Nafkah Batin Suamiku

Nafkah Batin Suamiku
Bab 19


__ADS_3

Kayla memang tidak ingat apa yang terjadi karena tiba-tiba merasa sangat mengantuk saat Avan menciumnya semalam. Tapi jika merujuk pada noda di spray, harusnya Avan memang sudah mengambil mahkotanya. Kayla hanya terdiam dalam keadaan hati yang masih kalut. Bimbang dengan perasaannya sendiri.


Kayla kembali menutup tubuhnya dengan selimut saat mendengar suara pintu di buka. Dengan jantung yang berdebar tak sehat, Kayla memandang Avan yang tampak segar dan tampan dengan kaus hitam yang di padukan celana panjang berwarna senada. Pria berambut gondrong yang membiarkan rambut lembabnya tergerai itu berjalan mendekat dan duduk di bibir ranjang. Tepat di depan Kayla. Avan menatap wajah kayla, lalu menunduk dan menautkan jemarinya. Ia terlihat tersenyum lagi, lalu menatap Kayla sekali lagi. Memandang jauh di manik mata sang istri yang terdiam menutupi tubuhnya dengan selimut.


"Mas sudah membantumu mengemas barang. Mandilah yang bersih, mas sengaja menyisakan make up mu di atas meja rias agar kamu tetap terlihat cantik jika dia menjemputmu nanti." ucap Avan menunduk lagi, melihat pada jari-jari nya yang bertaut satu sama lain.


Mendengar Avan mengatakan sudah mengemasi barang dan Raize akan menjemputnya, Kayla merasa sangat marah, marah dan sedih pada Avan. Hati benar-benar kalut kali ini. Gadis itu mencengkram kuat selimut tebal yang menutupi tubuh polosnya. Entah apa yang membuat Kayla merasa tak terima dan marah. Mungkinkah karena Avan telah mengambil keperawanan nya, dan Kayla merasa di buang?


"Dia akan datang jam 10pagi. Mas tidak bisa menemani dan menyambutnya bersamamu. Mas ada hal yang harus diurus di Kopi Manis. Tidak apa-apa kan mas tidak menemanimu?" Ucap Avan tersenyum kecil menatap wajah Kayla sekali lagi setelah sekian lama menunduk.


"Mas sudah buatkan sarapan untukmu. Makanlah dulu sebelum kamu pergi. Dan, pakai baju yang mas siapkan di atas ranjang kamarmu."

__ADS_1


Kayla masih bungkam dan semakin kuat mencengkram selimutnya. Ia merasa sangat nyeri sekarang, nyeri di dadanya yang semakin membuat Kayla kesulitan bernafas.


"Mas pergi dulu, La. Masalah perceraian, biar mas yang urus. Kamu... Susunlah rencana pernikahan yang kamu impikan. Mas akan usahakan untuk hadir." Ucap Avan beranjak dari duduknya lalu melangkah keluar dari kamar tanpa menoleh lagi.


Begitu pintu kamar itu menutup kembali, tangis Kayla pecah. Ia benar-benar kesulitan untuk sekedar bernafas. Dadanya begitu sesak dan berat. Hatinya sangat sakit, bahkan lebih sakit dari yang pernah ia terima sebelumnya.


Avan sudah mengambil mahkotanya, dan suaminya itu melepaskan begitu saja. Kayla merasa sudah tak memiliki harga, ia bak seonggok sampah yang di buang untuk kedua kalinya. Kayla meraung dalam tangisan pilu, memukul dada nya yang terasa sangat sakit.


Kayla memakai setelan gamis berwarna toska yang sudah Avan siapkan. Baju itu adalah baju pertama yang Avan belikan dulu. Sempat terngiang di kepala Kayla tentang apa yang Avan ucapkan,


("Mas mau Kayla pake jilbab?"

__ADS_1


"Mas tau ila mungkin belum siap. Jadi, pakai aja kalau pas kita keluar rumah. Di mall misalnya, mas kek nggak rela rambut ila di lihat pria lain." )


Gadis itu menatap pantulan diri di cermin. Ia menangis lagi, menangis dengan tersedu-sedu. Entah sudah yang berapa kalinya ia menangis. Saat hatinya mulai tenang, Kayla merapikan jilbab dan mulai merias wajahnya. Sedikitpun Kayla tak merasakan semangat, hanya kekosongan yang Kayla rasakan sekarang. Dan ia tak tau kenapa?


Kayla keluar dari kamarnya menatap sepiring nasi goreng dan telur ceplok di atas meja makan. Kayla menarik kursi dan duduk, memandang lagi nasi goreng yang sudah Avan siapkan untuknya. Perhatian kecil Avan yang selalu bisa menyentuh hati Kayla akhir-akhir ini.


Kayla menyuap satu sendok pertama. Bahu gadis itu terguncang, air mata Kayla mengalir lagi. Entah apa yang membuat Kayla sangat sedih, apakah karena sadar telah kehilangan mahkotanya, atau karena sikap Avan. Atau mungkin karena hatinya mulai mengarah pada pria pemilik rambut gondrong itu.


Kayla duduk di teras rumah dengan pandangan hampa. Di sisi kursi yang Kayla duduki berdiri tas travel yang cukup besar. Suara deru mobil milik Raize terdengar memasuki halaman. Lalu tampak seorang pria bule keluar dari dalam mobil. Berjalan mendekat dan tersenyum pada Kayla.


"Kamu sudah siap?"

__ADS_1


__ADS_2