Nikah Sama Duda

Nikah Sama Duda
Bisik-Bisik Tetangga


__ADS_3

Untuk kesekian kalinya, aku mendengar percakapan emak-emak di komplek. Yang membicarakan soal kehidupan ibu.


Mereka memanggil ibuku, dengan sebutan Mak Egi. Karena dia memakai panggilan dengan nama aku, Regina.


"Dia dulu katanya pernah jadi orang kaya. Simpanan pria tajir. Tapi, mana. Sekarang buktinya hidup juga pas-pasan. Tinggal di rumah sederhana. Jangan-jangan dia itu cuma ngayal aja, pernah jadi istri simpanan pria tajir." Itu kalimat-kalimat perbincangan para emak-emak yang nggak ada kerjaan.


***


Pulang ke rumah. Kubanting pintu kamar. Lalu aku rebahan di kamar. Kesal banget rasanya mendengar topik perbincangan emak-emak tadi sore itu.


Tak terima dengan sikap aku. Ibu langsung mengintrogasiku. Menanyakan kenapa aku bersikap kasar seperti itu.


"Kenapa kamu banting-banting pintu kamar." tanya ibu sembari menarik jempol kaki aku.


Karena aku cuek, ibu mencoba menjewer telingaku. Sekuat tenaga aku pun menjerit karena kesakitan.


Aku yang tadinya rebahan, terpaksa membenarkan posisiku, duduk sambil memeluk guling.


"Kamu kesambet dimana! Balik-balik pakai banting-banting pintu segala. Kau kira aku ini siapa kamu. Aku ini ibu kamu. Hargai sedikit kenapa!" kata ibu, dengan nada membentak.


"Cerita nggak. Cerita nggak. Cerita." bingung.


"Bismillah semoga aku berani cerita apa adanya ke ibu," ucapku dalam hati.


"Hei! Ibu mau tau! Kenapa dengan kamu. Kenapa kamu jadi berandalan sekarang!" tanyanya sembari melemparkan tamparan di pipi aku. Seketika aku pun menangis. Rasanya pipi aku terbakar. Karena tamparan ibu yang begitu kuat.


"Kamu ini kurasa kesambet setan alas. Buktinya kamu sekarang jadi pencuri kelas kakap!" ucap ibu.


"Aku mau tanya. Kamu kapan sadar. Berhenti  nggak mencuri. Kalau kamu nggak sadar juga. Mau kamu dihajar massa, kalau suatu hari ketahuan orang banyak?!" tanya ibu terus nyerocos sendiri.


"Ada alasannya kenapa aku melakukan itu. Bu." ceritaku ke ibu.


"Apa alasannya!!" bentaknya.


Perasaan, sepertinya sudah aku katakan tempo hari. Ibu dikata-katain pernah jadi orang nggak bener," kataku, blak-blakan ke ibu.


"Lho terus kamu emosi? Marah? Terus kamu mencuri? Bodoh banget kamu itu ya jadi orang," ucap ibu, dengan emosi.


"Diam. Itu sudah cukup. Jangan balas perbuatan orang jahat. Biar Allah yang balas."


"Lagian. Kenapa kamu ini ya. Ikut ngurus-ngurus urusan orang tua. Kamu itu masih kecil. Belum 17 tahun. Ngapain anak kecil ikut campur urusan orang tua!" tegas ibu berapi-api.

__ADS_1


"Aku nggak mau kalau ada orang jelek-jelekin ibu."


"Biar saja, orang-orang itu jelek-jelekin ibu. Ibu nggak masalah. Jadi, mulai sekarang, kita nggak usah digubris kalau dijelek-jelekin orang." pesan ibu ke aku.


Aku berlalu dari hadapan ibu. Masuk ke kamar, lalu rebahan.


***


"Dengar-dengar, anak si pirang katanya kerja di Ucok Baba ya?"


"Iya. Kenapa Ucok Baba terima kerja ya. Apa nggak takut nanti kalau barang-barangnya dicuri."


Aku mendengar percakapan itu saat mereka belanja di warung Ucok Baba. Kebetulan aku nggak menampakkan diri di hadapan mereka. Tapi aku mendengar percakapan itu dengan jelas.


Sedangkan mereka berdua juga nggak tahu aku ada di sekitar dekat mereka. Ya aku ngumpet di kamar mandi.


"Kalau nggak salah. Itu suara mamaknya Garin." tebakku dari dalam kamar mandi.


"Regina!" teriak Ucok Baba, memanggil.


