Nafkah Batin Suamiku

Nafkah Batin Suamiku
bab 16


__ADS_3

"Jangan bersedih, La. Biar Mas yang nanti membujuk bapak sama emak. Sekarang, biarlah mereka meredakan emosi terlebih dahulu. Humm?" Avan terus memeluk, mengusap-usap kepala Kayla dengan lembut dan mencoba menenangkan istrinya itu."Jangan bersedih, mas yang nanti membujuk."


Cinta yang begitu besar membuat Avan rela melakukan apa pun demi melihat wanita pujaannya itu bahagia, meskipun Avan harus mengorbankan kebahagiaannya sendiri. "Tenang, ya! Sekarang Emak dan Bapak masih diselimuti amarah. Kita bisa bicara lagi dengan Emak dan Bapak saat suasana lebih terkendali nanti."


"Maafkan aku, Mas! Maafkan aku," ucap Kayla sembari mengusap air mata yang jatuh di pipinya.


"Tidak perlu minta maaf lagi. Ini bukan salah kamu. Ini pilihan mas, jangan minta maaf, kamu nggak salah, istriku sayang jangan menangis, kamu nggak salah, huumm?" timpal Avan terus menenangkan Kayla hingga perlahan bahu Kayla tak lagi berguncang dan air mata Kayla hanya meninggalkan jejaknya.


"Ila, sekarang kamu istirahat saja di kamar, tenangkan hati dan pikiran kamu. Jangan memikirkan kemarahan emak sama bapak, mas yang nanti memberi mereka pengertian." ucap Avan lembut sembari mengantarkan istrinya menuju ke dalam kamar.


Kayla hanya diam di dalam kamar sembari menatap ke luar jendela dengan tatapan kosong. Pikiran wanita itu benar-benar kalut. Kayla seperti kehilangan arah. Kedatangan kedua orang tuanya membuat Kayla merasa menjadi wanita yang paling jahat di dunia karena sudah menyakiti Avan. Terlebih telah membuat orang tuanya kecewa.


"Emak dan Bapak pasti kecewa sekali padaku," gumam Kayla."Maafin Kayla Mak, pak." bahu Kayla berguncang lagi oleh tangisnya. Memeluk lutut dan menyembunyikan wajahnya di sana.


Wanita itu hanya duduk di dalam kamar tanpa melakukan apa pun selama seharian penuh. Kayla terus menampakan wajah murung hingga membuat Avan mencemaskan keadaan Kayla saat ini.


Pria itu melirik celah pintu Kayla yang terbuka sedikit. Wajah sedih Kayla membuat hati Avan tercabik-cabik. Pria itu tak tega dan tidak rela melihat istri yang begitu ia cintai terus-menerus bersedih.


"Apa yang harus aku lakukan agar kamu bisa bahagia Kayla?" gumam Avan. Ia tau, di saat emosi orang tua Kayla masih di ubun-ubun, bukan perkara bijak mengajak mereka bicara. Avan harus menunggu hingga semua mereda. Sembari menunggu, Avan ingin melakukan sesuatu untuk Kayla. Yang akan membuat Kayla sejenak melupakan kesedihannya.


"Aku akan lakukan apa pun demi melihat kamu bahagia!" gumam Avan lagi. Pria itu berdiri cukup lama di depan pintu kamar Kayla dan memandangi Kayla tanpa berkedip.


Pria itu pun mulai memikirkan cara untuk menghadiahkan kebahagiaan pada wanita yang ia cintai. Avan harus melakukan sesuatu, sebelum ia menyeret Kayla lebih jauh dalam hubungan rumah tangga yang tidak membuat istrinya bahagia.


"Dan saat ini yang bisa membuatnya bahagia hanyalah satu!" ujar Avan mulai membulatkan tekad."Apa yang aku rasakan tidaklah penting, aku bisa mengatasi nya."


Nampaknya pria itu akan membuat keputusan besar yang akan mengubah seluruh hidupnya bersama dengan Kayla. Avan juga tidak ingin Kayla terus-terusan terjebak bersama dirinya dalam pernikahan yang membuat Kayla tersiksa. Avan rela mengorbankan kebahagiaannya dan membiarkan dirinya tersakiti, asalkan wanita yang ia cintai dapat hidup bahagia meskipun itu bukan bersamanya.


Tepat tengah hari, Avan pun segera mengganti pakaian dan bergegas pergi meninggalkan rumah. Tanpa memberi tahu Kayla dirinya akan ke mana, Avan nampak terburu-buru keluar dari rumah, dan sepertinya pria itu akan menemui seseorang.

__ADS_1


"Semoga keputusanku ini benar!" ujar Affan berusaha meyakinkan diri sebelum ia menjumpai orang yang membuat janji dengan dirinya. Pria itu menyempatkan diri melihat Kayla sejenak di dalam kamar.


Afan menoleh ke arah kamar Kayla sebelum pria itu pergi, sembari memanjatkan doa, berharap keputusan yang diambil adalah keputusan yang terbaik bagi dirinya dan juga Kayla di masa kini maupun di masa yang akan datang.


