
Keesokan paginya Kayla membuka mata. Kepalanya terasa sangat pusing. Kayla mengerjab, lalu mengucek matanya. Kayla memandang setiap sudut ruangan dirinya terbangun. Ya, dia terbangun di ranjang kamarnya. Kayla mencoba mengingat-ingat kembali apa yang terjadi semalam. Ia memang kehujanan dan ban motor nya kempes. Memaksa Kayla untuk berjalan cukup jauh di bawah guyuran hujan. Lalu gadis itu terpaksa memarkirkan motornya di sebuah klinik dua puluh empat jam. Dari sana Kayla mencoba memesan ojek online, tapi, hpnya mati. Kayla sudah ingin menangis saja. Dalam keadaan masih berteduh, Kayla mencoba menyisir lokasi dengan pandangan matanya yang terbatas oleh lebatnya hujan mencari ojek. Akhirnya, Kayla memutuskan untuk kembali dengan berjalan kaki sampai di rumah.
Kayla memijit keningnya yang terasa berdenyut pusing. Lalu ia mencoba mengingat lagi kejadian setelah dia sampai di depan rumah. Mengingat wajah Avan yang sangat khawatir begitu pintu dibuka. Kayla terdiam lagi, ada rasa tak nyaman mengingat Avan tak banyak bicara dan melakukan banyak hal untuknya. Termasuk saat pria itu membantu nya membuka pakaian dalam tanpa menyibak selimut yang membungkus tubuhnya. Tangan pria itu bahkan tak mencuri kesempatan untuk menyentuh tubuhnya. Kayla membenamkan wajah diantara kedua telapak tangan. Merasa sangat malu jika mengingat ketidakberdayaannya malam itu.
Pintu kamar Kayla di ketuk dari luar, lalu pintu itu terbuka. Avan mengukir senyuman saat melihat Kayla sudah bangun dan memandang ke arahnya. Pria berambut gondrong itu masuk ke kamar istrinya sambil membawa nampan berisi semangkuk bubur dan air hangat.
Avan duduk di bibir ranjang, lalu memindahkan nampan itu ke pahanya, menyendok bubur lalu meniupnya. Avan mengetes panas bubur terlebih dahulu sebelum menyuapkannya pada Kayla.
"Makanlah dulu, biar kamu punya tenaga." Ucap Avan lembut sambil menyuapi Kayla.
Kayla menatap Avan sembari memakan bubur yang Avan suapkan padanya, ia masih merasa malu jika ingat akan semalam. "Mas,, semalam..."
"Semalam kamu hampir kena hipo, La. Mas panik, jadi, mas lakukan yang terlintas di kepala mas. Maaf ya." Potong Avan lirih. Merasa sedikit bersalah pada istrinya karena sudah bertindak diluar apa yang Kayla inginkan. Avan bersiap diri jika Kayla marah padanya.
"Makasih, mas."
Avan mengangkat wajahnya menatap Kayla yang ternyata mengucapkan terima kasih. Tak seperti apa yang dia pikirkan.
"Apa yang terjadi? Kenapa kamu bisa sampai pulang menggigil?"
Kayla menatap dalam manik mata Avan yang terlihat sangat mengkhawatirkannya, tapi mencoba terlihat datar di depan sang istri. Akan tetapi, mata Avan tak bisa membohongi.
"Ban motornya kempes."
"Terus?" Terselip harapan di hati Avan, Kayla sempat terlintas untuk menghubunginya. Karena itu, Avan mencoba mengejar.
"Aku membawanya ke klinik 24jam untuk menitipkan motor. Hp ku mati, dan tidak ada ojek semalam, mas. Daripada kedinginan menunggu hujan reda, aku coba terabas saja. Ternyata, aku malah nyusahin mas." Aku Kayla lirih.
Sepertinya, Avan hanya mempunyai harapan. Hanya harapan bersama dirinya. Meski begitu, Avan tetap mengerti, hp Kayla mati. Jika ingin menghubunginya sekalipun Kayla tak akan bisa.
"Uummm,, lain kali, biar mas anter jemput saja ya?"
"Nggak usah mas, nanti mas repot."
"Nggak ada yang repot untuk istri mas, La. Ila tanggung jawab mas sekarang. Bapak sudah percayakan Ila pada mas. Kesehatanmu, sandang dan pangan mu, juga kebahagiaanmu. Itu tanggung jawab mas, La."
__ADS_1
Kayla bungkam. Benar. Avan menang terlalu baik untuknya, tapi kenapa kebaikan Avan tak mampu menembus hati Kayla hingga detik ini?
"Aaa...." Avan menyodorkan lagi sesendok bubur yang masih hangat ke mulut Kayla, istrinya itu tersenyum getir menatap pria baik di hadapannya. Lalu, perlahan membuka mulut."Dimana kamu meninggalkan motornya? Biar mas yang ambil."
"Diklinik 24jam, mas."
