
"Bangun sayang, ratuku yang cantik," bisik Bos Gilang, di telingaku.
Aku menggeliat, masih tak ingin membuka mata. Tiba-tiba Bos Gilang sudah menyuguhkan sepiring nasi goreng di meja kamarku.
Aroma nasi goreng buatan Bos Gilang, menguar ke ruangan kamarku, hingga membuatku terbangun.
"Sayang. Bangun. Kali ini aku masakin masakan buat ratuku. Karena hari ini hari Kartini. Jadi kaum perempuan harus dimanjain." katanya, dengan mengambil posisi duduk di bibir ranjang tempat tidurku.
***
Saat dilihatnya jam dinding kamar menunjukkan angka 07.00 wib, Bos Gilang bergegas ke kamar mandi. Katanya dia buru-buru mau ke kafe, karena ada rencana rapat dengan karyawan kafe.
"Eh jangan berangkat dulu, sayang. Aku sudah buatin sarapan pagi ini, untuk Bos Gilang.
"Seriusan nih. Masak apa emangnya?"
tanyanya serius.
"Ya udah temani aku sarapan kalau begitu. Baru setelah itu aku ke kafe." katanya dengan manja.
Aku pun menuruti permintaannya. Bergegas menuju ka ruang makan.
"Hmmmm. Sedap banget. Ini namanya nasi goreng apa. Ada bilis. Telor ceplok. Sayur seladah. Tomat dan paprika." tanyanya sambil mencicipi nasi gorengnya.
"Ini....namanya nasi goreng ala Regina centil," ucapku setengah manja.
Bos Gilang langsung melepas tawa. Katanya malah minta dibuatin lagi, besok pagi.
"Oh.....oke. Nasi gorengnya akan aku buat lagi seperti ini," janjiku padanya.
***
Setelah kami siap mandi dan berdandan rapi, Bos Gilang mengajakku jalan ke mall.
"Nanti kalau ketemu kawan aku di mall. Bilang aja kamu asisten aku ya." pesan Bos Gilang.
"Hmmm.....kalau keceplosan ngaku aku istri Bos Gilang gimana?!" candaku.
"Berani?" tantangnya.
"Hahahahahah. Nggak berani." kataku dengan lugunya.
"Tapi....baiklah Tuan Gilang. Aku memang asisten Bos Gilangm." celetukku.
"Eh kita sarapan di luar aja ya.....sayang." katanya, mesra padaku.
"Aku ikut aja apa kata Bos. Nanti kalau nggak mau, bisa dipecat aku nanti," selorohku dan dia tiba-tiba mencubit manja pipi aku.
__ADS_1
"Nakal banget ini anak! Awas aja nanti malam. Harus kerja rodi sampai lima ronde," candanya.
"Ih apaan sih. Nanti malam aku mau tidur di kos aku?!" jelasku serius.
"Nggak. Kamu nggak boleh tidur di kos itu lagi. Kamu harus tinggal di rumah aku." tegasnya.
"Bos aneh. Aku kan belum ada ikatan apa-apa sama dia. Masa iya aku harus tinggal selamanya di rumah dia. Ih...n..lucu!" kataku, membatin dalam hati.
"Kamu sekarang umur 14 tahun kan. Tiga tahun lagi aku akan melamarmu, jadi istri aku." katanya lagi, semakin serius dia ngomong padaku.
***
Sampai di mall.
"Aku mau kamu beli lingerinya yang warna pink. Coklat, hitam. Biru. Sama cream." sebut Bos Gilang, dengan antusiasnya.
"Hmmmm. Banyak banget. Emangnya aku disuruh jualan, ya Mas Gilang?!" kataku spontan protes, melihat tingkahnya yang terlalu antusias untuk memintaku beli lingeri.
"Ya kan buat ganti baju tiap hari. Nggak mungkin kan....cuma beli satu. Ntar kalau dicuci. Kamu pakai apa?" jelasnya, dan aku tak bisa membantahnya.
"Kalau beli selusin berapa Mbak?" tanya Bos Gilang pada pelayan kasir. Dia juga cengar-cengir. Pasti mentertawakan Bos Gilang yang terlalu aneh. Beli lingeri sampai selusin.
"Sesuai harga yang tertera di setiap baju itu, Pak, harganya." jawab pelayan kasir itu dengan ramahnya.
