Nihlyi Si Gadis Mungil

Nihlyi Si Gadis Mungil
Kenapa lagi?


__ADS_3

Dirumah sakit hari ini cukup ramai pasien hingga aku letih dari pagi hingga sore masih tetap sama semoga saja malam nanti sepi.


"Hai cantik,"


"Apa sih Che,kenapa kamu sakit?"


"Sengaja mau main sama kamu terus sekalian deh jenguk Lursl,"


"Iya jenguk aja,"


"Kamu ga ikut?"


"Ga Che pasien aku masih banyak kasihan mereka semua," ucapku memperhatikan sekeliling


"Nihlyi tolong jangan keras kepala,"


"Maaf Che tapi aku ga bisa maaf ya,kamu aja sana," ucapku berlalu mengunjungi ruang rawat anak kecil berusia 10 tahun yang mengalami kecelakaan hingga kakinya lumpuh.


"Ya udah iya aku duluan kalo kamu berubah pikiran langsung aja kesana," ucapnya berlalu saat tiba di ruang rawat Lursl,Chen langsung duduk di dekat Luii yang senantiasa menjaga Lursl syukur kondisi Lursl semakin membaik


"Chen,"


"Iya Kak kenapa?"


"Nihlyi,"


"Kenapa sama Nihlyi?"


"Dokter itu Nihlyi bener kan Chen,"


"Iya bener Kak itu Nihlyi aku kemarin ketemu sama dia lagi nangis didekat danau,katanya sih kamu udah nikah sama Fanyu,"


"Terus gimana?"


"Ya aku bilang aja semuanya,"


"Eh bentar katanya kemarin kan dia bukan Nihlyi sayang,"


"Ya mana aku tau kenapa dia bilang dia bukan Nihlyi sayang ku,"


"Hehe iya," ucap Luii cengengesan


"Terus sekarang Nihlyi dimana?"


"Katanya mau ngurus pasien yang masih anak-anak korban kecelakaan,"


"Di ruang berapa?"


"Itu lantai tiga kamar nomor tujuh kalo ga salah,"


"Aku kesana sekarang kalian berdua tunggu aja disini," ucap Lursl berdiri sembari melepaskan selang infus secara kasar hingga mengeluarkan darah


"Luu kamu belum sembuh itu luka kamu juga belum kering jangan aneh-aneh!"


"Kalo bukan sekarang harus kapan aku ketemu sama Nihlyi," ucap Lursl keluar ruang rawat segera naik kelantai tiga dimana Nihlyi bertugas dengan bertelanjang dada menampilkan deretan roti sobek yang masih terbalut perban dengan luka yang masih basah hingga kain kasah itu sedikit berwarna merah saat pintu terbuka Lursl segera berlari namun tiba-tiba matanya menatap Nihlyi yang tengah duduk di kursi koridor rumah sakit sembari tertawa bersama anak laki-laki.


"Terus Rulu suka makan apa?"


"Makan apa aja dokter yang penting sehat kata ibu,"


"Oh pinter bagus itu jadi kamu yang tampan ini ga banyak milih ya," ucapku mencubit gemas hidungnya yang mancung


"Rulu sayang dokter," ucapnya memeluk tubuhku bertepatan dengan itu aku juga merasakan seseorang memeluk tubuh ku dari belakang


"Kucing kecilku," ucapnya terus mendekap erat tubuhku sembari menangis sontak kami jadi pusat perhatian banyak orang yang berlalu lalang di koridor rumah sakit


"Berani sekali anda!" ucap ku melepas pelukannya dan menatap wajahnya yang memerah karena menangis

__ADS_1


"Sayang," ucapnya kembali memeluk tubuhku


"Kamu tau sayang aku tersiksa karena kamu jauh dari aku,"


"Saya bukan Nihlyi tolong lepaskan!"


"Kamu Nihlyi aku udah tau semuanya,"


"Ini pasti ulah Chen anak itu," batinku masih terus meronta minta dilepaskan hingga akhirnya dia melepaskan pelukannya namun tiba-tiba dia merintih kesakitan saat ku lihat luka di bagian perut bagian atasnya kembali mengeluarkan darah cukup banyak juga tangan nya yang menurut ku dia menarik paksa infus.


"Anda ini kenapa lagi sudah tau luka nya belum sembuh masih saja di paksa berjalan,ayo kembali ke ruang rawat anda nanti saya bantu obati," ucap ku menarik tangan nya ke arah lift bukan nya berteriak karena sakit Lursl justru tersenyum hingga tiba di ruang rawat nya aku mendudukkan tubuhnya diatas tempat tidur lalu mulai mengobati kembali lukanya juga menganti perban yang sudah berubah warna dan kembali memasangkan selang infus ke tangannya.


"Anda belum sembuh jadi jangan banyak bergerak dulu kalo butuh bantuan panggil suster," ucapku berlalu namun lagi-lagi Lursl menarik tangan ku hingga aku kembali menatap wajahnya


"Sayang aku sakit,"


"Ya terus hubungan nya sama saya apa?"


"Kamu ga takut aku meninggal gitu?" tanya nya menatap ku penuh harap ku lihat matanya kembali mengembun


"Meninggal atau tidak itu di tangan Tuhan jika dia sudah berkehendak anda akan meninggal," ucapku berlalu


"Aku berharap jika aku meninggal kamu akan merasakan kehilangan seseorang yang gapernah kamu anggap ada ini,"


"Meninggal ataupun hidup saya tidak perduli dan ingat saya bukan Nihlyi," ucapku keluar untuk pulang karena ini sudah larut malam saat sampai dirumah aku langsung membersihkan diri lalu istirahat


"Aku bahagia bisa dipeluk Lursl lagi," ucapku tersenyum sembari memeluk boneka jerapah yang masih ku simpan sejak 7 tahun ini.


