
Jam 07.00 wib. Pagi ini aku buru-buru. Karena ada janjian sama Sherly, mau melanjutkan pencarian kos-kosan cewek. Semoga petualangan hari ini berhasil.
"Woi mandi apa mandi. Cepetan dikit. Om Harry juga mau kerja." teriak ibu sambil gedor-gedor pintu kamar mandi.
Ya Allah, hidup aku memang benar-benar tak tenang sejak ada manusia asing di rumah ini.
Mandi sambil nangis sesenggukan, aku pun terpaksa mempercepat mandiku, pakai handuk lalu ke kamar. Lagi-lagi aku ingin banting pintu. Ya.....untuk meluapkan kekesalan aku, aku hanya ingin banting pintu sambil nangis sesenggukan.
"Hei ini anak makin jadi ya dibiarin. Setiap hari kerjanya banting pintu. Rusak, kamu tanggung ya kalau pintunya rusak!" Ibu masih teriak-teriak memarahi aku, di depan pintu kamarku.
"Cepat keluar kamu, Reg. Aku mau kamu jelaskan. Kenapa masalahnya kamu ini. Makin lama. Kamu makin kurang ajar sama orang tua."
"Keluar!"
*Brak!
Bersamaan dengan gebrakan itu, aku semakin menangis sejadi-jadinya, bercampur rasa takut. Takut ibu akan menganiaya aku.
"Sekali lagi nggak kamu buka. Aku dobrak kamar kamu!" teriak ibu penuh emosi.
"Sudahlah. Sabar. Dia lagi pengen banting pintu aja, kali," kudengar Om Harry berusaha menenangkan ibu yang tengah terbakar api emosi.
Pelan-pelan, aku pun membuka pintunya dan mengakui kesalahan aku.
"Maafin Regina Bu. Regina buru-buru mau ke tempat kerja yang baru," jelasku berusaha bicara selembut mungkin, agar ibu tak memarahi aku.
Ibu yang sedang dirangkul Om Harry, hanya diam. Sepertinya emosi ibu sudah mereda. Tak meledak-ledak seperti tadi. Tadi, persis seperti orang yang lagi kesurupan.
"Bagusnya kamu nggak balik-balik, daripada di rumah bikin tensi aku naik!" kata ibu mulai menaikkan lagi nada bicaranya.
Aku hanya diam. Tapi tak lama aku pamitan mau keluar.
***
Sherly menepati janjinya. Dia datang ke rumah, menjemputku.
Sebagai tanda agar Sherly tak banyak omong. Aku langsung memintanya diam.
"Sttttt.... Jangan ngomong apapun ke ibuku. Aku bilang ke dia, mau berangkat kerja." kataku setengah berbisik di telinga Sherly.
"Baiklah kalau begitu." Aku dan Sherly pun berlalu dari rumah.
***
"Aku sedih pagi ini. Kalau kamu jadi aku, pasti kamu nggak akan kuat menjalaninya," ceritaku dengan mata berkaca-kaca.
"Eh kenapa ini. Nona cantik malah mau mewek."
__ADS_1
Kebetulan. Kami berhenti di warung pecel Mbah Juare, jadi kami singgah makan pecel. Sambil menunggu pesanan pecelnya datang, aku curhat sama Sherly.
"Ceritain ke aku dong. Selama ini kulihat kamu seperti happy selalu. Bahkan selfi-selfi di sosmed kayak nggak ada beban." celetuk Sherly asal-asalan.
"Ah itu kan pencitraan aku saja. Biar ada duda tajir yang liat. Just kidding....!" candaku.
"Tahu nggak apa yang buat aku saat ini sedih?" Aku mulai curhat blak-blakan ke Sherly.
"Nggak. Emang apa?" tanya Sherly penasaran.
"Ibuku nikah lagi. Apa nggak bikin aku stress!'' sebutku serius.
"Apaaaaaaa?!" mata Sherly membulat.
"Iya!" tegasku.
"Terus, suami ibu kamu itu tinggal di rumah kamu ya?!" tebak Sherly.
"Tepat banget tebakan kamu. Jadi, segala sesuatunya yang diprioritaskan ibu, hanya suaminya. Sedangkan aku. Kini lebih banyak terabaikan." ceritaku blak-blakan, detail.
"Lagi enak-enak mandi, disuruh cepet-cepet. Semua demi laki-laki sialan itu. Makan pun, ibu aku cuek. Sudah makan apa belum, sekarang ibu cuek. Karena baginya yang utama adalah suaminya. Pokoknya perlakuan ibuku ke aku, macem anak tiri." jelasku lagi.
