
Avan menatap wanita yang kini sedang duduk membuat kopi, ada rasa bersalah karena semalam sempat bertengkar hingga membuat Kayla menangis. Avan ingin menebus rasa bersalahnya dengan mengajak Kayla jalan-jalan.
"Ila," sebut Avan mendekat ke sisi sang istri.
Kayla mengerling. Menatap kedua mata suaminya yang cuma berjarak beberapa senti dari wajahnya.
"Ke pekan raya yuk? Mumpung sekarang kamu masuk pagi," sambung Avan. Berusaha meyakinkan Kayla.
Kayla menghela napas panjang. "Pekan raya?"
Avan mengedikkan bahunya. "Kamu nggak mau? Apa ke tempat lain? Mall? Taman? Apa kemana?"
Kayla terdiam sesaat, berpikir sembari menyeruput kopinya. Dan menatap sang suami yang menatapnya intens, "mas mau kopi?"
Avan mengulas senyuman, meraih cangkir kopi milik Kayla lalu menyeruputnya. "Enak kopi mu, La." Pujinya mengembalikan kopi Kayla. "Jadi gimana? Mau? Kalau enggak ya nggak papa. Dari pada di rumah aja, sih, mana tau suntuk."
Kayla menghembuskan napas sekali lagi. Meminum kopinya. Dalam hati, dia pun merasa sangat bersalah karena sudah membuat suaminya kecewa kemarin. Etidaknya ia ingin memperbaiki hubungan dengan suaminya.
Kayla sadar, seharusnya dia tidak seperti ini. Tidak ada hukum yang mengajarkannya melawan suami, apalagi seorang suami baik dan perhatian seperti Avan. Bukannya patuh, justru Kayla menyia-nyiakan kebaikan Avan. Seharusnya dia merasa beruntung punya suami pengertian seperti Avan, bukannya memikirkan tentang Raize yang berbeda keyakinan dengannya.
"Mau deh, mas," sahut Kayla setelah kopinya habis karena dia sibuk meminumnya ketika berpikir.
Avan bahagia melihat senyuman tercetak di bibir istrinya. "Ya sudah, aku tunggu di mobil. Kamu siap-siap dulu sana."
"Bagusnya, kita kemana, mas?" Kayla mengerling kebingungan saat Avan sudah bangkit dari duduknya untuk segera menuju ke mobil.
Avan berusaha mengingat-ingat destinasi wisata yang sekiranya bagus. Lalu dia mengingat sesuatu, "Ke pekan raya nggak mau? Kayaknya hari ini masih buka, deh. Wisata kuliner di sana sangat bagus, mas juga pingin menambah referensi menu baru di resto dan Kopi Manis?" Avan menatap tegang saat ekspresi Kayla berubah datar. Dia pikir Kayla akan menolak ajakan itu.
"Oke," sahut Kayla membuat Avan menghela napas lega.
"Ya udah, aku siap-siap dulu ya, Mas." Kayla keluar dari dapur untuk menuju ke kamarnya berada.
Kayla bersiap-siap. Memilih baju seadanya dari lemari. Tetapi dia ingat ini adalah kesempatannya untuk memperbaiki diri dan terlihat menarik di depan suaminya. Maka dia mengambil baju yang paling istimewa. Memakainya sambil membuang ingatannya tentang Raize, karena mengingat hal itu akan membuatnya mengingat rasa sakit yang sama.
Setelah mengenakan make up dan sepatu heels standar, Kayla keluar kamar. Menuju ke pintu depan, tempat suaminya sudah menunggu dari dalam mobil. Kayla mengunci pintu rumah. Langsung menuju ke samping suaminya.
"Kamu cantik banget," puji Avan tanpa mengalihkan pandangan dari wajah istrinya yang kini tersenyum malu-malu.
"Udah, jalan sekarang, Mas!" perintah Kayla yang merasa tak nyaman diperhatikan terlalu lama.
Mobil berjalan membelah udara nyaman sore itu. Keduanya larut dalam percakapan-percakapan singkat yang tidak menyinggung hubungan sama sekali. Avan beberapa kali menanyakan tentang pekerjaan Kayla dan Kayla menjawab dengan senang hati. Mereka bahkan sempat menertawakan penjaga yang pernah Avan temui di depan rumah sakit.
Pekan Raya di alun-alun membuat parkiran terasa sangat sempit. Avan harus menyelinap di antara kendaraan-kendaraan umum untuk bisa mengambil tempat.
Kayla sempat menyemprotkan parfumnya sebelum mereka keluar dan bertempur di tengah udara panas bersama ribuan orang.
"Susah nggak?" tanya avan saat Kayla keluar lewat jalan kecil antara dua mobil. Kayla menggeleng pelan dan akhirnya mereka bisa melewati parkiran itu dengan tenang.
