Nikah Sama Duda

Nikah Sama Duda
Dituduh Mencuri


__ADS_3

Hari yang ditunggu ibu, akhirnya tiba juga. Aku, terpaksa minta izin ke Ucok Baba, sehari nggak kerja. Karena, di rumah ada acara kedatangan tamu spesial ibu, Om Harry dan keluarga besarnya.


Belakangan, aku baru tahu, ternyata Om Harry masih bujangan. Tentu saja, aku meragukan kesetiaan dia ke ibu. Apalagi usianya dengan ibu, beda 5 tahun.  Ya....tepatnya dia adalah berondong.


Ah! Sudahlah. Itu bukan urusan aku. Mungkin, bersatunya mereka dalam sebuah ikatan pernikahan, tak lain karena didasari oleh cinta.


"Syukur, meski status Om Harry masih bujangan, tapi dia mencintai ibu, sepenuh hati. Om Harry menerima ibu apa adanya.  Meski ibu sudah punya tiga anak, Om Harry tak mempermasalahkannya.


Siang itu, suasana rumah aku begitu ramai dengan keluarga Om Harry. Mereka datang ke rumah, dengan suka cita, melamar ibu bermahar seperangkat alat sholat.


Ingin rasanya aku mengabarkan cerita tentang pernikahan ibu dengan Om Harry ini, ke Abang Gio dan Jaka. Tapi, pesan ibu, katanya tahan dulu, jangan cerita ke dua orang itu.


***


Malam ini, adalah hari pertama Om Harry jadi suami ibu. Rasanya, sejak dia tinggal di rumah ini, aku jadi nggak bebas. Tapi, mau bagaimana lagi. Semua sudah jadi keputusan ibu.


Hari-hari, aku lebih banyak mengurung diri di kamar, setelah balik dari kerja di warung Ucok Baba.


Sedangkan ibu, asik bercengkrama dengan Om Harry. Sepertinya, dunia saat ini adalah milik mereka berdua, dan aku, hanya ngekost di rumah sendiri. Hahahahaha!


"Reg. Sini Reg. Ngobrol sama Om Harry." teriak ibu dari ruang keluarga. Ya, mereka sedang asik ngobrol berdua. Nggak mungkin kalau aku mau gabung sama mereka.


"Reg........!" teriak ibu yang kedua kalinya.


"Sini......!" pintanya.


"Om Harry mau ngobrol sama kamu nih."


Aku nggak mau jawab dan nggak mau keluar dari kamar. Kupastikan tadi sudah aku kunci kamarku dari dalam. Lagi pula ini, sudah jam 23.00 wib. Mataku sudah lima Watt rasanya. Ngantuk berat. Besok harus bangun pagi. Jadi, harus berusaha tidur, meski sebenarnya belum nyaman, mau tidur.


***


Bangun pagi. Kulihat kamar ibu masih terkunci. Tak seperti biasanya. Pasti mereka masih tidur. Pengantin baru. Nggak mau ganggu mereka.


Padahal, biasanya ibu bangun jam 05.00 wib. Ini, sudah jam 07.00 wib.


Beberapa lama kemudian, saat jam dinding menunjukkan pukul 08.00 wib, ibu baru terbangun dari tidurnya.

__ADS_1


"Reg. Ibu masih ngantuk berat, ini. Belum buat sarapan. Nanti kamu beli nasi di luar saja ya sayang." kata ibu, masih terlihat malas-malasan. Mungkin, karena belum puas tidurnya.


"Iya ibu. Aman. Karena Regina juga lagi nggak ingin sarapan,"  jawabku.


Selesai mandi, dandan rapi lalu ke warung Ucok Baba. Dia memberikan kesempatan datang ke warungnya jam 08.30 wib, paling lambat. Tapi, aku berusaha jam 08.00 wib sudah stay di warungnya.


***


Di warung Ucok Baba, ditawarin sarapan sama nyonya Ucok Baba. Tapi aku lagi nggak mau sarapan. Terpaksa, aku tolak.


"Makasih nyonya. Tadi di rumah sudah sarapan nasi goreng," kataku terpaksa berbohong. Aku nggak terbiasa sarapan pagi, karena takut sakit perut.


Mendingan nggak usah sarapan, daripada time kerja, malah sakit perut.


