
"Bos Gilang ganteng banget, ya! Aku cuma ngebatin. Lagi pula, aku bukan level dia. Dia pria kaya, aku perempuan kere. Hahahahah!"
"Kamu naksir dia ya?!" sahut Sherly to the point.
"Ih nggak lah. Dia kaya. Tapi kayaknya dia nggak suka perempuan!" selorohku. Spontan, mendengar kalimat itu, Sherly langsung membekap mulutku.
"He..sembarangan aja ni orang. Nanti dia tiba-tiba muncul di sini kan kacau." kata Sherly padaku.
"Ih mana mau. Bos tajir melintir makan di warung kaki lima." bantahku.
Tapi, entah keajaiban dari mana. Tiba-tiba bos Gilang Perdana, muncul dari belakang aku.
"Hei. Kalian juga suka makan di sini ya?" sapa pria itu dengan senyum manis yang terukir di ujung bibirnya.
Spontan aku dan Sherly langsung salah tingkah, campur terkejut, karena pria yang aku omongin itu hadir tiba-tiba di depan mata.
"Hei kalian kenapa bengong kayak lihat hantu siang bolong!"
"I.....iiiii ya.....Pak," sahutku.
"Ya Allah...semoga dia nggak denger kalimat aku tadi," kataku ke Sherly, tapi aku tulis di chat.
Padahal, kami duduk berhadap-hadapan. Takutnya kalau aku omongkan langsung, bos ganteng itu bisa dengar. Bisa mati kena bunuh dia kalau sampai ke telinganya.
Bos Gilang tak terlalu lama di warung soto tempat kami makan siang ini. Dia membeli soto untuk dibungkus.
Belum sempat rasa deg-degan tadi hilang, bos Gilang mendekat ke arahku, ke meja dimana aku dan Sherly menikmati semangkok soto.
"Sudah aku bayar ya makan siang kalian. Regina, temui saya setelah jam istirahat. Saya tunggu di ruangan saya!" Pria ganteng itu pun berlalu dari hadapan aku dan Sherly.
Aku dan Sherly kompak tarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya ke udara, pelan-pelan.
"Terimakasih ya Allah." bersamaan menghilangnya dia dari hadapan aku dan Sherly, deg-degan aku berkurang. Sekarang malah membuat aku penasaran.
"Ada apa ya aku dipanggil ke ruangannya." tanyaku ke Sherly.
"Mati lah kamu! Pasti dia dengar kalimat kamu tadi! Siap-siap dipecatlah kamu!" kata Sherly menakut-nakuti aku.
"Ih.....jangan doain aku begitu." protesku.
"Berdoa aja non. Semoga dia melamar kamu jadi istri!" seloroh Sherly sedikit membuat cair suasana hati aku yang tadinya tegang.
"Ih seriusan ini. Deg-degan tahu aku. Ada apa gerangan sampai dia menunggu aku di ruangan kerjanya. Kalau memang bahas masalah yang tadi. Tamatlah riwayatku." kataku harap-harap cemas.
***
Tiba di depan pintu ruangan kerja bos Gilang, aku deg-degan banget. Irama debar jantungku tak karuan. Rasanya aku tak kuasa melangkah ke dalam ruangan dia.
Ya Allah. Selamatkan aku dari praduga yang tak elok. Aku terus berdoa dalam hati. Rasanya pikiran aku sedang kalut. Baru selangkah masuk ke ruangan Bos Gilang, rasanya aku lemah tak berdaya untuk melanjutkan masuk ke dalam.
__ADS_1
"Tapi, gimana ini ya Allah?!"
"Masuk."
"Nggak."
"Masuk."
"Nggak. Masak mau balik kanan. Bisa dibilang pengecut aku, kalau tak berani hadapi masalah."
"Bismillah." Kuketuk pelan, lalu pintunya aku buka.
"Masuk," suara lelaki tampan itu semakin membuat jantungku tak beraturan.
"Sumpah lemes banget rasanya. Hukuman apa yang bakal aku terima ini. Selamatkan aku ya Allah."
Pikiran-pikiran negatif itu bersemayam di otakku.
"Duduk." perintahnya.
Pelan kulangkahkan kakiku, menuju kursi yang ada di hadapannya.
Meski seperti itu, aku masih tak bisa menyembunyikan kekagumanku padanya. Asli ganteng banget.
Setelah dilihatnya aku duduk, barulah dia bicara padaku.
