Nikah Sama Duda

Nikah Sama Duda
Dicari Pak RT


__ADS_3

Pagi itu,  ibu bahagia banget. Kulihat tadi pagi, ibu bangun lebih awal dari biasanya. Karena, katanya dapat orderan kue donat,  lima puluh biji, dari tetangga sebelah rumah.


"Regina. Bantu ibu ya, hari ini ada orderan kue donat dari Bu Mirna," katanya padaku. Aku tak menjawabnya.


Tapi, meski sikap dan kelakuanku bar-bar, ditambah lagi malas-malasan, aku masih merasa jadi anak cewek yang berbakti kepada ibu. Aku tetap membantunya, meski sekali lagi dengan rasa terpaksa.


Orderan donatnya, tiba-tiba buyar dan berantakan. Setelah pagi itu kedatangan Pak RT Kadir. Padahal, waktu masih menunjuklan pukul 08.00 wib. Pak RT sialan itu, datang mencariku.


"Assallamuallaikum," ucapnya yang kudengar dari kamar depan. Aku tahu itu suara Pak RT. Aku hafal betul, karena tiap bulan aku yang disuruh ibu bayar uang jaga keamanan, ke rumahnya Pak RT.


Aku cuek karena pikirku dia mencari ibu. Aku pun tidur lagi, berusaha memejamkan mata. Nanti jam 10.00 wib biasa aku keluar dari kamar, dan mandi. Sarapan, kalau ibu sudah menghidangkannya di meja makan.


Kalau sarapannya belum terhidang, aku goreng sendiri telor ceplok mata sapi, dikasih garam sedikit, buat sarapan.


"Assallamuallaikum," katanya lagi sambil terus mengetuk pintu ruang tamu.


Ibu tak menjawab salam Pak RT. Padahal  aku pastikan ibu mendengarnya.


"Ah biarin. Lagi pula ngapain bertamu ke rumah orang, pagi-pagi," gumamku, masih dengan posisi rebahan di kamar depan.


"Regina!" teriak ibu.


"Regina, bangun. Tolong lihat siapa!" pinta ibu lagi. Tapi  aku masih acuh tak acuh. Malas banget melayani tamu pagi-pagi.


Tiba-tiba ibu masuk ke kamar. Dia tahu yang datang adalah Pak RT. Pasti, diintipnya tamu itu dari balik tirai ruang tamu.


"Regina. Kenapa itu Pak RT datang pagi-pagi. Apa uang jaga bulan ini belum kamu berikan ke Pak RT ya, jadinya dia nagih ke rumah?'' tanyanya dengan suara berbisik, takut didengar Pak RT dari luar.


Aku pun heran. Berusaha mengingat-ingat lagi uang jaga yang seharusnya sudah aku serahkan ke Pak RT itu.


"Sudah Bu. Regina berani sumpah demi Allah, sudah Regina serahkan ke Pak RT," jawabku, meyakinkan ibu. Tapi ibu masih belum percaya.


"Jadi, ngapain dia ke rumah pagi-pagi?!" tanya ibu, setengah berbisik, hingga buat aku bingung.


"Entah," kataku masih asyik tidur sambil memeluk guling.


"Assallamuallaikum." pekik Pak RT untuk kesekian kalinya.


Terpaksa ibu menjawab.


"Iya Pak RT. Waallaikum salam."


Ibu pun bergegas membukakan pintu ruang tamu. Lalu mempersilakan tamunya masuk, dan duduk di sofa ruang tamu.


"Iya Pak RT? Ada apa?!" tanya ibu dengan ramahnya.


"Maaf ini ada perlu sedikit, sama Regina."


Kalimat Pak RT sedikit membangunkan aku. Tapi, aku bersikap bodi amat. Aku cuek saja. Masih di dalam kamar. Tapi aku mendengarnya dengan jelas apa yang dikatakan Pak RT.


