Nafkah Batin Suamiku

Nafkah Batin Suamiku
Bab 11 - pertemuan kembali


__ADS_3

Keempat mata itu tak teralihkan selama lebih dari satu menit. Raize menyalurkan segenap rasa rindu yang hanya bisa dia ungkapkan lewat mata, sedangkan Kayla sedang bertanya-tanya dalam hati apa yang harus dia lakukan saat melihat masa lalunya telah kembali.


"Ekhem!" dehem anak kecil yang baru saja Kayla suntik. Anak perempuan itu membuat tatapan Kayla dan Raize terbuyarkan.


"Sudah nyuntiknya ya, Sus. Tangan saya sakit," isak si kecil dengan raut masih memerah. Tetapi bibirnya tercetak senyum tengil karena menyadari ada sesuatu antara Raize dan Kayla setelah melihat cara mereka saling menatap.


Kayla merapikan alat-alatnya. Gerakannya berubah sangat kikuk setelah kedatangan Raize ke ruangan ini. Terutama ketika laki-laki itu semakin mendekat ke arah brankar untuk mengecek keadaan anak kecil yang baru saja menertawaka mereka.


Kayla sempat berjalan keluar dari sana, lebih tepatnya berniat kabur, toh pekerjaannya telah selesai, tetapi Raize memanggil namanya dengan sebutan suster alih-alih Kayla, itu membuat Kayla menelan ludah dan terpaksa menoleh ke belakang.


"Tunggu sebentar. Boleh pinjam stetoskopnya?" Raize melirik stetoskop di leher Kayla.


Tanpa menatap Raize, Kayla memberikan stetoskop itu. Membiarkan Raize menggunakannya untuk memeriksa si gadis kecil. Sementara dia terpaksa menunggu di sisi brankar dengan tubuh mematung.


Kayla tau lewat senyuman di bibir Raize yang tercetak sejak tadi. Laki-laki itu bukan hanya sedang menampilkan ekspresi ramah kepada pasiennya, melainkan karena merasa bahagia karena akhirnya bertemu kembali dengannya. Kayla ingin sekali merespon senyum bahagia itu dengan ungkapan rindu di hatinya yang terdalam. Tetapi dia ingat saat ini dia sudah punya seorang suami sah, yang membuatnya ikhlas mengenakan jilbab meskipun sedang bekerja.


Pintu terbuka oleh seseorang. Dia adalah salah satu dokter. Baik Kayla maupun Raize menoleh ke sana.


"Dokter Raize, ada pasien kecelakaan yang harus ditangani."


Kayla dan Raize saling lempar pandang.


Raize menyuruh pasien kecilnya untuk beristirahat sementara dia segera bergegas. "Ayo Kayla!" kata Raize. Untuk pertama kalinya Kayla mendengar namanya disebut dengan suara khas laki-laki itu lagi. Tetapi ini bukan saat yang tepat untuk memanjakan perasaanya, dia harus bergerak profesional sebagai seorang perawat yang membantu dokter dalam menangani pasien.


Semua berjalan lancar. Kayla berhasil profesional. Dia beberapa kali berada di dekat raize saat menangani pasien kecelakaan itu. Tetapi dia dokus bekerja dan tidak menyertakan perasaannya yang seharusnya meronta-ronta.


Raize pun sama. Dia tau sangat sulit tidak menyapa Kayla lagi dalam keadaan seperti ini, atau mungkin tersenyum untuk menyembunyikan kebahagiaannya. Dia berhasil menangani pasiennya dengan baik. Itu membuat dokter lain yang ikut menangani pasien itu memuji-mujinya. Dari sinilah Raize bisa melihat senyuman tulus Kayla tertuju padanya.

__ADS_1


Pasien itu sudah terbalut perban. Bersih dari darah. Luka-lukanya sudah dijahit. Beberapa alat medis sudah terpasang untuk menunjang organ vitalnya. Semua itu karena kerja keras Raize, Kayla, dan beberapa dokter lain. Mereka semua bisa tersenyum dengan tenang meskipun masih cukup cemas melihat reaksi keluarga pasien begitu mereka menjelaskan keadaan pasien remaja ini.


Begitu Raize keluar dari ruangan, dia langsung dihambur keluarga pasien. Ini adalah momen yang paling tidak Raize sukai, tetapi saat melihat Kayla tetap menunggu di belakangnya untuk menemaninya, Raize merasa lebih antusias.


