
Bersyukur bisa diterima kerja di kafe Moon. Aku pun bertekad, harus kerja serius, biar bisa mewujudkan apa yang aku impikan.
"Sher. Jemput aku ya. Besok aku pertama kerja. Nebeng ya aku sama motor kamu. Aku janji kalau udah ada duit buat bayar DP nya aku bakal ambil motor. Gantian kalau kamu mau nebeng aku, boleh." kukatakan itu pada Sherly, agar dia bersedia menjemputku di kosan. Lagi pula, kami satu tempat kerja.
"Iya.....aman. Tanpa kamu suruh juga aku akan jemput kamu, biar aku ada temannya," jawab Sherly serius.
"Ih....makasih banget ya Sher. Aku akan selalu ingat, jasa-jasa kamu. Udah nolongin aku di waktu susah begini," kataku sedikit lebai.
"Hahahahaha. Apaan sih lebai banget ini orang! Udah tungguin besok pagi depan pintu kos. Aku akan singgah. Kalau nggak lupa ya!" seloroh Sherly.
"Awas aja kalau lupa. Aku datangi ke tempat kerja kamu! Hahahahah!" ancamku setengah bercanda.
"Ih malas banget punya teman kayak begitu!" sahut Sherly. Hingga akhirnya kami mengakhiri percakapan sore itu.
***
Malam semakin larut. Tapi aku belum bisa memejamkan mata. Pikiran aku melayang entah kemana. Ditambah lagi, hati deg-degan tak karuan. Besok mau kerja di tempat yang baru.
"Woi tidur. Jam berapa ini. Sudah mau dini hari. Eh ini masih online. Besok bangun pagi. Jangan telat. Kan kamu hari pertama masuk kerja di kafe itu! Aku jam delapan pagi, sudah stay di rumah kamu. Awas aja kalau masih molor. Aku siram air. Biar tahu rasa!" tiba-tiba Sherly mengirim pesan itu ke chat aku.
Tapi, jujur aja, semakin aku berusaha memejamkan mata ini, justru aku nggak bisa tidur. Nggak sabaran mau jam 09.00 wib.
"Iyaaa. Lagi nggak bisa tidur. Deg-degan besok hari pertama aku kerja di kafe Moon. Semoga lancar ya semuanya." kataku, membalas chat Sherly.
"Amin....," ucap Sherly, mengamini perkataan aku.
"Besok kalau ketemu sama orang yang namanya Gita. Jangan banyak omong. Dia agak judes. Tegas. Salah dikit, dia lapor ke bos!" kata Sherly memberi info.
"Lihat dong foto Gita. Biar aku tahu orangnya yang mana. Jadi aku biar bisa antisipasi kalau kena marah dia.
"Antisipasi? Maksudnya gimana?" tanya Sherly bingung.
"Antisipasi itu ya sama dengan hati-hati." jelasku secara gamblang.
"O....ya udah. Mari kita tidur." ajak Sherly mengakhiri pembicaraan lewat chat, malam itu.
***
Sesuai janjinya. Sherly datang ke kosan aku, tepat waktu.
"Let's go!"
__ADS_1
Aku pun langsung naik ke boncengannya. Suasana pagi itu membawa aku pada suasana hati yang riang gembira.
"Bismillah semoga lancar." kataku ke Sherly.
"Amin," sahut Sherly masih dengan kecepatan laju motornya yang standart.
"Kita nggak usah buru-buru. Sarapan dulu ya. Masih ada waktu kan?" ajak Sherly.
"Seriusan ni. Aku juga sebenarnya lapar. Lagi pula kata bos kemarin kita masuk pagi jam sembilan kan?" kataku ingin kepastian ke Sherly.
"Iya seriusan. Makan paling nggak lama. Makan bentar aja langsung kita on the way ke kafe," sebut Sherly.
Aku, yang hanya sebagai penumpang, ikut aja apa kata Sherly.
"Sarapan lontong sayur di kedai Wak Dio ya kita?" katanya lagi.
"Oke!" jawabku.
***
Tak lama, aku dan Sherly sampai di warung lontong sayur Wak Dio. Laris banget jualannya. Karena, selain enak. Harganya juga murah meriah. Dijamin bikin nagih.
