
RIAN
Satu Persatu Tanggung Jawabku akan selesai, setelah dua
minggu lamanya persiapan untuk mempertanggung jawabkan Kepengurusan yang telah
kami jalankan.
Tiga hari ini aku akan disibukan dengan kegiatan Musayawarah
Besar Organisasiku, kesibukan dalam dua minggu ini membuatku sedikit lupa akan
permasalahan hatiku, ditambah lagi hadirnya Sarah sebagai teman yang mengisi
waktu kosongku, komunikasi kami terus berjalan dengan baik, disela kesibukanya
menjalani koas, Sarah masih sempat memberikan perhatiannya kepadaku,
perhatianya yang lebih ini, mengantarkanku pada sibuah dilema, dan harapanku
semoga tidak ada yang tersakiti atas cerita yang kujalani ini.
SKIP
Akhirnya pelaksanaan Mubes berjalanan dengan lancar, aku
sudah menyelesaikan Kepengurusan Satu Periode, aku sudah terbebas dari
aktifitas organisasi, tinggal beberapa tanggung jawabku untuk hengkang dari
kampus ini.
Setelah kami membubarkan diri saat ku berjalan meninggalkan
ruangan Mubes, ada seseorang perempuan telah menungguku, langkahku terhenti dan
menghampiri perempuan itu.
“Rian bisa bicara sebentar ?.” Ucap Silvi yang merupakan
teman dari dita, yang sudah bisa ku tebak akan membahas masalah dita.
“Hmm, kenapa silvi tumbenan mau ketemu aku.” Ucapaku kepada
Silvi
“Sorry Rian ganggu waktu lu, gue yakin lu udah paham maksud
__ADS_1
gua pengen bicara ama lu, dan lu mungkin malas untuk bahas masalah itu, cuman
menurut gua ini penting, terserah lu nantinya mau merespon apa setelah gua
bicara ama lu.” Ucap Silvi menjelaskan dengan ekspresi serius
“Oke Silvi kita bicara didalam aja yuk, kebetulan acara udah
selesai.” Ucapku merespon penjelasannya
Setelah kami duduk dikursi yang tersedia diruangan, kami
melanjutkan pembicaraan.
“Jadi gimana Silvi, ada informasi penting apa ?.” Tanyaku
“Sebelumnya gua minta maaf ga bermaksud ikut campur dalam
urusan pribadi lu, karena Dita temen gua, dan gua ga sanggup liat perubahan
dita.” Penjelasan Silvi membuatku menjadi bingung dengan perubahan Dita?.
“Maksudnya perubahan giman Silvi.” Tanyaku mengerutkan
kening
dengan lu, murung banget, nangis mulu, ampe jatuh sakit noh dikontrakan, makan
ga mau, nyiksa badan sendirilah, akhirnya gua bawa dia kerumah gua, biar ada
temen, gua pikir lu tau sendirilah Dita terihat tegar tapi rapuh banget dah tu
anak.” Begitu penjelasan Silvi
“Hmm bukannya bagus yah putus ma gua ? Dita bisa sama cowok
itu Silvi ?.”
“Gini-gini gua jelasin dulu Rian, walaupun tetap temen gua yang salah, waktu lu ngeliat Dita sama
cowok itu, sebenarnya Dita ga enak nolak ajakan dia, cuman karena emang ada
keperluan kekampus, yah sekalian gitu, ini ga bisa gua bela lah temen gua itu,
tapi setidaknya lu ngasi dia waktu Rian buat ngejelasin walaupun tetap dianya
yang salah kalau menurut gua sih gitu.” Ucap Silvi
__ADS_1
“Iya lu kan bisa bayangin ga? kalau lu diposisi gua ? gimana,
hmm dah ahh Silvi gua males bahas nya.” Balesku dengan suasana hati yang tidak
baik
“Iya maaf gua kesini ga maksud untuk menyalahkan lu, jadi
gua kesini cuman minta tolong ama lu buat nemuin Dita, lu kasi dia waktu untuk
bicara dan minta maaf sama lu, gua paham lu berat untuk nemuiin dia, tapi gua
minta untuk sekali ini aja, setelah itu terserah lu mau gimana Rian.” Ucap
Silvi
“Huft, gua takutnya setelah gua temuin dia, malah makin
panjang masalah entar, gua saat ini lagi membuat perasaan gua seperti biasa,
membuka lembaran baru.” Ucapku bingung
“Iya maaf buat lu jadi serba salah, gua udah ga tega liat
dia seperti itu Rian, gua pengen lu tau aja, Dita sangat merasa bersalah
banget, gua pikir dengan dia ga bisa nemuiin lu satu bulan ini, bisa sedikit
menebus keselahan dia, walau ga akan merubah keadaan seperti semula, dia udah
nyelesaiin semua hubungan sama cowok itu, komunikasi udah ga ada lagi, yang ada
dipikiran dia sekarang adalah lu Rian dan rasa bersalah serta penyesalan, gua cuma
pengen temen gua itu bisa nyelesaiin kuliahnya menyudahi permasalahan ini, satu
satunya cara cuman lu yang menjadi solusi Rian, Temuin dia dan lu dengerin
semua apa yang dia ingin sampaikan, setelah itu terserah lu Rian, permintaan
gua Cuma itu.” Ucap Silvi menjelaskan
“Huft.” Responku membalas ucapan Silvi, dan aku mulai
terdiam, berpikir, menarik nafas dalam-dalam, untuk menenangkan suasana hati,
hampir 20 Menit aku terdiam, dan Silvi hanya diam menunggu jawabanku.
__ADS_1