
Tak taunya, dari arah belakang, Avan sudah berjalan mendekat membawa kue coklat dengan lilin berbentuk angka umur Kayla.
"Happy birthday istriku, happy birthday istriku, happy birthday istriku sayang..." Suara nyanyian lagi ulang tahun keluar dari mulut Avan membawa rasa haru bagi Kayla. Wanita itu menangis saking bahagianya. Avan berjongkok di depan Kayla yang duduk di sofa samping emak. Menyodorkan kue ulang tahun istrinya.
"Tiup lilinnya." Ucap pria berambut gondrong itu.
Kayla merasa sangat berbahagia dan di berkati, Kayla sedikit mencondongkan tubuhnya kedepan, dan menyingkirkan anak rambut ke belakang telinga. Lalu ia meniup lilin di atas kue.
"Happy birthday, Ila." Ucap Avan tersenyum memandang istrinya."Maaf ya, mas nggak nyiapin kado apapun."
Kayla menggeleng, "mas udah kasih kado yang paling istimewa," ucap Kayla menatap emak dan bapak. Lalu ia memeluk emaknya dengan tangis haru, senyum Kayla mengembang meski pipinya terus berair. Ya, kado yang paling berharga, karena ia bisa melihat emak dan bapak, sekaligus mendapatkan maaf dari mereka.
"Duuhh, anak emak, kok malah nangis sih," emak turut berkaca melihat anaknya kini sudah berbahagia.
"Makasih, mas."
***
"Ila, jangan sakiti suamimu lagi, Avan sangat menyayangi kamu, sebelumnya, ia terus menelpon bapak, dan mengirim pesan. Meminta kami untuk datang dan memintakan maaf untukmu. Walau sebenarnya, ia tak perlu begitu." Cetus emak seusai acara ulang tahun Kayla yang sederhana. Kayla dan emak tidur di kamar berdua."Dia menyakinkan emak dan bapak jika kalian sudah memutuskan untuk melanjutkan pernikahan ini. Sudah saling mencintai dan tidak lagi melihat masalalu."
Kayla memeluk tubuh emaknya. "Iya Mak, maafkan Ila."
"Emak nggak minta kamu buat minta maaf, La." Ucap emak menegaskan.
"Iya mak, ila tau. Ila sadar, ila sudah salah dalam mencintai. Dan Ila juga sadar, jika Ila sudah jatuh cinta pada Mas Avan." Ungkap Kayla lirih.
Emak mengulas senyuman, "bapak sama emak juga tadi sedikit tak sabar, makanya nggak nunggu Avan jemput dan langsung ke rumah. pas pintu ke buka, udah ucap salam tapi nggak ada yang nyahut, jadi emak sama bapak langsung masuk ke dalam. ternyata kalian lagi mesra-mesraan di dapur..." emak terkekeh,
__ADS_1
"emak," rengek Kayla merasa malu. Ternyata tak hanya bunda, bahkan emak dan bapaknya pun melihat saat ia dan Avan sedang berciuman tadi. Hanya, mereka tidak memekik seperti bunda. Dan lebih memilih memberi waktu ketimbang mengganggu.
"Jadi benar kalian udah melakukannya?" Emak bertanya, "sudah berhubungan suami istri?"
Wajah Kayla merona, kenapa emak dengan gamblangnya bertanya tentang hal itu. Tapi, ia mengangguk juga,"kami tidur di kamar sebelah, kadang juga tidur di sini."
"Syukurlah kalau begitu, Mak berharap kalian bisa segera di beri momongan agar semakin kukuh."
"Aamiin, Mak."
"Ya sudah, ayo tidur."
Hari berlalu, setelah hampir lima hari lamanya emak dan bapak, bunda serta ayah menginap di rumah Avan. Akhirnya mereka pamit dan kembali ke kampung. Kini, tinggallah Avan dan Kayla berdua.
"Makasih mas." Ucap Kayla duduk disisi suaminya di ruang keluarga.
"Semuanya, Mas adalah suami terbaik yang Ila punya." Kayla menatap dalam manik mata Avan."Terima kasih karena sudah membawa bapak dan emak kemari. Terima kasih karena sudah membuat mereka memaafkan Ila. Dan terima kasih sudah mencintaiku. Menjadi suami yang sabar menghadapi sifat kekanak-kanakan ku."
"Ila..." Avan menempelkan jarinya di bibir Kayla."Mas sayang sama Ila. Jangan ucapkan kata maaf ataupun terima kasih. Sekarsng mas sudah sangat berbahagia dan di berkahi, dengan memiliki istri seperti Ila,"
"Aku.... Sudah menyakiti mu, mas."
"Jangan lakukan lagi ya?" Pinta Avan mengukir senyum di wajah tampannya,"jika kelak kamu lakukan lagi, mas akan tetap menyayangi dan memaafkan kamu, La."
Kayla tak dapat berkata, betapa besar rasa sayang Avan padanya. Wanita itu hanya menatap jauh lebih dalam pada mata pria berambut gondrong yang bergelar suaminya. Kayla menyentuh pipi Avan, perlahan mendekat dan mengecup bibir suaminya. Menyergapnya dalam kehangatan cinta.
Hari berganti dengan cepat, Kayla duduk di kloset kamar mandi. Wajah cantik Kayla tampak begitu tegang menunggu sesuatu. Mata Kayla terpejam sesaat untuk menenangkan pikiran dan hatinya. Kayla menghela nafas panjang, lalu membuka matanya lagi. Ia mengangkat tangannya yang memegang benda panjang dan pipih. Tampak dua garis merah tertara di sana. Wajah Kayla merona, ia merasakan perasaan yang campur aduk.
__ADS_1
Kayla keluar dari kamar mandi dengan wajah berseri, ia memiliki kabar gembira untuk di bawa pulang nanti. Saat ini ia memang berada di rumah sakit. Sengaja ia tak menemui dokter obgyn agar nanti bisa ke sana bersama Avan untuk mengecek bersama. Setidaknya, ia sudah punya modal testpack.
("Mas, aku dah selesai,") Kayla mengirim pesan pada suaminya, mengabarkan jika shiftnya telah berakhir.
("Ok, mas udah di depan.")
Kayla menarik sudut bibir ke atas lalu melangkah keluar dari rumah sakit. Ia melihat Avan duduk di atas motor dan melambaikan tangan. Ia berlari kecil menghampiri
"Mas udah lama?" Tanya Kayla begitu sudah di depan suaminya
"Belum kok." Jawab Avan memasangkan helm pada kepala sang istri hingga terkait sempurna."Naik,"
Kayla pun membonceng di belakang Avan.
"Pengangan,"
Kayla melingkarkan tangan di perut sang suami.
"Yang erat dong, nanti jatuh."
Sang istri tersenyum lebar sambil mengeratkan pelukannya. Avan pun tampak melukis senyaman di wajahnya. Lalu ia menarik tuas gas motor dan membawa dengan kecepatan sedang. Sampai motor itu berhenti di halaman rumah.
"La, mas langsung ke kopi manis ya?"
"Iya mas. Makasih ya dah jemput ila."
Setelah mencium tangan sang suami, Kayla melangkah menapaki teras, ia menoleh untuk melihat suaminya yang sudah menarik lagi tuas gas motornya sampai di gerbang. Kayla tersenyum, sepertinya, ia harus menunggu sampai malam untuk menyampaikan kabar baik. Senyum Kayla memudar, begitu ia melihat pintu gerbang di tutup oleh Avan. Seorang wanita muda menghampiri suaminya dan sempat berbincang dengan sang suami. Avan pun terlihat cukup akrab dengan wanita itu. Siapa dia?
__ADS_1