Nikah Sama Duda

Nikah Sama Duda
Selalu Dituduh Jadi Pencuri


__ADS_3

Di warung Ucok Baba. Pembeli tak terlalu ramai. Untuk mengisi kekosongan. Aku pun main ponsel. Buka-buka sosmed orang di IG atau di Snack video.


Ucok Baba menegurku. Dia bilang kalau niat kerja, nggak boleh sambil main ponsel. Aku pun berusaha menyimpannya dalam saku baju aku.


"Kalau kerja sambil main ponsel, nanti nggak konsentrasi," ucapnya serius, memperingatkan aku.


"Kalau nggak ada kerja, ya tolong rapikan barang-barang di rak jualan yang berantakan." perintah Ucok Baba.


"Iya Om oke," sahutku, lalu bergegas menuju rak-rak barang,  mengecek kerapiannya.


"Aman. Belum ada yang berantakan. Semua masih di tempatnya masing-masing." pikirku dalam hati.


"Regina. Hari Minggu mau lembur nggak. Kalau mau, nanti ada bonus," kata Ucok Baba.


Mendengar mau dikasih bonus kalau bersedia lembur, aku pun nggak menolak. Langsung mengiyakan tawarannya.


"Iya mau Om," jawabku serius.


"Nanti, hari Minggu banyak barang masuk. Makanya aku tawarin kamu lembur." jelas Ucok Baba.


Aku nggak peduli dengan penjelasannya, tapi yang penting bagi aku, lembur. Dapat bonus. "Lumayan, bisa buat beli jajan," gumamku.


Waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 wib. Jadinya aku siap-siap balik.


***


Balik ke rumah, aku langsung mandi. Karena rasanya gerah banget, hari ini.


Belum juga beranjak ke kamar mandi, kudengar ada suara  Pak RT, datang.


"Assallamuallaikum," pekiknya dari luar.


"Rajin banget sih dia ke rumah," gerutuku.


Tapi, sebelum dipanggil sama ibu, aku nggak bakalan keluar.


Entah masalah apa lagi yang dia adukan ke ibuku. "Biarin ajalah!"


Aku pun lanjut ke kamar mandi. Karena memang tujuan aku tadi, ingin mandi. Lagi pula, sudah terasa gerah banget. Hari ini cuacanya panas. Aku saja, seharian sudah minum teh es sampai tiga kali.


"Regina! Tolong liatin. Ada tamu." perintah ibu serius, teriak-teriak dari dapur.


Aku yang sudah terlanjur mengguyur tubuhku dengan air. Terpaksa diam saja, sengaja tak mau menjawab panggilan ibu.

__ADS_1


"Reginaaaa!!!! Euyyyy Regina!" teriak ibu lagi, memanggilku.


"Mandiiiii," sahutku dari dalam kamar mandi.


"Memang ya. Susah kali disuruh!" gerutu ibu kesal.


Akhirnya, kudengar ibu yang membukakan pintu sendiri, untuk Pak RT.


"Assallamuallaikum," ulang Pak RT.


"Waallaikum salam, Pak RT." balas ibu.


"Masuk Pak RT."


*Aku nguping pembicaraan ibu dan Pak RT, dengan berdiri di dekat pintu ruang tamu, dibalik meja tv.


"Ini Bu. Maaf banget ya. Bisa ketemu sama Regina?" ucap Pak RT.


"Astagfirullah apa lagi yang dibuat anak monyet itu ya!" celetuk ibu langsung emosi.


"Regina!" panggil ibu dari ruang tamu.


"Cepat mandinya. Nggak usah dilama-lamain!"


Tak lama, ibu menggedor pintu kamar aku.


"Regina. Keluar kamu!"


*Dug.....dug.....dug....dug......! Ibu berkali-kali menggedor pintu kamarku.


"Woy anak monyet! Keluar kamu!" perintah ibu, dengan suara meninggi.


"Ya Allah gimana ini. Pasti Yuni ngadu ke mamaknya. Gara-gara jam tangan dia hilang! Tapi, kenapa dia tahu aku yang ambil sih! Sialan!" aku bicara sendiri di kamar, masih ketakutan mau buka pintunya.


Sementara, ibu terus menggedor-gedor pintu aku. Pasti ibu nggak akan berhenti menggedor pintunya, selama aku nggak segera  membukanya.


"Pak RT. Gimana kalau pintu kamarnya dobrak aja. Dia pasti sudah tahu apa kesalahannya. Makanya dia nggak mau keluar dari kamar!" kata ibu, memberi saran ke Pak RT.


