Nikah Sama Duda

Nikah Sama Duda
Ketemuan Sama Anak-Anak Bos Gilang


__ADS_3

Hari Minggu yang menyenangkan. Bos Gilang mengajakku wekend ke resort dan hotel. Bukan hanya aku dan Bos Gilang. Tapi, ketiga anaknya diajak serta.


Fira Alista, gadis remaja kelas 1 SMA. Yuna Ariani, anak ABG kelas 1 SMP.  Gita Tiruni, masih umur 4 tahun. Tiga bidadari cantik anak Bos Gilang.


Saat mereka dikenalkan ke aku, Fira yang paling jutek sama aku. Ya maklum. Usia dia, selisih sedikit dari aku.


"Fira, salaman yang baik sama Tante Regina," kata Bos Gilang menegur Fira yang terkesan buang muka alias pasang muka jutek saat berjabat tangan dengan aku.


"Tante? Bocah tengil ini harus aku panggil Tante? Beneran Pa? Papa nggak salah orang kan, Papa kenalin Fira ke bocah tengil ini?" katanya lalu bergegas pergi menuju kamarnya, sembari membanting pintu kamar kuat-kuat.


"Fira kamu jangan kurang ajar. Dia ini calon mama kamu. Dia yang akan urus semua keperluan kamu!" kata Bos Gilang dengan nada meninggi.


"Bodo amat!" sahutnya.


Karena emosi, Bos Gilang mendatangi kamarnya. Berusaha mendobrak pintunya. Tapi, aku tahan. Aku nggak mau kehadiran aku jadi sumber atau penyebab keributan mereka.


"Mas. Tahan. Jangan emosi. Biar aku pergi saja sekarang." kataku berusaha sadar diri bahwa aku menjadi penyebab keributan ini.


Saat aku hendak bergegas melangkah meninggalkan Bos Gilang, dia malah menarik tanganku. Dia menghentikan langkahku.


"Nggak. Kamu nggak boleh kemana-mana. Kamu tetap berada di rumah ini. Fira, akan menjadi urusan aku. Karena aku papa-nya." sebutnya serius, dan berusaha menurunkan nada bicaranya.


Aku pun hanya bisa pasrah menerima kondisi itu. Mau pergi nggak boleh. Bertahan diantara mereka, aku hanya jadi sumber keributan antara Bos Gilang dan Fira.


Kutarik nafas dalam-dalam. Lalu kuhembuskan dengan kasar.


***


Sore, ketiga anak Bos Gilang minta diantar jalan-jalan ke mall. Mereka minta dibelikan baju dan sandal buat persiapan idul Fitri nanti.


Setelah mendapatkan  apa yang mereka inginkan, ketiganya minta diantar ke rumah istri Bos Gilang.


Bos Gilang pun menuruti apa yang menjadi keinginan mereka.


***


Balik ke rumah Bos Gilang. Aku dan dia, kembali tenggelam pada kemesraan yang selama ini kami rajut berdua.

__ADS_1


"Sayang aku minta dipijitin. Hari ini lelah banget, ngajak anak-anak jalan ke mall." pintanya.


"Mas. Maaf ya....kalau kehadiran aku menimbulkan keributan antara kamu dan Fira." kataku sambil memijit punggung Bos Gilang yang sedang rebahan di sofa.


"Udah..nggak usah dibahas. Sekarang bahas kita berdua aja," kata Bos Gilang yang tiba-tiba membalikkan badan. Lalu menarikku dalam pelukannya.


Sebuah kecupan mesra mendarat di bibirku. Lalu, dia lanjutkan dengan ********** hingga aku susah bernafas.


Tak lama, dia pun mencumbuiku. Gerakan tangannya liar banget. Pelan-pelan dia melepaskan kain penutup yang melekat di tubuhku.


Ya waktu menunjukkan pukul 23.00 wib. Seperti biasa, kami menghabiskan malam, sampai dini hari, dengan permainan-permainan nakalnya.


Meski telah berkali-kali dia berkunjung ke lembah terlarangku, dia tak ingin mendobraknya dengan mister perkasanya. Sungguh aku benar-benar beruntung mengenal laki-laki seperti dia.


***


Pagi-pagi aku sudah di dapur. Menyiapkan secangkir teh dan sarapan roti bakar, buat Bos Gilang.