Seperti biasa aku mengerjakan semua tugas-tugas harianku. Mengecek barang di rak, lalu merapikan barang yang berantakan. Melayani pembeli, adalah tugas utama aku di warung itu.


"Reg. Boleh kemari sebentar nggak. Om mau tanya sesuatu." kata Om Ucok Baba memintaku mendekat padanya.


Deg-degan juga rasanya. Pasti dia sudah sadar, kalau uangnya yang pernah tergeletak di meja belakang, hilang.


"Iya Om." aku pura-pura santai.


Aku hanya menggelenggkan kepala.


"Karena, di rumah ini hanya ada orang bertiga. Aku, istri aku, dan kamu," sebutnya.


*Deg! Mati aku kalau dia sampai tahu.


"Jujur ya. Istri aku sudah aku tanya berkali-kali dan aku minta juga dia bersumpah. Tapi, dia tetap saja mengatakan bahwa dia tidak mengambil uang itu. Jadi, tolong jujur saja sama Om," desak Om Ucok Baba padaku.


"Nggak Om. Regina nggak tahu," aku pun menangis, agar dia tak mendesakku terus-terusan, untuk mengakuinya.


Lagi pula, uang yang aku ambil itu juga sudah aku belikan untuk barang-barang kebutuhan aku. Pikirku, itu uang siapa. Pasti nggak dipakai sama pemiliknya. Sementara aku, butuh uang. Jadi, apa salahnya aku ambil saja uang itu.


"Lho kenapa kamu malah menangis, ditanyain soal uang itu?" tanyanya.


"Begini saja, kalau memang kamu sedang membutuhkan uang itu, Om nggak masalah. Tapi, kalau memang kamu nggak mau ngaku. Om akan laporkan kamu ke kantor polisi atas tuduhan pencurian uang sebesar Rp900 ribuan." ancam Om Ucok tak main-main.

__ADS_1


Aku masih saja nggak mau ngomong, malah masih terus menangis.


"Regina. Om tanya sekali lagi. Gimana, kamu masih nggak mau bicara soal uang itu? Kita selesaikan di kantor polisi aja gimana?"


Tangisku semakin pecah, dan Ucok Baba juga terus mendesakku berkali-kali.


Sejak kejadian itu, aku lebih memilih mengundurkan diri.


"Om Ucok. Regina berhenti saja ya. Mungkin tempat ini nggak cocok buat Regina bekerja." dengan wajah yang tertekuk.


"Eh enak saja kamu. Berhenti kerja, artinya kamu harus balikin uang itu dulu. Kalau nggak mau balikin, aku laporkan kamu ke kantor polisi." ancamnya serius.


"Jangan Om. Regina janji akan balikin uang itu secepatnya."


"Kapan!" bentaknya.


"Ternyata, cantik-cantik jadi pencuri. Aku sudah curiga, kamu pelaku yang ambil uang aku di meja belakang." tudingnya dengan jari telunjuk, ke arah muka aku.


"Aku beri kesempatan kamu dalam sebulan ini. Kalau sampai kamu nggak ada itikad baik untuk mengembalikan uang itu, aku laporkan kamu ke kantor polisi. Ingat itu!"


Di hari yang sama, setelah marah-marah sama aku, Ucok memberhentikan aku bekerja.


"Maaf. Istri aku nggak mau kamu bekerja disini lagi. Kalau memang kamu mau keluar. Silakan!"


Tanpa basa-basi, aku pun meninggalkan warung Ucok Baba, masih dengan air mata yang bercucuran.


***


Seperti biasa. Balik kerja aku langsung nyelonong ke kamar. Mataku terlihat sembab. Daripada ketahuan ibu. Lebih baik aku buru-buru masuk kamar.


"Reg......bantu ibu sebentar." Aku tak mau merespon,  meski panggilan ibu suaranya terdengar jelas dan kuat, dari arah dapur.


Ibu mengetuk pintu kamarku hingga berkali-kali. Lagi-lagi aku masih tak ingin muncul dari balik pintu kamar aku.


"Reg!" panggil ibu lagi sembari terus mengetuk pintu aku hingga berkali-kali.


"Mungkin dia tidur." ucap Om Harry, dan ibu pun menghentikan ketuk-ketuk pintunya.

__ADS_1


"Untung saja Om Harry bilang begitu. Jadinya ibu tak mau lanjutkan ketuk-ketuk pintunya. (***)


__ADS_2