
Gerah banget hari ini. Mau beli es buah ke depan. Tapi tiba-tiba ibu menghentikan langkah kakiku.
"Hei Regina! Kamu mau kemana!" teriak ibu saat melihatku membuka pintu ruang tamu.
"Ke depan ibu," jawab aku santai.
"Nggak! Nggak bisa!" kata ibu mencegahku keluar rumah.
"Sebentar aja ibu," kataku setengah merengek minta izin.
"Nggak! Kalau dibilang nggak bisa ya nggak bisa! Nggak usah melawan!" bentak ibu dan akhirnya aku balik ke kamar, dengan wajah bersungut-sungut, sambil aku banting pintunya.
"Sini kamu!" teriak ibu. Aku mendengar teriakan itu, tapi aku malah pura-pura tidur. Bahkan ibu mendobrak pintunya, dengan dibarengi emosi.
"Mulai berani kamu ya sama orang tua. Apa maksud kamu banting-banting pintu kamar!"
Jujur, aku ketakutan banget saat ibu tiba-tiba mencubit pahaku. Spontan, aku teriak sekuat-kuatnya. Apalagi, saat ibu mendaratkan cubitannya untuk yang kedua kalinya.
"Ampun ibu. Jangan. Sakit!" teriakku lebih kencang.
"Bangun!" perintah ibu dengan kasarnya.
Terpaksa bangun, lalu membenarkan posisi aku, yang semula rebahan, kini duduk.
"Ya Allah sakit banget bekas cubitan ibu," gumamku, kesakitan.
"Coba kamu jujur sama ibu. Kenapa kamu ngelakuin itu semua. Hah!?" bentak Ibu, semakin membuatku panas dingin, karena ketakutan.
"He! Jawab! Kamu nggak bisa nggak bisu kan?!"
Aku masih diam saja nggak mau menjawab pertanyaan ibu. Jujur salah, nggak jujur apalagi.
"Tunggu Regina. Jangan cerita sekarang. Waktunya nggak tepat," kata hatiku mengatakan itu.
Ibu menolak kepalaku, hingga air mataku banjir membasahi pipi.
"Kamu sudah bikin malu orang tua!?"
"Tingkah laku kamu itu, sudah kayak anak berandalan aja. Bikin onar kampung!"
"Kalau besar nanti. Kamu mau jadi apa, coba!?" bentak ibu lagi untuk yang kesekian kalinya.
Ibu terus memojokkan aku.
"Selama kamu nggak mau ngaku soal kemarin. Ibu nggak izinkan kamu keluar rumah. Awas kalau kamu langgar. Tahu sendiri akibatnya!" ancam ibu dengan galak.
Aku masih terus menangis, sambil mendekap boneka panda gede milikku, yang sudah mulai usang.
__ADS_1
Berharap ibu segera berlalu dari kamar aku.
Kulihat ibu menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan kasar. Tak lama, karena belum mendapatkan jawaban dari aku, atas masalah kemarin, ibu pun beranjak pergi dari kamar aku.
"Awas ya kalau sampai besok tak mau ngaku. Aku hajar kamu, biar kamu mau ngaku!" celoteh ibu, sembari melenggang pergi.
***
"Reg. Main yuk!" ajak Sintia.
"Aku lagi dipingit, tahu!" jawabku membalas pesan Sintia.
"Kamu mau nikah ya?" balas Sintia penasaran.
"Iya mau dinikahkan sama apek-apek Singapura," jawabku lagi sembari membubuhkan emoticon orang tertawa.
Karena rasa penasarannya yang tinggi. Sintia meneleponku. Dia menanyakan soal chat aku yang kubilang mau dijodohkan sama apek-apek Singapura.
"Seriusssssss?!!! Demi apa......kamu dijodohkan sama apek-apek Singapura?!" suara Sintia terasa memekakkan gendang telingaku.
"Iya!"
"Wah bisa ajak aku jalan-jalan ke Singapura kalau kamu dapat suami orang sana. Yessss jalan-jalan ke luar negeri. Terus......aku juga bisa cuci mata lihat cowok-cowok ganteng Singapura?!" cerocos Sintia, berkhayal.
"Woi sadar! Sadar diri. Ngayalnya jangan ketinggian. Nanti jatuh. Bisa benjol kepala lu!"
"Ya.....emangnya kamu aja yang boleh dapat orang Singapura." protes Sintia padaku.
"Maksud kamu?" tanya Sintia bingung.
"Ya apek-apek nya ambil aja kalau kamu mau. Aku maunya sama duda kaya raya yang tajir melintir," gantian aku yang berkhayal.
