
Di teras rumah, ada motor yang jarang aku lihat kedatangannya ke rumah. Motor siapa gerangan. Sebelum kulangkahkan kaki ke dalam rumah, kudengar suara gelak tawa seorang pria dan perempuan, secara bersamaan.
Suara perempuan itu, aku hafal betul. Siapa lagi, kalau bukan suara gelak tawa ibu. Sedangkan suara laki-laki itu, aku tak mengenalnya.
Tanpa kuucap salam, aku langsung nyelonong masuk rumah.
"Hei Regina," sapa pria itu sok akrab dengan aku.
Aku diam saja, bahkan langsung berniat mau menuju ke kamar.
Tapi langkahku terhenti, karena ibu memintaku bersalaman sama pria itu.
Mau, nggak mau, terpaksa aku harus bersalaman juga sama dia.
"Salam kenal ya Regina. Ini Om Harry," sebutnya, dan aku buru-buru melepaskan tanganku dari genggaman tangan pria itu.
Tanpa diperintah, aku langsung hengkang dari ruang tamu itu, dan buru-buru menuju ke kamar aku.
"Biasa. Dia balik kerja begitu. Masuk kamar. Tidur. Mandi pun malas. Nanti jam sembilan malam biasanya dia baru mau mandi. Itu pun dipaksa dulu." celoteh ibu panjang lebar, di depan Om Harry.
"Ih apaan sih ibu, bongkar rahasia anak sendiri," gumamku kesal, saat mendengar percakapan ibu di depan Om Harry.
Aku langsung kunci pintu kamar dari dalam. Rebahan, lebih nyaman.
***
Paginya, bangun tidur, aku didekati ibu. Dia menawarkan aku jalan-jalan sama beli sandal. Katanya, ibu juga lagi suntuk. Butuh refreshing jalan-jalan sebentar saja di luaran sana.
Kebetulan, sandal aku memang sudah jelek banget. Kepengen beli sandal yang bagus di mall.
Tentu saja, tawaran itu langsung aku sambut dengan hati gembira.
"Yess. Mau, kalau diajak jalan." kataku kegirangan.
"Ya sudah. Kalau begitu, kita gerak jam 10.00 wib ya. Ibu masak dulu buat kita sarapan dan makan siang nanti. Kamu juga jangan rebahan lagi. Bantu ibu di dapur." pintanya. Ibu selalu bicara panjang lebar, dan cukup dengan satu kata aku menanggapinya.
"Ya," kataku. Tapi, meski begitu, aku masih ingin rebahan, sambil menunggu jam 10.00 wib.
"Eh ini bandel banget anak gadis. Disuruh bantuin ibu di dapur, ini malah rebahan lagi. Bangun!"
"Iya..ibu. Regina masih ngantuk berat. Ucok Baba lagi ada acara keluarga. Jadi, hari ini pun Regina libur. Nggak kerja.
__ADS_1
"Nggak. Nggak ada rebahan lagi jam segini. Ini sudah jam delapan. Bantuin ibu sebentar di dapur." kata ibu lagi, memaksaku.
"Ih malas banget," kataku, membatin.
"Mau jalan-jalan ke mall beli baju nggak sih ini. Kalau nggak mau ya sudah kita batal saja perginya." ucap Ibu serius.
"Eh nggak. Nggak ibu. Ya sudah Regina bantuin ibu, masak di dapur." aku langsung loncat dari tempat tidur, dan bergegas ke dapur.
"Kita masak rendang ayam. Sama sambal goreng udang." sebut ibu, bersemangat.
"Ini mau ada acara apa, ibu. Mewah banget masak-masaknya." tanyaku penasaran.
"Besok keluarga Om Harry mau datang." jelas ibu sambil terus menggiling bumbu untuk rendang ayam.
"Keluarga Om Harry mau datang? Istimewa banget," protesku.
"Sudah. Kerja jangan banyak omong. Nanti nggak selesai. Kita gerak ke mall, setelah masakan siap ya. Kayaknya sekitar jam 12.00 wib, masakannya baru siap. Nggak apa kan.....molor dikit." kata ibu.
"Hmmm." jawabku dan aku berusaha fokus mengupas kulit udang.
