
Sore itu aku buru-buru balik ke rumah setelah jam kerjaku di kafe Noname sudah berakhir. Ya.....setiap jam 17.00 wib, aku pulang. Posisi aku digantikan dengan yang lainnya.
"Lega rasanya ya Allah. Hari ini selesai sudah kerjaku. Kini tiba saatnya rehat di rumah. Tapi gajian masih lama. Baru juga pertengahan bulan." kataku bicara sendiri dalam hati.
Sabar.....
Andai saja punya motor sendiri. Pasti aku nggak capek nunggu angkot di halte.
"Tunggulah. Aku harus bisa beli motor. Apapun nanti caranya. Aku akan berusaha sekuat tenaga."
Masalahnya, nggak mungkin minta antar jemput setiap hari, sama Sintia, si besti aku itu. Jadinya aku balik naik angkot.
"Kapan punya kendaraan sendiri. Biar bisa lincah gerak kemana-mana," kataku masih membatin.
Sebuah angkot combat, tepat berhenti di depan aku. Dimana aku berdiri di halte tempat biasa menunggu angkot.
"Jalan Pancenongan ya Pak, berapa ongkosnya?" tanyaku. Karena ini pengalaman pertama kali naik angkot.
"Ya Neng naik aja. Tu ada harganya ditulis di pintu." kata Abang supir angkot itu.
Sepintas saja aku membaca lembaran kertas yang tertempel di pintu masuk angkot itu.
Masih lumayan. Dua ribu lima ratus rupiah. Nggak sampai lima ribu.
Di angkot, aku sedikit terhibur dengan lagu India yang diputar si empunya angkot.
Termenung sambil menikmati hembusan angin kencang yang masuk begitu saja ke jendela angkot yang tak berkaca itu.
Lima belas menit kemudian, angkot yang melaju membawaku menuju rumah itu. Berhenti tepat di gerbang perumahan tempat tinggal aku.
Maklum rumah aku dekat jalan raya. Jalan kali menuju ke rumah juga tak sampai lima ratus meter. Intinya, rumah aku dekat dengan jalan raya.
***
Sampai di rumah, kulihat Pak RT ada lagi di ruang tamu.
Sungguh dia bukan orang yang aku harapkan kehadirannya di depan aku. Karena, dia sudah merusak segala tatanan suasana hati aku.
"Duduk Reg!" perintah ibu yang melihat kedatangan aku pulang kerja.
Sambil bersungut-sungut aku pun menuruti perintah ibu untuk duduk di sofa ruang tamu.
"Regina. Jujur ya kamu sama ibu!"
Aku masih diam karena aku masih belum paham, dalam hal apa aku disuruh jujur sama ibu.
__ADS_1
Aku disidang sama ibu. Seperti pesakitan yang bersalah.
Ya aku disuruh ngaku, soal jaket sweater warna pink milik Ratna.
Sore itu, aku memang pakai jaket warna pink. Aku langsung melepasnya. Kuletakkan di meja tamu. Tanpa berkata-kata dan dengan wajah bersungut-sungut aku masuk ke kamar.
Ibu meneriaki aku. Memintaku keluar dari kamar. Karena pembicaraan sore itu belum selesai.
Aku tetap saja tak mau keluar. Kukunci pintu kamarnya dari dalam.
Tak lama, kudengar Pak RT pamit balik. "Syukurlah kalau manusia sialan itu sudah pergi. Aku benci dia!"
Setelah Pak RT pergi. Ibu menggedor-gedor pintu kamarku.
"Hei anak monyet. Keluar nggak kamu. Kalau kamu nggak keluar. Aku gembok saja kamar kamu dan kamu nggak usah keluar dari kamar seumur hidupmu!" ancam ibu terlihat serius mengatakan itu ke aku.
Pelan-pelan, dibarengi rasa ketakutan, aku pun membuka pintunya.
"Hei. Anak berandal. Sini kamu ngaku dulu sama ibu!" katanya, sembari menyeret tanganku menuju kursi ruang tamu.
"Kenapa sih kamu suka bikin ulah! Malu-maluin orang tua aja kamu!" katanya sambil mendaratkan cubitan kecil yang sakitnya tak ketulungan.
Spontan aku pun menjerit sekuat-kuatnya.
"Kamu mau jadi pencuri ulung di komplek ini?! Iya kan!?" bentak ibu.
"Kenapa kamu mencuri barang-barang orang itu?" tanya ibu tegas.
Aku masih tak ingin bicara. Karena bekas cubitan kecil di pahaku tadi, masih terasa ngilu.
