Nikah Sama Duda

Nikah Sama Duda
Dimanja


__ADS_3

Bingung mau lanjut apa nggak ya kerja di tempat Bos Gilang. Rasanya, pekerjaan aku lama-lama nggak jelas.


Sebenarnya,  aku ini baby sitter atau asisten pribadi Bos Gilang?


Menghandle pekerjaan kafe. Mengurus keperluan anak-anak Bos Gilang sekaligus keperluan Bos Gilang juga.


"Hei. Kenapa kamu melamun? Kamu ngelamunin aku ya?" kata Bos Gilang yang tiba-tiba muncul di hadapan aku. Ya kehadirannya tak aku sadari.


Sedangkan aku. Rebahan di sofa ruang tamu rumah Bos Gilang.


"Nona centil. Buatkan aku makan siang. Aku pengen kamu yang buat!" Aku masih diam, belum bereaksi atas apa yang dia perintahkan ke aku.


"Hei. Dengar nggak, kamu dengan perintahku?!"


Terpaksa aku buatkan makan siang buat dia.


"Saya bisanya hanya masak mie goreng, Pak," sebutku.


"Iya nggak masalah. Pokoknya kamu harus laksanakan perintah aku." katanya, dengan tegas.


"Satu lagi. Mulai sekarang kamu panggil aku Mas!" perintahnya tegas.


Spontan, panci yang hendak aku letakkan di atas kompor, terguling ke lantai karena aku lalai, lepas dalam genggamanku. Jadinya, air yang dalam panci pun membasahi lantai dapur.


Prankkkkk!


Suara panci itu mengundang perhatian Bos Gilang. Dia pun ke dapur mengeceknya.


"Kenapa bisa kayak begini. Kamu nggak bisa masak Indomie?" tanyanya dan aku buru-buru membereskan air yang membasahi lantai dapur itu, dengan pengepel lantai.


"Bisa Pak. Tadi saya kurang pas saat meletakkan pancinya di atas kompor," kilahku mencari alasan.


"Ya sudah. Bereskan!" katanya lagi dan dia meninggalkan aku sendiri di dapur.


Bersamaan dengan indomie nya yang hampir masak. Tiba-tiba, Fira anak  Bos Gilang datang.


"Paaa, ini pembantu kita yang baru ya?" celetuk  Fira, anak Bos Gilang yang pertama.


Mendengar itu, rasanya aku ingin marah, karena sudah direndahkan. Tapi, aku nggak mungkin marah. Secara logika, pertanyaan Fira ke Bos Gilang benar karena memang aku adalah orang asing di rumah itu.


"Pa.....dekil banget pembantu kita. Papa nggak salah, pilih dia jadi pembantu kita? Nanti kalau ada tamu, papa malu, karena punya pembantu dekil," cerocos Fira dan rasanya aku ingin menyumpal mulutnya dengan sandal aku.


"Hei. Kamu cewek dekil. Kenapa kamu bisa jadi pembantu papa aku!" katanya dengan nada sinis.


Aku masih belum bereaksi karena memang aku nggak ingin meladeni cewek ini. Jujur, di sisi lain aku emosi karena dia sudah meremdahkan aku.


Tapi, demi kebaikan, aku nggak ingin meluapkan emosiku. Mungkin dia benar, penampilan aku kurang keren, saat aku masuk ke kehidupan keluarga mereka.


"Kamu tuli dan bisu ya. Nggak jawab pertanyaan aku?" bentaknya dengan nada meninggi.

__ADS_1


Tanpa diminta pergi, aku pamit ke Bos Gilang. Mau pergi saja dari rumah itu.


"Nggak kamu nggak bisa pergi!" cegah Bos Gilang yang tak mengizinkan aku beranjak pergi dari rumah itu.


"Saya ada janji sama kawan Pak. Mau makan malam bareng," sebutku lagi mencoba memberi alasan.


"Kamu jangan kurang ajar, janjian sama orang lain, nggak bisa?!" tegas Bos Gilang serius.


Aku bingung hari ini. Mau bertahan atau pergi. Karena, mendapat penolakan dari anak Bos Gilang, rasanya sakit hati banget.


"Mulai detik ini. Kamu milikku," katanya lagi.


***


Tak terasa, waktu menunjukkan pukul  12 malam.


Untung si jutek anak  Bos Gilang itu sudah tak di rumah lagi. Kalau dia masih di rumah, mungkin aku bakal setress tujuh keliling.