***
Sesuai janjinya, ibu benar-benar mengajakku jalan-jalan ke mall. Di sana, ibu memintaku memilih baju kebaya remaja dan kain bawahannya.
"Ibu, satu lagi dong bajunya. Regina mau kaos press body warna pink yang terpasang di patung itu." pintaku, merengek kayak bocah cilik yang minta dituruti keinginannya.
"Dasar anak monyet. Ya sudah ambil sana!" kata ibu, protes. Tapi dia tetap mengabulkan permintaan aku.
"Yessssss!" ucapku, langsung mencari karyawannya, untuk menurunkan baju yang ada di patung itu.
Karena aku double beli baju, katanya uang jajan aku dikurangi ibu.
"Hehehehehe, jangan dong Bu." kataku.
"Lagi pula, kamu juga kan sudah kerja dapat gaji dari Ucok Baba. Sebulan 800 ribu kan lumayan."
Mendengar itu, aku diam saja. Sejak aku kerja di warung Ucok Baba, lumayan. Punya penghasilan sendiri.
***
Malam semakin larut. Ibu terlihat otak-atik ponselnya. Malam ini sepertinya ibu sengaja tidur di kamar aku. Katanya ada yang mau diceritakan ke aku.
__ADS_1
"Reg. Belum ngantuk ya?" tanya ibu, tapi dia masih fokus ke ponselnya.
"Belum." Jawabku. Tapi mataku sudah terpejam.
"Sebenarnya sudah ngantuk. Tapi belum bisa tidur," kataku.
"Reg. Besok bantuin ibu ya. Ada keluarga Om Harry mau datang. Mereka datang rombongan, ada sekitar delapan atau sepuluh orang." cerita ibu.
"Dalam rangka apa sih Bu, mereka kemari ke rumah kita?"
"Reg. Ibu minta izin ya. Mulai malam besok, Om Harry akan jadi suami ibu." kata ibu, to the point.
Aku yang tadinya berusaha memejamkan mata karena terasa ngantuk, langsung terbangun. Aku membetulkan posisi duduk aku, di samping ibu yang sedang rebahan.
"Serius?!" kataku, heran mendengar pernyataan ibu.
"Izin ya Reg." pinta ibu seakan meminta restuku.
"Dia baik, kok Reg. Ibu capek Reg, sendirian. Ibu butuh teman." katanya lagi, dengan nada memelas padaku.
"Terus apa kata Abang Gio dan Abang Jaka? Mereka sudah tahu bukan?"
"Belum,"
"Jadi?! Kalau mereka nggak setuju gimana?" tanyaku ke ibu, dan sepertinya ibu bingung mau jawab apa.
Dia pun bangun, sama-sama posisi duduk dengan bersandar di ranjang.
Ibu meraih tanganku lalu menggenggamnya erat.
"Reg. Ibu sudah belasan tahun menjanda. Ibu butuh teman, buat pendamping kelak menghadapi masa tua. Regina, paling kalau sudah dapat suami, tinggal sama suami. Terus ibu, merana dong sendirian di rumah."
Aku hanya bisa diam. Tak tahu harus ngomong apa, dengan pernikahan ibu dan Om Harry.
"Terima Om Harry dengan baik, ya Reg. Ibu mohon. Dia juga sebagai pengganti ayah kamu." pintanya lagi.
Lagi-lagi aku masih diam membisu. Lalu menarik nafas dalam-dalam, dan menghembuskannya pelan-pelan.
Ibu masih menggenggam tanganku. Dia menunggu kata iya dari aku. Ya dia menunggu persetujuan dari aku.
"Ibu, Regina boleh tidur nggak. Besok sudah mulai masuk kerja."
__ADS_1
Tak lama, ibu pun melepaskan genggaman tangannya.
Nggak tahu kenapa, aku merasa nggak senang dengan niat pernikahan ibu. Berarti, di rumah ibu bakal ada orang asing yang tiba-tiba bergabung jadi keluargaku. Bukan hanya itu, dia adalah pengganti ayah. Bagaimanapun, aku masih belum bisa menerima dia sebagai pengganti ayah. Ayahku, ya tetap ayah Fajar. Posisi dia di hati aku, tak akan bisa tergantikan oleh sosok ayah yang baru. (***)