Nikah Sama Duda

Nikah Sama Duda
Ibu Mulai Cuek


__ADS_3

Aku marah, karena ibu nggak lagi membangunkan aku. Gara-gara aku begadang sampai larut malam, jadinya bangun kesiangan, hari ini.


"Aduh gimana mau kerja. Bisa kena omelin sama Ucok Baba nih," gerutuku kesal.


Biasanya, ibu selalu bangunkan aku pagi hari buat sholat subuh. Tapi, sejak nikah sama. Harry, ibu cuek. Bahkan terkesan nggak peduli lagi sama aku, anaknya.


"Lho belum berangkat kerja?" sapa ibu yang baru keluar dari dalam kamarnya.


"Udah dipecat!" jawabku ketus.


"Ih ini anak kenapa?! Ditanya baik-baik malah nyolot." Ibu langsung mendekat ke aku, yang kebetulan lagi menikmati Indomie goreng.


"Eh tumben sarapan." celetuk ibu sambil nyicip mie goreng buatan aku.


Aku diam saja, sambil terus mengunyah makanan mie goreng di piringku.


Setelah menghabiskan makananku, aku buru-buru mandi. Karena aku tetap berniat masuk kerja meski terlambat.


***


Bernyanyi sambil mandi, plus pakai luluran. Rasanya happy banget.


"Reg. Cepetan mandinya. Om Harry mau ke kamar mandi." teriak ibu.


Aku cuek karena kupikir Om Harry pasti sabar menunggu gilirannya.


"Regggg.....? Cepetan. Ini Om Harry mau ke kamar mandi." ulang ibu, sembari mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi.


"Dug dug dug.....dug......dug....!"


"Ini bocah mandi apa mandi. Sudah satu jam di kamar mandi. Cepetan!"


"Reg.....!" panggil ibu lagi.


"Iya iya bentar. Orang masih mandi." jawabku. Tapi ibu terus mendesakku cepat-cepat keluar dari kamar mandi.


*Dug dug dug ....dug.....dug....


"Iyaaa iyaaa ini sudah mau selesai." jawabku kesal.


"Lagian. Mandi apa sih. Lama kali. Sudah sejam, nggak selesai-selesai dari tadi." celoteh ibu yang buat aku semakin kesal.


Gara-gara Om Harry ini. Jadinya sekarang privasi aku terganggu. Coba nggak ada dia. Aku mandi seharian di kamar mandi, nggak ada yang ngelarang. Eh sekarang sejak ada Om Harry semua jadi memuakkan.


Setelah keluar dari kamar mandi, aku berlari ke kamar aku. Langsung aku banting pintunya karena aku kesal.


Tak terima dengan sikap aku, ibu langsung memintaku buka pintunya.


"Woi apa maksudnya kamu banting-banting pintu. Cepat keluar. Anak kurang ajar. Nggak tahu tata krama." cerocos ibu, sambil terus ketuk+ketuk pintu kamar aku.

__ADS_1


Benar-benar menyebalkan. Sekarang rasanya aku diperlakukan kasar banget sama ibu. Semua pasti gara-gara Om Harry sialan itu.


***


Nggak tahu kenapa, aku kepingin kos. Tapi, aku takut. Jauh dari orang tua, gimana rasanya ya. Antara ragu dan nekad. Masalahnya sejak ada Om Harry aku merasa nggak nyaman tinggal di rumah. Apalagi, ibu mulai emosian kalau berhadapan sama aku.


"Sherly, temani aku cari kos-kosan," kataku minta tolong ke Sherly. Dia, teman yang pernah satu kerjaan sama aku, saat kerja di kafe Noname. Sekarang, Sherly sudah kerja di tempat lain.


"Gila. Yang bener aja kamu mau kos. Bukannya kamu punya rumah. Tinggal sama orang tua. Atau....mau kos, biar bisa bebas?" protes Sherly.


"Ih apaan sih... Nanti aku ceritakan sama kamu, kenapa aku mau kos. Ya.....please......antarin aku yuk sore ini, temani aku cari kost," pintaku setengah memaksa.


"Iya iya. Tunggu aku balik kerja ya." jawabnya meyakinkan aku.


"Yessss! Begitu dong bestieeee!" celetukku lewat ponsel genggam. Kami pun mengakhiri percakapan.


***


Setengah jam kemudian kami bertemu di lokasi yang kita sepakati. Di depan sebuah minimarket.


Sherly menjemputku pakai motor. Dia sudah punya motor, aku belum sanggup beli. Tapi, meski seperti itu, aku punya target, bisa beli mobil. Dibeliin sama suami. Makanya aku harus dapat suami yang tajir. Jadi, aku nggak harus susah payah menabung, biar bisa beli mobil.


Hahahahaha! Boleh kan.....berkhayal. Tapi, rasanya mustahil, kalau mau nabung. Apalagi sekarang aku pengangguran. Baru dipecat sama Uchok Baba.


