
Sejak ditunjuk jadi kasir. Aku diminta bos Gilang, masuk bagian shift malam. Mau nggak mau, aku harus mau, kalau masih ingin kerja. Maklum ikut orang. Jadi harus patuh pada perintah bos.
"Kamu, mulai Senin, shift malam." katanya serius.
Tanpa banyak negosiasi, aku masuk shift malam. Sebenarnya aku belum terlalu suka dengan jam kerjaku yang baru. Karena, aku terbiasa dengan jam kerja pagi.
Mana di jam kerja malam, aku nggak bisa ketemuan sama Sherly. Dia kerja shift pagi.
"Hei anak malam!" sapa Sherly menggodaku.
"Wkwkwkwkwk." balasku dengan membubuhkan emoticon orang tertawa.
"Suntuk tahu, shift malam. Suram." keluhku masih ngobrol lewat chat.
"Suntuk?" Sherly heran.
"Iya kalau shift malam, banyak om-om genit dan ganjen." sebutku serius.
"Hahahaha..tapi mereka kan kasih tips gede ke pelayan kafe?" ucap Sherly meyakinkan.
Tak lama, kami beralih jalur pembicaraan, dengan video call. Aku shooting suasana malam saat aku masuk shift malam.
"Tuh lihat.....banyak kan Om-om genit dan ganjen. Minta ditemani sama pelayan kafe." kataku sembari menunjukkan hasil shootingku, pada Sherly.
"Kamu nggak nemani om-om itu?" tanya Sherly.
"Nggak!" Jawabku.
"Nanti kan mereka kasih tips ke kamu, kalau kamu manja-manja sama mereka!" kata Sherly memberi bocoran.
"Eh udah dulu ya......ada si ganteng!" kataku.
"Hahahahahah aku tahu itu siapa! Pasti Bos Gilang!" tebak Sherly.
"Iyaaaaa. Udah dulu ya say.'' aku langsung menutup percakapan kami.
"Reg. Dipanggil Bos!" Kak Fitri memberitahuku. Aku pun bergegas menuju ke ruang kerja Bos Gilang.
"Beuh dia keren banget malam ini. Style nya nggak tahan. Bikin mata perempuan ingin terus menatap ketampanannya. Dia mirip banget sama artis Amarzony." Aku hanya ngebatin. Nggak mungkin banget kalau mau memujinya. Lagian aku dan dia, bagai bumi dan langit.
Lagi-lagi aku deg-degan mau memasuki ruangan Bos Gilang.
Seperti biasa sebelum aku masuk, kuketuk dulu pintunya.
Saat gagang pintu itu aku buka, Bos Gilang mempersilakan aku masuk.
"Masuk," katanya.
"Duduk," katanya lagi.
__ADS_1
Aku pun duduk di hadapannya.
"Mulai besok, kamu handle semuanya. Jadi kamu asisten pribadi aku," sebut Gilang.
"Tahu nggak tugas asisten pribadi?" tanyanya ingin memastikan apakah aku paham dengan perintahnya.
Aku menggelengkan kepala karena memang aku belum paham seratus persen apa maksud perintah dia.
"Kamu handle kafe. Kamu juga handle apa keperluan aku, kamu harus penuhi dan laksanakan! Paham?"
Tanpa memberi aku kesempatan menjawab, dia melanjutkan kalimat berikutnya.
"Kamu boleh ke rumah aku sesukamu. Kamu datang ke kafe juga atur sendiri jadwalnya."
"Satu lagi, kamu juga aku minta urus keperluan anak-anakku!"
Aku masih terperangah. Serasa nggak percaya. Benarkah dia memberi tugas ini? Terus.....kemana asisten dia yang lama?
"Tapi......Pak," kataku.
"Nggak ada tapi-tapian. Kalau kamu masih niat kerja, laksanakan perintah saya. Kalau nggak bersedia, atau nggak sanggup. Sebaiknya mundur dari sekarang." tegasnya.
"Ya saya nggak sanggup," jawabku spontan.
"Kalau begitu. Bayar dendanya lima ratus juta. Harus dibayar lunas." sebutnya lagi bikin aku membulatkan mata.
"Peraturan ini. Berlaku mulai hari ini." imbuhnya. Kalimat terakhir Bos Gilang semakin buat aku heran, sekaligus campur bahagia.
"Percaya banget dia sama aku?!" batinku.
Tak lama, dia mengajakku keluar dari ruangan itu.
