
Hari ini aku bersemangat berangkat kerja. Kulirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku, menunjukkan pukul 06.30 wib.
Masih ada waktu satu setengah jam lagi ke tempat kerja. Jadi aku mampir ke tempat jualan aneka jajanan tradisional. Aku beli jajanan secukupnya. Buat ganjel perut, sementara. Karena aku memang jarang sarapan pagi. Jadi makan kue pun terasa kenyang.
Sampai di tempat kerja. Rencana mau makan, nggak enak sama teman kerja. Mau dibagi sama teman, belinya terbatas. Akhirnya kuurungkan niatku, dan kuenya terpaksa sementara waktu disimpan dalam tas.
Di meja dekat kasir. Beberapa karyawan duduk di lantai, dengan gaya duduk bersila. Mereka menundukkan kepala, diam tak ada yang bicara.
Aku yang sedikit heran melihat suasana ini, terpaksa juga ikut mengambil posisi duduk bersila, sama seperti karyawan lainnya.
Ada supervisor nenek lampir. Kak Fira.
"Hei kamu! Karyawan baru! Berdiri kamu!" Nenek lampir itu memfokuskan pandangannya ke aku.
Deg! Aku kaget. Debar jantungku tiba-tiba tak karuan. Aku berdiri tapi dengan wajah ditekuk.
"Coba kamu jelaskan aktifitasmu sewaktu seharian di tempat kerja ini," perintahnya padaku.
Dengan jelas aku merinci apa saja yang aku lakukan di tempat kerja.
"Kamu ke meja belakang, bukan, sebelum balik kerja?" tanyanya dan aku pun menganggukkan kepala.
"Di meja belakang itu, kamu menemukan jam tangan Fossil warna pink, bukan? Setelah itu kamu singkirkan kemana benda itu?!" tanya nenek lampir sialan itu, langsung to the point ke inti permasalahan.
Aku terdiam.
"Ayo jelaskan, atau kamu hengkang sekarang juga dari ruangan ini kalau kamu tak bisa menjelaskannya." ancam nenek lampir itu.
Aku masih berpikir panjang. Melepas jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku, lalu aku bicara terus terang.
Sungguh aku masih berpikir mencari cara bagaimana nenek lampir itu percaya dengan penjelasan aku.
"Apa kamu pakai ya jam tangan Fossil pink itu?"
Lama-lama, akhirnya aku putuskan saja melepas jam tangan itu dari pergelangan tanganku.
"Saya nggak tahu ini punya siapa Kak. Jadi aku bawa balik. Rencana, kalau hari ini ada yang merasa kehilangan jam tangan ini, aku akan memberikannya pada orang itu." jelasku berusaha meyakinkan nenek lampir itu.
*Dia malah tertawa lepas.
"Hahahahahaha!"
"Mana ada maling mau ngaku. Kalau nggak dipaksa ngaku, mana mungkin kamu ngaku. Iya nggak sih!" celetuknya nyinyir.
"Dasar nenek lampir. Rasanya jam tangan warna pink yang masih aku genggam ini, ingin aku lempar ke muka dia. Biar benjol!" gumamku membatin kesal.
"Serahkan ke aku jam tangan itu!" perintahnya setengah membentakku.
Aku pun menyerahkannya ke dia.
__ADS_1
"Udah. Bubar. Kalian kerja lagi seperti biasa. Khusus Regina tetap di tempat." pesannya.
"Ke ruangan saya!"
Aku pun mengekorinya dari belakang.
"Duduk!"
"Maaf. Kamu diberhentikan." sebutnya dan aku menanggapinya biasa saja.
"Ingat. Kamu diberhentikan tanpa pesangon. Jadi jangan ada tuntutan apa pun. Paham kan kamu?!" tegasnya. Aku tertunduk. Tak bicara sepatah katapun.
"Kemasi barang-barang kamu di loker. Jangan ada yang tertinggal."
Sekali lagi, aku hanya menganggukkan kepala.
"Ya sudah silakan pergi kalau memang sudah tidak ada kepentingan di ruangan ini." usirnya serius.
Aku bergegas melangkah pergi, meninggalkan ruangan kerja nenek lampir itu.
***
Pulang ke rumah, dengan perasaan sedih. Bayangan mau dapat gaji bulan depan, sirna sudah.
"Bangun. Kamu nggak kerja?!" tanya ibu, yang berusaha membangunkan aku, karena dilihatnya jam dinding sudah menunjukkan pukul 08.00 wib.
Aku nggak jawab, tapi malah melingkarkan tubuhku di dalam selimut.
Karena aku cuekin, ibu malah menarik ujung jempolku.