"Sabar. Mau gimana lagi. Kan kalian satu rumah." kata Sherly menenangkan aku.
"Makanya, aku minta tolong sama kamu, cari kos-kosan. Aku mau hidup mandiri aja. Nggak mau tergantung ibuku lagi," masih kataku, penuh antusias.
***
Pencarian tempat kos-kosan cewek, hari ke tiga masih belum membuahkan hasil. Tapi aku tak patah arang. Aku tetap mencari, meski tak ditemani Sherly.
Pagi itu aku buru-buru mau ke luar. Seperti biasa. Aku pemakai kamar mandi yang pertama. Ibu dan Om Harry belum bangun. Maklum, jam lima subuh.
Pikirku, karena masih pagi banget, aku pun santai, mandi di kamar mandi. Mandi sambil luluran, itu kebiasaan aku.
Tak sekedar santai sambil luluran. Aku juga suka bernyanyi kecil di kamar mandi.
Tiba-tiba ibu bangun. Gedor-gedor pintunya. Aku disuruhnya buruan, karena ibu juga mau ke kamar mandi. Begitu juga dengan Om Harry.
"Reg. Cepet mandinya. Ngapain aja dari subuh tadi di kamar mandi. Cepet.....cepet.....!" sambil terus menggedor pintu kamar mandi.
Hati yang tadinya riang gembira, kini berubah sedih bercampur emosi. Ketenangan aku terusik oleh keduanya, Ibu dan Om Harry.
Akhirnya aku pun segera mengakhiri mandiku, bergegas masuk ke kamar.
Dengan perasaan yang tak karuan. Aku pamit, alasan mau cari kerja.
"Bu, Regina pergi dulu ya. Hari ini mau cari kerja," itu hanya trik aku, supaya terbebas dari suasana hati yang berantakan, pagi ini.
__ADS_1
"Hmmm...." sahut ibu singkat.
Karena nggak diantar Sherly, aku naik angkot. Berhenti di pangkalan ojek. Disana, ada langganan ojek aku yang setia mengantar kemana aku mau.
*Bang Gojek, antar aku ke daerah kos-kosan, ya. Tapi jangan ke kosan cowok." kataku pada Abang Gojek itu.
"Lima puluh ribu," sebutnya.
"Kurang lagi Bang. Bisa nggak?" kataku bernegosiasi dengan pria itu.
"Ya sudah empat puluh," sebutnya, memberikan keringan ongkos ke aku.
Aku menganggukkan kepala, tanda setuju. Lalu aku naik ke boncengan motornya.
Tak lama, lokasi kos-kosan yang aku cari, akhirnya aku dapatkan.
"Tunggu sebentar ya bang aku tanya sama pemilik kos-nya, apa masih ada kos yang kosong."
Abang Gojek itu pun menunggu dengan sabar.
Seorang laki-laki tua, yang aku perkirakan usia lima puluhan tahun lebih, menyambut salamku, saat aku berada di depan teras rumahnya.
"Cari siapa, Mbak?" tanyanya.
"Maaf Pak saya mau tanya, apa masih ada satu kamar yang kosong?" tanyaku harap-harap cemas menunggu jawaban lelaki itu.
"O....mau cari kos?"
Aku menganggukkan kepala. Lalu tak lama dia menjawab sesuai dengan harapan aku.
"Ada. Satu lagi masih kosong. Baru saja ditinggal sama penghuninya. Karena dia pindah ke kos lain," sebutnya.
Seketika, mendengar jawaban itu, aku lega.
"Berapa pak sebulan bayarnya?"
"Lima ratus ribu sudah ada kamar mandi di dalam. Berminat?" dia bertanya balik padaku.
"Oke Pak. Saya mau. Mulai hari ini boleh, saya langsung masuk?"
Dengan ramahnya dia langsung menerimaku.
"Boleh sekali Mbak. Saya siapkan dulu ya." katanya bergegas menuju salah satu kamar, lalu membuka pintunya.
Aku pun meminta Abang Gojek itu segera meninggalkan aku, di kosan itu. Kubilang sama dia, kalau aku bakal langganan Gojek sama dia nantinya.
"Oke Non. Kabari kalau memang butuh jasa Gojek aku." katanya, dan aku menyerahkan uang gojeknya.(***)
__ADS_1