Nafkah Batin Suamiku

Nafkah Batin Suamiku
bab 8 - pertengkaran Pertama


__ADS_3

"Ini Ila yang masak?"


Ayah bersuara memandang masakan seafood di atas meja makan.


"Bukan, yah. Bunda yang masak, Ila cuma bantu-bantu aja kok." Jawab Kayla sedikit malu.


"Aah, yang benar. Emang bunda bisa masak seafood?" Ayah menggoda.


"Iya, iya, yah. Kayla yang masak, bunda mah, mana bisa masak." Oceh bunda mengerucutkan bibirnya ke depan. "Bisa nya cuma main di kasur."


Ayah terkekeh, "yang itu jago banget."


Kayla tersenyum kecil melihat mertua nya yang sedikit berkelahi mulut itu.


"Ila, panggil suami gih, kita makan bareng." Perintah sang bunda menyiapkan beberapa piring di meja.


"Iya Bun." Angguk Kayla berjalan ke teras, tak ada Avan, lalu berjalan ke halaman belakang, pun pria berambut gondrong itu masih tak ada juga. Seingat Kayla tadi, Avan sedang memangkas rumput di halaman.


"Mas!"


Kayla memanggil sang suami berkali-kali. Karena tak juga menemukan, kaula berganti masuk kedalam rumah. Kayla membuka pintu kamar karena tak menemukan Avan di manapun hanya tinggal kamar yang belum dia cek.


"Mas!"


Melihat kamar kosong, Kayla berbalik untuk melangkah keluar. Sayangnya, tubuh Kayla menabrak sesuatu yang empuk. Ia terkaget dan hampir jatuh.


"Aaaaahh...." Tubuh Kayla melayang, gadis itu memejamkan matanya karena berpikir akan jatuh terjerembab. Kayla membuka matanya perlahan. Tepat di depan matanya, wajah Avan yang masih sedikit basah dan aroma wangi sabun yang menguar dari tubuhnya.


Pria berambut gondrong itu menangkap tubuh Kayla yang hampir jatuh. Menahan punggung Kayla dan sedikit membungkuk. Wajah Kayla dan Avan terasa begitu dekat, hingga memacu detak jantung Kayla menjadi lebih cepat dari sebelumnya.


"Kamu nggak papa, La?"


Avan menegakkan tubuhnya dengan membawa Kayla serta, hingga Kayla berdiri dengan benar. Kayla memandang tubuh Avan yang hanya tertutup sehelai handuk yang menutupi bagian vitalnya. Degub jantung Kayla masih sulit ia kendalikan, itu membuat Kayla salah tingkah.


"Ma-mas kemana saja? Tadi aku cari nggak ketemu."


"Mas keringatan habis motong rumput sama tanaman. Jadi mas mandi dulu." Ucap Avan santai melangkah ke lemari. Mengambil kaus dan celananya.


"Oohh..."


"Kenapa nyari mas?" Tanya Avan sembari memakai kaus berwarna Dongker itu.


"Bunda ngajak makan." Sahut Kayla masih berdiri di tempatnya.


"Oke." Avan berdiri memegangi celana nya yang belum ia kenakan, melihat Kayla yang masih mematung di tempatnya.

__ADS_1


Sadar Avan hanya terdiam, dan tak segera mengenakan celananya. Kayla semakin salah tingkah dan tak nyaman, Avan pastilah menunggu dirinya keluar dari kamar.


"A-aku tunggu di luar ya, mas."


Avan tersenyum, "iya, La. Ambilkan buat mas skalian, nasi nya jangan banyak-banyak."


"Iya, mas." Angguk Kayla bergegas keluar dari kamar. Merasa sangat malu jika Avan berpikir dirinya mesum.


"Ya ampun, kenapa wajahku rasanya panas." Gumam Kayla pada dirinya sendiri setelah menutup pintu kamar.


