
Dentuk sepatu heels tergema runtut di koridor Rumah Sakit. Berjalan tunggang langgang Lanie panik.
Satu jam lalu Monic dan Diana memberi kabar tentang Clay yang d rawat di Rumah Sakit.
Clay mengalami demam tinggi setelah kemarin Lanie tak pulang karena ada pekerjaan di luar kota.
Meski acap kali terpeleset, Lanie tak sedikit pun punya niat untuk memelankan laju larinya. Hingga, kecemasannya baru bisa mereda setelah melihat Clay baik-baik saja di pelukan Brian Anggara.
Mengatur napas, langkah Lanie terhenti. Dari ambang pintu kamar VVIP milik Clay, perempuan dewasa itu terpaku menatapi ranjang pasien yang diisi dua makhluk rupawan; Clay dan Brian.
Lanie mengembuskan napasnya. Setelah dua Minggu ini Brian tak datang, rupanya berita buruk Clay lah yang mampu membawa pria itu kembali.
Lanie mendekati ranjang, mengusap kening putranya. Sepertinya demam Clay sudah mereda setelah Brian datang membesuk.
Lanie tersenyum, wajah tampan dua laki-laki yang tertidur saling memeluk itu bagai pinang dibelah dua. Clay bisa dikatakan sembilan puluh sembilan persen sangat mirip dengan ayahnya.
Seakan tersihir oleh suasana hening yang tercipta, Lanie juga membawa tangannya menyentuh kening Brian, baru sekali usapan mata indah wanita itu mendelik dengan keterkejutannya.
"Aku tidak demam, Sayang."
"Kau mengagetkanku, Brian!" Lanie memukul kening lelaki itu.
Brian terkikik pelan, ada kerinduan yang bisa ia tangkap dari wajah kikuk Lanie. Seberapa pun ditutupinya, tetap akan kentara ketulusan hati seorang Lanie padanya.
"Tante merindukan aku?"
"Siapa bilang?" Demi tak terlihat rikuh, Lanie beringsut menjauhi Brian, ia lantas duduk di sofa dengan lirikan mata yang masih rajin mengawasi prianya.
Brian terkekeh, pria itu segera membetulkan posisi tidur Clay, sebelum turun dari ranjang tersebut. Langkah pelannya terayun menuju sofa yang diduduki oleh Lanie.
__ADS_1
"Besok, aku kembali ke California. Semoga kau lebih bahagia tanpa gangguan dariku.'
"Pergi?" Mendadak Lanie mendongak seolah protes, protes yang dibungkam pagutan basah pria itu.
Rindu, butuh, ingin, berhasrat. Cukup lama bibir keduanya tenggelam dalam rundung asmara, Brian mengurai jarak lalu menatap ringan ibu dari anaknya.
"Aku sudah putus dengan Clara. Kau juga tidak menyukai keberadaan ku. Tidak ada alasan bagiku tetap di sini. Aku Pergi. Aku titip Clay." Tidak semudah itu, karena Lanie tak membiarkan Brian beranjak dari tubuhnya.
Sekilas Brian melirik jaket yang membaluti dada bidangnya. Di sana dua tangan Lanie mencengkeram erat, seolah mengisyaratkan sebuah kata 'Jangan pergi darinya'.
"Kenapa?" Brian menurunkan bibirnya, dan menempel pada cuping telinga wanita itu.
"Mau minta berapa hari dariku? Sebelum kita berpisah lagi seperti kemarin," tawarnya.
Sepertinya Brian menyindir karena sebelumnya mereka sempat bersepakat untuk satu Minggu bersama lalu berpisah.
Tak banyak kata. Lanie membalasnya dengan merengkuh punggung Brian, menenggelam kan wajahnya tepat di ceruk leher prianya
"Jangan pergi." Dua kata yang diiringi eratnya pelukan wanita itu membuat seulas senyum manis Brian mengepak menang. "Di sini ada Clay, kau tidak malu?"
Lanie melerai pelukannya. Keduanya duduk berhadapan, saling menatap dengan dalam. Tak lama dari itu, pagutan hangat kembali beradu, tak bosan, masih merasa candu.
Brian mendongak pasrah ketika Lanie melangkah di atas pangkuannya. Tak perduli di mana tempatnya, selama Clay masih tertidur mereka masih boleh melepas rindu.
Lama mereka tak bersatu membaur peluh, kali terakhir di Norwegia, melakukannya sambil memandang buraian Aurora.
Kali ini entah lah, meski sudah mengeras Lanie belum mengizinkan pria itu membuka resletingnya. Tapi sebal, karena Lanie bergerak menggila di atasnya.
"Mau?" Brian menawarkan, dan Lanie hanya menggeleng sambil menyisir cuping telinganya dengan gigitan gigitan kecil.
__ADS_1
Geram, Brian meremas pinggang kekasihnya, membantu gerakan Lanie yang maju mundur di atas pangkuannya.
"Pinggang mu lebih berisi Yank." Sontak, Lanie terpaku kesal pada pria itu. "Kau mengolok ku?" Segera Lanie turun dari milik Brian.
Brian mendelik, ia lupa, wanita akan lebih sensitif jika sudah menyangkut bentuk tubuhnya. "Mmmh, mmmh..."
"Kau tahu. Aku gemukan semenjak hamil dan melahirkan anak mu!" Lanie tiba-tiba merutuk, moodnya anjlok seketika Brian menegur bentuk pinggangnya.
"Aku cuma bercanda, Sayang."
"Aku tahu, aku tidak seramping tunangan mu."
"Ya Tuhan, serius, aku cuma..."
"Dulu berat badan ku cuma 50 dan sekarang 57 tentu kau tidak sedang bercanda, aku tahu kamu merasakan perubahan ku," potong Lanie ketus.
"Belum sama sekali, kecuali kalau..." Brian mengusap bagian inti wanita dari luar rok span yang Lanie kenakan. "Apa pun yang ada padamu, aku menyukainya."
"Ekm." Brian dah Lanie menoleh kikuk. Segera mereka membetulkan penampilan masing-masing.
"Mike..." Rupanya Mike yang masuk tanpa mengetuk pintu dahulu.
"Gimana kabar Clay?" Pria itu melirik sekilas ke arah Brian. Lalu menatap Clay yang tertidur di ranjang pasiennya.
Kabar tak enak Clay membuat Mike segera datang. Namun, di sini ia justru dibuat tak enak oleh kekasih mantan istrinya.
"Sudah lebih baik." Lanie menerima buket bunga yang Mike sodorkan. Lalu, melirik Brian yang mendadak kecut.
Clay putra Brian dan Lanie kekasih Brian. Kenapa harus ada Mike diantara mereka. Bukankah ini sangat menyebalkan. "Clay punya ayah, tentu saja dia baik-baik saja," gerutunya.
__ADS_1
Lanie mendengus. Kekasihnya benar masih kanak-kanak. Lihatlah, mood Brian seketika turun setelah melihat Mike di sini. "Kalian mau minum?" tawar Lanie yang mencoba mencairkan suasana.
"Tidak." Keduanya kompak.