
Siang ini aku sengaja nggak masuk kerja. Minta izin sama Ucok Baba. Alasannya, demam. Padahal, aku aslinya berbohong.
Ditambah lagi ibu minta temani beli baju katanya mau ada acara penting sama seseorang.
Seseorang siapa ya? Heran aku. Pasti seseorang itu adalah boy friend. Ah biarlah. Itu urusan ibu.
"Regina. Nanti temani ibu ke pasar sama ke toko baju. Ibu mau pilih baju yang agak bagusan. Buat acara besok." sebut ibu, buat aku penasaran.
"Acara apa sih Bu?" tanyaku penuh selidik.
"Nantilah. Nanti kamu tahu sendiri. Sekarang, yang penting temani ibu, siang ini. Kita ke pasar dan toko baju." ulang ibu serius.
"Oke....kalau begitu,'' jawabku.
"Sudah sana siap-siap mandi. Nanti kamu mandinya lama. Pakai berendam di bak mandi atau apalah. Bisa satu jam kamu di kamar mandi." kata ibu panjang lebar.
"Iya ibu."
"Ibu. Regina boleh request nggak?" tanyaku iseng.
"Request apa. Awas aja jangan macem-macem," jawab ibu, ketus.
"Ibu. Regina pengen beli baju juga. Hehehehehe!" jelasku sambil cengar-cengir.
"Eh dasar anak monyet. Orang mau beli baju, eh dia mau ikutan beli baju juga." celoteh ibu, kesal.
"Yang murah aja Bu. Kaos. Kaos press body." pintaku, dengan nada merayu ibu.
"Awas nanti beli yang mahal. Uang ibu terbatas nih," sebutnya.
Spontan, aku loncat dari tempat tidur, menghambur ke arahnya. Kucium punggung tangannya. Lalu aku ucapkan terimakasih tak terhingga.
"Makasih Mama cantik," pujiku.
"Eh sejak kapan punya nama," celetuk ibu, yang tak mau dipanggil mama.
"Sejak lama," jawabku singkat.
"Awas kalau nggak panggil mama lagi. Batal aku belikan kaos press bodynya." ancam ibu, dengan nada becanda.
"Ih apaan sih ibu comel montel cantik jelita sejagad raya ini. Bagaimanapun, panggilan ibu itu, lebih merdu terdengar di telinga." kataku masih merayunya, biar ibu nggak marah lagi sama aku.
"Dasar anak monyet!" celetuknya.
"Mandi sana sekarang. Ini sudah jam 10.00 wib. Kita gerak ke pasar sama ke toko baju, sebelum Dzuhur. Nanti kalau kesiangan.
__ADS_1
Panas terik." pinta ibu, dan aku pun bergegas ke kamar mandi.
****
Mau satu jam, bolak-balik, keluar masuk ruang ganti. Belum ada yang pas.
"Reg. Cantik nggak baju ini?"
"Cantik banget Mama," jawab aku.
Ibu pun memutuskan membeli baju yang terakhir dia coba itu. Gaun warna hitam, sederhana tapi terlihat mewah. Harganya juga tak terlalu mahal.
"Udah. Sekarang kita cari kaos untuk kamu. Yang murah aja kan. Yang dua puluh ribuan, ya." kata ibu.
"Uhhhh mama ini apaan sih. Mahalan dikit kenapa. Belikan anak sendiri masak iya yang murahan banget." protesku kesal.
"Udah.....agak cepetan bawa motornya. Kita ke toko baju biasanya. Kamu pilih disana," perintahnya, dan aku langsung menambah kecepatan laju motorku.
"Baiklah kalau begitu, Mama cantik." ucapku kegirangan.
***
Di toko baju, aku hanya membatin. Suatu saat nanti, kalau aku banyak uang, aku akan beli baju-baju yang mahal, di toko ini.
"Ibu. Dua ya kaosnya. Regina nggak punya kaos bagus. Kalau mau pergi kemana-mana Regina tak punya kaos bagus." kataku merengek minta tambah dibelikan satu kaos lagi.
"Hmmm........," jawab ibu bingung aku. Dia tak memberikan kepastian boleh apa nggaknya, aku minta tambah dibelikan satu kaos lagi.
