Obsessi Tuan Billionaire

Obsessi Tuan Billionaire
Kenyataan


__ADS_3

...đŸ“¢ Gess, aku lupa nama ibu Luna saking lamanya menulis cerita ini, jadi kalau yang ingat ada di bab berapa aku menulisnya, koreksi saja biar aku revisi, dan untuk menyingkat waktu, sementara aku tulis dengan nama Diana saja yaa, cekidot...


...----------------...


Sepanjang perjalanan dari Bandung ke Jakarta, Kaesang tak menyeletukkan satu pun kata-kata.


Di sisi kanan dan kirinya Raden dan Alula mengapit tubuh pemuda tampan itu.


Kaesang merasa ia masih anak kecil yang tak mampu berkutik di bawah kuasa orang tuanya.


Kaesang telah gagal melindungi Luna kesayangannya. Bagaimana jika Mike menyakiti gadis itu?


Luna pasti berteriak ketakutan di bawah ancaman Mike, jujur Kaesang tak bisa membayangkan lebih jauh lagi.


Raganya di mana, pikirannya di mana, keduanya tak menyatu sinkron.


Terjadi apa-apa pada Luna, tentu itu ketakutan terbesarnya.


Kaesang tiba di Jakarta sedari sebelum subuh hari menjelang. Kamar yang kemarin terasa nyaman menjadi kurungan baginya.


Ponsel yang seharusnya dia jadikan sarana untuk menghubungi Luna, Rayden sudah menyitanya.


Pagi mulai mengudara, embun membulatkan wujudnya yang sejuk pada dedaunan tempatnya singgah.


Dari balik jendela kamar, Kaesang berdiri tertegun seperti pangeran yang merindukan calon permaisurinya.


Langkah kecil Alula yang memasuki ruangan, tak sedikitpun membuat Kaesang beringsut dari posisinya.


Alula meletakkan nampan berisi makanan pada meja putra pertamanya. "Sarapan dulu, dari semalam kamu belum makan," ujarnya.


Kaesang terdiam lalu Alula menatap satu pelayan di sisinya. "Kamu yang pastikan Kaes makan dengan lahap," titahnya.


Kaesang menoleh. "Tidak perlu repot-repot menyuruh pelayan, Kaes hanya akan makan bersama Luna saja."


"Kaesang," tukas Alula. Putranya ini seperti kesetanan, sudah tahu salah tapi tetap kekeuh dengan kesalahannya. "Kamu tahu kamu mengecewakan Mami?" tanyanya.


Kaesang menggeleng. "Sepanjang hidup, selama 21 tahun Kaes bernapas, Kaes selalu menuruti apa mau Mami, Mami mungkin lupa, tapi Kaes selalu ingat, dari pakaian, makanan, mainan, pergaulan, jurusan kuliah, bahkan pengawal dan pelayan semua yang Kaes jalani, itu atas kemauan Mami," ungkapnya.


"Sekali saja, sekali saja dalam hidup Kaesang, Kaes mau mengatur jalan Kaes sendiri, Kaes mau Luna yang menjadi teman hidup Kaes," imbuhnya berangsur lirih.


Alula mendekat satu langkah, tatapan matanya tak lepas dari wajah tampan putranya. "Dia sudah bersuami Kaes!"

__ADS_1


"Mereka akan segera bercerai!" potong Kaesang.


"Dah kau menjadi penyebabnya, begitu?" sambung Alula, kening pun terkerut keheranan.


Kaesang kembali menggeleng. "Luna hanya terpaksa menjadi istri Mike, dia punya alasan yang tidak mungkin Kaes jelaskan, tapi Kaes mohon Mami mengerti!" jelasnya. "Dia gadis baik-baik, Kaesang menginginkannya."


Alula tergelak kecil. "Kau tahu Kaesang, wanita yang mau diajak tinggal bersama lelaki yang bukan suaminya, dia bukan wanita baik-baik, sampai kapan pun, Mami tidak setuju dengan pilihan mu," putusnya.


"Sekerdil itu kah pemahaman Mami? Tinggal bersama tidak berarti melakukan hal yang tidak-tidak!"


Lama Alula terdiam memahami kondisi putranya, sebelum akhirnya ia tahu apa yang harus diungkapkan.


"Sebaik apa pun pandangan mu tentang dia. Ingat lagi perbedaan usia dan status kalian Kaesang, kamu masih perjaka, masih muda, sementara dia, wanita berusia matang yang sudah tercatat menikah," kata Alula.


"Ada Valerie yang lebih pantas untuk laki-laki muda seperti mu, karena terkadang menikah dengan yang seusia saja, kamu masih bisa mendapatkan kejenuhan di usia matang mu, apa lagi kalau kau memiliki istri yang usianya lebih tua darimu?" tambahnya.


