
Aku cerita ke Sherly, kalau aku sudah dapat kos-kosan.
"Sher. Dimana. Sini. Aku udah dapat kos," kataku lewat chat.
Tak lama. Sherly menghubungi aku.
"Seriusan? Dimana.....dimana....aku ke sana. Kasih alamat lengkapnya. Sebentar lagi aku on the way. Kebetulan ini hari Minggu. Aku off. Nggak masuk kerja."
"Jalan Cinta Damai, tahu nggak. Di sana ada gang pertama. Masuk aja. Nanti kamu bakal baca plang bertuliskan kos-kosan bidadari." sebutku panjang lebar.
"Oke, sist Regina. Kita on the way langsung nih. Titip makanan apa? Ada makanan nggak kamu di kos?"
Dengan senang hati aku pun minta dibelikan burger.
Karena, aku dari pagi belum makan. Mau keluar, malas. Harus pakai ojek.
"Oke....oke....! Tunggu aku cari burgernya dulu, baru meluncur ke kosan kamu!"
Sambil rebahan, aku hidupkan musik di ponselku.
***
Suara bising motor Sherly, membangunkan aku, yang tadi sempat tertidur. Kulepas headset yang melekat di telingaku.
Aku buka pintu, dan Sherly bawa makanan yang aku pesan.
"Nih burgernya. Ganti ya. Lima belas ribu!" kata Sherly sembari melepas tawa.
"Iya....iya. Aman. Aku ganti dua kali lipat." kataku sembari menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan.
"Hahahahahaha. Serius Wak. Diganti dia!" Lagi-lagi Sherly ketawa ngakak.
"Aku makan ya burgernya. Dari pagi aku belum ada sarapan. Mau keluar cari makan, malas. Harus pakai gojek." ceritaku sambil terus melahap burger yang dibelikan Sherly.
Kata Sherly. Aku bercanda mau kos. Ternyata dia buktikan sendiri bahwa aku memang serius mau kos. Ya ....karena aku nggak tenang berada di rumah sendiri, sejak ibu nikah sama Om Harry..
"Sekarang. Rencana kamu selanjutnya apa?" tanya Sherly iseng.
"Cari duda kaya. Tajir melintir. Hahahahahahah!" celetukku.
"Issshhhh kacau banget teman aku ini" protes Sherly.
"Ngaca lah!" tegasnya lagi.
"Iya aku akan buktikan dengan niat aku itu. Aku bakal dapat duda kaya! Wkwkwkwkwkwkwk!"
"Hahahahahaha..buktikan!" tantang Sherly padaku.
***
Suasana kos-kosan ini memang tenang banget. Penghuninya pada kerja. Jadi rasanya sepi banget.
Aku bersyukur dalam hati bisa dapat kos-kosan senyaman ini. Tapi di sisi lain aku sedih karena ibu tak peduli sama aku. Bahkan dia memberikan kebebasan ke aku, untuk kos.
__ADS_1
Mungkin, dia bahagia. Bisa berduaan di rumah sama Om Harry. Ya sudahlah. Mau apa lagi, semua memang sudah takdir aku.
***
Lapar banget malam ini. Aku kepingin makan bakso ceker. Pasti bakso langganan aku masih buka. Ini baru jam 19.00 wib.
Terpaksa telepon Abang Gojek. Minta tolong sama dia, belikan bakso ceker itu.
Hanya hitungan setengah jam. Bakso ceker kesukaan aku itu sudah dibeli Abang Gojek.
Bakso termahal yang pernah aku nikmati.
Harga baksonya 10 ribu. Ongkos Gojek sepuluh ribu. Hmm.
"Sabar.....Regina. Nanti kalau dapat duda tajir. Beli bakso. Naik mobil sendiri," gumamku bicara sendiri.
***
Lama-lama ak stres kalau di kosan terus. Aku harus cari kerja. Biar ada aktifitas. Lagi pula, tabungan aku mulai menipis.
"Sher, kita ketemuan yuk. Di warung nasi soto langganan kita biasanya?!" ajakku.
Sherly yang tak pernah menolak, langsung tancap gas menuju kos aku.
"Jemput aku ya." pintaku.
"Nih on the way!"
"Siip."
"Tumben lapar pagi-pagi!" seloroh Sherly.
"Iya. Semalam, aku nggak makan." Jawabku santai.
Sambil menunggu hidangan soto datang. Aku cerita ke Sherly kalau aku lagi butuh kerja.