"Udah kerja tapi masih minta orang tua." celetuk ibu. Tapi, aku cuek ibu mau ngomong apa. Karena, yang penting aku dibelikan baju.
"Tiga ya Bu." kataku malah mengalihkan pembicaraan.
"Mau, kepala kamu benjol?!" sahut ibu.
"Heheheheh. Ya nggak mau Bu, kalau sampai benjol. Kan Regina cuma minta, kalau dikasih syukur. Nggak dikasih juga nggak apa-apaa, ibuku sayang." jawabku lagi, panjang lebar.
***
Karena merasa tak puas. Sampai di rumah. Ibu mencoba gaunnya lagi.
Dia berputar-putar di depan cermin. Mengamati gaun yang menempel di tubuhnya itu.
Kalau dibilang sexy, ibu masih sexy. Tubuhnya belum bergelambir, meski sudah usia kepala empat. Ya tepatnya empat puluh delapan. Nyaris mendekati usia angka kepala lima.
"Cantik nggak sih Reg?!" tanya ibu untuk kesekian kalinya. Ya meski sudah dicoba berulang kali di toko bajunya. Ternyata ibu masih ragu untuk memakainya.
__ADS_1
Lagi pula, cantik atau nggak cantik, gaun yang tadi dibeli ibu tadi, tetap saja nggak bisa ditukar, lantaran sudah dibawa balik ke rumah.
"Ibu itu, pakai baju apa aja, selalu kelihatan cantik. Percaya deh sama Regina." kataku berusaha meyakinkan ibu.
"Hmmm ya udah kalau begitu. Besok temani ibu lagi ya cari sandal yang bagus."
"Mau kemana sih ibu. Baju baru. Sandal baru." tanyaku penasaran.
"Besok, ada kawan ibu mau main ke rumah. Dia baik kok. Katanya mau kenalan juga sama Regina."
"Namanya Om Rico." sebut ibu.
"Ooooooooooooooooooooooo namanya Om Ricooooooo toh. Ehem.....ehem.....," celetukku.
"Besok kalau dia datang. Tolong sambutannya yang baik ya. Jangan ketus-ketus atau judes." pesan ibu mewanti-wanti aku.
"Hmmm. Kalau dia baik. Ya aku baik. Begitu sih Ma." jelasku serius.
Ya Allah bakal ada orang baru di kehidupan ibu aku. Semoga laki-laki yang ingin membersamai ibu nanti, adalah laki-laki yang bertanggungjawab dan baik hatinya. Sayang sama ibu, dengan sepenuh hati.
***
"Reg. Temani ibu ke toko baju lagi ya. Kali ini cuma ke toko aja." kata ibu, setengah memaksaku.
"Beli baju lagi? Regina juga dong kalau begitu." balasku dengan senang hati, saat merespon permintaan ibu.
"Gundulmu. Dasar anak monyet." sahut ibu.
"Lah ngapain ke toko baju kalau nggak beli baju, Bu." protesku.
"Ibu mau beli baju untuk cowok." sebutnya.
"Untuk cowok?" aku sampai heran.
"Untuk Abang Gio?" Abang aku yang satu itu, merantau jauh entah kemana rimbanya. Aku sendiri jarang jumpa dia. Tapi, kalau waktu lebaran Idul Fitri, dia pasti balik. Bawa oleh-oleh banyak. Bahkan, aku sering request sesuatu sama dia.
"Udah jangan banyak tanya. Nanti abis dzuhur antarin ibu ke toko baju langganan ibu yang kemarin." perintah ibu, memaksa.
"Iya iya. Regina antarin," kataku lalu ngeloyor masuk ke kamar.
"Hei tunggu dulu jangan rebahan dulu kamu. Cuci piring di wastafel dapur itu, lagi menumpuk." perintah ibu padaku.
"Nanti aja ibu. Capek. Ngantuk. Ini kan masih jam 10.00 wib. Masih ada dua jam lagi buat bobok," kataku sambil terus melangkah ke kamarku.
Untuk urusan cuci piring, sebisa mungkin aku nggak mau. Aku mau cuci piring, ya piring bekas makan aku saja. Kalau cuci piring lainnya. Terimakasih. Aku bakal menolak sebisanya. Hahahahaha.(***)
__ADS_1