
Semenjak dita meminta waktu untuk berpikir, tiga hari sudah
aku tidak melakukan komunikasi dengan dita, sesuai permintaanya ingin
menyendiri, hari ini aku ada jadwal bertemu dengan pembimbing akademikku untuk
kembali membahas proposal penelitianku. Setibanya aku dijurusan
“Tok tok permisi bu boleh masuk”, ucapku sambil melihat
dosen didalam ruangan yang pintunya sudah terbuka.
“Eh rian, mari masuk ucap dosen pembimbingku, “bagaimana
dengan draft proposal kamu?” sambung dosen pembimbingku
“ini bu, udah saya siapkan, mohon dikoreksi bu” ucapku
sambil menyerahkan draft proposalku.
Kami memulai berdiskusi dengan dosen pendamping akademik,
setelah aku mendengar arahanya yang panjang lebar, aku sudah diperbolehkan
untuk melanjutkan untuk mengajukan permohonan penngajuan pembimbing skripsi.
Setelah selesai aku langsung menuju pusat kegiatan
mahasiswa, untuk kembali melanjutkan aktifitas organisasiku.
Sebelum memasuki area parkiran terlihat dita bersama seorang
pria. yang berhenti di area parkiran, setelah mereka memarkirkan motornya,
mereka masuk ke gedung pusat kegiatan mahasiswa, yah perasaanku tak karuan
melihat dita bersama pria lain\, pria br*ngs*k itu yang masuk kedalam hubungan
kami.
Aku mencoba untuk menahan emosi, setelah mereka tidak
terlihat dimataku, aku mulai memarkirkan motorku, dengan perasaan yang hancur
lebur ku langkahkan kakiku memasuki area gedung…
Aissss kenapa menjadi seribet ini, minta waktu untuk
berpikir malah bertemu dengan dia, huft..
Rencana awalku ingin ke secretariat organisasiku, kurubah
kebelakang gedung pusat kegiatan mahasiswa yang disana terdapat kantin dan
tempat bersantai para mahasiswa, dihiasi beberapa pohon-pohon yang rindang. Aku
bersandar pada salah satu pohon tersebut
Aku mulai menelpon dita.
‘Hallo dita”
“Iya rian, Kenapa? “ bales
dita
“bisa kamu kebelakang ga? deket kantin aku di situ, penting
banget” ucapku menegaskan
“hmm iya bentar yah” bales dita
Aku menutup panggilan itu, dan selang beberapa menit dita
datang menghampiriku, dengan wajah yang tak berdosa ia bertanya kenapa?
Kenpa rian? penting banget? Ucap dita
Iya sangat penting”ucapku menahan emosi.
Dita sebenarnya maksud kamu itu gimana sih? Tanyaku
Maksud aku gimana apanya rian? jawabnya
Hmmm, udah lah ga usah, pura-pura ga tahu dita” balesku
Kamu ini kenapa sih, ngomong yang jelas dong biar aku paham”sahut
__ADS_1
dita ketus
Kamu kesini sama siapa? Katanya mau menyendiri tapi pergi
sama dia” balesku
Hmm rian kamu jangan emosi gitu dulu, kita ngomong baik-baik
kenapa? Bales dita
Gimana ga emosi liat kamu sama dia, sapa yang ga panas coba,
balesku.
Belum sempat dita menlanjutkan ucapanya dia meninggalkan aku, handphone
dita berbunyi, dita menjauh dari aku untuk mengangkat panggilan tersebut.
Dita Mengangkat Sebuah Panggilan dari Handphonenya, dia
sedikit menjauh dariku, aku kira hanya bisa menunggu dita menyelesaikan
panggilan Handphonenya, aku memperrhatikan mimic muka yang ditampilkan dita
dalam percakapan obrolannya, terlihat berseri-seri seperti orang sedang jatuh cinta, dan aku
sudah bisa menebak siapa orang dibalik panggilan telpon itu. Naluri lelaki
mulai tajam menerka..
