Narasi Minim Dialog (Tentang Perasaan Ku)

Narasi Minim Dialog (Tentang Perasaan Ku)
Episode 23 (Bingung II) RIAN


__ADS_3

RIAN


"iya gua paham maksud lu rian, lu pasti butuh waktu untuk membuka hati lu buat orang lain, nah gua cuma mau saranin aja, kalau misalnya nanti kedekatan lu ama sarah berlanjut, gua harap ga masuk dita lagii, gua ga mau sarah jadi pelampiasan kesepian lu. yang paling penting sarah ga gampang buka hati buat sesorang, kalau bukan orang kriteria sarah" aku terdiam mendengar ucapan vera, aku masih bingung mau menjawab apa.


 


 


"nah kalau ini hana setuju ama vera rian, hana lihat sarah orangnya baik, buktinya dia ga rewel ama hanna kalau deket deket rian" ucap hana mendukung vera


 


 


"aduh berat pembahasaanya pusing gua" ucapku bingung


 


 


"alah masak seorang rian pusing" canda vera


“yah gimana yah, intinya gua berusaha tidak buat orang sakit hati,


gua jalani aja bagaimana alurnya, gua ga mau menerka-nerka, gua nikmati aja


proses yang terjadi.” Ucapku bingung


“yah ga bisa gitu juga rian, entar lu gantungin anak orang


kalau dia udah baper gimana? Kan lu tau sendiri dia resepect ama lu, ga ada salahnya


lu sedikit membuka hati buat dia, perjuangin dong dia” ucap vera mencoba


mengomporiku


“adeh vera lu cocok jadi biro jodoh ketimbang jadi diplomat,


intinya gua ikuti aja alurnya, vera kalau waktu membawa gua untuk terus bersama


dia yah gua terima, tapi jangan paksa gua untuk secepat itu untuk membuka hati,


gua takut malah menjadi masalah nantinya, lu paham lah yang gua maksud” ucapku


menegaskan


“iya rian gua paham, cuman gua sebagai temen lu, gua pengen


juga yang terbaik buat lu rian” ucap vera mengakhiri


“makasi buat kalian bedua udah care ama gua, yuk tidur dah


larut malam ini” ucap ku mengakhiri pembicaraan


Kami beranjak dari teras ini menuju kamar masing-masing,


setelah sampai dikamarku aku masih berpikir atas obrolan vera tadi…


Sepertinya aku harus mengambil suatu langkah atas kondisi


ini, aku tak mau ada pihak yang tersakiti atas perlakuan ku, niat ku mungkin


tidak ada maksud apa-apa, bisa saja orang lain beranggapan berbeda.


Aku beranjak tidur …


SKIP


Siang ini kami akan kembali ke kota aktifitas kami. Dan aku


bersikap seperti biasa dengan sarah tidak menjaga jarak, aku tidak mau menjadi


pertanyaan bagi sarah ketika aku menjaga jarak darinya.


Pagi ini aku kembali menikmati kembali suasan alam yang


indah ini, tentunya bersama sarah, kami berjalan berdua melihat pemandangan di


villa ini, dalam perjalanan aku menghintakan langkah ku untuk menikmati spot


yang bagus dipandang, melihat kebawah terlihat pemukiman warga dan laut yang


biru.


Aku dan sarah duduk dibawah pohon rindang itu, kemudian aku


melontarkan pertanyaan kepada sarah.


“sarah menurut kamu kalau lagi pendekatan sama sesorang,


berapa lama yah waktunya?” ucapku mulai memancing sarah


“tergantung sih, ada yang berbulan bulan atau butuh waktu


lama untuk mereka bisa  yakin perasaan

__ADS_1


mereka satu sama lain dan ada yang butuh waktu singkat, untuk mereka bisa


mengenal, sampai mereka jadian, emang kenapa rian” penjelasan sarah dan


kemudian bertanya balik


“emang bisa yah dalam waktu singkat udah yakin sama perasaan


satu sama lain”tanyaku


“bisa aja rian, kalau udah nyaman, yakin satu sama lain


kenapa tidak? Ngapaen lama-lama pendekatan kalau nantinya teman rasa pacar ga


ada kejelasan” ucap sarah


Aku tersenyum mendengar ucapan sarah seolah ucapanya


mengarah kepada diriku..