"Lho kata kamu kerja di Uchok Baba?"
"Udah lama, diberhentikan. Katanya lagi nggak butuh karyawati. Jadi ya terpaksa aku menganggur sekarang. Cariin aku kerja, Sherly!"
"Di kafe, mau nggak? Kebetulan di kafe aku ada lowongan. Dicari satu karyawati. Coba aja kamu datang temui bos aku." ucap Sherly memberi saran.
Aku langsung kegirangan mendengar itu.
"Serius???!!!" tanyaku dengan mata membulat.
"Oke. Kalau begitu besok aku datang ke kafe kamu. Pagi ya." kataku penuh semangat empat lima.
"Jangan pagi!" celetuk Sherly.
"Bagusnya subuh! Hahahahahah!" imbuh Sherly bergurau.
"Ihhh apaan sih!"
__ADS_1
Setelah habis menyantap soto, aku dan Sherly balik ke kos aku. Di sana, kami cerita-cerita lagi soal lelaki idaman.
Kalau Sherly, naksir sama bos dia. Tapi, karena statusnya hanya bawahan. Jadinya, cinta terpendam.
"Bos aku itu cool banget. Ganteng." puji Sherly berlebihan.
"Sudah malam ini. Aku cabut dulu ya. Mau balik. Nanti mama aku nyari," kata Sherly.
"Ih anak mama!" kataku nyinyir.
Sherly hanyaelepas tawa lalu bergegas pergi meninggalkan kos aku.
****
Di Kafe Moon tempat Sherly bekerja, aku datang dengan rasa percaya diri. Kukatakan sama manajer kafe itu. Kalau aku ingin mengisi lowongan karyawati itu.
Tanpa banyak tanya. Dia langsung menerima aku. Aku masih melongo. Gampang banget dia menerima aku.
Mungkin ini rejeki tak terduga yang Allah berikan untuk aku. Dapat pekerjaan tanpa harus susah-susah.
"Mulai besok kamu sudah bisa bekerja. Gaji kamu 1.2 juta. Libur di hari Sabtu-Minggu. Ada pertanyaaan?" tanya pria tampan di depan aku ini dengan tegas.
"Tidak ada Pak!" Jawabku mantap.
"Oke. Selamat bergabung di Kafe Moon. Aku percaya sama kamu. Bisa bekerja dengan baik di tempat ini," katanya lagi, sebelum aku benar-benar beranjak pergi dari hadapannya.
Aku hanya menganggukkan kepala. Lalu undur diri dari ruangan itu.
"Yessssssss!!!!" pekikku dalam hati tapi pelan, setelah mendapat kesempatan kerja itu.
Aku langsung menghubungi Sherly. Berniat mentraktir dia, makan makanan yang dia suka.
"Woiiiiii Bro Sist Sherly!" teriakku dari balik ponsel genggamku.
"Ihhhh pekak telinga aku. Pelan dikit kenapa. Kalau ngomong. Udah kayak Tarzan aja!" protes Sherly.
"Kutraktir yuk!"
"Wah. Diterima ya kamu di kafe Moon. Satu kerjaan dong kita!" seru Sherly yang kegirangan mendengar aku diterima kerja di tempat dia.
"Gaji pertama aku, mau aku tabung. Buat beli motor." ceritaku penuh bahagia, siang itu.
"Mana ada motor sejuta!" protes Sherly dengan nyinyirnya.
"Sialan Lu. Ya tabung dulu. Kalau sudah cukup DP nya baru buat kredit motor." jelasku antusias.
"Jadi, batal nih. Ngarep duda tajir!" celetuk Sherly bikin aku ngakak.
"O.....kalau target yang satu itu, harus dapat terwujud. Tapi kan pelan-pelan. Siapa tahu di kafe itu ada pengunjung tetap yang status nya duda tajir!" kataku berkhayal tingkat dewa.
"Wkwkwkwkw. Dasar cewek matre!"
"Iya dong. Harus. Biar nggak sengsara hidup. Cewek harus matre. Kalau nggak matre, rugi! Pokoknya cowok yang deketin kita harus punya modal. Kalau cuma modal dengkul, ke laut aja cowok kayak begitu!" jelasku sejelas-jelasnya.
__ADS_1
"Dasar cewek matre!"
"Udah ah. Cabut yuk. Antar aku balik ke kos. Mulai besok kita satu tempat kerja." kataku.(***)