"Oh iya...Pak. Sama Regina?!" Ibu heran dengan moment kedatangan Pak RT yang mencariku sepagi itu.


"Iya Bu." Jawab Pak RT singkat.


"Sebentar Pak ya. Dia sepertinya masih tidur. Saya bangunkan dulu ya," ungkap ibu yang pergi meninggalkan Pak RT di ruang tamu itu.


"Bangun....bangun. Pak RT cari kamu," kata ibu, dan aku masih saja berlagak cuek. Masalahnya, nyawaku belum seratus persen terkumpul. Begitu juga mata aku, masih berat banget mau dibuka.


"Masih ngantuk nih. Ada apa sih!" kataku kesal.


"Bangun dulu sebentar. Nanti tidur lagi kalau sudah selesai urusannya sama Pak RT. Cepet sana bangun temui Pak RT," kata ibu setengah mendesakku.


Pasti ibu nggak enak sama Pak RT, kalau aku tak mau menemuinya.

__ADS_1


Desakan ibu, membuat aku semakin kesal. Lagi enak-enak tidur digangguin.


"Ayo sebentar saja." desak ibu lagi. Hingga akhirnya aku pun menuruti perintah ibu. Dengan mata masih belekan, bau jigong dan rambut awut-awutan, aku keluar menemui Pak RT di ruang tamu.


"Maaf ya Pak RT anak gadis satu ini baru bangun tidur. Belum mandi," kata Ibu pada Pak RT, mewakili aku.


"Begini," katanya memulai percakapan.


"Pemilik rumah Blok H Anyelir protes katanya sepatu dan sandal mereka hilang, padahal diletakkan di teras rumah." kata Pak RT to the point. Tapi masih hati-hati bicara.


"Terus apa hubungannya sama Regina Pak!" ibu terlihat mulai kesal, dan spontan langsung meresponnya.


Karena, sepertinya ibu tersinggung dengan cerita Pak RT. Ibu merasa Pak RT telah menuduh aku. Ya ibu sudah membaca arah pembicaraan Pak RT.


"Maaf ya Ibu. Jangan tersinggung. Kalau menurut rekaman cctv di rumah itu, Regina terlihat berada di teras itu, saat sandal mereka hilang." jelas Pak RT mulai blak-blakan.


"Maksudnya, Regina pencurinya?!" kata ibu dengan nada tinggi, saat memperjelas kalimat tuduhan dari Pak RT padaku.


Seperti kehilangan kunci jawaban, Pak RT Kadir terdiam sejenak. Tapi, dia kembali mengintrogasi aku. Mendesakku, agar mengakui bahwa aku biang kerok, dari semua  pencurian yang terjadi di rumah itu.


Kata Pak RT Kadir lagi, bukan hanya satu blok yang mengadu kepadanya, soal kehilangan barang-barang di rumah mereka.


Beberapa orang mengatakan bahwa aku, berada disana, saat ada barang-barang mereka yang hilang.


"Maksudnya. Regina pencuri di komplek perumahan Tata Niaga ini ya Pak RT," kata Ibu yang mulai ngamuk  pada Pak RT.


Desakan Pak RT Kadir,  bukan tanpa alasan.  Ia berpatokan dari bukti-bukti yang ada lewat rekaman cctv, dan  berdasarkan pengaduan dari beberapa warga.


"Komplek perumahan Taman Niaga,  sudah sebulan ini tak aman. Barang-barang pribadi milik warga sering hilang." tegas Pak RT Kadir dan aku berusaha cuek dengan apa yang dia katakan.


"Kenapa anak saya jadi sasaran?" ungkap ibu kesal.


"Nggak mungkin Pak, anak saya  ini pencurinya!" tingkat kemarahan ibu mulai naik hingga level 20.


Jelas aku berdalih. Aku beralasan kalau sandal bulu-bulu pink yang aku pakai,  aku beli di pasar malam.