Aku dengar, teriakan Ucok Baba. Tapi, aku sengaja nggak mau jawab. Nanti saja kalau dua emak-emak itu pergi dari warung Ucok Baba.


"Mana budak satu itu. Kerja tapi nggak jelas!" gerutu Ucok Baba yang samar-samar sampai ke telingaku, meski aku ada di dalam kamar mandi.


Beberapa menit kemudian, setelah kedua emak-emak itu sudah hengkang, aku baru keluar dari kamar mandi.


"Iya Om. Maaf tadi di toilet sakit perut." kataku, ngaku sendiri, meski belum ditanya Ucok Baba.


"Hmmmm. Dasar. Dipanggil dari tadi, diam saja." Om Uchok Baba itu ngomel melulu.


"Iya Om lagi konsen di kamar mandi," selorohku becanda.


"Iya sudah sana kerja lagi. Rapikan barang-barang di rak, yang berantakan." perintahnya.


"Oh ya kalau kamu mau balik cepet, hari ini nggak apa-apa. Lagian juga tanggal tua. Warung kita agak sepi. Maklum. Orang belum pada gajian."  imbuh Uchok Baba, serius.


"Yessss. Boleh balik cepet ya Om? Tapi nanti potong gaji ya?" tanyaku, sebelum aku beranjak pergi meninggalkan warung Uchok Baba.


*Iya. Potong 50 ribu!" sebut Uchok Baba terlihat serius banget.


"Nggak jadi lah Om. Regina balik normal saja. Sesuai jam kerja yang berlaku." kataku membatalkan niat mau balik cepet.

__ADS_1


"Becanda. Nggak dipotong gaji, kok. Kebetulan Oom sama orang rumah mau main ke rumah anak. Jadi mau tutup cepet." jelasnya.


"Dasar sialan! Laki-laki gaek. Kerjanya ngeprank orang aja." gerutuku dalam hati. Tapi, akhirnya aku kegirangan, karena dikasih  kesempatan balik cepat.


Tanpa banyak tanya. Aku langsung pamitan sama Uchok Baba.


"Ya sudah Om. Regina balik dulu ya, sampai ketemu besok," kataku, bergegas keluar dari warungnya.


"Iya.....sana balik. Besok jangan telat lagi ya datang ke warung." pesannya, dan aku hanya menganggukan kepala, tanda aku mengiyakan apa kata Uchok Baba.


***


Sampai di rumah, aku rebahan sebentar. Belum juga jam 16.00 wib. Masih ada waktu rebahan satu jam lagi. Jam 17.00 wib nanti baru mandi.


"Regina. Sini sebentar!" teriak ibu dari dapur.


"Bantu ibu sini. Buat acara besok."


Malas banget kalau disuruh bantuin masak.


"Regggggg!" teriak ibu lagi, dan aku masih malas-malasan buat gerak ke dapur.


"Regina. Bantulah ibu. Besok ada acara. Ini buat sambel goreng kentang. Tolong kupasin kentangnya aja," kata ibu dan aku masih saja cuek.


Hingga akhirnya aku ngantuk berat. Kupejamkan mata.


"Bangun.....Maghrib ini. Anak gadis mana boleh tidur waktu  Maghrib," kata ibu yang mencoba membangunkan aku.


"Ya ampun......ini anak pemalas banget. Sana mandi. Sholat Maghrib. Terus kita makan bareng. Ibu tadi masak sambal goreng kentang ati. Makanan kesukaan kamu." Ibu terus menggoncang-goncangkan tubuhku, sampai aku bener-bener sadar dan segera bangun.


"Tunggu semenit lagi Bu. Masih ngantuk berat ini." kataku, bernegosiasi.


"Nggak. Apa-apaan ini. Anak gadis pemalas. Maghrib-maghrib nggak ada tidur-tiduran. Bangun!" bentak ibu, sembari menarik jempol kaki aku.


"Aduh. Sakit tau," teriakku saat ibu terus menarik-narik jempol kakiku.


Tak hanya itu. Bantalku juga diambilnya.


"Bangun!" Bentaknya lagi lebih kuat.


Karena kegaduhan itu, aku pun terpaksa bangun. Padahal, kepalaku masih terasa berat. Tubuhku masih menuntut haknya, masih ingin rebahan, barang satu jam atau dua jam.

__ADS_1


"Mandi sana! Eh ini malah pindah di sofa ruang tamu. Sana mandi!" perintah ibu lagi, masih kesal karena melihatku pindah posisi tidur di sofa ruang tamu.(***)


__ADS_2