Avan menarik tuas gas motornya menuju rumah sakit. Dalam perjalanan, Kayla menarik kembali tangan yang melingkar di perut suaminya dan berpindah ke pahanya sendiri.


Merasakan Kayla tak lagi memeluk perutnya, Avan hanya bisa tersenyum kecut. Memang, perasaan itu belum bisa hadir di hati Kayla untuknya. Avan bisa mengerti akan hal itu.


"Iya mas, tapi aku nggak enak sama bunda sama Ayah."


Avan tersenyum menatap sang istri, menyingkirkan anak rambut ke belakang telinga Kayla. "Besok kamu jadi libur?"


"Iya, kan udah jatahnya mas," jawab kayla.


"Ya udah, besok kita ke ancol sama ragunan. Mau nggak?"


Kayla mengukir senyum, dan mengangguk. "Bunda sama ayah pasti senang."

__ADS_1


"Mas juga." Celetuk Avan menatap Kayla penuh kasih. Dan itu dapat Kayla tangkap, wajah Kayla berubah tak enak karena perasaannya pada sang suami masih belum berubah, masih datar sedatar lautan yang tenang.


"Masuklah."


Malam harinya, Avan menggelar kasur lantai di sisi ranjang Kayla. Sementara kayla memandang Avan tak enak hati. Tapi, mau meminta Avan tidur di atas ranjang bersamanya, Kayla juga tak nyaman. Melihat Kayla memperhatikan nya sedari tadi, Avan melemper senyum.


"Tidurlah, besok kita berangkat setelah subuh." Ucap Avan sembari membaringkan tubuhnya di atas kasur lantai lalu menyelimuti diri hingga batas dada.


"Maaf ya mas."


"Maaf kenapa?"


"Mas jadi tidur di lantai."


"Enggak, mas tidur di atas kasur kok."


Kayla tersenyum kecil, lalu ikut membaringkan diri di atas ranjang. Kayla berbaring miring menghadap suaminya. Begitupun dengan Avan, tanpa kata dan suara, keduanya saling memandang dalam keheningan, dalam perasaan yang mereka sendiri tak tau di sebut apa. Sampai mata mereka terpejam oleh rasa kantuk.


Keesokan paginya, seusai subuh berjamaah, keluarga kecil itu berangkat ke pantai untuk melihat matahari terbit dan menikmati semilir angin pantai. Pasirnya yang berwarna putih menambah keindahan pantai itu. Avan menggandeng tangan Kayla.


"Kesana yuk." Ajaknya menunjuk di sudut dengan batu karang yang menjulang. Sengaja ingin sedikit memisahkan diri bunda dan Ayahnya.


Kayla mengangguk dan mengikuti arah suaminya menuntun. Berfoto bersama dan memungut kerang yang ikut terbawa arus ombak pasang semalam.


"Ila mau makan kerang nggak?" Tanya Avan mengambil satu kerang yang terselip diantara pasir putih.


"Sekarang?"

__ADS_1


"Nanti mampir beli, masakan kerang bunda enak loh." Ucap Avan, "skalian biar ila belajar masak dari bunda. Kalau sewaktu-waktu Ila pas pengen bisa masak sendiri."


Setelah puas di pantai dan sudah tak tahan dengan panasnya. Bunda mengajak anak dan menantunya pergi ke kebun binatang. Di dalam hutan buatan itu, Kayla kembali teringat dengan Raize. Mereka pernah kesana sebelumnya. Setiap sudut tempat itu membuat Kayla tergelincir oleh kenangan manis yang berakhir dengan hubungan yang menyakitkan baginya.


__ADS_2