Hampir lima hari lamanya, bunda dan Ayah tinggal di rumah Avan. Selama itu juga sebelum dan setelah Kayla bekerja, selalu menyempatkan diri menemani bunda keliling kota. Mengunjungi mal dan pasar. Berwisata kuliner dan pergi ke pekan raya. Sampai akhirnya, sang bunda kembali ke kampung.


"Langsung mas anter ke rumah sakit aja ya, La." Tawar Avan sembari menyetir setelah mengantar bunda ke bandara."Mas masih harus ke resto ketemu supliyer, takut nggak sempat anter kamu soalnya."


"Iya mas, nggak papa."


"Nanti mas jemput."


***


Avan melirik jam yang melingkar di lenganya. Beberapa kali menempelkan gawainya di telinga untuk menunggu panggilannya kepada Kayla tersambung. Ini tepat pukul sepuluh malam, waktu di mana Avan sering menghubungi Kayla untuk menjemputnya. Meskipun hanya dengan cuma jawaban singkat, Kayla menjawab panggilan itu. Masalahnya, Kayla sama sekali tidak menjawab panggilannya padahal Avan sudah menghubunginya berkali-kali.


Avan memeriksa jaringan ponselnya dan menemukan tidak ada satu pun kesalahan di sana. Bahkan Avan sempat memastikan dia menghubungi nomor Kayla, bukan orang lain. Avan merasa yakin dia menghubungi orang yang tepat dan panggilan itu pasti sudah masuk ke nomor Kayla. Tapi istrinya itu tetap tidak menjawab panggilannya.


Avan semakin gelayuti rasa cemas. Dia menuju ke arah mobilnya. Dia tidak peduli Kayla sudah selesai bekerja atau dia harus menunggu lebih lama di dalam mobil sampai Kayla selesai. Avan sudah tidak bisa menahan rasa khawatir nya.


Avan menghela napas. Mungkin dia terlalu terburu-buru. Kayla mungkin masih bekerja di dalam sana, makannya belum terlihat di luar rumah sakit. Avan menyenderkan bahunya di senderan jok. Berusaha berpikiran positif.


Setengah jam kemudian, Avan kembali di hingapi rasa cemas. Dia sudah tidak tahan berusaha membayangkan pikiran positif dalam otaknya. Dia harus tau tentang Kayla sekarang juga.


Avan berjalan menyebrangi parkiran. Dia sampai di area beberapa ambulance yang terparkir rapi. Lalu naik di tangga koridor. Dia bisa melihat dua orang penjaga yang sedang mengobrol, Avan mendekati para penjaga itu. "Selamat malam, Pak!" sapa Avan.


"Malam, ada yang bisa saya bantu?"


"Anda lihat istri saya sudah keluar dari rumah sakit?" tanya Avan terdengar tak masuk akal di telinga si penjaga. Ada begitu banyak perawat dan dokter perempuan di rumah sakit ini. Bagaimana penjaga itu bisa tau istri mana yang Avan maksud?


"Dia perawat di sini. Namanya Kayla."


"Kayla?" tanya penjaga itu kebingungan.


"Iya, Pak."


"Saya kurang tau, Pak. Maaf," sahut penjaga itu membuat Avan menghela napas kecewa."Dia bekerja di bagian mana?"


Avan merogoh kantong celananya, lalu menunjukkan foto Kayla.

__ADS_1


"Saya kurang tau sudah pulang atau belum, tapi dia masuk siang seperti nya, tadi aku sempat melihatnya."


"Begitu ya, terima kasih."


Avan mengangguk mengerti. Tidak ada gunanya dia bertanya kepada para penjaga yang tidak punya sangkut pautnya dengan para perawat maupun dokter. Tetapi Avan tidak menyerah semudah itu. Dia tau ini waktu para perawat pulang sehingga dia menunggu ada orang yang ia kenal akan lewat di depannya.