"Oke. Saya mau warna pink, coklat, hitam. Biru. Sama cream." ulang Bos Gilang masih dengan semangatnya yang menggebu-gebu.
Kulihat, ketulusan dan kepolosan hatinya, mencintai aku dengan sepenuh hati. Dia benar-benar memberikan segalanya yang aku impikan selama ini.
***
Setelah lelah seharian jalan di mall. Akhirnya kami memilih rebahan di rumah.
"Sudah jam lima sore. Mandi yuk..kita makan malam di luar. Mau nggak? Kamu pengen apa?" tanya Bos Gilang.
"Aku ikut Mas aja, mau makan apa, aku oke!" jawabku singkat.
"Ya sudah kita makan di resturant paling enak di kota ini. Tapi makannya jangan banyak-banyak. Aku nggak mau lihat ratuku gendut," katanya sambil mencolek pipiku.
"Hahahahaha. Gendut dikit nggak apa kan?!" sahutku.
"Nggak boleh. Gendut, aku ikat di pokok mangga. Aku jemur sampai hitam. Biar nggak kayak Barby lagi. Hahahahaha!" katanya penuh semangat.
"Ihhh sadis ya.....Bos Gilang ini!" celetukku.
"Udah pokoknya kalau gendut aku ikat di pohon mangga tetangga sebelah." tegasnya lagi, lebih serius.
"Iya Tuan Gilang," sebutku sembari menganggukkan kepala sekali.
__ADS_1
***
Malam ini, aku merindukan aroma khas kos-kosan aku. Jadi aku minta izin sekali ini saja, balik ke kosan.
"Aku anterin. Biar kamu nggak bisa mampir kemana-mana. Setelah cium bau kos-kosan, kamu harus balik lagi ke rumah aku!" paksanya.
"Ihhh....aku mau tidur di kosan!" sahutku merengek seperti anak kecil.
"Nggak bisa. Karena kamu harus pakai lingeri ini, malam nanti. Jadi mumpung ada waktu, masih jam 20.00 wib. Aku anter kamu ke kosan. Setelah itu kita balik ke rumah aku. Aku mau lihat kamu pakai lingeri ini, malam nanti," kata Bos Gilang setengah memaksa.
Hingga akhirnya aku pun menuruti apa kata-kata dia.
***
"Pa....besok Fira butuh duit." pinta Fira.
"Duit untuk apa lagi sih Fira," tanya Bos Gilang, sedikit cuek.
"Pa....boleh kan besok Fira minta uang." ulang Fira mendesak Bos Gilang.
"Iya harus jelas untuk apa!" tanya Bos Gilang.
"Besok ada pesta. Jadi Fira butuh uang buat acara pesta kawan." jelas Fira serius.
"Iya berapa?!" tanya Bos Gilang ke Fira.
"Satu juta," sebut Fira.
"Banyak banget. Tapi, sini nomor rekeningnya. Papa transfer. Lima ratus ribu aja ya!" sebut Bos Gilang.
"Ih papa ini pelit banget sama anak sendiri. Tapi kalau sama pembantu gembel itu, minta tiga puluh juta, langsung ditransfer!" protes Fira yang tiba-tiba membongkar rahasia Regina.
"Kamu ini lama-lama kurang ajar sama Papa. Kalau kamu nggak mau ya sudah. Beres kan?!" tegas Bos Gilang.
Hingga akhirnya, suka atau tidak suka, Fira menerima pemberian papanya, berapapun itu.
***
"Jujur. Kamu cerita apa sama Fira. Kenapa sampai dia tahu nominal yang aku transfer ke kamu!" Bentak Bos Gilang ke aku.
Aku malah heran dengan pertanyaan dia. Karena aku sendiri nggak tahu, kenapa Fira bisa mengatakan itu pada Bos Gilang.
Aku masih diam. Bingung mau jawab apa.
"Aku tanya sekali lagi. Kenapa Fira bisa tahu soal uang itu." tanya Bos Gilang membentakku dengan nada meninggi.
"Sebenarnya. Aku mau terus terang. Tapi, janji ya jangan marah sama aku." kataku pada Bos Gilang, membuat kesepakatan lebih dulu.
__ADS_1
"Sebenarnya.....," kataku, tak bisa melanjutkan ceritanya karena Fira tiba-tiba muncul di hadapan aku.
"Sialan banget, bocah tengil ini kenapa harus muncul di hadapan aku sih!" gumamku dalam hati, kesal.(***)