"Gimana sih ibu. Kenapa malah belain Pak RT." gerutuku kesal.


"Regina. Sekali lagi, kalau nggak kamu buka juga. Aku dobrak pintunya!" ancam ibu.


"Regina. Bapak mau ngomong baik-baik sama Regina. Boleh keluar sebentar nggak?" pinta Pak RT dari balik pintu kamar aku.

__ADS_1


Aku diam tak mau jawab. Tapi, akhirnya aku buka pelan-pelan pintunya. Karena, bagaimana pun juga aku harus menghadapi mereka berdua. Pak RT dan juga ibu aku.


Tak kusangka, ibu langsung menjewer telingaku. Lalu menyeretnya ke ruang tamu, diikuti Pak RT.


"Duduk kamu!" bentak ibu sembari melepaskan jeweran tangannya itu.


"Kamu ini kalau nggak buat ulah. Nggak puas ya!" Bentakan ibu membuat aku ketakutan setengah mati.


"Coba Nak Regina jelaskan. Sebenarnya jam tangan warna pink merk Fossil ini, beli dimana?" tanya Pak RT.


Tanpa aku jelaskan, aku melepas jam tangan itu. Aku letakkan di meja.


"Astagfirullahaladzim!" teriak ibu.


"Kalau bapak mau. Laporkan saja, dia ke polisi. Saya bener-bener malu, Pak RT. Punya anak pencuri seperti dia!" kata ibu sambil ngurut dada.


"Nak Regina. Sebenarnya, kata Yuni, kalau Nak Regina mau jam tangannya, boleh kok. Ngomong baik-baik. Tapi kalau diambil diam-diam, dia nggak terima katanya." jelas Pak RT sialan itu, banyak ngomong.


Di hadapan keduanya, aku tak mau ngomong. Aku hanya bisa menangis. Meratapi semuanya.


Setelah suasana sepi. Tak ada lagi pembicaraan antara aku, Pak RT, dan juga ibu, aku bergegas masuk kamar, sambil menahan tangis.


"Maaf Pak RT. Sekarang kalau ada apa-apa, berurusan langsung saja sama Regina. Malu saya punya anak seperti dia! Entah berapa kali mempermalukan orang tuanya." ucap ibu, penuh emosi.


"Sabar ibu. Sebenarnya saya juga nggak mau ada masalah seperti ini. Tapi, pagi tadi mamaknya Yuni telepon saya. Katanya jam tangan anaknya hilang. Terus orang yang sempat main ke rumah Yuni. Hanya Regina." terang Pak RT panjang lebar.


"Entahlah Pak RT. Saya sudah capek ngurusin dia. Dia anak perempuan tapi susah diurus. Jujur saya malu banget Pak sama orang-orang komplek sini. Semua sudah tahu kalau biang kerok keributan kampung ini, adalah anak saya. Karena dia yang suka mencuri ke tetangga. Saya ini, orang beragama Pak RT. Berkali-kali saya ajarkan ke anak saya, jangan suka tergoda dengan milik orang lain. Tapi, kalau memang kita punya uang, ya sudah kita beli aja apa yang kita mau. Jangan mengambil milik orang lain." cerita ibu, seakan tanpa titik koma.


"Kalau saya tahu dia mencuri. Sudah saya racun anak saya itu Pak RT. Biar nggak buat malu saya terus. Biar dia mati saja Pak RT." ucap ibu yang tak lama meneteskan air mata, karena menumpahkan segala luapan emosinya.


"Ya Allah bagaimana ini. Sudah Pak RT. Saya nyerah. Capek saya Pak RT. Setiap hari dia buat ulah. Apa nggak cepet mati kalau punya anak kayak dia!" keluhnya sembari menangis sesenggukan.


"Sabar.....Bu. Punya anak gadis seusia Regina, kita harus banyak bersabar." pesan Pak RT serius.


***


Aku nggak bisa tidur malam ini. Aku chat Yuni. Kukatakan pada dia kalau aku dan dia, sudah bukan teman akrab lagi.


"Ya kita putus sahabatan."


Lalu aku blokir nomor WhatsApp dia.  Padahal, selama ini Yuni dekat banget sama aku. Nyaris seperti adik kakak.


Tapi, sejak dia mempermasalahkan soal jam tangan dia, aku nggak mau lagi temanan sama dia.(***)

__ADS_1


__ADS_2