
Sudah seminggu sejak kepergian Yuzu untuk selama-lamanya aku juga Chen masih saja tak menyangka jika akhirnya Yuzu benar-benar pergi meninggalkan kami berdua bayang-bayang Yuzu yang selalu menghibur kini telah pudar semua sudah tak sama.
"Yi mau ke kantin ga?"
"Iya Che udah laper juga," dengan langkah gontai aku mengikuti Chen yang kembali bersemangat lain halnya dengan diriku yang masih lesu saat tiba di kantin aku kembali melihat Lursl dan yang lainnya tengah bercanda ria seolah tak ada beban di hidup mereka.
"Yi makan apa?"
"Apa aja Che,"
"Aku kesana dulu kamu tunggu disini sebentar," setelah Chen pergi aku hanya diam tak melakukan apa pun hingga Lursl datang mengahampiri dan duduk di samping ku namun seolah tak melihat aku terus saja diam sampai Chen datang membawa makanan.
"Yi itu," tunjuk Chen kearah Lursl yang masih saja memperhatikan ku seolah tak mendengar ucapan Chen aku terus saja memakan makanan ku walau tak berselera
"Chen ikut saya,"
"Eh Kak Luii mau kemana?" tanpa menjawab Luii menarik Chen entah kemana
"Alrasthor," teriak Lursl di ikuti mereka yang langsung menyuruh semua yang ada di kantin untuk meninggalkan kantin hingga menyisakan aku juga dirinya sendiri dan jangan lupa ibu-ibu kantin nya ya guys heheh.
"Sayang ga capek diem terus?" seolah tak mendengar aku mengalihkan pandanganku ke samping
"Sayang masih marah?" tanyanya memeluk tubuhku menenggelamkan wajahnya di ceruk leherku
"Maaf aku hari itu ga bisa nolong Yuzu," tak ku hiraukan gegas aku berdiri menuju kelas namun sama Lursl masih saja mengikuti ku aku yang bosan melihat tingkahnya langsung menghentikan langkah kaki ku dan berbalik menghadap nya.
"Saya ga marah tapi saya minta tolong satu kali aja boleh?"
"Iya sayang mau apa?"
"Tolong pergi jauh-jauh dari hidup saya dan yah satu lagi berhenti menyebut saya dengan panggilan itu sungguh itu membuat saya tak nyaman," ucapku lembut
"Ga bisa,"
"Kenapa?"
"Satu aku ga mau kamu jauh-jauh dari aku dua aku juga ga mau jauh-jauh dari kamu dan yang ketig_"
"Udah cukup berhenti,"
"Sampai kapan pun itu aku ga akan pernah bisa jauh dari kamu,"
"Lursl lingZhi yang terhormat anda itu tampan juga kaya sangat mudah untuk mendapatkan wanita-wanita cantik di luar sana,"
"Iya memang banyak yang cantik tapi yang kayak kamu ga ada,jadi stop suruh aku jauh dari kamu itu ga akan pernah terjadi,"
"Oke kalo kamu ga mau jadi biar aku yang pergi jauh dari kamu,"
"Nihlyiiiiiiiiii!"
"Jangan pernah bermimpi untuk pergi jauh dari aku," teriaknya melihat ke arahku dengan tatapan tajam juga mata memerah menahan emosi.
"Lursl saya mohon sekali ini aja tolong,"
"Mau kamu nangis darah aku ga bakal jauh dari kamu," ucapnya berlalu pergi.Saat pulang sekolah aku duduk di bangku parkiran menunggu pak Sizi yang belum datang menjemput sedangkan Chen sudah pulang duluan katanya mau pergi bersama ibunya cukup lama namun pak Sizi belum juga datang hingga aku memutuskan naik bus.
"Ini juga bus nya ga lewat-lewat mana ga bawa ponsel lagi," ucap ku kesal sembari merunduk menendang apa saja yang bisa ku jangkau tiba-tiba aku melihat sepatu sontak aku mendongakkan wajahku menatapnya dan ternyata itu Ludrel.
"Ayo cantik aku anter kamu pulang,"
"Ga usah saya bisa sendiri," ketus ku
"Ayo," ucapnya menarik lenganku menuju motornya.
"Bisa naik?"
"Iya bisa," ucapku naik ke motonya
"Nih pake,"
"Buat?"
