
Pagi-pagi jam 07.30 wib Sintia sudah menjemputku di rumah.
Aku sejak subuh jam 05.00 wib sudah bersiap. Rasanya tak sabaran ingin cepat pergi interview.
Kuketuk kamar ibu, berniat untuk pamitan pergi sama Sintia. Tapi aku nggak bilang kalau mau interview di kafe Koko Anton.
"He. Mau kemana kamu pagi-pagi?!" ternyata ibu sudah bangun. Dia tiba-tiba muncul di belakangku.
"Mau kerja Bu," jawabku seraya membalikkan badan, berhadap-hadapan dengan ibu.
"Kerja. Kerja apa kamu!" tanya ibu curiga tak percaya dengan perkataanku tadi.
"Kerja di kafe Bu," jelasku singkat.
"Nggak. Nggak bisa. Nanti kamu bohong!" cegah ibu.
"Duh... Gimana ini," batinku, panik. Padahal hari ini jadwalnya interview dengan Koko Anton.
*Teeetttt!" suara motor Sintia membunyikan klaksonnya.
Ibu pun berusaha melongok keluar, untuk mencari tahu siapa yang mengklakson motor berkali-kali.
"Siapa dia!" tanya ibu dengan mata membulat, seolah ingin menelanku mentah-mentah.
"Itu Sintia Bu. Dia mau mengantarkan aku ke tempat interview dimana aku akan kerja di Kafe." jelasku detail, dan berharap ibu setuju setuju saja aku bekerja disana.
"Suruh masuk dulu kawan kamu itu!" perintahnya.
"Reg cepat. Jam 09.00 wib kita harus tiba di tempat interview. Nanti bosnya marah kalau kita telat." teriak Sintia sembari membunyikan klakson motornya lagi.
*Tetttttttttt!
Ibu mendengar itu dan akhirnya terpaksa mengizinkan aku pergi.
''Ya sudah. Pergi sana. Hati-hati," ucapnya.
Aku pun berusaha meraih punggung tangan ibu. Lalu menciumnya, tanda aku pamitan minta izin keluar rumah.
Setelah itu, aku pun bergegas menghambur keluar menuju Sintia. Tanpa diminta. Aku langsung naik ke boncengan motor Sintia.
"Hmmmm wangi banget parfume kamu." celetuk Sintia.
"Iya kan mau ketemu Bos. Interview. Nanti kalau bau ketek, bisa-bisa nggak diterima kerja." jawabku meyakinkan.
"Sin. Dia kok tahu sama aku, dan tiba-tiba dia memintaku kerja di kafe dia?" tanyaku ke Sintia penuh selidik.
"Ingat nggak. Waktu ketemuan di kafe pas acara Riko. Dia kan ngeliatin kamu terus. Dia chat ke aku. Nanyak siapa nama kamu." cerita Sintia buat aku ke-GR an.
"Ooo. Hahahahaha!"
"Cepet dikit jalannya. Nanti aku telat. Katamu kalau telat, nanti Koko Anton marah,'' aku mengingatkan Sintia, soalnya sudah jam 08.00 wib.
"Cie....yang buru-buru," katanya nyinyir.
***
__ADS_1
Lima belas menit kemudian aku dan Sintia tiba di sebuah Kafe Noname. Disana masih sepi pengunjung. Maklum masih pagi. Di pintunya tertulis buka jam 10.00 wib.
"Udah ya aku tinggal. Sejam lagi aku datang lagi aku jemput," kata Sintia. Belum sempat protes, dia malah berlalu begitu saja meninggalkan aku.
Debar jantungku tak karuan. Deg-degan karena ini pengalaman aku yang pertama melamar kerja.
"Duh! Gimana ini. Sumpah aku deg-degan banget mau ketemu Bos Koko Anton. Tapi, gimana lagi. Kalau mau dapat kerja, ya interview dulu. Kalau lolos, baru bisa kerja," gumamku yang sedikit bingung campur takut, deg-degan. Semua campur aduk jadi satu.
Ya aku harus berani menghadapinya.
Di bagian kasir kutemui seorang perempuan muda yang usianya kutaksir tak jauh beda dari aku. Sekitar 15 tahunan atau 16 tahunan.
"Kak. Maaf. Bisa bertemu dengan Bapak Anton?" tanyaku sedikit gugup.
"Maaf ada keperluan apa?" Tanya dia balik.
"Katanya saya diminta datang untuk interview." jawabku yang masih berusaha mengatur irama debar jantungku.