"Sekarang, panggil saja anaknya kemari. Apa benar sandal itu dicuri sama Regina." bentak ibu di depan Pak RT.


"Kata dia, ingat betul, semalaman sandal japit bulu-bulu pink itu, diletakkan  di depan teras rumahnya." kata Pak RT masih ngotot.


"Aku yang ceroboh. Sandal itu aku pakai ke warung depan rumah. Seingatku waktu itu,  Gita sempat melihatku memakai sandal itu." batinku.


"Ini sandal kamu ya Regina? Atau kamu curi dari Gita?" kata ibu yang tiba-tiba memperlihatkan sandal itu di depan Pak RT.


"Sialan!" pekikku dalam hati.


"Kenapa harus diperlihatkan ke Pak RT sih, sama Ibu." gerutuku kesal.


Nyaris saja aku salah tingkah. Tapi, sebisa mungkin aku akan berusaha bersikap biasa-biasa saja, dan tetap bersikeras mengakui sandal itu adalah milikku yang aku beli di pasar malam.


"Sandal ini aku beli di pasar malam." kataku ngotot di depan ibu dan juga Pak RT Kadir.


Tiba-tiba,  datang Ina.  Dia menuduhku, kalau jam tangan merk Alexandre Cristy  yang melingkar di pergelangan tangan kananku, adalah jam tangan miliknya.


Sepagi itu, sudah heboh dengan persidangan mendadak yang digelar Pak RT Kadir.


Belum beres soal sandal japit bulu-bulu pink dan jam tangan Alexandre Cristy,  uang celengan Riska juga hilang.


Riska yakin, aku pelakunya.


Keyakinan Riska semakin kuat,  saat dia melihat pecahan celengan bentuk ayam jago itu,  berada di tong sampah depan rumahku.


"Dia sering main ke rumah, Pak," Riska mengadu ke Pak RT.

__ADS_1


"Warna celengan itu, merah.


Padahal,  uang celengan itu,  rencananya akan saya gunakan untuk tambahan beli sepeda gunung. Terpaksa, nggak jadi beli sepedanya." keluh Riska di depan Pak RT.


"Uang sisa belanja yang saya letak di atas deket meja TV, juga sering hilang.  Riska saya desak suruh ngaku.  Tetapi,  dia tak mau mengaku. Jangan-jangan dia juga pelakunya Pak RT." tuduh Mak Riska tanpa basa-basi yang pagi itu juga tiba-tiba muncul.


Sidang RT yang heboh. Seheboh pertunjukan topeng monyet yang mampu mengundang anak-anak dan emak-emak, di komplek perumahan.


Sedari tadi, aku lebih banyak diam. Aku hanya membela diri dan bicara seperlunya. Aku berusaha tidak menampakkan wajah bersalah.  Seolah-olah memang bukan aku pelakunya.


Emosi ibu, tiba-tiba meledak. Membentak aku dengan sangat kasar. Tapi,  aku,  tetap diam.


Tak lama,  dia mempersilakan Pak RT Kadir memeriksa kamarku.


"Tunjukkan sama Pak RT Kadir. Kamu harus tanggungjawab karena sudah buat onar komplek ini!" bentak ibu padaku.


Aku pun menggiring Pak RT Kadir keluar.  Menuju ke rumah kosong yang ada di sebelah rumah. Diikuti ibu,  Mak Riska,  Riska,  Ina, Gita.


Pak RT Kadir, hanya geleng-geleng ketika aku menggiringnya ke WC belakang rumah kosong itu.


"Lho. Jadi kamu tinggal disini?" tanya Pak RT Kadir keheranan. Aku hanya diam. Tak mau menjawab pertanyaan dia.


Ibu, tiba-tiba membuat pernyataan. "Saya saja sudah nggak mau ngurus dia Pak RT.  Suka-suka dia mau tinggal di mana.  Di hutan.....di WC atau dimana.  Terserah. Saya capek ngurus dia!" kata ibu memberi penjelasan di depan orang-orang itu.


