Nikah Sama Duda

Nikah Sama Duda
Hari Pertama Kerja


__ADS_3

Pagi-pagi jam 06.00 wib, aku sudah bangun. Tak pakai sarapan. Karena aku takut telat. Sebenarnya masih lama, masuk kerja jam 09.00 wib.


"He. Kamu mau kemana pagi-pagi sudah dandan cantik!" sergah ibu mengagetkan aku. Kontan saja langkahku yang keluar dari kamar, terhenti. Karena ibu tiba-tiba muncul di ambang pintu dapur.


"Kerja, masa ibu lupa semalam kan aku sudah interview. Interview nya lolos. Terus aku disuruh masuk kerja, hari ini, Bu." jelasku harap-harap cemas. Takut nggak boleh berangkat.


Ibu diam saja. Tapi aku lega. Saat aku melanjutkan langkahku menuju pintu ruang tamu, ibu diam saja.


"Awas balik kerja jangan kemana-mana!" pekiknya dan aku nggak menjawabnya. Karena sudah ada Sintia di depan yang menunggu aku.


"Cepetan dikit," kataku meminta Sintia mempercepat laju motornya.


"Kayak dikejar setan aja. Panik begitu." celetuk Sintia.


"Hampir aja aku nggak boleh pergi, tahu." ceritaku ke Sintia.


Dia malah mentertawakan aku.


Katanya, aku nggak pandai kasih alasan ke ibuku. Jadi, aku dilarang pergi.


"Kenapa nggak bilang aja kamu mau ketemuan sama duda tajir!" seloroh Sintia menggodaku.


"Ih apaan sih!?" sahutku sambil kudorong helm yang menempel di kepala Sintia.


"Eh ngomong- ngomong kamu udah maafin aku kan, yang kemarin?!'' tanyaku penasaran.


"Nggak!" tegas Sintia.


"Ih jahat dia."


"Hahahahaha. Iya udahlah. Udah aku maafin. Nanti siang traktir KFC ya," pintanya, menagih janji ke aku.


"Hmmm. Iya. Baiklah kalau begitu.''


Aku pun merasa bahagia. Karena bestie aku sudah memaafkan kesalahanku.


Tepat di depan Kafe Noname, Sintia menurunkan aku. Disana aku lihat mobil Pajero Sport milik Bos sudah terparkir di depan Kafe. Itu tandanya bos besar sudah datang.


"Selain ganteng dia juga rajin," batinku.


Debar jantungku semakin tak karuan saat Bos besar itu tiba-tiba muncul di hadapan aku.


Aku hanya menganggukkan kepala, tanpa kata. Tanda aku memberi hormat padanya. Sedangkan dia. Membalasnya dengan senyum tipis.


"Hmm ganteng kan Bos kamu itu," bisik Sintia di telingaku.


"Entah!" jawabku pura-pura acuh tak acuh.


"Eh ya udah. Jemput aku siang jam 12.00 wib waktu istirahat makan siang. Kita makan di KFC," kataku memberi angin segar ke Sintia.

__ADS_1


"Nah.....itu yang aku tunggu-tunggu. By," katanya sembari berlalu dari hadapanku. Kupandangi punggung Sintia beserta motor yang baru saja mengantarkan aku ke tempat kerja ini.


"Kamu anak baru ya!?" tanya perempuan muda itu sedikit sinis padaku.


"Iya Kak." jawabku dengan wajah ditekuk. Aku takut menatapnya. Bola matanya seolah  mau keluar dari kelopak matanya itu.


"Anak baru, nggak ada manja-manja selama training. Kalau nggak kuat. Silakan keluar dari kafe ini," tegasnya masih dengan nada sinis.


"Satu lagi. Anak baru, jangan berlagak sok kecantik'an di depan Bos. Jangan sampai juga, cari-cari muka. Kalau itu kamu lakukan. Tamatlah riwayatmu. Disini aku supervisornya. Kamu harus patuh dan taat dengan semua perintah aku."


Aku menganggukkan kepala.


"Baiklah Maklampir," kataku membatin dalam hati.


"Terakhir. Segala gerak gerik kamu disini diawasi cctv. Jadi kamu jangan macem-macem," pesannya dan setelah itu dia berlalu menuju ke ruangan kerjanya.


"Bismillah semoga hari pertama aku ini lancar," kataku sembari menangkupkan kedua telapak tangan aku ke wajah.


"Mana ponsel kamu. Selama jam kerja, aku sita." kata Mak Lampir muda itu,  muncul lagi di hadapan aku.  Padahal, kulihat  dia tadi sudah melenggang masuk ke ruang kerja dia.


Setelah kuserahkan ponselku. Dia pergi.


