Nikah Sama Duda

Nikah Sama Duda
Curhat Bos Gilang


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul 24.00 wib. Aku harus balik ke kosan aku. Karena, kalau pulang  terlalu malam, atau sampai dini hari, bisa dicurigai sama ibu kos nanti.


Setelah merapikan penampilanku, aku bergegas keluar dari kamar Bos Gilang. Tapi, sebelum aku melaksanakan niatku, Bos Gilang sudah menghadangku di pintu.


"Hei Nona centil. Mau kemana kamu. Ini sudah larut malam. Ratuku, nggak boleh kelayapan malam-malam. Kalau jam segini, ratuku harus ada di dekapan aku!" katanya sok romantis.


"Gagal niatku balik ke kos malam ini." batinku.


"Mau berapa kali. Aku sudah bilang sama kamu, kamu tinggal di sini. Selamanya." tegasnya.


"Lupa?! Padahal kan belum jadi nenek-nenek eh sudah lupa." katanya sambil menyandarkan kepalanya di pundak kiriku, dan masih dengan tangan yang dilingkarkan di pinggangku.


"Lagian, kamu di kos juga sendiri. Lebih baik, temani aku malam ini. Aku suka takut kalau sendirian." katanya, masih manja padaku.


"Hahahahahaha. Lebai kamu, Pak!" kataku mentertawakan ya.


"Ih nakal dia ini. Sejak kapan aku jadi bapak kamu. Panggil aku Mas Gilang!" tegasnya.


***


"Nih. Pegang atmnya. Untuk kamu. Pin-nya 2357. Pakai sesukamu. Saldonya ada 50 juta. Kalau kurang bilang aja,"


Rasanya aku masih nggak percaya dengan semua yang dia berikan untukku.


"Kita ke Spa ya, sekarang, kalau kamu sudah siap dandan," ajaknya setelah melihatku selesai mandi.


"Beneran ke Spa?" tanyaku.


"Iya aku mau ratuku cantik banget dan wangi saat di dekatku." katanya sembari mendaratkan ciuman kecil di keningku.


"Tapi, aku nggak ada uang," kataku, jujur padanya.


"Ihhh ini orang ngajak kelahi. ATM itu isinya ada 50 juta. Kalau kurang, aku transfer lagi nanti. Tenang aja. Aku nggak minta ke Spa pakai uang kamu. Tapi pakai uang yang ada di ATM aku itu. You understan, nona cantik sejagad raya?!" katanya, selalu mesra padaku.


***


Di Spa Monalisa.

__ADS_1


Di sana, Bos Gilang meninggalkan aku. Dia janji mau jemput setelah perawatan di spa, beres.


"Nanti aku jemput, sayang ya. Kabari kalau kamu siap perawatan," pesannya by ponsel.


"Oke," jawabku singkat, dan aku mulai memilih treatmen yang ada di dalam daftar Spa Monalisa.


"Kak. Aku mau luluran yang paket lengkap. Sama hair spa." sebutku dengan percaya diri.


"Oke Kakak. Silakan masuk ke ruangan kita. Disana ada pelayan yang akan menemani perawatan yang kakak inginkan." kata pelayan itu dengan ramahnya.


Rasanya seperti mimpi. Hidup di istana dengan seorang pangeran yang kaya raya. Memberikan segala yang aku inginkan. Cinta dan juga materi.


Ya.....pelan-pelan aku mendapatkan apa yang aku inginkan selama ini.


"Mas aku sudah siap. Jemput aku dong." kataku memberitahunya lewat chat.


"Oke....tuan putri. Ditunggu ya." balasnya. Dalam hitungan setengah jam kemudian, mobil Pajero Sport Hitam metalik itu sudah parkir di depan Spa Monalisa.


"Hmmmmmm.......semakin menggairahkan, ratuku ini. Aku kangen lagi nih. Malam kita main billiar lagi ya." katanya menggodaku lagi.


Aku menarik nafas panjang lalu berusaha melempar senyum termanis ke Bos Gilang.


"Ih.....nggak mau." kataku pura-pura menolaknya. Padahal, dalam hati, aku ingin memberikan permainan yang terbaik, buat dia. Ya ....aku harus balas budi ke Bos Gilang. Karena, dia sudah memberikan segalanya buat aku.


***


Sampai di rumah, dan kami hanya berduaan di kamar. Bos Gilang sedikit curhat.


Katanya, dia lelah banget seharian ini.


