Narasi Minim Dialog (Tentang Perasaan Ku)

Narasi Minim Dialog (Tentang Perasaan Ku)
Episode 14 (Penjelasan II)


__ADS_3

Aku menghela nafas dan diam menantap dita…..


“Dita meraih tanganku, dan ber ucap “Maafkan aku” airmatanya


jatuh berlinang…


Ia melanjutkan ucapanya….


Rian Maafkan Aku, Maafkan Aku, Aku bodoh rian,…… ucapan dita


yang terus menyalahkan dirinya….


“Kamu tenang dulu”, aku melepaskan genggaman tanganya dan


menghapus air mata di pipinya,


“Minum dulu biar tenang, setelah kamu tenang baru kamu


lanjutin yah bicara kamu….. “


Setelah ia merasa tenang ia memulai pembicaraanya kepadaku…


Aku sebenernya udah mau jujur sama kamu, namun aku butuh


waktu untuk memberanikan diri untuk mengatakannya.


Apa yang aku takutkan sebelum aku berpisah dengamu, akhirnya


terjadi, dan bodohnya aku, aku malah terjebak pada kondisi yang sama, seperti


apa yang pernah dia lakukan terhadapku… dan ini akan membuatmu kecewa, aku


seorang perempuan yang seolah membalaskan sakit ku terdahulu kepada kamu..


(Dita pernah mempunyai masalalu dengan mantan pacarnya, ia


diputuskan oleh pacarnya dikarenakan pacarnya dita terjebak cinta lokasi dikkn.


Dan pada saat ini aku yang berada diposisi dita terdahulu)


Aku ga pernah terniat membuka sedikitpun kepada orang lain,


aku mencoba mengunci rapat-rapat hatiku ini, hanya untuk kamu rian, Namun itu

__ADS_1


aku gagal mengunci pintu hati ini, dia masuk kedalam perasaan ini tanpa aku


sadari, perlahan-lahan ia mencoba meruntuhkan keteguhan hati ini. Aktifitas yang


biasa kita lakukan, beserta kondisi pada saat itu, mendukung perasaan ini


membuka hati untuk orang lain, aku mencoba mengusir jauh-jauh perasaan yang


salah ini.. namun aku manusia biasa dalam kondisiku yang membutuhkan kamu


disisiku,datanglah ia masuk, seolah ia tahu bahwa aku butuh sesorang yang


berada didekatku, kerapuhan hatiku mencelakaii diriku sendiri, merusak janji


kita untuk menjaga hati satu sama lainnya.


Begitu bodohnya aku, terhanyut pada sebuah perasaan yang


salah ini, betapa egoisnya aku menggadaikan sebuah komitmen hanya untuk


menghapuskan rasa kesepian ini dengan orang lain.


Setelah kepulangan ku dikota ini, aku berusahaa menghapus


semua perasaan sesaat ini. Oleh karena itu aku butuh waktu menenangkan diri,


bertemu denganmu, hari hariku hanya ingin ku habiskan sendirian untuk membunuh


perasaan ini terhadapnya..


Maafkan aku melanggar janji yang kita ucapkan, mengkhianit


komitmen yang kita bangun, maafin aku.”


Begitulah panjang lebar penjelasan dita. Jujur saja aku


merasa kecewa, dengan penjelasanya, walaupun aku sudah memprediksi apa yang


akan ia jelaskan, tapi tetap sakit terasa….


Aku kembali memulai pembicaraan setelah keheningan yang terjadi…


“Aku juga ga tau mau ngomong apa terhadap penjelasanmu dit,

__ADS_1


aku hanya mencoba sebisa mungkin menenangkan diri untuk tidak terbawa emosi dan


mencoba berpikir dengan kepala dingin, aku juga ga bisa sepenuhnya menyalahkan


kamu, aku tau jarak yang memisahkan dan intesitas kita yang tidak terlalu


sering bertemu, menjadi beberapa faktor masalah ini bisa terjadi.


Dan aku pikir semoga saja ini menjadi sebuah pembelajaran


untuk mendewasakan kita.


Aku kembalikan semua keputusan kepada kamu, aku tidak ingin


ini berlarut-larut…”


Ucapku meminta kejelasan terhadapnya.


“Kasi aku waktu untuk sendiri rian… biarkan aku memperbaiki


hati ini……”


Berapa lama dita ? balesku


Seminggu rian ucap dita.


Ok, kalau kamu maunya seperti itu, semoga waktu berada dipihakku..


aku pamit dulu yah, ucap ku pada dita.


Dengan kondisi yang tidak karuan aku mulai menyisiri kota


ini, berjalan-jalan sendirian untuk menenangkan hati yang sedang kacau, sungguh


memalukanya diriku, dihanyutkan oleh sebuah perasaan, yang mengabaikan sebuah


logika, begitu besarnya sayangku padanya? Hingga aku hanya mengikuti kemauanya,


terlihat bodoh bukan?


Yah seperti ini lah sakitnya dalam sebuah percintaan. Apakah


orang lain akan melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan? Apakah aku

__ADS_1


tidak meninggalkan dia saja? Sudah jelas jelas mempermainkan perasaanku…. Bertanya


dalam hati sendiri, melintasi pikiran-pikiran yang tak jernih.


__ADS_2