Sepertinya, ibu kesal. Seketika dia pun mencubitku untuk yang kedua kalinya. Aku menangis sejadi-jadinya. Menahan sakitnya cubitan ibu yang kedua kalinya itu.
"Kamu ini anak kurang ajar ya! Bikin malu orang tua!"
Ibu menggebrak meja ruang tamu.
BRAKKKKK!
"Coba kamu ngaku! Kamu kan pencurinya?! Dasar maling!" Kecil-kecil sudah belajar jadi pencuri. Kalau gede nanti mau jadi apa kamu!" bentaknya lagi semakin menguat.
Aku hanya menangis sesenggukan. Tak mau ngomong sepatah katapun.
"Mulai sekarang. Awas kamu ya. Sekali lagi buat masalah, Pak RT lapor ke ibu, ada warga yang kehilangan barangnya. Kamu nggak usah tinggal di komplek ini lagi. Pergi kamu jauh-jauh!" ancam ibu, sambil menolak kepalaku.
Mendengar itu, aku semakin takut. Terus aku tinggal dimana?
__ADS_1
"Ibu kejam sama anak sendiri." batinku.
***
Keesokan paginya, Pak RT datang lagi ke rumah. Katanya, Mak Ratna ngadu ke Pak RT, kalau komplek perumahan ini sudah tidak aman. Baju gamis yang ada di jemurannya juga banyak yang hilang.
Ibu kesal. Kali ini dia membela aku.
"Pak RT. Masuk akal nggak sih kalau anak saya curi baju gamis emak-emak. Untuk apa coba?!" kata ibu dengan suara yang meninggi.
Pak RT langsung memprotes kalimat ibu.
"Ibu. Saya minta izin ya bicara sama Regina," pinta Pak RT.
Di sisi lain aku deg-degan juga kali ini. Apa iya aku harus mengakui tuduhan Pak RT itu.
"Regina. Bapak mau tanya. Kemarin Regina siang-siang jam 14.00 wib sempat berada di teras Mak Ratna ya?"
Aku langsung menggelengkan kepala dua kali.
"Ada anak tetangga sebelah melihat katanya Regina disana." ucap Pak RT lagi, langsung menohok padaku.
"Regina! Jawab!" perintah ibu dengan mata membulat. Bola matanya seakan mau keluar dari kelopak matanya.
Karena aku masih diam membisu, ibu tiba-tiba mendekati aku. Langsung menjewer telinga kananku, hingga membuat aku berdiri, mengikuti tarikan tangan ibu, di telingaku.
"Ampun Bu," kataku memohon padanya sambil terus menangis tak henti.
Ibu langsung memintaku duduk di dekatnya, lalu melepaskan tangannya dari kupingku.
"Ibu mau tanya kamu Regina. Kenapa kamu mempermalukan ibu seperti ini, Nak. Jawab! Ibu jujur aja malu, punya anak kamu." keluh ibu, sambil meneteskan air mata.
"Pak RT. Begini saja. Mulai detik ini, kalau ada kejadian pencurian lagi di komplek ini, dan terbukti dia pelakunya, terserah saja Pak RT mau apakan anak saya ini. Saya menyerah Pak RT." kata ibu yang masih terus meneteskan air matanya.
Aku sedih mendengar pernyataan ibu itu. Berarti, mulai sekarang aku nggak punya siapa-siapa lagi yang bisa melindungi aku.
Ibuku saja, nggak peduli lagi sama aku.
"Ibu....., andai ibu tahu apa alasan aku melakukan semua ini, ibu pasti membela aku mati-matian. Tapi, ibu nggak tahu. Sekarang ibu malah mencampakkan aku begitu saja. Ibu ...suatu hari nanti aku akan menceritakan semuanya ke ibu. Biar ibu tahu betapa aku sayang sama ibu." gumamku dalam hati.
"Maaf Ibu. Bukan bermaksud apa-apa. Masalahnya, sudah banyak warga di komplek perumahan kita ini mengadu ke saya. Mereka mengeluh. Rumah mereka mulai nggak aman.
Aku masih tertunduk dengan air mata yang terus membasahi pipi. Ibu juga tak henti menangis.
"Maafkan aku ya Bu. Sudah banyak membuat ibu malu. Karena, inilah jalan satu-satunya cara aku membalaskan dendam ibu atas perbuatan mereka-mereka di sana," kataku masih dalam hati. Aku belum berani bicara jujur sama ibu. Tapi aku punya niat suatu hari akan aku ceritakan semuanya pada ibu.(***)
__ADS_1