Nikah Sama Duda

Nikah Sama Duda
Harus Rajin Menabung


__ADS_3

Sampai detik ini, usia aku 15 tahun, nggak pernah tahu apa sebabnya ibu cerai sama ayah.


Katanya, ayah sudah nggak sayang sama ibu. Jadinya, mereka memilih berpisah. Hingga akhirnya ibu memutuskan untuk pindah ke kota lain, kota yang saat ini kami diami.


Sebenarnya di keluarga aku, ada empat orang. Ibu, aku, Abang Gio, dan juga Abang Jaka. Bang Gio dan Bang Jaka, memilih merantau ke kota besar.


Entah kerja apa, yang pasti setiap bulan, ibu selalu tersenyum riang gembira setelah dapat uang bulanan dari keduanya.


Aku, adalah orang paling beruntung jadi saudara atau adik Bang Gio dan Bang Jaka. Karena, aku juga sering mencicipi uang hasil kerja abang-abang aku itu.


Mereka juga rutin ngasih uang jajan buat aku.


Pesan mereka berdua, aku diminta untuk menabung, meski hanya seribu dua ribu rupiah.


"Kalau bisa ditabung, ya uang yang Abang kirimin ini," yang suka cerewet soal itu, hanya Bang Gio.


Sedangkan Bang Jaka, paling sekedarnya saja, mengingatkan aku untuk menyimpan sebagian  uang yang kita miliki.


"Kamu nggak ingin beli mobil impian kamu?" Pertanyaan itu selalu dilontarkan Bang Gio kalau aku malas-malasan saat disuruh menabung.


"Nanti kan aku mau nikah sama cowok tajir. Ngapain nabung," jawab aku, becanda.


"Eh siapa yang mau sama cewek degil seperti kamu!" kata Bang Gio, suka nyinyir ke aku.


"Ada.....dong. Nanti aku cari ya. Kalau sudah ketemu, aku kenalin ke Bang Gio. Tunggu aja nanti. Regina buktikan, suatu hari nanti." kataku meyakinkan Bang Gio.


"Iya.....buktikan, coba! Aku mau lihat. Bisa nggak, kamu dapat cowok tajir." ungkapnya, menantang aku.


"Iya tunggu aja kabar dari aku." kataku lagi meyakinkan dia, dengan pede-nya.


"Kalau dapat cowok kere, miskin, hukumannya apa?!" tanyaku seolah menantangnya.


"Hukumannya aku ketawain aja siang malam!" jawab Bang Gio mantap.


Aku pun melepas tawa sesukaku.


"Hus..ketawa anak perempuan harus yang anggun. Jangan ketawa kayak preman pasar." kata Bang Gio selalu nyinyir ke aku.

__ADS_1


"Macem mana, ketawa dengan anggun. Ih aneh-aneh aja Abang Gio ini." sebutku protes.


Tak lama, kami pun mengakhiri percakapan lewat ponsel.


***


Pagi itu, waktu masih menunjukkan pukul 07.00 wib. Tapi, aku sudah terbangun. Meski seperti itu, aku rebahan lagi. Tanpa aku sadari, telepon aku terus berdering.


Saat kuterbangun, cepat-cepat kuraih ponsel aku.


Panggilan dari nomor tak dikenal. Tapi, bagi aku, siapa pun orang yang menelepon ke ponsel aku, meski aku nggak kenal, tetap aku angkat. Siapa tahu ada duda tajir salah sambung ke ponsel aku. Hahahahah!


"Woi masih molor pasti. Sudah jam 10.00  wib ini. Mana cowok tajir kamu itu?!" tanya seseorang. Nyawa aku, belum terkumpul seratus persen. Masih bingung mau ngomong apa, dengan orang di telepon itu.


"Woi ini Gio, Abang ganteng kamu!" katanya lagi.


Aku sebenarnya agak hafal suara lelaki dari balik telepon genggamku itu. Tapi, namanya bangun tidur, masih lupa-lupa ingat.


"Hmmm apaan sih tanya-tanya cowok. Baru mau nyari. Jangan tanya-tanya lagilah. Nanti kalau udah dapat, aku kirim ke Abang ya fotonya." janjiku pada Abang Gio. Abang Gio itu Abang yang paling usil. Kalau Abang Jaka, dia nggak banyak omong. Bahkan, ngomongnya dia juga seperlunya saja sama orang. Maklum, dia terlihat agak jaim.