"O iya, besok bunda mau datang kemari. Cuma empat harian, buat berlibur. Jadi, sementara agar bunda nggak nanya macam-macam, kamu tidur di kamar mas ya." Pinta Avan,"eh, tidak usah, biar mas yang tidur sini jika kamu merasa tak nyaman tidur dikamar mas."
Kayla mengangguk pelan,"Bunda sama siapa mas? Apa aku harus ambil cuti buat nemenin bunda selama disini?"
"Sama ayah. Nggak usah, La. Nanti kamu merasa canggung jika terlalu lama bersama mereka. Akan lebih baik jika kamu masuk kerja dan bertemu dengan teman-teman mu." Saran Avan, yang lagi-lagi hanya memikirkan sisi Kayla saja.
"Tapi mas, nggak enak jika aku tetap kerja saat ayah sama bunda ke mari."
"Nggak apa-apa, La. Mereka mengerti kok. Kamu tenaga kesehatan, nggak bisa sembarangan ambil cuti jika bukan hal mendesak."
Kayla membuka mulutnya ingin menyuarakan pendapatnya juga, namun dering ponsel Avan membuatnya terdiam karena pria berambut gondrong itu bergegas beranjak keluar.
"Mas angkat telpon dulu ya."
Di luar kamar Kayla, Avan menekan tombol hijau dan mendekatkan gawainya ke telinga.
"Assalamualaikum, Bun."
("Wa'alaikum salam, Van. Kami udah di bandara. Baru aja landing. Jemput ya.")
Mata Avan melebar sempurna. Tiba-tiba saja sang bunda memberi kabar telah aampai di kota. Avan bahkan belum memindahkan sebagian pakaiannya ke kamar Kayla.
"Bunda di bandara?"
("Iya Van. Bunda sudah enggak sabar ketemu sama mantu bunda.") Suara bunda yang terdengar sangat ceria dan bersemangat di sebrang sana.("Van?")
"Iya bun, Avan jemput kalian sekarang."
Setelah menutup sambungan telpon. Avan kembali ke kamar Kayla yang memang tidak dia tutup dengan sempurna.
__ADS_1
"Ila, bunda dan ayah sudah sampai di bandara." Avan mengabarkan pada istrinya.
"Sekarang mas?" Tanya Kayla kaget.
"Iya, kamu di rumah aja, mas akan pesan sama anak-anak di resto untuk antar makanan kemari. Nanti kamu bantu pindahin ke wadah prasmanan di rak atas. Kamu udah kuat kan?"
Kayla mengangguk.
"Ya sudah, mas pergi dulu." Pamit Avan bergegas keluar membawa mobilnya untuk menjemput wanita yang telah melahirkan nya 28tahun yang lalu.
Beberapa jam kemudian, Mobil Avan sudah masuk kedalam halaman rumah minimalis itu. Kayla yang berdiri di depan teras segera menyambut hingga pintu mobil. Begitu sang bunda mertua menginjakkan kaki di halaman rumah, Kayla langsung mencium tangan bunda dan ayah bergantian.
"Bunda, ayah, maaf Kayla nggak ikut njemput..."
"Nggak papa sayang, Avan udah cerita tadi, katanya kamu lagi siapin makanan buat bunda sama ayah. Makanya nggak bisa ikut." Potong bunda memeluk anak menantunya. Kayla menatap Avan bingung, ia tak melakukan apapun, hanya memindahkan sesuai yang Avan katakan tadi. Tapi, dari ucapan sang mertua seolah ialah yang masak dan mempersiapkan semuanya. Avan hanya melempar senyum pada nya dan mengangguk samar. Agar Kayla mengiyakan saja apa bundanya ucapkan.
"Ayo masuk, bunda. Ayah."
***
"Wah, benar, kamu masak opor ayam." Celetuk bunda begitu melihat meja makan terdapat opor ayam, oseng usus cabe hijau serta tempe dan tahu goreng sebagai lauknya. Tak tertinggal sambal bajak sebagai pelengkap.
Kayla hanya memandang Avan, merasa tak enak karena sudah seperti menipu sang bunda.
"Tadi pas bunda telpon, kami memang lagi masak, Bun. Makanya aku kaget banget, kok pas banget kami lagi masak opor kesukaan bunda." Aku Avan, memandang Kayla yang sedang mengambilkan nasi untuk bunda dan ayah secara bergantian."Eeh, tak taunya, Kayla juga inisiatif bikin oseng usus juga."
Kayla hanya tersenyum menanggapi, tanpa mengatakan apapun.
"Ayah seneng nih, oseng usus." Oceh ayah dari Avan itu.
"Kayla libur nggak hari ini?"
"Kayla masuk siang, Bun." Jawab Avan.
"Bunda tanya sama Kayla, Van. Bukan kamu. Kok malah kamu yang jawab sih?" Protes bunda melirik kesal pada anak lelakinya itu. Kayla hanya tersenyum, dan memilih lebih banyak diam. Membiarkan Avan yang berbicara, meski berbohong, namun menjaga dirinya dari pandangan buruk mertua.
__ADS_1