Hanya 15 menit kami sarapan. Sherly melirik jam tangannya, lalu mengajakku on the way ke kafe Moon.
"Galak kalau lagi dapat?!" jelas Sherly.
"Betul dikit penjelasan kamu itu. Cowok kan bosnya?" tanyaku penasaran.
"Hahahahah. Iya cowok. Udah tahu kan siapa nama bos ganteng kita itu?" ujar Sherly.
"Nggak. Siapa emang?"
"Gilang Perdana." sebut Sherly mantap.
"Dia masih bujangan. Nggak kawin-kawin. Katanya dia nunggu kamu!" seloroh Sherly, dan spontan aku menepuk pundak Sherly, karena becanda nggak jelas arah dan tujuannya.
*Bug!
Aku tepuk pundak Sherly dari belakang, dan dia spontan mengaduh kesakitan.
"Woi sakit tahu!" teriak Sherly seperti dibuat-buat.
__ADS_1
"Hahahaha. Cuma ditepuk gitu aja bilang sakit. Lebai tahu!" kataku.
Lima belas menit kemudian, aku dan Sherly tiba di tempat kerja. Masih jam 08.30 wib.
"Masih ada waktu 30 menitan. Buat dandan." sebut Sherly berbisik ke telingaku.
"Dandan?" Aku bingung.
"Kenapa harus dandan?" tanyaku masih bingung.
"Iya nanti kita diminta pakai seragam kerja. Terus yang cewek harus dandan secantik mungkin, tapi jangan menor! Ini kan kerja di kafe. Banyak orang kaya-kaya datang ke kafe ini. Jadi kita dituntut tampil cantik." jelas Sherly panjang lebar.
"Oooooo begitu?!" kataku baru paham apa tujuannya untuk dandan sebelum kerja.
"Tapi. Aku kan sudah cantik. Nggak perlu dandan." kataku dengan pedenya.
"Huekkk!" kata Sherly yang nyinyir.
"Kamu nggak liat. Kata orang aku mirip Ayu Ting Ting!" bisikku di telinga Sherly.
"Udah ah. Kita ke dalam. Bismillah dulu sebelum melangkah ke dalam." perintah Sherly, mengingatkan aku.
Masuk ke dalam kafe, aku digiring Sherly menuju ruangan khusus. Di atas pintu, terlihat ada tulisan ruang ganti. Di sana, aku melihat beberapa karyawan perempuan, asik mempersolek diri. Mereka berdandan dengan gaya dan style masing-masing.
Setiap karyawan perempuan, diminta berpakaian rok mini, di atas paha. Pakai kaos press body. Dandan harus cantik, dan wangi.
"Kumpul semua!" tiba-tiba ada perintah dari seorang perempuan bernama Fera, yang tak lain adalah tangan kanan bos Gilang.
"Malam ini kita akan kedatangan tamu, bos-bos besar, pengusaha yang ada di kota ini. Kalian, jaga sikap dan harus berikan pelayanan seramah mungkin?!" perintahnya.
"Siapa yang buat kesalahan fatal. Sanksinya akan dipecat malam ini juga?!" imbuhnya.
"Jadi ingat. Jaga sikap. Perkataan dan gunakan tata krama yang santun dalam memberikan pelayanan kepada setiap tamu!" tegasnya lagi.
"Khusus hari ini. Nggak ada yang bisa minta izin balik cepat. Kita akan bekerja sampai malam jam 01.00 wib. Untuk kerja keras kalian, bos akan memberikan bonus. Jangan khawatir. Paham kalian semua?"
Secara serentak, sepuluh orang karyawan dan juga karyawati itu, termasuk aku, menjawab, "paham."
"Oke kalau begitu laksanakan tugas dengan baik. Saya akan awasi kerja kalian, jangan ada yang buat kesalahan!"
***
__ADS_1
Pagi itu, hati aku memang benar-benar bahagia. Bahkan aku mengira ini adalah awal yang baik buat permulaan hidup aku, berkerja di kafe ini.
Aku dan Sherly, berlagak tak saling kenal saat berada di tempat kerja. Karena, di tempat kerja, dilarang ngobrol dengan sesama karyawan, jika tidak ada kepentingan yang berkaitan dengan pekerjaan.(***)