Avan pun berangkat menuju ke salah satu tempat yang tidak jauh dari rumahnya. Pria itu menanti seseorang yang telah membuat janji temu dengan dirinya. Tak lama kemudian, orang yang ditunggu-tunggu oleh Avan pun akhirnya tiba juga.


"Kamu benar-benar datang?" sapa Avan pada pria yang saat ini ditemuinya.


Ternyata Avan membuat janji dengan Raize. Ya, pria itu berencana berbicara empat mata dengan pria yang masih mempunyai kisah yang belum usai dengan istrinya itu.


"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Raize pada Avan.


"Tidak ada lagi hal yang ingin aku bahas selain tentang Kayla," ungkap Avan.


Keduanya pun mulai terlibat percakapan cukup intens dan serius mengenai Kayla. "Sebelumnya aku ingin memberitahumu terlebih dahulu. Aku adalah suami dari Kayla," ungkap Avan. "Kami sudah menikah beberapa bulan yang lalu," sambungnya.


Raize hanya menampakan wajah datar. Sepertinya pria itu sudah tahu tanpa diberitahu oleh Avan. "Aku sudah tahu!" ujar Raize dengan entengnya.


"Kamu sudah tahu? Kamu tahu kalau Kayla sudah menikah, tapi kamu masih saja sering menghubungi Kayla?" sungut Avan sembari mengepalkan tangan kuat-kuat.


Meskipun kesal, pria itu tidak dapat melakukan apa-apa. Nyatanya di dalam hubungan ini, Avan-lah yang menjadi pemisah dan penghalang bagi hubungan Kayla dan juga Raize. Avan-lah yang muncul di tengah-tengah hubungan antara Kayla dan Raize.


"Memangnya kenapa? Sudah menikah atau belum, hal itu tidak akan menjadi penghalang bagiku untuk mendekati Kayla, karena akulah yang terlebih dahulu menjalin hubungan dengan Kayla!" sahut Raize tanpa rasa bersalah sedikitpun di depan suami sah dari Kayla.


Avan ingin sekali marah dan mengamuk, tapi pria itu hanya diam dan menahan semuanya. Jelas-jelas Raize tahu kalau Kayla sudah menikah dan mempunyai suami, tapi Raize tetap saja mendekati Kayla tanpa menghargai hubungan Kayla dengan Avan sedikitpun.


"Kamu memanggilku kemari hanya untuk mengatakan hal ini?" tanya Raize.


"Tentu saja tidak! Ada hal lebih penting yang ingin aku bahas denganmu!" ungkap Avan.

__ADS_1


"Kenapa? Kamu ingin melarangku mendekati Kayla? Kamu ingin mengancamku? Atau kamu ingin memukuliku sekarang untuk melampiaskan amarah?" cibir Raize.


Kalau bisa, Avan memang ingin sekali melayangkan pukulan ke wajah pria yang sudah membuat istrinya menderita. Tapi pria itu datang menemui Raize bukan untuk mencari masalah, melainkan untuk mencarikan kebahagiaan bagi sang istri.


"Apa kamu masih mencintai Kayla?" tanya Avan tiba-tiba.


"Kenapa kamu bertanya begitu?"


"Jawab saja! Apa kamu ... ingin kembali pada Kayla?" tanya Avan lagi.


Sudah jelas jika cara yang akan digunakan oleh Avan untuk memberikan kebahagiaan pada Kayla adalah melepaskan wanita yang ia cintai itu pada lelaki pilihan Kayla. Dan Avan cukup sadar diri, kalau dirinya bukanlah pria yang dipilih oleh hati Kayla.


"Apa maksud kamu?" tanya Raize bingung.


"Kamu masih berusaha mendekati Kayla meskipun kamu tahu jika Kayla sudah menikah denganku. Itu artinya kamu benar-benar berniat ingin kembali pada Kayla, kan?" cetus Avan. "Kalau begitu, tolong bahagiakan Kayla!" ucap Avan kemudian.


Raize terdiam. Pria itu mulai menyadari arah pembicaraan Avan.


"Berjanjilah kamu akan membahagiakan Kayla seumur hidupmu! Berjanjilah kamu tidak akan menyakiti Kayla seumur hidupmu! Berjanjilah kamu akan menjaga Kayla dengan baik!" pinta Avan. "Dengan begitu, aku tidak akan merasa cemas sangat melepaskan Kayla bersama denganmu!"


Ya, Avan sudah siap untuk melepaskan Kayla. Daripada ia terus-menerus membuat Kayla terjebak dalam pernikahan dengannya, Avan lebih memilih untuk membiarkan Kayla hidup bersama dengan pria yang dicintai oleh wanita itu.


"Tolong berjanjilah padaku ... kamu akan membahagiakan Kayla sampai akhir hayat!"


"Berjanjilah kau tidak akan menyakitinya,"


Raize masih terdiam, merasa apa yang Avan lakukan sangatlah bodoh dan di luar nalar. Menyerahkan istrinya untuk pria lain yang di cintai sang istri, pastilah sangat menyakitkan.


"Jika kau menyakitinya, aku tidak akan segan-segan menghajarmu."

__ADS_1


****


__ADS_2