"Ada beberapa luka dalam yang sudah kami tangani. Pasien sedang dalam masa kritis untuk beberapa jam ke depan. Bersabar ya, Bu!" Raize menepuk bahu wanita selaku ibu dari pasien.


Wanita berceceran ait mata di wajahnya itu kembali menangis. Kayla sempat menenangkannya dengan senyuman tenang. Lalu mereka meninggalkan ruangan itu lewat koridor.


Raize punya banyak kesempatan untuk bicara dengan Kayla karena mereka cuma berdua di koridor sepi ini. Sikap profesional mereka sudah luntur. Raize kembali memperlihatkan ekspresi bahagia di wajahnya, seperti beberapa jam lalu sebelum ada keadaan darurat pasien kecelakaan.


"Bagaimana kabar kamu, Kayla?" tanya Raize membuat Kayla menoleh sekilas.


"Aku pikir kamu sudah tidak mengenalku karena aku pakai hijab sekarang," sahut Kayla.


Raize menggeleng kecil. "Aku senang lihat kamu pakai hijab. Kamu jadi tambah cantik."


Raize menghentikan langkah di tengah-tengah koridor, membuat Kayla ikut berhenti. "Kamu selalu cantik, baik pakai hijab maupun tidak. Kamu tetap Kayla yang dulu, yang suka dengan anak kecil."


Senyum Kayla sudah tak tertahankan.


"Begitu tau kalau kamu ternyata bekerja di sini, aku berusaha cari kamu di mana-mana."


"Sejak kapan nugas di sini?"


"Sejak empat hari yang lalu dan selama itu aku cari-cari kamu."


Kayla tersenyum. Dia ingat selama empat hari terakhir dia juga lebih kepikiran Raize daripada biasanya. Bahkan wajah Raize sampai kebawa mimpi. Dia sama sekali tidak tau ada sesuatu yang akan terjadi lewat tanda-tanda itu. Ternyata tidak lama kemudian dia bertemu dengan Raize di dunia nyata.

__ADS_1


"Ikut senang lihat kamu balik ke Indonesia," kata Kayla memecah keheningan antara dirinya dan Raize sekaligus koridor yang sepi.


"Bagaimana keadaan kamu?"


Kayla mengangguk. Melirik tubuhnya sendiri dengan senyuman tenang. "Masih biasa. Kamu sendiri gimana?"


Raize menatap tampilan Kayla sekali lagi. "Kamu tambah cantik, baru aku setuju."


Kayla menutup tawa kecilnya dengan telapak tangan. "Kamu sehat-sehat, 'kan?"


Raize mengangguk. "Kayaknya enggak setelah lihat ibunya menangis karena anaknya kecelakaan tadi."


"Ya, itu konsekuensi bekerja di rumah sakit. Semua orang pasti merasakan itu. Kemarin aku juga menangani anak yang kena kanker. Malamnya sempat buat banyak harapan, tapi keesokan paginya dia meninggal. Seharian aku kepikiran sampai nggak enak makan. Nggak bisa bayangin gimana rasanya jadi orang tua anak itu."


Raize mengangkat sebelah alisnya. "Mau jalan bareng nggak?"


Kayla mengerling kebingungan. Kenapa tiba-tiba dia diajak jalan bareng di suasana seperti ini?


"Maksudku ... kita bisa jalan bareng ke ruangan pasien berikutnya. Bukan jalan bareng keluar."


Kayla memekik pelan saat merasa ekspektasinya terlalu tinggi---mengira Raize ingin mengajaknya keluar untuk jalan-jalan layaknya sepasang kekasih seperti yang mereka lakukan dulu. "Boleh, ayo."


Keduanya berjalan melewati koridor yang sepi. Karena lift yang penuh, mereka menggunakan tangga darurat untuk menuju lantai bawah. Ternyata itu berguna untuk menambah waktu kebersamaan mereka. Raize dan Kayla bisa lebih banyak bicara tentang kenangan mereka di masa lalu, membuat mereka terkadang tertawa kecil atau pun menatap kesal.


Kayla sama sekali tidak menyangka, dia bisa merasakan bahagia yang sesungguhnya bersama dengan orang lain padahal dia sendiri sudah bersuami dan sedang berusaha menerima suaminya sebagai jodohnya. Melihat Raize di sisinya lagi membuat Kayla kembali mempertanyakan perasaannya.


Kedua berpisah di koridor untuk menuju ke ruangan pasien masing-masing tanpa satu pun dari mereka menurunkan intensitas senyuman bahagia.

__ADS_1


__ADS_2