"Percayalah, Mami cuma mau yang terbaik untuk mu," imbuhnya. Alula melangkah pergi setelah mengatakan itu.


Kaesang tergeming menatap punggung ibunda yang kian menghilang ditelan pintu kamarnya.


Antara keluarga dan kekasihnya kini menjadi dilema terberatnya.


...----------------...


Mike duduk terdiam di ujung sofa kamarnya, Luna dan Lira tidur di ranjang yang sama.


Semalaman Mike dibuat gelisah, pikirannya masih seputar istri tercintanya Lira dan istri muda yang masih menggairahkannya Luna.


Mike dilema, kenapa harus kembali terulang?


Satu jam lebih Mike terdiam dengan tempat dan posisi yang sama, sampai pada saatnya langkah kaki jenjang mematahkan keheningannya.


Mike menoleh pada wanita itu, rupanya Luna berdiri tegak menatapnya tegas.


"Aku titip Kakak, hari ini aku harus pulang ke rumah Mama, kita urus pernikahan tidak sah kita, aku perlu pengacara dan kesediaan mu mempermudah segalanya," ucap Luna.


Hening, Mike bungkam dari seribu bahasa yang bentrok di kepalanya. Luna yang sangat ia inginkan kini harus rela ia lepaskan.


Disebut tidak sah, karena pernikahan mereka tidak memenuhi rukun pernikahan.


Melihat kediaman Mike, Luna tak mau ambil pusing, segera ia keluar dari kamar hotel itu untuk kemudian pulang ke rumah ibunya di Jakarta.

__ADS_1


Dilihat dari sisi mana pun Mike tulus mencintai Lira, Luna percaya takkan pernah Mike menyakiti Lira walau Luna tak ada.


...----------------...


Luna sempat meminta pihak hotel untuk mengembalikan pakaian dompet dan ponsel yang tertinggal di kamar Kaesang.


Selama dalam pelarian, Luna tak memiliki banyak uang untuk kesehariannya.


Bahkan sampai detik ini pun Luna masih memakai fasilitas dari Kaesang. Kartu kredit, ATM, uang cash yang Kaesang berikan masih ia gunakan.


Walau ia sendiri masih belum yakin dengan cinta tak direstui ini. Kemungkinannya hanya ada satu yaitu perpisahan.


Perjalanan yang melelahkan telah Luna lakukan bersama taksi online, tiba pula ia di kediaman mewah ibunya.


Rumah minimalis yang hampir tak berubah dari zaman ke zaman. Mendapati suasana ini, tiba-tiba Luna merindukan masa kecil.


Masa-masa bahagia di mana ia berlarian bersama Lira diawasi almarhum Rizman sang ayah.


Kening terkerut tipis, sebuah mobil yang sangat ia kenal terparkir di halaman rumah ibunya.


"Lanie?" celetuknya. Bukankah mobil putih itu milik istri pertama Mike Lorenzo? Kenapa ada di halaman rumah ibunya?


Penasaran, kembali Luna memastikan nomor seri mobil itu. Tidak salah lagi Lanie memang memiliki plat nomor yang cukup unik dan mudah diingat.


Cemas, segera Luna berlari memasuki rumah sang ibunda, celingukan kepala Luna demi mencari tahu di mana dan untuk apa Lanie datang ke rumah ini?


Luna mengalihkan pandangan pada sofa ruang tengah, samar-samar terdengar percekcokan dua perempuan.


Dari balik dinding penyekat, Luna menyimak percakapan yang sepertinya cukup intens jika dilakukan oleh orang asing.


"Ini menyakitkan Ma."


Luna membesar bulatan matanya, baru saja Lanie menyebut ibunya Ma, apa dia tidak salah dengar? Seksama Luna menguping pembicaraan mereka.


"Malam tadi Lanie dapat bocoran, ternyata di hotel Bandung, Mike masih menyembunyikan Lira Ma," ucap Lanie. Luna menyaksikan betapa kecewa wajah Lanie pada ibunya.


"Dan Mama tahu, di sana juga ada Luna yang ternyata anak Mama juga!" pekik Lanie.


"Apa satu pelakor saja tidak cukup hah? Kenapa Mama harus mengutus satu anak lagi untuk menjadi perusak rumah tangga Lanie?"


Degup...

__ADS_1


Luna bergetar hebat, sebenarnya percakapan macam apa ini Tuhan? Kenapa Lanie bicara soal ini.


Diana menggeleng menangis. "Sumpah Lanie, Mama tidak tahu kalau Luna akan masuk ke kehidupan Mike dengan cara menikahi Mike, Mama sendiri tidak berpikir seperti itu," sanggahnya.


__ADS_2