"Oh....oke. Ini Regina ya?!" tanyanya dengan ramah.
Aku hanya menganggukkan kepala sekali.
Perempuan muda itu pun menggiring aku masuk ke ruangan HRD.
*Tok tok tok..
Dia mengetuk pintu ruangan itu terlebih dahulu. Lalu membuka gagang pintunya.
Bersamaan dengan itu, seorang pria tampan sudah ada di sana. Duduk di balik meja.
"Pak. Ini Regina." katanya memperkenalkan aku ke bos besar tampan itu.
"Hmm. Duduk." katanya, dengan nada datar. Dia mempersilakan aku duduk di kursi yang ada di hadapannya.
"Siapa nama kamu?" tanyanya dengan senyum tipis diukir di bibirnya.
"Kamu kerja disini apa motivasinya?" tanyanya lagi dan aku bingung.
*Dia sambil menandatangani beberapa lembar kerta yang ada di meja kerjanya.
"Ya mau kerja aja sih Pak," jawabku sedikit gugup.
"Kamu nggak sekolah kan?"
"Duh," batinku makin kikuk menjawabnya.
"Iya Pak saya putus sekolah." jawabku lagi sedikit mulai netral degub jantungku yang tadinya deg-degan itu.
"Oke nggak masalah. Mulai besok kamu kerja. Tapi terhitung training dulu ya," katanya memberiku kode, bahwa aku diterima kerja mulai besok.
"Oke besok saya tunggu jam 09.00 wib sudah di sini lagi ya," imbuhnya.
"Terimakasih Pak," ucapku, sembari meninggalkan ruangan dia.
***
__ADS_1
Sintia belum menampakkan hidungnya karena belum satu jam dia meninggalkan aku. Karena tak sabaran. Akhirnya aku telepon saja dia.
"Dimana. Jemput aku dong!" pintaku lewat ponsel genggam.
"Tunggu lima belas menit lagi aku sampai ke kafe Noname lagi," ucap Sintia.
"Terimakasih ya Allah. Kesempatan ini berharga banget bagi aku."
*Tettttt!
Tak sampai lima belas menit. Sintia datang. Aku langsung menghambur ke boncengan motornya lagi.
"Gimana. Interviewnya sukses?!" tanya Sintia penasaran.
"Sukses. Besok aku mulai training." jelasku.
Aku pun mengalihkan pembicaraan. Sesuai janjiku kemarin, aku mau mentraktir dia makan siang, hari ini.
"Makan bakso kita yuk atau pecel lele. Kamu pilih mana?" aku memberi pilihan pada Sintia.
"Yang enak dikit traktirnya. Kalau bakso aku nggak doyan!" jawab Sintia buatku emosi.
"Udah minta traktir, mau yang mahal dan enak. Nggak sopan ini orang. Ke laut aja kali ya!" kataku protes.
"Kalau nggak ikhlas nggak usah traktir," katanya sewot.
Aku pun mentertawakan dia, karena perkataan aku ditanggapi serius.
Aku langsung memberinya penawaran makan KFC. Dia masih merajuk. Nggak mau meresponnya.
"Kamu marah ya. Maafin aku ya. Becanda aja aku tadi," rayuku.
Ternyata rayuan aku nggak mempan. Dia masih bersungut-sungut nggak mau ngomong sama aku.
Aku berusaha meraih tangannya. Lalu aku salam.
"Maafin ya." Dia masih cuek.
Aku pun tak sengaja menumpahkan air mata ini. Karena Sintia masih tak ingin memberiku maaf.
Kukatakan padanya kalau dia satu-satunya sahabat yang aku punya.
Kalau dia diam tak mau bicara sama aku, duniaku rasanya kiamat.
"Yuk aku traktir KFC," kataku merengek merayunya.
"Aku ngantuk. Tadi bangunnya terlalu pagi. Bagusnya pulang aja," katanya menolak ajakan aku.
"Please temani aku sarapan. Lapar banget aku," pintaku terus memohon padanya.
"Aku antar aja ke KFC. Nanti baliknya kamu pakai gojek aja!"
"Please maafin aku. Kalau cuma aku yang makan aku nggak mau. Kita harus makan berdua," sebutku dan dia masih diam.
Tapi, kuamati, dia melajukan motornya ke arah jalan KFC.
__ADS_1
"Sintia jangan marah ya sama aku. Maafin aku," pintaku untuk kesekian kalinya memohon maaf padanya.(***)