Drtttttt


"Siapa juga malem-malem gini telepon?" ucapku menatap ponsel ku dan ternyata itu Chen


"Hallo,"


"Malem cantik gimana udah baikan sama Lursl?"


"Aku capek pengen tidur," ketus ku memutuskan panggilan secara sepihak dan langsung tidur.


"Qipi itu kenapa dokter semua pada lari?"


"Oh itu dok pasien di lantai dua kamar nomor sembilan collapse,"


"Lantai dua kamar nomor sembilan?"


"Iya dok tentara dari China,"


Jedaarr seperti disambar petir aku berlari secepat mungkin sembari terus menagis hingga dokter-dokter senior juga junior melirik kearahku dan masih banyak pasang mata yang melihat kearahku


"Tuhan jangan kau ambil nyawa nya aku ingin melihatnya hidup Tuhan," batinku saat pintu lift terbuka gegas aku berlari menerobos masuk ke dalam ruang rawat dimana Lursl tengah menghadapi masa kritis nya,ku lihat Luii juga anak-anak Alrasthor lain nya juga ada disana sembari menangis.


"Maaf nyawa tuan Lursl tak dapat kami tolong,"


"Kak Luu," teriak ku memenuhi seluruh ruang hingga semua orang menatap kearah ku yang berlari memeluk tubuh Lursl yang katanya sudah tak bernyawa


"Kak bangun Kak ini Nihlyi Kak bangun maafin Nihlyi hiks hiks," lirih ku memeluk erat tubuhnya yang pucat


"Kak bangun Nihlyi cinta sama Kakak Nihlyi mau Kakak hidup Nihlyi mau kita bahagia Kak bangun hiks hiks bangun kak bangun," ucapku sembari menciumi wajahnya yang pucat


"Yi kamu harus ikhlas Lursl udah ga ada,"


"Ga Kak Lursl ga mungkin pergi ninggalin aku," ucapku masih memeluk tubuhnya hingga kurasakan tubuhnya bergetar hebat


"Permisi dokter Nihlyi saya mau periksa tuan Lursl,"


"Tuhan selamatkan hidup Lursl aku janji Tuhan aku akan selalu mendampinginya aku akan selalu mencintainya sampai akhir Tuhan aku janji," batinku terus meminta agar Tuhan memberi keadilan padaku hari ini


"Syukur tuan Lursl sudah melewati masa kritis nya mungkin satu kali dalam dua puluh empat jam dia akan sadar,kalau begitu saya permisi,"

__ADS_1


"Iya makasih dok,"


"Kamu harus cepat sadar Kak aku disini," ucapku menggenggam erat tangannya cukup lama hingga aku tak sadar saat seseorang mengelus lembut rambutku


"Sayang," ucapnya tersenyum


"Kak," sontak aku memeluk tubuh Lursl erat sembari menangis


"Maaf Kak maafin Nihlyi hiks hiks maaf,"


"Hei udah jangan nangis jelek," ucapnya menghapus air mataku,bukannya berhenti aku semakin terisak-isak


"Ak-aku hiks uda-udah jahat sama Kakak terus ak-aku juga pergi hiks ja-jauh," ucapku terbata


"Gapapa kamu yang pergi asal jangan aku yang pergi,"


"Maaf Kak," ucapku kembali memeluk tubuhnya


"Iya sayang,"


"Kak Luu ga benci sama Nihlyi?"


"Mana pernah aku benci sama kamu sayang,dalam mimpi sekalipun aku ga akan pernah benci sama kucing kecil ku ini," ucapnya mencium pucuk kepalaku berulang-ulang


"Padahal aku jahat Kak,"


"Sini," ucapnya menepuk pelan kasur disampingnya


"Iya,"


"Sayang kamu tau aku gila karena apa?" tanyanya memeluk tubuh ku sontak aku mendongakkan wajahku mengahadapnya yang menatap wajahku


"Kakak gila?"


"Iya gila karena kamu pergi,"


"Maaf Kak Nihlyi ga maksud gitu," ucapku lirih sembari memeluk erat tubuhnya dan menegelamkam wajahku di dada bidangnya


"Kamu percaya?"


"Iya percaya,"


"Dari dulu sampe sekarang ga pernah berubah ya kamu," ucapnya mencium pipi ku bergantian


"Berubah jadi apa Kak?"


"Jadi gadis dewasa gitu,"


"Aku udah dewasa Kak lihat ni aku udah tambah tinggi,"


"Iya terus makin berisi ya sayang," ucapnya mengerlingkan sebelah matanya


"Iya berisi habis kalo dulu nangis terus,"


"Sekarang udah engga,terus ini kenapa matanya bengkak gini?"


"Itu tadi habis nangis karena Kakak,"


"Kok jadi Kakak kenapa?"


"Udah Kak ga usah di bahas Nihlyi malu,"


"Kenapa harus malu?"


"Ya malu aja,"


"Ya udah sekarang tidur aja kamu capek kan?"

__ADS_1


"Iya," jawabku mulai memejamkan kedua belah mataku


Jangan lupa tinggalkan jejak ya guys


__ADS_2