"Kamu harus kuat mental kalau sama kakak galak itu," bisik salah seorang cowok yang aku belum tahu siapa namanya.


Aku hanya menganggukkan kepala padanya.


Lalu dia memperkenalkan namanya, dengan mengajakku berjabat tangan.


"Nama yang keren," katanya memujiku.


Aku merasa biasa saja dengan pujiannya.


"He. Kerja. Ngapain kalian ngobrol kayak begitu!" spontan membuat Surya menjauh dari aku.


"Ya ampun Mak Lampir ini muncul-muncul terus dari tadi. Dia lebih awas dari cctv kayaknya, mengawasi gerak-gerikku. Heran aku."


"Sebentar lagi kafe buka. Jam 10.00 wib. Ingat kalian harus berikan service terbaik, senyum termanis dan sikap yang ramah, buat setiap  pelanggan yang datang."


Lagi-lagi Mak Lampir itu ngoceh nggak ada titik komanya.


Dengan suasana kerja seperti ini, rasanya aku nggak betah. Diawasi dengan ketat dan kaki tangan bos yang bicara kasar. Sama sekali nggak sesuai dengan harapan aku.


Aku menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan kasar.


"Semoga badai cepat berlalu."


***


Jam istirahat, yang aku tunggu-tunggu, akhirnya tiba. Saat kaki tangan bos besar itu menyerahkan ponselku, aku buru-buru menyalakannya. Karena aku

__ADS_1


"Sial. Ternyata tadi ponsel aku dimatikan sama Mak Lampir itu," rutukku kesal.


"Aduh ada panggilan masuk dari Sintia sampai 5 kali, di  WhatsApp saat ponselku dimatikan Mak Lampir itu.


Buru-buru aku menghubungi Sintia. Karena aku takut dia merajuk lagi. Bahaya.


*Tut.......Tut......Tut.....


"Woi coy dimana. Aku hubungi ponsel kamu nggak aktif," tanya Sintia yang memulai pembicaraan dulu dari balik ponsel genggamku ini.


"Iya sori. Tadi ponsel aku disita sama supervisor aku yang galaknya nggak ketulungan." kataku berusaha memberi penjelasan ke Sintia.


"Udah kayak anak sekolah aja. Main sita." sahut Sintia.


Tanpa banyak percakapan lagi. Sintia aku minta segera menjemput aku ke kafe.


"Cepetan ya. Jam istirahat aku cuma satu jam," kataku sembari menutup percakapan tadi.


Tak pakai lama, Sintia datang dalam hitungan tak sampai lima menit. Katanya posisi dia tak jauh dari kafe tempat aku bekerja.


Saat kulihat dia datang. Aku langsung menghambur ke boncengan motornya.


Dia pun bergegas melaju menuju KFC.


***


Tak terasa, sudah lima belas menit berlalu, saat aku dan Sintia sedang asik menikmati ayam KFC dan es krimnya yang super duper enak.


"Galak kayak Mak Lampir, supervisor aku." ceritaku pada Sintia.


"O ya?! Segalak aku nggak?!" selorohnya.


"Iya dia lebih galak dari kamu."


"Aku sendiri ragu, apa betah atau nggak ya aku kerja disana." ucapku sambil mengelap sisa makanan yang masih menempel di ujung bibir.


"Udah nggak usah banyak mikir. Ingat ingat aja kalau ada bos ganteng itu. Siapa tahu dia lama-lama naksir kamu! Hahahahah!" ujar Sintia menasehati aku.


"Ih apaan sih!"


"Dia udah ada bininya. Mampus aku kalau merebut dia dari bininya! Aku itu, targetnya nyari duda-duda tajir melintir. Biar kayak Nia Ramadhani. Dapat suami tajir, bisa keliling dunia. Happy-happy." kataku berkhayal.


"Hmmmm. Ngayalnya jangan terlalu tinggi. Nanti kalau jatuh, bisa bonyok pala lu." kata Sintia nyinyir.


Aku langsung berdiri. Menyeret Sintia. Memintanya mengantarkan aku ke kafe.


"Sin. Plis. Tolong antarkan aku sekarang. Bisa kena gorok aku sama supervisor aku itu kalau telat. Sepuluh menit lagi jam istirahat aku akan berakhir." kataku sambil menyeret tangan Sintia mendekati motor yang dia parkir di tempat parkiran kafe.


"Ih segitunya takut sama supervisor kamu itu. Lepas dulu. Sakit tahu kamu tarik seret gitu tangan aku." protes Sintia.

__ADS_1


"Iya. Maaf ya. Tolong cepat antarkan aku sekarang." pintaku setengah mendesaknya.


"Iya. Oke!" katanya dengan wajah bersungut-sungut.(***)


__ADS_2