"Ih apaan sih!" keluh Sintia.
"Udah ah.....cepetan kamu keluar. Kita mejeng ketemuan sama Koko Anton," ajak Sintia.
Tapi, sekali ini aku nggak bisa melawan ibuku. Karena, ibu tampak marah besar atas kejadian kemarin.
"Ini semua gara-gara Pak RT," kataku yang mulai curhat dengan Sintia.
"Maksudnya gara-gara Pak RT?" Sintia kembali bingung dengan cerita aku yang ada di ujung ponsel genggamnya itu.
"Nanti lah kalau sudah selesai dipingit. Aku baru bisa ketemu kamu. Salam ya sama Koko Anton kamu itu!" ucapku mengakhiri pembicaraan.
"Eh tunggu...tunggu jangan ditutup dulu," Aku dengar teriakan Sinta dari balik ponsel genggamnya itu. Tapi, aku tutup saja percakapannya dengan dia. Aku nggak mau didengar ibu. Apalag, tadi urusannya belum kelar.
Besok, pasti ibu menagih aku lagi, disuruh mengaku mengapa aku buat onar di komplek ini.
__ADS_1
Sintia mengirim pesan lewat chat WhatsApp.
"Woi. Belum selesai ngomong sudah dimatikan ponselnya. Aku itu, mau sampaikan ke kamu. Sebenarnya Koko Anton mau jumpa kamu juga. Dia pesan ke aku, suruh ajak Regina ke pesta Valentine nanti malam," sebut Sintia.
"Budaya Islam, nggak ada pesta Valentine Day." balasku.
Dia mengirimkan emoticon orang tertawa. Lalu mengejekku.
"Sejak kapan kamu sudah tobat?!" balasnya.
"Woi.... Anak monyet! Dari dulu aku itu, cewek alim!" balasku membela diri.
"Prettttttt!" balas Sintia meremehkan keimanan aku.
"Sudah ambil saja Koko Anton itu. Aku nggak mau. Karena dia nggak tajir melintir! Aku itu, minatnya sama duda kaya raya tajir melintir punya mobil mewah, rumah mewah dan semuanya serba mewah." kataku, berlagak sok high class.
"Hahahaha nanti aku ambil beneran. Baru kapok kamu. Asli lho. Dia itu suka sama kamu. Asal aku disuruh datang ke kafe miliknya, dia suruh aku, buat ajak kamu juga."
"Ah hoax. Mana ada dia suka aku!" kataku membantah pernyataannya.
***
Malamnya, aku memang nggak bisa kemana-mana. Sampai jam dinding menunjukkan pukul 23.00 wib, ibu masih berjaga-jaga pintu ruang tamu. Bahkan, kunci rumah juga dalam genggaman tangan ibu.
Kuintip dari dalam kamar, lewat lubang kunci masuk. Ibu masih terjaga di depan TV menyaksikan drama Korea.
"Duh gimana aku bisa melarikan diri. Kunci pintu ruang tamu, aku lihat ada di samping ibu rebahan."
Akhirnya aku pasrah. Balik ke ranjang, memeluk boneka panda yang mulai terlihat usang itu.
"Sampai kapan, aku seperti ini. Ibu mulai mengejang ku. Bisa-bisa aku nggak punya teman kalau mulai sekarang aku dikurung di dalam rumah."
Konsekwensinya kalau aku belum ngaku, aku akan tetap dikurung ibu.
***
"Woi sudah belum, pingitannya. Kapan ini bisa keluar bareng. Cerita cerita kita,'' lagi-lagi Sintia mencoba mempengaruhi aku.
"Eh iya kapan acara nikahnya. Kok aku nggak diundang?!"
"Aduh! Ini orang, percaya banget sama kata-kata aku. Dia percaya kalau aku mau nikah sama apek-apek Singapura!" kataku membatin.
"Iya tunggu saja undangannya sebentar lagi sampai depan pintu kamu!"
Masih aku sertakan emoticon orang tertawa. Aslinya aku memang ingin mentertawakan Sintia. Karena, dia memang teman paling lugu.
"Sinilah ke rumah aku. Bawa buah ya. Tapi buahnya harus yang mahal-mahal. Kalau yang murahan aku nggak mau!" pintaku.
__ADS_1
"Lah.....kamu sakit? Kok pakai minta dianterin buah-buahan? Atau.....jangan-jangan kamu lagi ngidam ya. Anak siapa itu yang di dalam sana!" Goda Sintia, membuatku sedikit emosi karena dia telah menuduhku yang macem-macem.
"Cepet sini. Aku tunggu buah-buahannya!" desakku sambil cekikikan pelan. (***)