
Aku menghela nafas dan diam menantap dita…..
“Dita meraih tanganku, dan ber ucap “Maafkan aku” airmatanya
jatuh berlinang…
Ia melanjutkan ucapanya….
Rian Maafkan Aku, Maafkan Aku, Aku bodoh rian,…… ucapan dita
yang terus menyalahkan dirinya….
“Kamu tenang dulu”, aku melepaskan genggaman tanganya dan
menghapus air mata di pipinya,
“Minum dulu biar tenang, setelah kamu tenang baru kamu
lanjutin yah bicara kamu….. “
Setelah ia merasa tenang ia memulai pembicaraanya kepadaku…
Aku sebenernya udah mau jujur sama kamu, namun aku butuh
waktu untuk memberanikan diri untuk mengatakannya.
Apa yang aku takutkan sebelum aku berpisah dengamu, akhirnya
terjadi, dan bodohnya aku, aku malah terjebak pada kondisi yang sama, seperti
apa yang pernah dia lakukan terhadapku… dan ini akan membuatmu kecewa, aku
seorang perempuan yang seolah membalaskan sakit ku terdahulu kepada kamu..
(Dita pernah mempunyai masalalu dengan mantan pacarnya, ia
diputuskan oleh pacarnya dikarenakan pacarnya dita terjebak cinta lokasi dikkn.
Dan pada saat ini aku yang berada diposisi dita terdahulu)
Aku ga pernah terniat membuka sedikitpun kepada orang lain,
aku mencoba mengunci rapat-rapat hatiku ini, hanya untuk kamu rian, Namun itu
__ADS_1
aku gagal mengunci pintu hati ini, dia masuk kedalam perasaan ini tanpa aku
sadari, perlahan-lahan ia mencoba meruntuhkan keteguhan hati ini. Aktifitas yang
biasa kita lakukan, beserta kondisi pada saat itu, mendukung perasaan ini
membuka hati untuk orang lain, aku mencoba mengusir jauh-jauh perasaan yang
salah ini.. namun aku manusia biasa dalam kondisiku yang membutuhkan kamu
disisiku,datanglah ia masuk, seolah ia tahu bahwa aku butuh sesorang yang
berada didekatku, kerapuhan hatiku mencelakaii diriku sendiri, merusak janji
kita untuk menjaga hati satu sama lainnya.
Begitu bodohnya aku, terhanyut pada sebuah perasaan yang
salah ini, betapa egoisnya aku menggadaikan sebuah komitmen hanya untuk
menghapuskan rasa kesepian ini dengan orang lain.
Setelah kepulangan ku dikota ini, aku berusahaa menghapus
semua perasaan sesaat ini. Oleh karena itu aku butuh waktu menenangkan diri,
bertemu denganmu, hari hariku hanya ingin ku habiskan sendirian untuk membunuh
perasaan ini terhadapnya..
Maafkan aku melanggar janji yang kita ucapkan, mengkhianit
komitmen yang kita bangun, maafin aku.”
Begitulah panjang lebar penjelasan dita. Jujur saja aku
merasa kecewa, dengan penjelasanya, walaupun aku sudah memprediksi apa yang
akan ia jelaskan, tapi tetap sakit terasa….
Aku kembali memulai pembicaraan setelah keheningan yang terjadi…
“Aku juga ga tau mau ngomong apa terhadap penjelasanmu dit,
__ADS_1
aku hanya mencoba sebisa mungkin menenangkan diri untuk tidak terbawa emosi dan
mencoba berpikir dengan kepala dingin, aku juga ga bisa sepenuhnya menyalahkan
kamu, aku tau jarak yang memisahkan dan intesitas kita yang tidak terlalu
sering bertemu, menjadi beberapa faktor masalah ini bisa terjadi.
Dan aku pikir semoga saja ini menjadi sebuah pembelajaran
untuk mendewasakan kita.
Aku kembalikan semua keputusan kepada kamu, aku tidak ingin
ini berlarut-larut…”
Ucapku meminta kejelasan terhadapnya.
“Kasi aku waktu untuk sendiri rian… biarkan aku memperbaiki
hati ini……”
Berapa lama dita ? balesku
Seminggu rian ucap dita.
Ok, kalau kamu maunya seperti itu, semoga waktu berada dipihakku..
aku pamit dulu yah, ucap ku pada dita.
Dengan kondisi yang tidak karuan aku mulai menyisiri kota
ini, berjalan-jalan sendirian untuk menenangkan hati yang sedang kacau, sungguh
memalukanya diriku, dihanyutkan oleh sebuah perasaan, yang mengabaikan sebuah
logika, begitu besarnya sayangku padanya? Hingga aku hanya mengikuti kemauanya,
terlihat bodoh bukan?
Yah seperti ini lah sakitnya dalam sebuah percintaan. Apakah
orang lain akan melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan? Apakah aku
__ADS_1
tidak meninggalkan dia saja? Sudah jelas jelas mempermainkan perasaanku…. Bertanya
dalam hati sendiri, melintasi pikiran-pikiran yang tak jernih.