
Tok tok tok!
Suara pintu depan terdengar di ketuk, kayla baru saja selesai menjemur pakaian. Ia melangkah setelah meletakkan ember di samping mesin cuci. Lalu berjalan ke depan untuk membukakan pintu. Kayla sempat mengintip dari balik jendela, untuk melihat siapa yang mengetuk pintu sepagi ini. Seorang wanita yang rambutnya di cat pirang atau kuning, entahlah. Beberapa kali wanita itu terlihat membetulkan rambutnya. Kayla membuka pintu.
Wanita berambut pirang itu awalnya tersenyum sangat lebar, lalu memudar begitu melihat Kayla membuka pintu. Tampak wanita itu membawa mangkuk besar yang entah berisi apa karena terpasang Tutup diatasnya.
"Ada perlu apa ya mbak?" Tanya Kayla sopan.
"Nyari Avan. Mana dia?"
"Oohh, dia..."
"Avan! Van!" Wanita berambut pirang yang mungkin ingin bertamu itu berteriak di depan pintu sembari melongok-longok ke dalam dari tempatnya berdiri, tepat di depan Kayla.
"Mbak ini kenapa sih?" Batin Kayla tak suka dengan sikap si tamu wanita yang seperti tak menganggap dirinya.
Tak lama, Avan keluar dari dalam, wanita berambut pirang itu terlihat semringah. "Van, aku bawain opor nih buat kamu, tadi aku bikin kebanyakan."
"Oohh," hanya itu tanggapan Avan. Kayla terdiam karena masih melihat situasi.
"Dulu kamu suka banget sama opor." Wanita itu mengoceh lagi, "Makanya, aku ingat kamu pas masak tadi. Nih!"
'wanita ini, jangan bilang mantan nya avan.' gumam Kayla dalam hati memindai wanita di hadapannya. Dari ujung kepala sampai ujung kaki. Rambut panjang yang di cat pirang, wajah putih dan gigi gingsul. Oke, cantik. Mungkin hampir sama dengan Kayla. Lalu Kayla menilai pakaiannya, wanita itu memakai daster tumpuk setinggi lutut berwarna krem. Menampakkan kulit putih nan mulus.
"Maaf Sa, aku udah sarapan tadi." Avan menolak halus.
"Ya udah, buat ntar siang aja."
"Siang kami mau ke hajatan, jadi nggak ya, nggak mau makan dulu di rumah."
"Yaah, gitu ya?"
"Maaf ya, Sa." Ucap Avan, lalu berganti menatap Kayla,"La, buruan siap-siap sana, kita kan mau ke tempat mbak Ayla. Ntar telat lagi."
Kayla memandang Avan, ia tak ingat membuat rencana untuk kerumah kakaknya. Avan tersenyum dan mengusap lembut pipi sang istri, "Buruan, dah di tungguin, sama Uwais. Baru aja dia telpon kangen sama buliknya."
Kayla mengangguk samar, berganti memandang wanita yang di sebut Sa oleh suaminya itu. Tampak sekali wanita itu tak suka melihat bagaimana Avan memperlakukan sang istri. Aneh. Kayla berjalan masuk kedalam rumah.
__ADS_1
"Sory ya Sa, kami mau siap-siap pergi dulu." Cetus Avan langsung menutup pintu tanpa menunggu si tamu tak di undang itu menjawab. Tapi ia tampak sangat keberatan Avan seperti memaksanya pergi. Kayla mengambil handuk dan menyampirkannya di bahu. Melihat Avan yang baru saja memasuki dapur.
"Siapa tadi, mas?"
"Tetangga depan rumah."
"Kok aku baru liat?"
"Baru pindah dua hari yang lalu."
Kayla masih merasa sangsi, sangat yakin ada yang tak jujur. "Kok dia keknya kenal lama sama mas."
"Iya, mantan."
Kayla mendelik mendengarnya."mantan?"
"Kenapa?"
"Sepertinya, dia masih ngarepin mas."
"Mas nggak suka, mas juga dah punya Ila."
"Iya, La."
"Kenapa putus?"
"Nggak jodoh."
Kayla menyipitkan mata curiga, Avan malah tersenyum lebar. "Dia dulu pergi ninggalin mas, katanya cari laki-laki mapan dan tampan yang siap nikah."
"Mas mapan dan tampan." Celetuk Kayla."Nggak nyangka selera mas dulu kek gitu."
"Dulu Sasa berjilbab, nggak tau kok tiba-tiba jadi buka-bukaan kek gitu."
"Ooh, jadi mas nyuruh Ila berjilbab buat mengenang Sasa?"
Avan tersenyum geli mendengar ucapan Kayla. Lalu merangkul dan mengunci tubuh sang istri dalam pelukan. "Ya enggaklah, La. Kamu sama dia itu seperti ujung kaki dan kepala. Jauh."
__ADS_1
"Kalau di lipet jadi Deket mas. Sejajar malah."
"Enggak, coba kamu lipat tubuhmu, mentok, kepalamu sampai lutut. Nggak sampai kaki,"
Kayla masih berkelit, "tapi, masih kaki juga kan?"
"Bukan di ujung, La. Masih ada gab nya. Lagian, ila deketnya sama Mas." Ucap Avan semakin mengeratkan pelukannya, "tuh, Deket," Avan menggesekkan hidungnya dengan hidung Kayla. Istrinya itu tersenyum lebar.
"Sepertinya, aku terlalu khawatir berlebihan." Gumam Kayla dalam hati.
Malam harinya, setelah kembali dari rumah Ayla, mereka duduk bersantai di ruang keluarga. Akhirnya, memang Kayla dan Avan berkunjung ke kediaman Rocky juga. Memanfaatkan waktu Kayla libur. Kayla sudah menyiapkan tespek nya. Malam ini, Kayla berniat memberitahu perihal kehamilan pada Avan.
"Mas..."
Suara pintu depan di ketuk kembali terdengar, menjeda ucapan Kayla. "Siapa sih, yang bertamu malam-malam gini." Gerutu Kayla, kesal karena rencananya gagal.
"Biar mas aja La, yang bukain pintu." Avana beranjak dari duduknya. Lalu berjalan ke ruang tamu. Suara pintu di ketuk makin tak sabar.
"Avan!" Sasa sang mantan pacar lah yang ternyata mengetuk pintu.
"Eeh, Sasa, ada apa? Malem-malem."
"Udah makan belum? Aku bawain opor yang tadi, kesukaan kamu kan?"
"Aduh, aku dah makan Barusan."
"Bohong, barusan kan kalian baru pulang."
"Iya, maksudnya baru makan di luar."
Kayla melongok dari ruang keluarga. Mengeleng pelan melihat saingan masih getol mendekati suaminya.
"Ya, udah sih, kalau nggak mau opornya, aku masuk ya?" Sasa asal nyelonong masuk dan duduk di ruang tamu. Tak lupa ia meletakan semangkuk opor di meja.
"Ada apa, Sa?"
"Mau main aja sih, nggak ada orang di rumah. Takut." Kata Sasa dengan ekpresi begidik.
__ADS_1
Akhirnya, mau tak mau Avan meladeni. Berbincang yang cukup mengusik Kayla yang duduk di ruang keluarga.
"Nggak bisa di biarin nih, malah ngbrolin masa lalu, apa dia nggak liat mas Avan sudah punya masa depan." Gerutu Kayla beranjak dari duduknya dan berjalan ke depan.