"Hei anak pemalas. Kamu nggak kerja?" tanya ibu padaku, mengulanginya. Ia terus menarik jempol kakiku. Lalu menggelitik pinggangku.
"Geli ibu!" teriakku dengan membekap mulutku pakai guling.
"Pokoknya kalau nggak bangun, ibu gangguin terus," kata ibu, bersendagurau dengan aku.
"Ibu!"
"Geli tau!"
Terpaksa bangun. Karena tidurnya sudah nggak nyaman. Ada pengganggu.
Aku memperbaiki posisiku, duduk di ranjang tidur. Lalu ngomong ke ibu, kalau aku sudah nggak kerja lagi di tempat kemarin.
"Lah. Kenapa?" Ibu heran.
Kujelaskan alasannya. Aku nggak minat lagi kerja disana. Karena supervisornya galak.
"Dasar kamu aja kali yang nggak sabaran hadapi supervisor galak itu. Coba kamu bertahan. Pasti nanti mau dekat-dekat lebaran, dapat THR. Kan lumayan." ujar ibu.
__ADS_1
"Iya galak banget dia. Takut aku, Bu. Persis kayak singa mau menerkam orang." jelasku berusaha membuat ibu meyakini alasan aku kenapa berhenti kerja.
***
Ngelamar kerja di kedai sayur Ucok Baba.
Tanpa banyak persyaratan. Aku langsung diterima bekerja di sana.
"Kamu bantu-bantu melayani kalau ada pembeli, bisa?" itu saja syaratnya yang dia ajukan ke aku.
"Bisa Ko." jawabku dengan riang.
Aku bahagia. Karena warung Ucok Baba tak jauh dari rumah. Bangun pagi. Mandi, tinggal jalan beberapa meter, langsung sampai di tempat tujuan.
Masuk jam 07.00 wib. Balik jam 16.00 wib. Gajinya terima tujuh ratus ribu, sebulan.
***
"Gimana kamu kerja di warung Ucok. Hati-hati jangan banyak tingkah. Nanti kena pecat lagi, di Ucok Baba." celetuk ibu agak bawel.
"Ih ibu. Doa in aku dipecat lagi?" kataku protes dengan pernyataannya tadi.
"Ya nggak gitu. Ibu kan hanya mengingatkan aja. Jangan sampai buat tingkah aneh-aneh. Biar bisa langgeng kerja disana. Kalau dapat duit. Dikumpulin. Biar bisa beli mobil impian kamu." pesan ibu panjang lebar.
Dan....aku mengaminkan pernyataan ibu, dalam hati.
"Nanti kalau aku dapat gaji pertama. Ibu mau aku traktir apa?" tanyaku iseng-iseng.
"Kerja dulu yang baik. Perkara mentraktir itu gampang." sebut ibu.
"Hmmm. Ayolah bu. Bilang aja mau ditraktir apa?" desakku. Aku hanya ingin tahu ibu ingin dibelikan apa. Tapi, jujur untuk sementara aku belum punya duit. Aku janji kalau dapat gaji pertama, aku akan mentraktir makan ibu.
"Eh gimana. Galak nggak Ucok Baba itu?" tanya ibu.
"Galak dikit. Bininya apalagi. Lebih galak. Tapi nggak segalak yang supervisor aku di kafe Noname kemarin. Galak macem nenek lampir." sebutku menjelek-jelekkan nenek lampir itu.
Ah lupakan dia! Bikin kesal aja kalau ingat nenek lampir itu.
***
Pulang kerja jam empat sore, Ucok Baba memberiku uang tips. Apalagi hari itu hari minggu. Sebelumnya aku ditawari kerja atau off. Kalau kerja, dapat bonus sehari 50 ribu. Kalau off. Nggak dikasih apa-apa.
Karena pertama kerja disana. Aku memilih masuk kerja di hari Minggu. Lumayan dapat bonus. Bisa buat mentraktir ibu beli makanan kesukaannya.
"Ibu ....aku dapat bonus lembur dari Ucok Baba. Lima puluh ribu," sebutku kegirangan sembari menunjukkan uang lembaran lima puluh ribuan itu.
"Alhamdulillah." ucapnya.
"Awas jangan dibuat jajan semua. Tabung sebagian, biar bisa beli mobil impian kamu," ucap ibu penuh antusias.
__ADS_1
"Hmmmm. Nabungnya berapa. Harga mobil juga berapa. Kayaknya masih jauh impian aku itu. Kalau bisa, nikah sama duda tajir. Lebih asik. Nggak perlu kerja keras, kalau minta mobil, pasti dibelikan." kataku dalam hati, mengkhayal. (***)