Ah. Entahlah. Pokoknya, target aku bisa dapatin suami yang tajir. Duda.......nggak masalah!


"Woi..sore-sore ngelamun," Sherly datang, membuyarkan lamunan aku. Dia menepuk pundakku.


"Bener sekali anda, bestieee! Hahahahahaha!"


"Kamu cocok deh kayaknya jadi dukun. Karena tahu persis isi kepala orang lain."


"Iya aku ramal juga jodoh kamu duda tajir. Hahahahah!" kata Sherly lagi ngomong sesukanya sambil ketawa kuat-kuat.


"Hahahahh!"


"Haeessss! Kayak preman pasar aja ketawa kamu!" kataku dan kami selanjutnya menuju perkampungan. Mencari tempat kos-kosan.


"Sebentar.....berhenti disini aja!" kataku spontan, menghentikan laju motor Sherly, sembari kutepuk pundaknya.


"Woi. Ini kos'an cowok. Baca itu. Terima kos-kosan cowok. Kamu cowok?" kata Sherly sembari menunjuk ke papan berukuran satu meter kali 40 cm itu.


Kami berdua pun celingukan kanan kiri. Mau tanya orang yang ada di sekitar kos, tapi nggak ada manusia satu pun.


Sepertinya mereka pada jalan sore. Suasananya sepi banget.


Akhirnya kami berdua balik kanan. Putar-putar ke perumahan lainnya. Siapa tahu ada kos lain yang menerima penghuni cewek.


"Nanti kalau aku kesepian. Temani aku ya di kosan," kataku.

__ADS_1


"Ih ngapain kos kalau kayak gitu. Mending kamu tinggal di rumah aja," katanya memberi saran.


"Iya. Mau aku seperti itu, tetap tinggal di rumah. Tapi aku sudah nggak nyaman tinggal di rumah aku sekarang." jelasku dan Sherly terlihat bingung mendengar penjelasan aku.


"Nggak nyaman?" tanya Sherly keheranan.


"Iya. Panjang ceritanya. Kita cari es kelapa muda aja yuk, sambil cerita-cerita." aku mengalihkan pembicaraan.


"Nah ini dia yang aku tunggu." katanya kegirangan.


"Dari tadi aku haus banget soalnya," keluhku serius.


Hingga akhirnya kami menemukan warung es kelapa muda pinggir jalan, yang lokasinya tak jauh dari tempat kos-kosan cowok yang tadi sempat kita singgahi.


***


Di es kelapa muda.


"Pesan kelapa dua buk ya pakai es batu, plus sirup strawberry." kataku ke ibu penjual es kelapa muda itu, dengan sopan.


Tanpa aku mulai dulu, Sherly penasaran bertanya padaku soal kenapa aku harus ngekos.


"Ibu aku nikah lagi. Tahu kan kamu. Puas kan kamu dengan jawaban aku." kataku to the point ke Sherly.


"Ya Allah." ucap Sherly.


"Terus gimana tanggapan ibu kamu, dengan rencana kamu mau ngekos?" masih kata Sherly yang terus mengintrogasiku, Persis seperti polisi dan penjahat.


"Makanya aku nggak nyaman di rumah. Nanti, aku pun mau kos diam-diam. Karena ibu aku bakal marah besar dan tak bakal memberi izin, saat aku utarakan mau kos." jelasku masih blak-blakan sama Sherly.


"Ya semua tergantung kamu. Mau bagaimana lagi, kalau kamu nggak nyaman, ya mungkin solusi terbaiknya kamu harus angkat kaki dari rumah sendiri."


Tak lama. Pesanan es kelapa muda kami, sudah terhidang di meja, dan sejenak, kami menikmatinya dengan bahagia.


***


Balik ke rumah. Lagi-lagi aku harus melihat kemesraan antara ibu dan suaminya. Mau emosi, nggak mungkin. Terpaksa, hanya dipendam dalam hati.


Melihat mereka berdua di meja makan, makan bareng, aku cemburu.


Dulu, yang sering ditemani makan, aku. Sekarang, ada orang asing yang aku tak berkenan atas kehadirannya itu. Jujur aku muak dan berharap dia (Om Harry), pergi dari hadapan aku.


Ibu, memang benar-benar fokus memberikan perhatian untuk suami barunya. Sedangkan perhatian untuk aku, tidak ada lagi.


Aku masuk kamar. Langsung banting pintu. Rebahan di ranjang, sambil nangis sesenggukan.


"Hei anak monyet. Apa pasal kamu banting-banting pintu. Nggak punya aturan. Ada orang tua, ucap salam atau apalah. Ini malah banting-banting pintu. Anak tak tahu sopan santun!


Ibu menggedor pintuku berkali-kali. Aku, sengaja nggak mau buka pintunya, meski ibu teriak-teriak memakiku. Karena, aku ingin merenungi diri, kenapa nasib hidupku merana seperti sekarang. Kurang perhatian orang tua.

__ADS_1


(***)


__ADS_2