
RIAN
Kupandangi Sarah terlihat cantik, dengan rambutnya yang dihembuskan
angin, Ia begitu menikmati suasana disore hari ini, Apakah SANG PENENTU TAKDIR
Memberikan aku seorang penggannti yang lebih tepat dari pada rencanku? Entah
lah, Aku terbawa suasanaMelihat Makhluk Yang di Ciptakan Begitu Indah… dalam
lamunanku….
“Rian…Riann… Jangan liatin aku seperti itu, aku malu tau.”
Ucap Sarah
“Rian…Rian………" Teriak Sarah
“Eh iya Sarah.” Ucapku terkejut
“Rian kamu liat gitu banget ih.” Ucap Sarah memukul bahuku
“Hehehe, aku terpesona liat sarah.” Ucapku tertawa
“Dasar cowok gombal, nanti udah sayang-sayang ditinggal.” Ucap
sarah tertawa
“Masa sih? Menurutmu aku seperti itu kah ?.” Tanyaku dengan
gayaku sok keren
“Mana aku tahu we.” Ucap Sarah sambil tertawa
Angin yang berhembus seolah mendukung suasana hati yang kami
rasakan. Aku mulai bingung apa yang ku rasakan.
“Rian boleh Sarah nanya sesuatu ?.” Ucap Sarah dengan nada
serius
“Boleh mau nanya apa?.” Ucapku
“Apakah kamu menikmati kesendirianmu? Apa engga ada
kepikiran untuk membuka hati untuk orang lain ?.” Ucap Sarah membuatku bingung
__ADS_1
“Hmmmm.” Ucapku menggantung
“Kalau Rian ga mau jawab ga apa-apa kok” Ucap Sarah merasa
bersalah
“Hmm, wajahnya jangan gitu, santai aja Sarah, aku jawab kok,
jujur aku sudah mulai menikmati kesendirian ini, dan aku juga bingung untuk
membuka hati, ada rasa takut untuk memulai komitment lagi, masih ada rasa
traumaku, tapi aku sadar tidak bisa seperti ini, aku hanya mencoba secara
perlahan memulai membuang rasa traumaku, aku ga tau bisa cepat atau lambat,
rasa ketakutan dan kecemasanku ini bisa hilang.” Ucapku menjelaskan dengan
senyuman
“Jika ada seseorang yang hadir untuk menghilangkan ketakutan
dan kecemasan, dan membuka lembaran baru, dalam kisah hidupmu, apakah Rian
tidak mau berjalan beriingan bersama orang itu, berjuang bersama?.”
mengerti apa yang kamu maksud.” Ucapku dalam hati
“Hmm…. Aku takut ada hati yang tersakiti dengan kondisiku
seperti ini, menjalani lembaran baru tapi hatiku tak sepenuhnya, terbagi dengan
rasa cemas dan takut yang ingin ku buang jauh-jauh, tak adil rasanya aku
membagi rasa sakitku untuk orang baru yang masuk dalam kehidupanku Sarah.” Ucapku
“Maaf Rian aku tidak bermaksud mengungkit masa lalumu,
semangat Rian.” Ucap Sarah tersenyum
“Ga apa-apa kok Sarah, santai aja, Sarah terimakasih sudah
menjadi temanku yang baik, walaupun kita belum lama kenal, tapi kamu menjadi
teman yang baik bagiku.” Ucapku
“Iya Rian, aku senang kok kenal dengan kamu dan bisa
__ADS_1
berteman.” Ucap Sarah
“Kita pulang yuk.” Ucap Sarah mengalihkan pembicaraan
Kami bergegas untuk pulang, dan dalam perjalanan Sarah
meminta untuk singgah ke Supermarket.
Setelah selesai dari Supermarket Kami menuju ke
Kontrakanku..
SKIP
Setelah sampai dikontrakan, sebelum aku turun
“Rian ini bawa buat kamu.” Ucap sarah memberikan sesuatu
dalam kantong plastic
“Apa ini Sarah ?, kok ada obat sama makanan.” Tanyaku
bingung
“Iya itu obat kamu Rian, ngapaen kita tadi ke Klinik kalau
buat ambil obat kamu, makanan itu buat kamu biar perut kamu ga kosong buat
ganjel, obatnya diminum ampe habis yah Rian.” Ucap Sarah
“Aduh aku ga enak jadinya sama kamu Sarah, Report kayak
gini.” Ucapku
“Santai aja Rian, kan
kita temen.” Ucap Sarah Tersenyum
“Kamu baik banget, makasih yah Sarah.” Ucapku mengakhiri
pembicaraan, dan aku berpamitan dengan Sarah, Sarah Tersenyum ketika aku
berpamitan.
Maafkan aku Sarah membuatmu bingung dengan sikapku, ucapku
dalam hati
__ADS_1