Aku terperangah mendengarnya. Bagaimana bisa, aku yang anak baru kemarin sore, diminta jadi kasir.
"Hei. Kamu dengar bukan, kata aku?!" tanyanya membuyarkan aku yang lagi terperangah keheranan.
Tak bisa berkata-kata, aku hanya menganggukkan kepala. Karena nggak tahu mau ngomong apa.
"Kalau kamu nggak bisa. Mundur saja dari sekarang!" katanya terlihat ketus.
"Ih ini bos aneh. Kenapa dia minta aku gantikan posisi Dea. Tapi dia juga bilang kayak gitu. Dasar bos aneh?!" gumamku dalam hati.
"Paham nggak dengan perintah aku?!" tanyanya lagi mulai serius.
"Iya.....Pak." jawabku singkat.
"Soal teknik kerjanya, kamu akan dibimbing Dea selama sepekan ini," sebutnya lagi.
Lagi-lagi aku hanya menganggukkan kepala, tanda mengerti apa yang dia katakan padaku.
***
"Dea. Aku bisa ketemuan sama kamu?" tanyaku ke Dea, lewat chat.
"Hei anak baru. Jangan harap kamu bisa dapatkan ilmu dari aku. Hahahahahah!" katanya dengan jawaban yang sinis.
__ADS_1
"Hei aku sekarang gantikan posisi kamu. Jadi, kalau kamu nggak bersedia mengajari aku, nggak masalah. Aku hanya tinggal mengadukan masalah ini ke Bos Gilang. Gampang bukan? Simple!" balasku panjang lebar.
"Andai kamu nggak cari muka sama bos, dia nggak akan mengganti posisi aku dengan kamu!" jawabnya kali ini lebih ketus.
Mendapat kalimat itu aku tertawa lepas.
"Asal kamu tahu. Aku nggak pernah cari muka sama siapa pun. Kalau bos Gilang memintaku jadi kasir. Itu semua karena keinginan dia dari lubuk hati yang terdalam," jelasku lebih gamblang.
"Sok pede kamu ya!" celetuknya.
"O iya dong!" jawabku santai.
***
Keesokan harinya, Dea dipanggil. Karena dia memang nggak bersedia mengajari aku soal tata cara kerja kasir.
"Jangan main-main kamu, sama aku. Kamu kan.....yang ngaduin aku ke Bos Gilang?! Dasar najis!" Dea marah sama aku.
Tapi aku nggak peduli. Karena dia menjadikan aku sebagai musuh, maka aku balas perbuatan dia, dengan mengadu ke Bos Gilang bahwa dia nggak bersedia mengajari aku.
"Kamu pikir, aku takut sama kamu!" kataku dengan mantap, menantangnya.
"Kita ketemuan di parkiran belakang kafe!" katanya serius.
"Oke." Aku pun berani menghadapi tantangannya.
Disana, di parkiran belakang kafe Moon, aku dan dia bertemu. Dia bilang, akan buat perhitungan sama aku.
"Sombong banget jadi orang. Baru mau diangkat jadi kasir. Ini sudah ngadu ke bos!" kata Dea, dengan tatapan
tajam ke arahku.
"Makanya kamu jangan sembarangan sama aku. Aku memang anak kemarin sore. Tapi, berhasil menarik perhatian bos Gilang. Lah kamu......udah bulukan. Bos Gilang malah menendang kamu. Kasian kamu ya!"
***
Sejak pertengakaran itu, Dea tak lagi melanjutkan bekerja di Kafe Moon. Sepertinya dia lebih memilih mundur daripada bertahan. Syukurlah! Nggak ada musuh dalam selimut lagi, sekarang!
Sherly memberikan dukungan buat penunjukan aku sebagai kasir.
Katanya, "selamat ya bisa jadi orang kepercayaan bos Gilang, hanya dalam hitungan detik! Sepertinya Bos Gilang jatuh hati pada seorang Regina."
"Hahahahaha. Ngawur kamu. Mana ada, bos setajir Bos Gilang suka sama aku cewek yang dekil kayak aku." jawabku merendah.
"Tapi, doain dia jatuh hati sama aku ya Sher!" kataku becanda.
"Hahahahahaha dasar cewek matre!" celetuk Sherly sesukanya.
Kukatakan padanya, sebenarnya semua cewek itu matre. "Kalau nggak matre itu, ya cewek yang udah nggak bernyawa!" (***)
__ADS_1