"Umurmu berapa?" tanya Bos Gilang.


"Empat belas tahun!" sebutku.


"Tiga tahun lagi aku akan melamar kamu," sebutnya dengan serius.


"Semoga dia tak ingkar janji!" gumamku dalam hati.


Pernyataan dia semakin buat aku bingung.


Maksudnya apa, dia bilang seperti itu.


"Kamu butuh apa.....malam ini kita cari yuk!" ajaknya.


Aku masih terperangah dengan apa yang dia katakan tadi.


"Hei.....jawab. Kamu butuh apa?" tanyanya lagi dan aku cukup menggelengkan kepala. Karena, aku memang nggak butuh apa-apa malam ini.


"Bisu?!" Dia menarik tanganku, dan memintaku duduk di pangkuannya. Dengan posisi aku membelakanginya.


"Malam ini, anak-anakku sedang di rumah emaknya. Jadi mereka  tunggu aku jemput. Baru balik ke rumah. Jadi, malam ini adalah milikku dan milikmu." katanya sambil mendekapku erat.


"Aku nggak akan merusak kamu, sebelum kamu sah jadi istri aku.  Tapi ingat, meski seperti itu. Nggak ada laki-laki lain yang bisa menyentuh kamu, selain aku. Awas aja kalau kamu berani mengizinkan orang lain menyentuhnya dengan cara apapun. Aku bunuh, kamu!" ancamnya serius.


Aku  memang sudah bertekad. Hanya dia yang bisa memainkan bagian-bagian tubuh terlarangku. Karena, dia adalah pria pertama yang berhasil mencuri hatiku.


***


Sesekali aku ingin keluar. Karena di rumah bosan banget.


"Kenapa harus melamun, nona centil?" kedatangan Bos Gilang membuyarkan lamunan aku.

__ADS_1


"Makan malam di luar yuk sayang," ajaknya.


Pucuk dicinta, ulam tiba. "Yess......mau pakai banget!" jawabku spontan.


Sebab, dari kemarin aku selalu ngebayangin makan malam, di tempat yang paling enak.


***


"Uang kamu di ATM masih ada bukan?" tanyanya serius.


Aku hanya menganggukkan kepala.


"Kalau kamu butuh beli-beli kebutuhan kamu. Pakai aja ATM itu. ATM itu sudah jadi hak milik kamu.


"Kamu nggak butuh pakaian untuk jalan-jalan?" tanyanya lagi, penuh perhatian.


"Ya Allah laki-laki ini perhatian banget sama aku." gumamku dalam hati.


"Hei......kenapa kamu melamun lagi?!" katanya sembari mencolek pipiku.


"Udah kita jalan aja yuk ke mall. Cari baju buat kamu jalan-jalan. Ratuku harus pakai baju yang keren dan modis." celetuknya.


"Sumpah dia adalah laki-laki pertama yang memanjakan aku." kataku masih bicara sendiri dalam hati.


Tak lama, dia membawaku jalan-jalan ke mall. Dan.....aku masih tak percaya dengan semua ini. Rasanya seperti tuan putri.


***


Di rumah sendiri. Bos Gilang pergi bareng anak-anaknya jalan ke mall. Aku sengaja tak ingin ikut. Karena takut merusak suasana.


Saat menunjukkan pukul 23.00 WIB, rumah jadi ramai. Ketiga anak Bos Gilang berkumpul.


Entah siapa yang mengajarinya, Sofi, anak ketiga Bos Gilang yang paling kecil, memanggilku dengan panggilan mama.


Bos Gilang yang mengetahui ini, langsung geleng-geleng.


"Ya Sofi. Itu mama Regina. Nanti bakal jagain Sofi, kalau Sofi mau tinggal sama Papa." jelas Bos Gilang memberitahu bocah cilik itu.


Namanya Sofi Amelia Gilang. Nama yang cantik, perpaduan antara nama Bos Gilang dan si istri.


Sofi, yang seolah mengerti, dengan penjelasan Bos Gilang, langsung menghambur ke aku.


"Tolong jagain anak aku ya sayang. Dia harta aku paling berharga," pinta Bos Gilang ke aku.


Aku hanya menganggukkan kepala, tanpa menjawab dengan kata-kata.


"Makasih ya.....," ucapnya padaku.


(***)

__ADS_1


__ADS_2