Narasi Minim Dialog (Tentang Perasaan Ku)

Narasi Minim Dialog (Tentang Perasaan Ku)
Episode 15 (Hargai Aku)


__ADS_3

Semenjak dita meminta waktu untuk berpikir, tiga hari sudah


aku tidak melakukan komunikasi dengan dita, sesuai permintaanya ingin


menyendiri, hari ini aku ada jadwal bertemu dengan pembimbing akademikku untuk


kembali membahas proposal penelitianku. Setibanya aku dijurusan


“Tok tok permisi bu boleh masuk”, ucapku sambil melihat


dosen didalam ruangan yang pintunya sudah terbuka.


“Eh rian, mari masuk ucap dosen pembimbingku, “bagaimana


dengan draft proposal kamu?” sambung dosen pembimbingku


“ini bu, udah saya siapkan, mohon dikoreksi bu” ucapku


sambil menyerahkan draft proposalku.


Kami memulai berdiskusi dengan dosen pendamping akademik,


setelah aku mendengar arahanya yang panjang lebar, aku sudah diperbolehkan


untuk melanjutkan untuk mengajukan permohonan penngajuan pembimbing skripsi.


Setelah selesai aku langsung menuju pusat kegiatan


mahasiswa, untuk kembali melanjutkan aktifitas organisasiku.


Sebelum memasuki area parkiran terlihat dita bersama seorang


pria. yang berhenti di area parkiran, setelah mereka memarkirkan motornya,


mereka masuk ke gedung pusat kegiatan mahasiswa, yah perasaanku tak karuan


melihat dita bersama pria lain\, pria br*ngs*k itu yang masuk kedalam hubungan


kami.


Aku mencoba untuk menahan emosi, setelah mereka tidak


terlihat dimataku, aku mulai memarkirkan motorku, dengan perasaan yang hancur


lebur ku langkahkan kakiku memasuki area gedung…


Aissss kenapa menjadi seribet ini, minta waktu untuk


berpikir malah bertemu dengan dia, huft..


Rencana awalku ingin ke secretariat organisasiku, kurubah


kebelakang gedung pusat kegiatan mahasiswa yang disana terdapat kantin dan


tempat bersantai para mahasiswa, dihiasi beberapa pohon-pohon yang rindang. Aku


bersandar pada salah satu pohon tersebut


Aku mulai menelpon dita.


‘Hallo dita”


“Iya rian, Kenapa? “ bales


dita


“bisa kamu kebelakang ga? deket kantin aku di situ, penting


banget” ucapku menegaskan


“hmm iya bentar yah” bales dita


Aku menutup panggilan itu, dan selang beberapa menit dita


datang menghampiriku, dengan wajah yang tak berdosa ia bertanya kenapa?


Kenpa rian? penting banget? Ucap dita


Iya sangat penting”ucapku menahan emosi.


Dita sebenarnya maksud kamu itu gimana sih? Tanyaku


Maksud aku gimana apanya rian? jawabnya


Hmmm, udah lah ga usah, pura-pura ga tahu dita” balesku


Kamu ini kenapa sih, ngomong yang jelas dong biar aku paham”sahut

__ADS_1


dita ketus


Kamu kesini sama siapa? Katanya mau menyendiri tapi pergi


sama dia” balesku


Hmm rian kamu jangan emosi gitu dulu, kita ngomong baik-baik


kenapa? Bales dita


Gimana ga emosi liat kamu sama dia, sapa yang ga panas coba,


balesku.


Belum sempat dita menlanjutkan ucapanya dia meninggalkan aku, handphone


dita berbunyi, dita menjauh dari aku untuk mengangkat panggilan tersebut.


Dita Mengangkat Sebuah Panggilan dari Handphonenya, dia


sedikit menjauh dariku, aku kira hanya bisa menunggu dita menyelesaikan


panggilan Handphonenya, aku memperrhatikan mimic muka yang ditampilkan dita


dalam percakapan obrolannya, terlihat berseri-seri  seperti orang sedang jatuh cinta, dan aku


sudah bisa menebak siapa orang dibalik panggilan telpon itu. Naluri lelaki


mulai tajam menerka..