"Udah ah masih ngantuk nih. Kirain mau ngasih duit, telepon aku, pagi-pagi. Eh tak tahunya zonk!" protesku.


"Tapi. Dengan satu syarat. Kalau dikasih duit. Harus ditabung sebagian. Jangan dibuat jajan semua ya," pesannya.


"Ihhh....iya iya. Cepet kirim sekarang. Banyak-banyak. Mau ke salon nih. Buat perawatan!" kataku manja.


"Ih masih kecil perawatan. Umur juga baru berapa. Lima belas tahun kan?"


"Mau creambath sama smoothing!" jelasku.


"Apaan smoothing?" tanya Abang Gio, penasaran.


"Ih.....capek tahu. Nanyak-nanyak terus. Cepet kirim uangnya sekarang, banyak-banyak ya! Udah ya mau lanjut tidur. Masih ngantuk ini!" kataku langsung kuakhiri percakapannya. Karena mata aku masih berat banget buat kebuka. Maklum, saban hari aku nggak bisa tidur cepat, alias begadang karena main game mobile legend.


*Kukirimkan secepatnya nomor rekeningku, ke Abang Gio.


"Yess! Lima menit kemudian ada notif SMS M-banking dari Mandiri. Masuk Pak Eko! Abang Gio kirim aku uang satu juta."

__ADS_1


Aku langsung loncat dari tempat tidur. Padahal, tadi mata aku berat banget diajak kebuka nggak mau. Maunya rebahan.


Sekalinya, dapat kiriman uang dari Abang Gio, tiba-tiba mata ini jadi ijo. Nggak jadi ngantuk berat. Hahahahaha!


"Udah. Cek aja! Ingat. Jangan boros. Ini aja Abang belum tahu kapan lagi bisa kirim uang ke Regina sama ibu. Tapi doakan Abang dapat rejeki selalu ya biar bisa kirim uang lagi ke Regina." kata Abang Gio lewat chat, panjang lebar.


"Iya Abang makasih ya. Regina mau mandi. Terus ke salon!" balasku.


"Hahahahhaah. Tadi katanya ngantuk. Ini, sekalinya udah dikasih duit, langsung mau kelayapan ke salon. Coba diam seminggu di rumah. Biar uangnya nggak habis," pesannya lagi, sudah kayak emak-emak, cerewetnya.


"Ihhhh....apaan sih! Tadi emang ngantuk. Sekarang udah nggak ngantuk lagi. By Abang Gio sayang. Makasih ya. Besok kirim lagi ya kalau uang aku habis!"


Aku pun segera mematikan ponselku. Bergegas menuju kamar mandi. Setelah itu mau ke salon langganan aku. Melakukan perawatan di salon langganan, aku  merasa nyaman dan betah. Apalagi karyawannya ramah-ramah saat memberikan pelayanan.


***


"Ibu.....aku mau pergi sebentar ya." pintaku ke ibu, minta izin.


"Kemana lagi!" teriaknya.


"Kamu nggak kerja?"


"Cuti, Bu. Tiga hari." jawabku.


"Hmmm. Udah kayak pegawai negeri aja.....pakai cuti segala. Awas. Kalau cuti, nggak usah main ke rumah tetangga. Nanti pasti jadi masalah, kalau kamu main ke rumah tetangga." pesan ibu mewanti-wanti aku.


"Iya, Bu. Sudah izin sama Ucok Baba, cutinya. Katanya boleh ambil cuti selama 3 hari. Tapi, dengan syarat, bersedia potong gaji. Tiga hari libur. Berarti potong gaji dua lima ribu kali tiga." jelasku detail.


"Sayang banget. Potongan banyak sekali itu. Sehari cuti, potong gaji dua puluh lima ribu rupiah!" sesal ibu, karena keputusan aku ambil cuti tiga hari.


***


Sampai di salon, Cece yang biasa menangani proses creambath rambut aku, langsung menyambut kedatangan aku dengan ramah.


"Lama nggak jumpa. Kemana aja Non!!" tanya Cece, mempersilahkan aku duduk di kursi putar salon, di depan kaca.


"Ini creambath Ce. Besok ke sini lagi tapi smoothing." kataku menjelaskan ke Cece salon.

__ADS_1


"Oke. Baiklah. Kalau begitu." jawabnya, sembari menyiapkan sejumlah peralatan buat creambath.(***)


__ADS_2