
Aku memulai kembali dipertemukan dengan sarah melalui vera yang selalu berdampingan dengannya, entah mengapa disela obrolan kami dikafe itu, aku tertarik dengan karekter dita yang Mandiri, Pintar, Sederhana, dibalik kesederhananya menyimpan sebuah sikap kerendahan hati, bagaimana tidak? Sarah terlahir dari keluarga terpandang orang tuanya termasuk jajaran petinggi dikampus kami, Sarah tak ingin orang memandangnya karena orang tuanya, sarah ingin apa yang ia cita-citakan, untuk mendapatkanya, dengan hasil dari jerih payahnya sendiri.
yang menjadi tanda tanya bagiku adalah kenapa ia secepat ini terbuka membahas yang menurutku sebuah privasi dengan orang yang baru ia kenal seperti aku.
yah aku ingat perkataan vera, sarah memilki rasa denganku,(mungkin ini alasanya) aku hanya mengangap itu hanya candaan vera saja, karena tidak mungkin itu terjadi, pada kondisi sarah belum mengenalku begitu dekat.
didalam obrolan kami tidak ada pembahasan tentang dita, mungkin mereka paham aku sedang kalut dengan hubunganku.
SKIP
Rian
Tiap manusia mempunyai batasan dalam titik tertentu, yah
begitulah kira-kira orang bijak berkata, dengan kepala yang dingin, ditambah
kelapangan hati untuk bisa mengendalikan sebuah rasa meluapkan sebuah titik
batasan manusiawi.
Sudah hampir seminggu dita berada dikota yang sama denganku,
apa yang ku hayalkan sepertinya berbanding terbalik sebelum dita berangkat
kedunia barunya, tak ada lagi canda tawa yang mengisi hari-hariku bersamanya,
sikap dinginnya bagaikan es , membuatku sudah pasrah pada hubungan ini, tidak
ada pembahasan yang ku lontarkan kepada dita mengenai sikap dinginnya kepadaku,
walaupunku tau penyebabnya adalah pemuda yang mengisi hari-harinya dalam kurun
waktu dua bulan, yang mengisi kekosongan hatinya. Aku bersikap seperti biasa, perlakuanku
padanya masih tetap sama, selayaknya aku memperlakukan perempuan seutuhnya,
bagaimanapun ia adalah orang yang kusayangi. Aku menahan semua kepedihan ini.
Berupaya kembali menata hatinya agar ia bisa melupakan pemuda itu.
__ADS_1
Sampai akhirnya aku memutuskan untuk angkat bicara tentang
hubungan ini, aku mencoba menguatkan hatiku, apapun yang terjadi nantinya, aku
harus siap menerima kenyataan sepahit apapun itu. Malam ini aku akan pergi
menuju kekediaman dita, dengan membawa beberapa minuman dan makanan kesukaanya
sebagai pelengkap obrolan kami nantinya.
Setibanya aku di kediaman dita, aku menghubunginya memberitahu
aku sudah dikediamanya, aku duduk dikursi yang sudah menjadi langganan ketika
aku kekediaman dita, tempat ini menjadi saksi bagaimana perjalanan kisah kami,
dan tempat ini pula dita mengungkapkan ketakukannya kehilangan diriku, Namun
sekarang apakah masih tetap sama setelah semua ini terjadi? Entah lah
Aku tersadar dalam lamunanku, ketika dita datang
Hai.. kenapa kamu melamun? Sambil Dita yang duduk
disampingku.
Tidak, aku tidak melamunkan apa-apa, balasku,
Kamu membawa brownies lagi yah?, ucap dita melihat kearah
barang bawaanku
Iya aku membawakanya untukmu, ucapku sambil membuka barang
yang kubawa dan memberikan kepadanya.
Aku melanjutkan obrolanku.
Yank aku ingin menanyakan sesuatu, ucapku
__ADS_1
Nanya apa ucap dita melihatku dengan tatapan serius.
“Kamu tau ga ? ditempat ini, seorang perempuan yang
menetaskan air mata, yang tak rela berpisah dengan seorang pemuda, sikapnya
yang manja, menumpahkan keluh kesahnya semua emosinya, seolah akan berpisah
selamanya…” ucapku kulihat dita yang terdiam dengan raut wajah yang sendu.
Dan kamu tau ga? Setelah mereka berpisah, pemuda yang ia
tinggalkan sangat merindukan perempuan itu, pemuda itu seperti orang yang
kebingungan ketika mendapati perempuannya tak member kabar berita, !!!
Dan sampai akhirnya pemuda itu melihat cahaya yang
memberikan harapan, ketika pujaan hatinya akan kembali lagi, setelah mereka
berdua terpisah, hampir dua bulan lamanya.
Namun Cahaya itu seketika itu redup kembali, mendapati sang perempuannya solah tak menginginkan
pertemuan ini.
Hanya butuh waktu dua bulan, keadaan merubah perempuanya.
seperti orang yang tak pemuda itu kenali. Sikap sang pujaan hati pemuda itu, berubah
sangat drastis, sikapnya ya dingin, mengunci mulutnya untuk berbicara seolah
ada yang disembunyikan….
Aku menghela nafas dan diam menantap dita…..
Dita meraih tanganku, dan ber ucap “Maafkan aku” airmatanya
jatuh berlinang…
__ADS_1