"Mulai besok, akan ada pembantu, di rumah ini. Jadi, kamu nggak usah ngerjain pekerjaan dapur. Nanti ratuku jadi bau bawang putih bawang merah. Nggak sedap dipandang. Jadi kamu cuma ngerjain aku aja ya! Hahahahahah!" selorohnya.


Awal mula aku mendengar kalimatnya, terkesan serius. Terakhirnya malah dia buat lelucon.


Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya, yang selalu memberikan apa yang aku mau. Kenikmatan cinta dan juga materi.


***


Fira tiba-tiba datang ke rumah Bos Gilang. Itu bukan sebuah kesalahan, karena dia datang ke rumah papanya.


Sesuai dugaanku, kalau kami bertemu, seperti Tom and Jerry. Tapi aku berusaha selalu mengalah. Karena aku memang bukan siapa-siapa Fira.


Aku, hanya orang asing yang tiba-tiba hadir di kehidupan Fira dan papanya, Bos Gilang.


Memang tak ada yang bisa menolak takdir.  Mungkin, pertemuanku dengan Bos Gilang, adalah sebuah takdir yang tak bisa aku hindari.


Mau atau tidak mau. Aku harus berlapang dada menerima semua konsekwensinya, karena aku berani hadir di kehidupan Bos Gilang, yang statusnya bukan seorang bujangan. Tapi, duda anak tiga, dan sampai detik ini anak-anaknya masih manja-manja dengan Bos Gilang.


***

__ADS_1


Fira mendadak bilang lapar. Aku dimintanya buat sarapan dengan empat macam lauk.


"Hei buatin aku sarapan pagi. Lapar ini!" kata Fira dengan wajah bersungut-sungut.


"Gila ini anak nggak ada sopannya sama aku. Padahal dia sudah dikasih tahu kalau aku ini adalah calon mamanya. Tapi kami memang seumuran. Susah juga, kalau dia mau menaruh hormat ke aku. Sabar ya Allah......jangan buat aku mudah emosi ya Allah.....," kataku dalam hati, nelongso.


Aku tetap membuatkan sarapan untuk Fira, dengan sepenuh hati, meskipun bocah ABG itu menghinaku dan tak pernah bersikap sopan sama aku.


"Ini masakan sampah. Huekkkk! Nggak enak banget rasanya!" celetuk Fira yang memuntahkan makanan dalam mulutnya itu.


Tiba-tiba Bos Gilang datang menghampiri.


"Fira kamu kenapa lagi sih. Buat ribut saja kerjamu!"


"Dia pa. Buat sarapan tapi nggak enak banget. Serasa mau muntah makan masakan dia. Dia itu pembantu yang nggak becus!" Fira benar-benar mencabik-cabik harga diriku.


"Sabar ya Allah......ini ujian hidup," batinku.


"Hei.....kamu itu kan sudah besar. Kalau kamu merasa makan makanan orang lain nggak enak. Ya masak sendiri." ucap Bos Gilang ke Fira.


Fira langsung emosi.


"Oh jadi papa membela pembantu dekil ini ya!" Fira langsung bergegas pergi, menuju kamar sembari membanting daun pintunya.


"Dasar anak kurang ajar. Nggak ada aturan dan nggak ada sopan santunnya sama orang tua," imbuh Bos Gilang kesal melihat tingkah laku anak gadisnya itu.


"Maafin anak aku ya, kalau dia tak pernah menghargai kamu." pinta Bos Gilang yang merasa nggak enak hati dengan aku.


"Ya nggak apa....aku santai aja.....," kataku pura-pura. Tapi aslinya aku emosi juga sering-sering dibuat emosi sama anak dia.


"Aku janji akan urus Fira, biar nggak kurang ajar lagi sama kamu. Kamu tolong maklumi aku ya......mereka masih ABG. Sama ABG nya kayak calon mama dia. Xixixixi!" seloroh Bos Gilang.


"Nggak apa. Aku akan sabar menghadapi Fira. Aku yakin, suatu hari nanti, dia juga bakal jadi sahabat aku." kataku meyakinkan Bos Gilang.


"Hmmmm. Iya....deh aku percaya dengan usaha kamu." ujarnya sembari membelai rambutku.


"Beri aku waktu ya.....aku akan membuktikannya ke Bos Gilang. Fira bakal jadi sahabat aku." kataku meyakinkan dia.

__ADS_1


(***)


__ADS_2