“tapi semudah itu kah? Menurut kamu dari pandangan seorang


cewek, dalam waktu singkat bisa nyaman dan yakin sama perasaan untuk si doi?”


tanyaku


“rian kamu perlu tau juga, tiap orang itu beda-beda, rian, bukan


berarti cewek yang dengan mudah merasa nyaman sama cowok itu, ga berkelas, ga


jaga gengsi atau apalah rian, bisa saja sicewek sudah mencari tau segala


informasi tentang sicowok, dan bisa saja cewek itu mulai nyaman sama cowok


karena menemukan seseorang yang mendekati kriteria si cewek… cewek itu pasti


punya alasan kenapa bisa secepat itu nyaman sama cowok” ucap sarah panjang


lebar


“hmm gitu yah oke deh” balesku


“kenapa kamu nanya kek gitu rian” Tanya sarah


“hmm cuman mau sudut pandang kamu aja sih sarah”


“rian emang kamu lagi konstasi dengan dokter cinta” jawab


vera sambil tertawa


“terserah kamu deh rian, oh ya rencana kamu setelah lulus


kuliah apa? Ucap sarah


“apa yah aku bingung sih”ucapku menggantung


“bingung gimana?”Tanya sarah


“iya aku kepengen lanjut S2, pengen jadi dosen, tapi aku


juga realistis, aku juga pengen setelah lulus punya penghasilan sendiri, dan


tidak menjadi beban pikiran bagi keluargaku, karena aku bukan dari keluarga


menengah keatas, jadi aku paham lah pemikiran keluargaku, setelah lulus ada


penghasilan, bagi mereka sudah cukup membuat mereka tenang dan sedikit bangga.


“emang kalau S2 ga bikin mereka bangga dan bisa jadi dosen


juga” ucap vera


“iya bangga juga sih sarah, tapikan S2 butuh proses juga


sarah, persiapanku untuk mencari beasiswa, persiapan ujian, sementara aku juga


butuh biaya untuk hidup selama proses itu, dan kalau memang aku bisa melewati


prosesnya, aku juga  belum bisa memberi penghasilanku


untuk keluargaku sarah, aku mikirnya gitu sih”


“hmm gitu yah bagus sih rencana kamu, aku doaiin yang


terbaik buat kamu rian, semoga kamu mendapatkan jalan yang terbaik dalam menentukan


langkah yang kamu ambil”


“ok siap buk dokter, doa yang terbaik juga buat kamu, dan


moga dapat bapak dokter juga”ucapku


“AMIN , eh emang kamu pikir kalau dokter harus sama dokter


gitu? Ucap sarah

__ADS_1


“yah biasakan gitu, dapetnya yang se profesi, kalau engga ,


sama yang pakai seragam” ucapku tersenyum


“kamu sok tau rian, ga harus seperti itu juga, aku ga


membatasi siapa yang akan mendampingi aku nantinya, ga harus dikotakan kayak


kamu bilang barusan, aku menerima siapapun yang nantinya yang mendampingi aku,


atas Takdir TUHAN”


“hmm gitu yah keren kamu sarah, salut deh, jarang-jarang


nemuin perempuan seperti kamu,” ucapku sambil bercanda


“emang aku benda langka apa?” ucap sarah sambil tertawa


“iya tuh, perlu dimuseumkan”ucapku becanda


Udah yuk balik kevilla lagi, sarapan trus packing untuk


pulang” ucapku mengakhiri pembicaraan


Kami menuju kembali kevilla, setalah sampai kami bersiap


sarapan, dan bekemas untuk pulang….


Aku mulai bingung, aihh kenapa jadi semakin ribet yah,


takut-takut salah dengan kedekatan aku sama sarah, perasaanku masih bercampur


dengan trauma pacaran dan takut kembali patah hati, dan aku belum lama ini baru


putus, aku takut tanggapan orang menjadi aneh, tau dah aku jalani aja dah, mana


yang terbaik aja..


SKIP…


Tiba lah waktunya keberangkatan kami kembali kota aktifitas


kami, sebelum kami meninggalkan villa ini, kamu berpoto bersama, formasi poto


bersama ada sarah disebalahku, entah itu sengaja atau emang kebetulan, aku


tidak mengerti, intinya semenjak malam itu aku dan sarah seperti besi dan


magnet yang jika dipertemukan selalu berdekatan dalam konteks masih wajar.


Setelah kami selesai berpoto bersama, kami masuk kedalam


bus..


Vera mulai memainkan peranya sebagai agen biro jodoh


“mbak sarah aku duduk sama hana yah, mbak sama rian aja”


ucap vera


“loh kok gitu vera?” Ucap sarah bingung


“udah mbak jangan protes ikut aja kata vera’ ucap vera


menegaskan


Aku mendengarnya hanya bisa tersenyum dengan naluri biro


jodoh vera


“Udah yuk naik sarah”ucapku


Kami telah berada diatas bus yang kami tumpangi, namun


firasatku sudah mulai tidak enak, aku merasa gelisah, sarah hanya melirik ku..


Dalam perjalanan meningglakan Villa itu, aku mulai merasakan


sakit di perutku, rasanya ada yang menusuk, aku tidak bisa menahan rasa sakit


itu… sarah melihat wajahku yang mulai berubah, cemas, menahan rasa sakit


“Kamu kenapa rian” Tanya sarah


“ga ada kenapa-kenapa” jawabku singkat


“apanya yang kenapa-kenapa kamu megang perut , sakit yah”


ucap sarah


“iya sakit”


Aku mulai lemas menahan rasa sakit ini, aku sudah pusing,


pandangan ku mulai kosong..

__ADS_1


…….


__ADS_2