Hatiku terbakar,panas, sakit tak berdarah, seolah petir
menyambar disiang bolong, napasku terasa sesak, emosi jiwa memuncak, aku ingin
membakar fakultas ini sebagai bentuk luapan emosiku.. tapi akal sehatku masih bisa mengontrol
tindakan, aku tunggu ia selesai menelpon pria Bangs*t itu, akan ku curahkan
semuanya…
Aisshh dita kamu jauh berubah, ga bisa kamu hargai aku
disini, dalam kondisi bersamaku kamu masih sempet menerima panggilan pria itu..
hmmmm
aku sambut dengan sebuah pertanyaan
“Siapa yang nelpon?” ucapku
Hmm, ga ada ucapnya, dita mau member tau siapa yang menelpon
dia barusan, tapi aku tau betul seorang dita yang tak bisah berbohong denganku,
sikapnya, karakternya yang terlihat cemas dari pertanyaanku,
“Udahlah ga perlu kamu tutupi, aku udah tau kok pasti dia,”
ucapku
“Ia dia maafkan aku,” jawabnya merasa bersalah….
“Aku bisa jelasin dulu rian” ucapa dita
“ga usah kamu jelasin lagi, sekerang dengerin aku,” ucapku
(Mulai detik ini lah akhir ceritaku bersama dita, aku kan
hilang sehilangnya dari kehidupanya….
Disini permulaan Kepergianku dan puncak Sebuah Kesabaranku..)
“Dit liat aku, dan dengerin aku, aku udah berusaha bersabar
dengan apa yang kamu lakukan terhadap aku, Aku juga udah ngikutin apa
permintaanmu,”
“Kamu minta untuk diberikan waktu untuk berpikir, aku
turutin, tapi kamu malah menghabiskan waktumu dengan dia,”
“kamu pilih dia ketimbang aku, silahkan dit,!!!”
“aku udah berbesar hati untuk menerima itu.”
“ aku juga ga mau, ngungkit-ngungkit apa yang telah aku
__ADS_1
berikan kekamu, jadi terkesan ga ikhlas semuanya,”
“Tapi yang perlu kamu tau dan ini untuk terakhir kalinya,
dari awal kita kenal sampai detik ini aku tulus sayang sama kamu…..”
“Cuman apa ga bisa kamu menghargai aku dit, secepat itukah
kamu berubah drastic seperti ini,?
“Dit aku ini manusia
dit punya segala keterbatasan dit, setelah kamu berhasil membuat aku hancur
dengan menghabiskan waktu denganya, didepan mata kepalaku kamu lakukan itu dan
kamu menerima panggilan dari nya, yang ada aku didekat kamu, Kamu ga mikirin
perasaan aku dit?”
“Sekarang aku udah engga tau mau ngomong apa lagi,perempuan
yang kusayang bisa berubah seperti ini, Cuma karena orang baru yang masuk ke
hidup kamu dit.”
“Dan ini udah cukup buatku, mencintaimu begitu dalam, tapi
tak memikirkan dalamnya sakit yang aku terima.”
“Pergilah bersamanya dit, aku ikhlaskan, aku akan pergi
dalam kehidupan kamu, jaga kesehatan kamu, aku pamit dulu..”
Ucapku panjang lebar, dan aku beranngsur pergi
meninggalkanya, sebelum aku pergi sembari mendengar penjelasan ku tadi air
matanya sudah mengalir dipipinya,
sembari aku menuju keruangan organisasiku dilantai dua, ,
aku arahkan tanganku ke tiang gedung ini
dengan kepalan tanganku, untuk meluapkan emosiku
barrrr barrrrr aku meninju dengan tangan kananku ketiang itu,
sekitika tanganku lecet dan mengeluarkan cairan berwarna merah….
Dan pada saat itu pula terdengar kembali suara dita
memanggil “Rian rian tunggu dengerin aku dulu, rian rian tunggu tangan kamu
berdarah,” ucap dita,
yah aku tetap saja tak peduli aku teruskan langkah kaki menuju
Lantai dua, dan aku yakin dia tidak akan mungkin menghampiriku, karena
menghampiriku akan menambah runyam suasana…
Jika dideskripsikan bagaimana rasanya aku melakukan
kebodohan itu , Sakit engga tanganya? Pada saat itu engga, engga terasa sama
sekali.
Aku tak menghiraukan panggilanya tatapanku hanya fokus
kedepan, untuk pergi meninggalkanya dan aku tak peduli dengan orang-orang
disekitarku, yang melihat drama ala-ala
sinetron versi kami,
Dan seseorang dari arah berlawanan menyapaku, kak tanganya
berdarah kak, ucap mahasiswi itu
Iya kak engga papa udah biasa jawabku.
Dan aku pergi ke sekretariatanku, aku menenangkan diri
disana, sambil mengobati lukaku.
Sakit sih pas lama-kelaman wkwkwkw. Kocak
__ADS_1