"Itu nutupin paha kamu," jawabnya menyodorkan jaketnya kearahku
"Eh iya," diperjalanan pulang aku lumayan senang karena ini pertama kalinya aku naik motor karena sedari dulu aku selalu naik mobil itupun dengan pak Sizi ataupun keluargaku yang lain.Saat sampai dirumah aku melihat Lursl yang berdiri di samping mobilnya sembari terus melirik ke arahku.
"Makasih ya ini jaketnya," ucapku memberikan jaket kearahnya namun tiba-tiba Ludrel mengecup keningku sebelum akhirnya berlalu sontak aku terkejut dibuatnya gegas aku berjalan dengan santainya masuk ke rumah tak ku hiraukan Lursl yang wajahnya merah padam menahan emosi belum sempat melangkahkan kaki ke dalam rumah aku di tarik Lursl mengahadapnya hingga nyaris berpelukan.
Cup
Cup
Cup
__ADS_1
Cup
"Mana lagi yang di cium sama pria brengsek tadi?" tanyanya memegang wajahku ku lihat matanya berembun menahan tangis.
"Ga ada cuman kening aja," ucapku santai dan lagi-lagi Lursl menciumi seluruh wajahku tanpa terlewat sedikit pun hingga aku geli di buatnya.
"Sayang kamu ga boleh sama laki-laki lain aku ga rela hati aku sakit lihatnya apalagi pria brengsek tadi sampe cium kamu aku ga rela," ucapnya memeluk ku seolah terhipnotis hanya diam menerima perlakuan nya itu.
"Ekhem,"
"Romantisnya nanti aja di lanjut ga malu apa ini di luar loh hahah,"
"Apa sih mi ga jelas," ucapku berlalu masuk
"Lursl lihat tu wajahnya hahah,"
"Mami udah," ketusku berlalu ke kamar
"Lursl udah lama?"
"Iya bi,"
"Terus kalian mau kemana?"
"Ga bi ga kemana-mana Lursl cuma mau main kesini,"
"Ya udah kalo gitu bibi titip Nihlyi ya soalnya bibi mau ke butik mungkin pulangnya sampe nanti malem,"
"Iya bi,"
"Masuk aja ke kamarnya,"
"Emang boleh bi?"
"Boleh bibi percaya kalo kamu bisa jaga Nihlyi,"
"Ya udah bibi berangkat ya ingat jaga Nihlyi baik-baik,"
"Iya bi," dikamar aku tengah mandi di rasa sudah selesai aku keluar kamar hanya mengunakan handuk sebatas paha karena tak menyadari jika ada Lursl yang tengah melongo menatap tak percaya.
"Sayang kamu mau goda aku hm," ucapnya berada tepat di belakangku lalu memeluk tubuhku hingga aku menjerit seketika
"Ahhhhhhhh,"
"Kenapa hm?" tanya nya mendekatkan wajahnya kearah ku dengan satu tangan aku mencoba mendorong tubuh nya namun sia-sia seolah tak merasakan apapun Lursl terus saja menghimpit tubuhku.
"Pergi!"
"Ga akan,"
"Pergi ga!" ucapku yang hampir menangis tiba-tiba Lursl mencium lembut bibirku dan sedikit mel*matnya aku hanya diam sembari terus mengeratkan genggaman tangan ku di handuk seolah tak puas Lursl memeluk pinggangku yang ramping hingga tak ada lagi jarak diantara kami berdua dan melepas lum*tannya di bibirku dan turun ke arah leher jenjangku menghis*pnya lembut membuat tubuhku meremang seketika tak hanya diam tangannya mulai bergerilya di dada ku.
"Ahh lepas,"
"Lepaassss ahhh," desahku pelan sembari terus mendorong tubuhnya menjauh
"Aku suka wangi kamu sayang harumm," ucapnya menyatukan kening kami berdua dan menatapku lembut dan kembali mel*mat bibir ku lembut aku yang terbuai akhirnya membalas walau masih kaku semakin lama ******* nya semakin menuntut lebih.
"Emphh," desahku sembari memukul dadanya karena kehabisan nafas Lursl melepas bibirnya sebentar menyuruhku mengambil nafas secukupnya kemudian memulai aksinya kembali kali ini tangan nya memegang bongk*ng ku dan meremasnya cukup keras hingga aku meringis di buatnya cukup lama hingga akhirnya Lursl benar-benar melepas tautan bibir kami berdua dan mengelap sisa air yang mengalir di sudut bibirku.