Urusan kafe, banyak banget. Tapi, dia sudah menyerahkan ke Hendri, pengganti posisiku di kafe.


Ya sejak dia memintaku tinggal di rumahnya, aku nggak diizinkan ke kafe lagi.


"Besok kita ke mall. Kamu beli baju tidur yang sexy ya," katanya.


"Ih seriusan?" tanyaku sedikit heran.

__ADS_1


Entah kenapa dia tiba-tiba ingin curhat tentang masa lalunya.


"Aku dulu nggak pernah dimanjain sama istriku." katanya lirih.


"Ketiga anakku, semua dalam asuhan aku."


"Mereka dekatnya sama aku. Karena, sama emaknya nggak diurus. Emaknya sibuk arisan. Kalau nggak arisan, nongkrong sana sini sama kawan-kawannya di mall. Gaya dia macem selebriti. Beli barang-barang branded. Pokoknya dalam sebulan  itu dia habis sampai ratusan juta, uang yang di hambur-hamburkan untuk keperluan yang tak penting. Nanti kalau aku tegur, dia marah. Aku dibilang  suami pelit. Akhirnya, lama-lama aku nggak tahan lihat sikap dia yang suka-suka seperti itu." cerita Bos Gilang tentang mantan istrinya yang sekarang sudah dia ceraikan sejak 3 tahun silam.


"Alasan cerainya, kami sudah tidak ada kecocokan. Hingga akhirnya aku usir dia dari rumah, setelah surat cerainya dikeluarkan pihak pengadilan agama."


"Makasih ya kamu sudah menemani aku dalam satu bulan ini. Jujur aku selama kesepian banget, meski ada anak-anakku." akunya jujur padaku.


Aku hanya mendengarkan semua keluh kesahnya, tanpa menimpalinya.


"Terima aku apa adanya ya. Aku janji akan membahagiakan kamu, sepanjang hidupku," katanya berjanji padaku, dengan mesranya.


"Terimakasih ya Allah. Dia sudah Kau kirimkan untukku. Melengkapi kekuranganku. Ya aku hanya gadis miskin yang berharap cinta pria kaya. Terimakasih Engkau sudah mengabulkan doaku selama ini." kataku dalam hati.


"Hei....kenapa kamu diam?" tanya Bos Gilang yang mencoba mencubit kecil pipiku.


"Ya kan aku sebagai pendengar yang baik. Jadi tugasku, ya hanya mendengarkan dengan baik, cerita calon suamiku ini," kataku yang juga balik mencubit pipinya.


"Ih aku cubit dia kecil aja, eh ini cubitan dia sakit banget sih. Panas rasanya!" sebutnya sembari mengelus pipinya yang terlihat memerah karena aku cubit sedikit kuat.


***


Di kamar aku merenung sendiri. Sebenarnya aku mencintai Bos Gilang atau hanya sekedar suka. Tiba-tiba aku kepikiran soal keberadaan mantan istrinya.


Jujur, aku masih takut menjalani semuanya dengan Bos Gilang. Karena, Bos Gilang tak bakalan seutuhnya milikku. Tapi milik anak-anaknya.


Anak-anaknya saja, masih belum bisa menerima seutuhnya kehadiran aku di tengah keluarga mereka.


Aku menghela nafas panjang. Masih ragu dengan apa yang menjadi pilihan aku saat ini.


"Eh Regina. Jangan pakai mikir lagi. Bos Gilang itu pria impian banyak perempuan. Kalau kamu lepasin dia. Kamu akan menyesal seumur hidup. Kamu nggak akan dapatkan pria setajir dia lagi." bisik hati kecilku, pelan.


"Kamu nggak takut nanti kalau sudah jadi istrinya. Kamu bakal diteror atau dimusuhin sama anak-anak Bos Gilang atau pun istrinya." kataku masih membatin, bicara sendiri dalam hati.

__ADS_1


Tapi, memang benar bahwa kesempatan ini tak akan terulang lagi di masa datang, andai aku meragukan keberadaan Bos Gilang di hatiku.


*Kamu tahu  nggak. Bos Gilang itu cinta mati sama kamu. Kalau nggak cinta. Ngapain dia berikan segalanya, buat manjain kamu." masih kata batinku yang sedari dulu ingin menolak hubungan terlarang ini. Ya.....aku tinggal di rumahnya, tanpa ikatan cinta yang sah. Tapi, Bos Gilang janji ke aku, tiga tahun lagi, dia akan mempersuntingku, setelah aku tujuh belas tahun nanti.(***)


__ADS_2