Narasi Minim Dialog (Tentang Perasaan Ku)

Narasi Minim Dialog (Tentang Perasaan Ku)
Episode 27


__ADS_3

RIAN


Satu Persatu Tanggung Jawabku akan selesai, setelah dua


minggu lamanya persiapan untuk mempertanggung jawabkan Kepengurusan yang telah


kami jalankan.


Tiga hari ini aku akan disibukan dengan kegiatan Musayawarah


Besar Organisasiku, kesibukan dalam dua minggu ini membuatku sedikit lupa akan


permasalahan hatiku, ditambah lagi hadirnya Sarah sebagai teman yang mengisi


waktu kosongku, komunikasi kami terus berjalan dengan baik, disela kesibukanya


menjalani koas, Sarah masih sempat memberikan perhatiannya kepadaku,


perhatianya yang lebih ini, mengantarkanku pada sibuah dilema, dan harapanku


semoga tidak ada yang tersakiti atas cerita yang kujalani ini.


SKIP


Akhirnya pelaksanaan Mubes berjalanan dengan lancar, aku


sudah menyelesaikan Kepengurusan Satu Periode, aku sudah terbebas dari


aktifitas organisasi, tinggal beberapa tanggung jawabku untuk hengkang dari


kampus ini.


Setelah kami membubarkan diri saat ku berjalan meninggalkan


ruangan Mubes, ada seseorang perempuan telah menungguku, langkahku terhenti dan


menghampiri perempuan itu.


“Rian bisa bicara sebentar ?.” Ucap Silvi yang merupakan


teman dari dita, yang sudah bisa ku tebak akan membahas masalah dita.


“Hmm, kenapa silvi tumbenan mau ketemu aku.” Ucapaku kepada


Silvi


“Sorry Rian ganggu waktu lu, gue yakin lu udah paham maksud

__ADS_1


gua pengen bicara ama lu, dan lu mungkin malas untuk bahas masalah itu, cuman


menurut gua ini penting, terserah lu nantinya mau merespon apa setelah gua


bicara ama lu.” Ucap Silvi menjelaskan dengan ekspresi serius


“Oke Silvi kita bicara didalam aja yuk, kebetulan acara udah


selesai.” Ucapku merespon penjelasannya


Setelah kami duduk dikursi yang tersedia diruangan, kami


melanjutkan pembicaraan.


“Jadi gimana Silvi, ada informasi penting apa ?.” Tanyaku


“Sebelumnya  gua  minta maaf ga bermaksud ikut campur dalam


urusan pribadi lu, karena Dita temen gua, dan gua ga sanggup liat perubahan


dita.” Penjelasan Silvi membuatku menjadi bingung dengan perubahan Dita?.


“Maksudnya perubahan giman Silvi.” Tanyaku mengerutkan


kening


dengan lu, murung banget, nangis mulu, ampe jatuh sakit noh dikontrakan, makan


ga mau, nyiksa badan sendirilah, akhirnya gua bawa dia kerumah gua, biar ada


temen, gua pikir lu tau sendirilah Dita terihat tegar tapi rapuh banget dah tu


anak.” Begitu penjelasan Silvi


“Hmm bukannya bagus yah putus ma gua ? Dita bisa sama cowok


itu Silvi ?.”


“Gini-gini gua jelasin dulu Rian, walaupun tetap temen  gua yang salah, waktu lu ngeliat Dita sama


cowok itu, sebenarnya Dita ga enak nolak ajakan dia, cuman karena emang ada


keperluan kekampus, yah sekalian gitu, ini ga bisa gua bela lah temen gua itu,


tapi setidaknya lu ngasi dia waktu Rian buat ngejelasin walaupun tetap dianya


yang salah kalau menurut gua sih gitu.” Ucap Silvi

__ADS_1


“Iya lu kan bisa bayangin ga? kalau lu diposisi gua ? gimana,


hmm dah ahh Silvi gua males bahas nya.” Balesku dengan suasana hati yang tidak


baik


“Iya maaf gua kesini ga maksud untuk menyalahkan lu, jadi


gua kesini cuman minta tolong ama lu buat nemuin Dita, lu kasi dia waktu untuk


bicara dan minta maaf sama lu, gua paham lu berat untuk nemuiin dia, tapi gua


minta untuk sekali ini aja, setelah itu terserah lu mau gimana Rian.” Ucap


Silvi


“Huft, gua takutnya setelah gua temuin dia, malah makin


panjang masalah entar, gua saat ini lagi membuat perasaan gua seperti biasa,


membuka lembaran baru.” Ucapku bingung


“Iya maaf buat lu jadi serba salah, gua udah ga tega liat


dia seperti itu Rian, gua pengen lu tau aja, Dita sangat merasa bersalah


banget, gua pikir dengan dia ga bisa nemuiin lu satu bulan ini, bisa sedikit


menebus keselahan dia, walau ga akan merubah keadaan seperti semula, dia udah


nyelesaiin semua hubungan sama cowok itu, komunikasi udah ga ada lagi, yang ada


dipikiran dia sekarang adalah lu Rian dan rasa bersalah serta penyesalan, gua cuma


pengen temen gua itu bisa nyelesaiin kuliahnya menyudahi permasalahan ini, satu


satunya cara cuman lu yang menjadi solusi Rian, Temuin dia dan lu dengerin


semua apa yang dia ingin sampaikan, setelah itu terserah lu Rian, permintaan


gua Cuma itu.” Ucap Silvi menjelaskan


“Huft.” Responku membalas ucapan Silvi, dan aku mulai


terdiam, berpikir, menarik nafas dalam-dalam, untuk menenangkan suasana hati,


hampir 20 Menit aku terdiam, dan Silvi hanya diam menunggu jawabanku.

__ADS_1


__ADS_2