"Makasih sayang," ucapnya mengecup keningku lembut aku yang malu hanya bisa tertunduk menyembunyikan rona merah di wajahku entah kenapa aku menikmatinya.
"Kamu ganti baju dulu aku mau keluar buat susu habis itu kita tidur,"
"Hah tidur bagaimana mungkin," batinku terkejut langsung saja aku berganti baju dengan menggunakan sweater rajut berwarna biru muda dan celana pendek berwarna putih aku langsung menenggelamkan wajahku di selimut tebal sembari terus membayangkan kejadian tadi hingga tiba-tiba Lursl datang dengan membawa segelas susu cokelat hangat.
"Ini minum dulu habis itu tidur,"
"Iya," ucapku meminum susu dengan hanya sekali tegukan lalu aku kembali memberikan gelasnya.
"Udah tidur aku mau keluar," ucapnya mengecup keningku
"Keluar?"
"Iya keluar,"
"Kemana?"
"Mau ke kafe,"
"Ikut," entah kenapa kata itu langsung keluar dari mulutku
"Kenapa bukannya kamu ga mau ya deket-deket aku," ucapnya sembari terkekeh aku yang merasa malu langsung membalik badanku dan menenggelamkan wajahku ke dalam selimut rasanya ingin menangis saja.
__ADS_1
"Ya udah pergi aja!" ketus ku
"Ya udah," ucapnya beranjak namun sebelum Lursl melangkah keluar aku langsung memeluk tubuhnya dari belakang hingga membuat nya menoleh ke arahku sontak aku melepas pelukan ku sembari mundur dan menundukkan kepalaku lalu menangis pelan entah ada apa dengan diriku hari ini.
"Pergi aja," ketus ku membalikkan badanku
"Aku ga pergi sayang aku disini kalaupun aku pergi aku pasti ajak kucing kecilku ini," ucapnya memeluk tubuhku dari belakang
"Pergi aja hiks hiks,"
"Iya aku pergi tapi sama kamu," ucapnya mencium pipiku
"Udah jangan nangis kalo mau pergi,"
"Hm,"
"Udah siap-siap sana kalo mau ikut,"
"Ga usah gini aja,"
"Ya udah ayo,"
"Gendong,"
"Manja banget sih," ucapnya menoel hidung ku pelan
"Biarin,"
"Ayo sini," sampai di bawah semua pelayan melihat kearahku dan Lursl yang sedari tadi tersenyum begitupun aku
"Lursl mau kemana?"
"Itu kenapa juga Nihlyi di gendong?"
"Kita mau keluar bi ini Nihlyi minta di gendong,"
"Manja ya sekarang Nihlyi,"
"Bu mbak kayak aku ya masih minta di gendong,"
"Biarin wekkkk," ucapku menjulurkan lidahku kerah Luxu
"Bu Luxu juga pengen di gendong Kak Luu,"
"Ga boleh sayang,"
"Huwaaaaa Luxu pengen di gendong,"
"Ya udah sini Kakak Luu gendong juga,"
"Mbak Yi turun dong,"
"Ga mau,"
"Mbak turun,"
"Ga mau Luxu aja ga usah gendong sama Kak Luu,"
"Huwaaaaa ibu mbak Nihlyi nakal,"
"Sini Luxu gendong juga," akhirnya aku juga Luxu sama-sama digendong
"Bi Luxu juga ikut kita keluar ya,"
"Iya keluar aja," saat sampai di mobil Lursl menurunkan kami berdua lalu masuk ke mobil dan pergi ke kafe.
"Ayo turun,"
"Ga di gendong lagi Kak aku sama mbak cantik?"
"Ga usah mbak jalan aja Xuu,"
"Ga usah mbak biar Luxu aja yang jalan nah biar mbak yang di gendong Kakak,"
"Ga usah jalan sini biar Kakak gendong,"
"Kak emang ga berat," tanya ku sembari menempel kan wajahku di dada bidangnya
"Berat sih tapi demi cinta gapapa," ucapnya sembari tertawa anak-anak Alrasthor yang melihat Lursl mengendong tubuhku juga Luxu sampai terheran-heran hingga membuat ku malu
"Kenapa?"
"Malu Kak mana rame lagi," jawabku memeluk erat tubuhnya saat aku di turunkan untuk duduk semua pasang mata melihat kearahku begitu juga Chen dan Luii yang entah sejak kapan semakin dekat.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak ya guys