
Hari berlalu, Avan dan Kayla menjalani hari seperti biasa. Dan masih tidur di kamar yang terpisah. Setiap malam, Kayla duduk di tepian ranjang. Menatap lurus pada pintu kamarnya, seolah sedang menunggu pintu itu dibuka dari luar. Akan tetapi, pintu itu tetap kokoh tak bergeming.
Kayla membaringkan tubuhnya di atas ranjang, dan berselimut. Pandangan mata Kayla masih menatap pada pintu, masih berharap pintu itu akan terbuka. Sampai mata Kayla menutup sempurna.
Di kamar seberang, Avan pun melakukan hal yang sama duduk di pinggiran ranjang dan menatap pintu kamar. Avan mengukir senyum kecut di wajah.
"Aku pikir dia akan datang kemari atau setidaknya, memintaku datang ke kamarnya. Apa aku terlalu berlebihan?" Gumam Avan membungkuk dan mengusap wajahnya. Membiarkan wajah tampan itu tersembunyi di balik telapak tangannya. Ia masih ingat dengan pesan nya dulu, jika Kayla telah siap menerima nafkah batin darinya. Avan meminta Kayla untuk membicarakan dengannya.
"Apa dia belum siap?"
Avan tak memiliki kepercayaan diri untuk mengetuk pintu kamar Kayla saat itu, meski istrinya telah memutuskan untuk hidup bersama. Ia tak yakin jika Kayla siap untuk menjadi istri seorang Avan seutuhnya. Mendapat nafkah lahir dan batin darinya. Oleh karena itu, Avan hanya bisa menunggu.
__ADS_1
Keesokan paginya, Kayla berangkat kerja. Di rumah sakit Kayla beraktivitas seperti biasa. Wanita cantik yang sudah berjilbab itu, berjalan di lorong rumah sakit dan tanpa sengaja berpapasan dengan Raize. Langkah keduanya terhenti dengan sendirinya. Kayla sedikit menunduk untuk mengurangi kecanggungan. Raize menyadari rasa tak nyaman Kayla saat ini. Tapi, selama berada dalam satu rumah sakit yang sama, mereka memang harus sering bertemu dan mungkin akan saling terlibat satu sama lain.
"Bagaimana keadaanmu?" Lontar Raize akhirnya, karena keheningan yang menyelimuti makin membuat Kayla terlihat tak nyaman. Kayla mengangkat wajahnya, menatap pria yang pernah mengisi hatinya cukup lama. dan membuatnya terus berada dalam kebimbangan.
"Aku sangat baik."
Bibir Raize melekuk membentuk senyuman. "Syukurlah, jadilah wanita yang berbahagia, Kay."
"Aku yakin kamu akan bahagia dengan nya. Dia pria yang tulus padamu." Raize tertawa getir, "aku akan pergi akhir bulan ini. Masa kunjunganku sudah berakhir."
Kayla tak mengatakan sepatah kata pun. Raize juga tak ingin membuat Kayla merasa tak nyaman lebih lama. Pria bule itu mengulurkan tangannya.
__ADS_1
"Sampai jumpa."
Kayla memandang Raize lalu berganti melihat pada tangan yang masih mengambang di udara. Tangan Kayla terangkat dan menyambut tangan Raize, senyum melekuk di wajah wanita berjilbab itu.
"Selamat tinggal."
Raize tersenyum dengan kalimat Kayla. Selamat tinggal kalimat perpisahan yang tak mengharapkan pertemuan kembali, Lalu Raize menarik tangannya segera. Dan mereka melanjutkan langkah saling melewati begitu saja. Walau mata Kayla berair, tapi tidak menetes, ia tidak menangis. Segaris senyuman melekuk diwajahnya. Ia tau inilah yang terbaik, dan kayla tak lagi bimbang dengan perasaannya. Hatinya telah jatuh pada pria berambut gondrong itu.
Malam harinya, Kayla duduk di bibir ranjang. Seperti biasa, menunggu pintu kamar nya terbuka, atau setidaknya di ketuk oleh sang suami. Kali ini ia memakai baju malam yang sedikit terbuka. Baju terusan hingga sebatas pahanya. Bertali spageti dan berenda di bagian atas yang membiarkan dada atasnya terbuka sampai belahan dadanya terlihat.
Kayla menatap pintu kamarnya yang tertutup. Masih mengharapkan pintu itu terbuka, masih sangat berharap pintu itu di ketuk.
__ADS_1
"Apa aku harus mendatanginya? Apa aku harus sekali lagi menyingkirkan ego dan menawarkan diri padanya? Apa dia begitu tidak peka dengan keadaan? Apa aku harus merayunya? Atau, dia memang sudah tidak menginginkanku lagi?"