Pak RT hanya diam mendengar itu. Tiba-tiba Ina memekik.


"Lho ini jam tangan saya.  Pantesan,  kucari kemana-mana jam tangan ini tak ketemu. Ternyata diambil Regina. Sudah dua dong jam tanganku yang kamu curi!" tuduh Ina tanpa basa-basi.


Dalam hati,  betapa malunya ibu Regina  di hadapan mereka-mereka. Karena ternyata apa yang dituduhkan bahwa anaknya pencuri,  benar adanya.


Ibu berlalu meninggalkan aku dan orang-orang ini. Riska menunjuk ke tong sampah yang berisi pecahan tanah liat, bekas celengan berbentuk ayam jago.


Sungguh ibu Regina mendapat malu yang bertubi-tubi. Rasanya, pagi itu darahnya mendidih,  menahan emosi gara-gara ulah anak gadisnya.


"Cantik-cantik ternyata pencuri!" celetuk Gita.


"Ini sandal jepit bulunya juga punya saya,  Pak RT." ujar Gita dengan meyakinkan.


Pak RT Kadir hanya bisa geleng-geleng melihat kejadian ini.


Tanpa diminta,  aku melepas sandal japit bulu-bulu itu,  dari kedua kakiku dan menyerahkannya ke Gita.


Begitu juga, jam tangan merk alexandre cristy yang melingkar di pergelangan tangannya, aku lepas. Lalu aku serahkan ke Ina.


Giliran Mak Riska, bicara kepadaku.


"Nak,  tante mau tanya.  Apa benar celengan Riska,  Regina ambil?  Tante nggak marah kok,  meski Regina mengaku. Supaya sama-sama enak.  Nggak ada ganjalan di hati.  Jadi,  bilang aja Nak. Terus terang.  Kita nggak marah." kata Mak Riska sembari merangkul bahuku.


Aku membisu tak bersuara. Seketika, tangisku pecah. Aku menangis sesenggukan. "Lho jangan nangis.  Kalau pun iya.  Kami ikhlas Nak,  celengannya itu.  Biar nanti Riska beli celengan baru dan menabung lagi dari awal." jelas Mak Riska, berusaha menenangkan aku.


"Ya sudah.  Regina  jangan nangis.  Jangan diulang lagi ya Nak. Mencuri itu tidak bagus. Untung hanya dilaporkan ke RT.  Sempat dilaporkan ke polisi,  bagaimana coba?" ujar Pak RT Kadir.


"Lho ini jaket levis ku." kata Gita tiba-tiba, sembari menunjukkan ke Pak RT Kadir. Pak RT sekali lagi hanya geleng-geleng kepala.


Meski Gita menemukan jaket levisnya yang hilang,  dia tak membawa serta jaket itu. Katanya,  dia tak mau memakai jaket itu lagi,  lantaran bekas aku pakai.


"Nggak mau ah.  Bekas dia." kata Gita,  nyinyir.


"Ya sudah.  Semua sudah jelas. Jadi sekarang Regina minta maaf sama orang-orang ini,  bagaimana?" kata Pak RT Kadir berusaha mendamaikan.


Tapi, aku tak ingin melakukannya. Aku masih menangis sesenggukan dengan wajah yang ditekuk ke bawah. Mak Riska masih merangkulku.


"Eh sudah Regina.  Jangan nangis. Kami nggak masalah, sebenarnya. Kami hanya ingin tahu.  Buktinya kami nggak marah kan sama Riska. Ina.  Riska. Gita. Semua teman Regina yang baik. Mereka hanya ingin Regina jujur. Nggak marah kok,  nak." kata Mak Riska sekali lagi.

__ADS_1


"Ayo kalian bersalaman dulu. Saling memaafkan.  Kalau tak mau,  saya tetap disini sampai kalian bersalaman," tukas Pak RT Kadir. (***)


__ADS_2