Keyakinan Avan sangat tepat. Ada beberapa perawat yang lewat. Dari perawat-perawat yang akan segera pulang itu, Avan tau salah satu dari mereka adalah sahabat Kayla. Sayangnya, perawat-perawat itu bilang kalau mereka tidak tau. Itu membuat kekhawatiran Avan semakin menjadi-jadi. Ia sangat khawatir sesuatu yang buruk terjadi pada istrinya.


Avan langsung menuju mobilnya. Menghubungi nomor Kayla lagi. Dia membawa mobilnya pergi dari area rumah sakit.


Dengan hati berdebar-debar cemas, Avan berhasil sampai di rumah. Ketegangannya sama sekali tidak menurun karena dia tidak menemukan istrinya sudah pulang.


"Kayla!" seru Avan mungkin terdengar hingga ke rumah tetangga.


Avan hampir putus asa. Dia duduk pasrah di atas kursi saat bunyi mobil berhenti di depan rumah mencuri perhatiannya. Melihat Kayla baru saja turun dari sana dan memasuki halaman rumah.


"Kayla! Dari mana saja kamu?"


Kayla tersentak kaget. Melihat sang suami yang berdiri di teras dengan wajah cemas.


"Tadi, aku ke rumah teman."


"Ke rumah teman?"


"Iya mas, tadi temanku ngajak ke rumah salah satu teman kami yang menikah. Karena besok kami harus kerja dan nggak bisa hadir, jadi kami kesana malam ini." jelas Kayla jujur.


"Ila!" Suara Avan sedikit meninggi hingga Kayla terlonjak kaget. Tak pernah sekalipun Avan meninggikan suara saat bicara padanya. Kayla tau saat ini Avan sedang marah.


"Kamu tau ini jam berapa?"


Kayla menunduk dalam, ia sangat tau jika ia bersalah. Avan mengusap rambutnya ke belakang, mengalirkan semua rasa marahnya ke sana.


"Ila, mas khawatir banget sama kamu. Sebelumnya, kamu sampai hipo. Benar, hari ini enggak hujan. Benar, ada teman kamu yang antar ke rumah. Tapi, Ila, bisakah kamu ijin dulu sama mas? Bisa kah kamu angkat telpon dari mas? Nggak bisa, ila hubungin mas biar mas nggak khawatir?"


Kayla menunduk semakin dalam, sangat tau akan kesalahannya. Ia adalah wanita bersuami, sudah seharusnya ia meminta ijin terlebih dahulu jika ingin pergi kemanapun.


"Kamu istri mas, La. Kamu tanggung jawab mas sekarang. Jika ada apa-apa sama kamu, gimana mas jelasin sama bapak dan emak? Orang tua yang sudah menjaga kamu dengan baik sampai sebesar ini."


Bahu Kayla sedikit berguncang, ia tau telah salah sampai membuat Avan cemas. Apalagi ucapan Avan yang membawa orang tuanya. Itu sangat menyakitkan karena Kayla tau betul bagaimana orang tuanya menjaga dirinya. Sampai mereka dulu sangat marah saat tau Kayla tinggal satu atap dengan Raize.


"Maaf, mas." Isak Kayla penuh penyesalan.


Merasa sudah sangat keras pada istrinya, Avan pun sedikit menyesal. Mengikuti emosinya memarahi Kayla hingga menangis.


"Kenapa nggak mengangkat telpon dari mas?"

__ADS_1


"Hape Kayla silent, mas. Nggak enak sama teman yang punya hajatan. Kayla tau Kayla salah. Maafkan Kayla." Ucap Kayla masih dengan bahu yang berguncang pelan.


Avan merasa sangat tak tega, pria berambut gondrong itu mendekat dan memeluk Kayla. "Jangan di ulangi lagi ya, mas sayang sama kamu, La. Mas nggak ingin hal buruk terjadi padamu. Apalagi ini sudah malam, akan lebih baik jika kamu menghubungi mas. Kamu ada di mana, dengan siapa, jadi mas nggak akan secemas ini."


__ADS_2