__ADS_1
Jejeran kios tertata rapi sejauh mata memandang. Pemandangan ini cukup memanjakan Kayla, membuatnya sekilas melupakan tentang perannya saat ini yang sedang berusaha bersikap baik di depan suaminya padahal sebenarnya dia tidak ingin melakukan itu.
"Mau kemana dulu?" tanya Avan sambil menyugar rambut gondrongnya yang terpapar sinar matahari. Dia ikut memandang orang-orang yang sedang melakukan transaksi maupun duduk-duduk santai untuk menikmati suasana. "Makan?"
Kayla mengerling.
"Ya udah makan aja, yuk," Avan mengajak Kayla masuk lewat gerbang bertuliskan pekan raya di atas mereka. Suara musik yang berpadu dengan keramaian langsung menerpa telinga mereka. Sepasang kekasih itu menatap ke kanan dan ke kiri ke arah para pedagang dan dagangan mereka.
"Mau makan apa?"
"Terserah," sahut Kayla membuat Avan yang sudah mengincar sate sejak tadi langsung menariknya ke tukang sate.
"Sate mau?"
Kayla menoleh. "Mas kan tau kalau aku nggak suka sate."
Avan menciutkan rasa antusiasnya. Matanya menatap sebuah kios bertuliskan bakso urat. "Kalau bakso gimana, La?"
"Kok bakso, sih? Jangan lah, Mas."
Avan menghembuskan napas. Ini lah susahnya menawari perempuan makan. Bukan masalah nominal ataupun tempatnya, tapi masalah pilihan yang sulit sekali diputuskan. "Lah tadi katanya terserah."
Kayla merengek kecil membuat Avan tersenyum gemas. "Terserah ... tapi yang aku mau."
"Nah iya, kamu maunya apa?"
"Nah, gitu dong. Kan aku jadi tau kalau ternyata kamu maunya kebab." Avan tertawa kecil. Langsung mengajak Kayla menuju ke warung kecil itu.
Mereka menghabiskan hampir satu jam di rumah makan. Bukan hanya sekedar untuk makan, karena Kayla sendiri tidak menghabiskan satu porsi kebabnya karena berasalan perutnya sudah penuh. Mereka hanya saling bercanda sambil menunjuk-nunjuk beberapa kios di sekitar warung itu.
"Mau beli baju nggak?" tanya Avan berusaha pengertian.
Kayla menunjukkan senyumnya. Dia senang Avan tau apa yang membuat moodnya langsung naik. "Mau."
"Ila, mas senang kalau liat Kayla pake baju gamis. Yang menutup rambut Ila, kadang mas seperti nggak rela melihat pandangan orang ke Ila, yang seperti ini."
Kayla melihat dirinya sendiri, merasa pakaian nya sudah cukup sopan dan tertutup. "Mas mau Ila pake jilbab?"
"Kayla mau?"
Kayla terdiam, memang Avan beberapa kali mengkode dirinya untuk memakai jilbab, tapi, hati kayla belum sepenuhnya siap.
"Kamu cantik banget, La. Dan mas cukup egois untuk membaginya dengan orang lain. Rasanya pingin mas lihat sendiri. Tapi, kalau ila belum siap, boleh nggak kalau pas keluar seperti ini Ila pake jilbab." Avan berusaha membesarkan hati istrinya agar perkataannya sama sekali tidak menyinggung.
Kayla tersenyum dan mengangguk pelan."Pelan-pelan ya mas, Ila belum..."
"Nggak papa." Balas Avan cepat, mengusap sayang kepala Kayla.
__ADS_1
Mereka keluar dari rumah makan. Menuju ke beberapa kios baju. Kayla tidak tau bagaimana memilih baju muslimah, karena itulah Avan ikut membantunya.
Avan berusaha menawarkan gamis-gamis syar'i, tetapi tidak ada satu pun yang berhasil mencuri perhatian Kayla.
"Ini bagus nggak, Mas?" Kayla menunjuk sebuah gamis bertali berwarna hijau muda. Avan menyetujuinya, dia tidak keberatan dengan semua keputusan Kayla asalkan gamis yang dibeli cocok untuk dipakai dengan hijab.
Setelah mengambil tiga buah gamis, mereka membeli beberapa kerudung. Avan senang melihat Kayla tidak keberatan dengan keputusannya untuk memakai hijab.
"Ila!"
Kayla menoleh pada suaminya, pria berambut gondrong itu memasangkan topi rajut di atas kepala Kayla.
"Cocok," puji Avan.
Kayla tersenyum, lalu ia mengambil kaca mata hitam di rak dan memasangkan benda itu ke wajah Avan.
"Ganteng."
Senyum keduanya melebar saat saling melempar pujian. Seperti pasangan yang lainnya.
"Wah, bagus, cocok, yang satu cantik, yang satu lagi ganteng. Nih, mas, mbak, ada couple nya juga, beli jugalah." Ucap si penjual merayu menunjukan sepasang kaus couple bergambar hati.
Author sisipkan visualnya ya kali ini.
Kayla
Avan
Raize
__ADS_1