Semua karyawan diminta berkumpul, rapat mendadak.
Setelah semua berkumpul. Bos Gilang mengumumkan ke karyawan bahwa posisi Hana, asisten pribadinya, digantikan dengan Regina.
"Jadi, mulai sekarang, posisi Hana digantikan Regina. Kalian berkoordinasi sama Regina ya," jelas Bos Gilang.
Orang yang disebut-sebut bernama Hana, tak kulihat sosoknya seperti apa. Masalahnya dia nggak ada, hari ini.
"Regina, selamat bekerja. Saya percayakan posisi ini ke kamu. Karena saya percaya bahwa kamu bisa menjalankannya." kata Bos Gilang dengan tegas. Aku pun hanya menganggukkan kepala.
"Jadi, buat kalian semua. Bos kalian sekarang disini, Regina." imbuh Gilang.
Jadinya, aku semakin tersanjung diberikan posisi ini.
***
Sampai di rumah. Jam 12 malam. Mata ini belum ingin terpejam. Pasalnya, aku kembali mengingat penobatan aku sebagai asisten pribadi Bos Gilang. Semua, rasanya masih membuatku heran.
__ADS_1
Karena hari ini aku off, nggak kerja. Aku ajak ketemuan Sherly. Aku ingin tukar pendapat sama dia.
Dia janji jemput aku di rumah. Dalam hitungan dua puluh menit, Sherly sudah sampai di rumah aku. Kami pun on the way ke salah satu kafe tongkrongan anak muda.
"Kita ke kafe ini aja ya. Siapa tahu kamu bisa adopsi cara kafe ini memberikan pelayanan ke pelanggan." ucap Sherly.
"Ini nih yang aku tunggu dari seorang Sherly. Selalu memberikan aku dukungan dalam hal positif. Teman aku yang satu ini emang keren idenya." aku berusaha memberikan dia pujian sesekali.
"Hahahahahaha. Biasa aja kali," sahutnya.
"Ya udah yuk. Cus ke dalam," ajakku.
Di sana kami pilih meja di posisi pojokan. Karena di posisi pojokan, nyaman pastinya.
Sebelum berbincang lebih jauh. Sherly memberiku ucapan selamat.
"Selamat ya....kamu jadi asisten Bos Gilang. Aku yang udah kerja disana 1 tahun, nggak ada dilirik dia. Giliran kamu, baru kerja sebulan, sudah dijadikan asisten pribadinya Bos Gilang. Sukses selalu ya Reg!" katanya sembari menjabat tanganku.
"Hahahahaha biasa aja kali," gantian aku yang tertawa ngakak.
"Kamu mau aku traktir apa?" tanyaku. Kami biasa begitu, saling mentraktir kalau merayakan suatu kebahagiaan.
"Ini aja, kita makan disini. Kamu yang bayar ya. Hahahahaha?" pintanya.
"Eh dasar!"
"Tapi. Iya hari ini aku yang bayar. Kamu mau makan apa aja, aku bayar!" ungkapnya memberi angin surga.
Seorang pemuda tanggung, mendekat. Dia menyodorkan daftar menu makanan dan minuman.
Sherly memilih ayam geprek dan aku spesial nasi goreng kampung.
"Nggak pakai lama ya. Kami kelaparan," kataku dan direspon dengan anggukan kepala, oleh pelayan pemuda tanggung itu.
Setelah mencatat semua orderan aku dan Sherly, dia bergegas meninggalkan meja kamu, lalu menuju ke dapur.
Pelayanannya memang tak lama. Hanya hitungan 10 menit. Makanan yang kami order sudah ada di meja.
Saat Sherly mau posting foto makanan itu, untuk instastory, aku larang. Aku nggak ingin semua orang tahu akan kebahagiaan aku dan Sherly.
"Awas jangan sampai kamu share. Kalau kamu share di sosmed, aku nggak mau teguran sama kamu." pesanku mewanti-wanti Sherly. Jujur aku nggak terlalu suka mengumbar kebahagiaan aku sama orang.
"Iya iyaaa iyaaaaa baiklah Bu Bos Regina?!" jawab Sherly serius.
"Udah ah kita nikmati makanan ini dulu. Nanti keburu dingin, nggak enak rasanya. Kalau masih hangat begini, makan terasa nikmat," pungkasku.
****
"Sampai ketemuan besok ya," kataku setelah Sherly menurunkan aku di kosan.(***)
__ADS_1