Hatiku terbakar,panas, sakit tak berdarah, seolah petir


menyambar disiang bolong, napasku terasa sesak, emosi jiwa memuncak, aku ingin


membakar fakultas ini sebagai bentuk luapan emosiku..  tapi akal sehatku masih bisa mengontrol


tindakan, aku tunggu ia selesai menelpon pria Bangs*t itu, akan ku curahkan


semuanya…


Aisshh dita kamu jauh berubah, ga bisa kamu hargai aku


disini, dalam kondisi bersamaku kamu masih sempet menerima panggilan pria itu..


hmmmm


aku sambut dengan sebuah pertanyaan


“Siapa yang nelpon?” ucapku


Hmm, ga ada ucapnya, dita mau member tau siapa yang menelpon


dia barusan, tapi aku tau betul seorang dita yang tak bisah berbohong denganku,


sikapnya, karakternya yang terlihat cemas dari pertanyaanku,


“Udahlah ga perlu kamu tutupi, aku udah tau kok pasti dia,”


ucapku


“Ia dia maafkan aku,” jawabnya merasa bersalah….


“Aku bisa jelasin dulu rian” ucapa dita


“ga usah kamu jelasin lagi, sekerang dengerin aku,” ucapku


(Mulai detik ini lah akhir ceritaku bersama dita, aku kan


hilang sehilangnya dari kehidupanya….


Disini permulaan Kepergianku dan puncak Sebuah Kesabaranku..)


“Dit liat aku, dan dengerin aku, aku udah berusaha bersabar


dengan apa yang kamu lakukan terhadap aku, Aku juga udah ngikutin apa


permintaanmu,”


“Kamu minta untuk diberikan waktu untuk berpikir, aku


turutin, tapi kamu malah menghabiskan waktumu dengan dia,”


“kamu pilih dia ketimbang aku, silahkan dit,!!!”


“aku udah berbesar hati untuk menerima itu.”


“ aku juga ga mau, ngungkit-ngungkit apa yang telah aku

__ADS_1


berikan kekamu, jadi terkesan ga ikhlas semuanya,”


“Tapi yang perlu kamu tau dan ini untuk terakhir kalinya,


dari awal kita kenal sampai detik ini aku tulus sayang sama kamu…..”


“Cuman apa ga bisa kamu menghargai aku dit, secepat itukah


kamu berubah drastic seperti ini,?


“Dit aku ini manusia


dit punya segala keterbatasan dit, setelah kamu berhasil membuat aku hancur


dengan menghabiskan waktu denganya, didepan mata kepalaku kamu lakukan itu dan


kamu menerima panggilan dari nya, yang ada aku didekat kamu, Kamu ga mikirin


perasaan aku dit?”


“Sekarang aku udah engga tau mau ngomong apa lagi,perempuan


yang kusayang bisa berubah seperti ini, Cuma karena orang baru yang masuk ke


hidup kamu dit.”


“Dan ini udah cukup buatku, mencintaimu begitu dalam, tapi


tak memikirkan dalamnya sakit yang aku terima.”


“Pergilah bersamanya dit, aku ikhlaskan, aku akan pergi


dalam kehidupan kamu, jaga kesehatan kamu, aku pamit dulu..”


Ucapku panjang lebar, dan aku beranngsur pergi


meninggalkanya, sebelum aku pergi sembari mendengar penjelasan ku tadi air


matanya sudah mengalir dipipinya,


sembari aku menuju keruangan organisasiku dilantai dua, ,


aku arahkan tanganku ke tiang  gedung ini


dengan kepalan tanganku, untuk meluapkan emosiku


barrrr barrrrr  aku meninju dengan tangan kananku ketiang itu,


sekitika tanganku lecet dan mengeluarkan cairan berwarna merah….


Dan pada saat itu pula terdengar kembali suara dita


memanggil “Rian rian tunggu dengerin aku dulu, rian rian tunggu tangan kamu


berdarah,” ucap dita,


yah aku tetap saja tak peduli aku teruskan langkah kaki menuju


Lantai dua, dan aku yakin dia tidak akan mungkin menghampiriku, karena


menghampiriku akan menambah runyam suasana…


Jika dideskripsikan bagaimana rasanya aku melakukan


kebodohan itu , Sakit engga tanganya? Pada saat itu engga, engga terasa sama


sekali.


Aku tak menghiraukan panggilanya tatapanku hanya fokus


kedepan, untuk pergi meninggalkanya dan aku tak peduli dengan orang-orang


disekitarku,  yang melihat drama ala-ala


sinetron versi kami,


Dan seseorang dari arah berlawanan menyapaku, kak tanganya


berdarah kak, ucap mahasiswi itu


Iya kak engga papa udah biasa jawabku.


Dan aku pergi ke sekretariatanku, aku menenangkan diri


disana, sambil mengobati lukaku.


Sakit sih pas lama-kelaman wkwkwkw. Kocak

__ADS_1


__ADS_2