Obsessi Tuan Billionaire

Obsessi Tuan Billionaire
BC spesial Clay {Kanak-kanak}


__ADS_3

Butir-butir air yang mengalir dari sudut netranya, ikut mengiringi ayunan langkah kaki-kaki kecil Lanie. Dengan isak yang terdengar sesekali ia masuk ke dalam kamarnya.


Clay si tampan telah terlelap di atas ranjang berukuran super king; diawasi sang pengasuh tentu saja. "Buk..." sapa gadis itu.


Kebetulan pengasuh Clay masih berusia dua puluh tahunan. Masih sangat muda, sepantaran dengan kekasih Brian, kira-kira.


Lanie lagi-lagi teringat penggalan cerita di balik pintu tangga darurat. Ciuman Brian, wangi tubuh Brian, bahkan remasan geram pemuda itu masih terbayang rasanya.


Ahh, munafik kalau wanita tak merasa butuh sentuhan nikmat itu. Dia merindu saat lima panca inderanya saling merasakan sensasi luar biasa dari sentuhan erotika.


Mata yang dimanjakan oleh ketampanan prianya, hidung yang mengendus aroma seksi prianya, tangan yang meraba kerasnya dada bidang prianya, telinga yang mendengar desah berat prianya dan lidah yang mencecap manisnya pertukaran saliva mereka.


Belum lagi, ketika denyut jantung menjadi backsound romansa panasnya. Ahh Tuhan, bukan tak ingin, jujur Lanie merindukan kasih sayang seorang pria, terlebih belaiannya.


Hanya saja, ia takut kembali menjalani hubungan dengan kaum Adam. Rupanya, Mike berhasil menggores luka yang cukup dalam, hingga menyisakan trauma berat baginya.


Status mantan pelacur masih tersemat padanya. Dan dengan tidak sopannya, barusan Brian memintanya menjadi simpanan. "Brengsek!" batinnya mengumpat.


"Buk...," panggil gadis itu. Namanya Monic, pengasuh Clay terlihat bingung dengan raut wajah majikannya. "Ibuk kenapa? Sakit?"


Lanie menggeleng. "Tidak, tapi biar aku istirahat di sini. Kamu boleh berjalan jalan di sekitar sini, biar aku bersama putraku."


"Baik..." gadis itu mengangguk, lalu pergi. Membiarkan Lanie memeluk putranya, menangisi nasib yang menimpanya.


Nasib yang bisa dikatakan tak beruntung, dalam hidupnya ia selalu terbelit hubungan yang tidak cukup baik.


Dari mulai cara lahirnya ke dunia, caranya dibesarkan di panti asuhan, dan caranya dijual sampai memiliki suami Casanova yang tampan menyakitkan.


Seolah belum cukup derita itu, dia harus memiliki anak dari pemuda yang punya kuasa untuk bersikap arogan padanya. Lanie pikir, Brian yang menemani malam malam galaunya, hanya pemuda bayaran saja.


Andai saja Lanie tahu sedari awal, siapa dan darimana Brian berasal. Takkan pernah Lanie meminta Brian menghamilinya.


Walau nyatanya, hatinya juga terpaut pada pria tampan itu ... Yah, pria yang beberapa menit lalu mencium dan menyentuh dirinya. Lama ia tak merasakan gelenyar itu, Lanie jadi merindu.


...---------π---------...


Hari berganti, kali ini Brian duduk di tengah-tengah pengunjung salon.


Di depan cermin rias sana, Carla duduk menikmati treatment demi treatment yang ditawarkan outlet kecantikan tersebut.


Jaket jeans berwarna coklat pudar membalut kaos putih ketat Brian. Celana hitam dan sepatu sneaker putih juga mengamankan kaki panjangnya.


Majalah fashion yang dibolak balik itu, telah gagal membuat dirinya betah. Brian menilik jam tangan yang masih menunjuk lima sore.


Carla bilang treatment-nya akan selesai sampai pukul enam sore. Satu jam lagi saja, rasanya sudah sangat bosan.


"Brian pasti bosan La!" Gadis-gadis itu terkikik melirik ke arah Brian. Kebetulan, pemilik salon kecantikan yang memegang rambut Carla, masih teman SMA-nya.

__ADS_1


Dulu Brian terkenal badung, tukang tawuran, senior killer, dan sekarang, pemuda itu sudi menunggu Carla nyalon berjam-jam lamanya.


Baru dibicarakan, pemuda itu beranjak mendekati kursi Carla. Brian duduk di sisi kekasihnya, dan Carla menatapnya lewat pantulan cermin di depannya.


"Masih lama?"


"Satu jam lagi," sahut Carla.


"Kalau begitu. Aku ke toilet dulu." Brian pamit dan diangguki kekasihnya.


"Sayang." Brian lekas bangkit, kemudian urung pergi saat Carla memanggilnya kembali. Ia menatap wajah cantik Carla yang meminta kecupan di bibir.


Tak sulit, mengingat Brian yang sedang terburu-buru, maka dengan cepat pemuda itu menuruti kemauan kekasihnya. Dikecupnya bibir Carla, singkat.


"Jangan lama Yank..." pesan Carla. Brian hanya menjawab dengan bergumam kecil saja.


"Ciyeee, manis banget sih kalian." Teman Carla ikut terbawa perasaan melihat pasangan rupawan itu.


Carla tersenyum, dia bangga bisa memiliki kesempatan untuk menjadi kekasih Brian, yah... walau mungkin, tidak akan pernah terjadi jika tidak atas perjodohan template.


...---------π---------...


Brian berlari kecil, matanya awas mengamati wanita cantik berpakaian sundress, gaun dengan desain longgar, garis leher lebar, yang hadir dengan spaghetti strap, dan pastinya lebih ketat di bagian pinggang.


Benar, Lanie yang Brian ikuti saat ini. Brian memuji dalam sadar, jenis gaun itu cocok sekali di tubuh bak gitar spanyol mantan kekasihnya.


Satu yang membuat Brian kesal, beberapa saat yang lalu, Lanie terlihat melakukan cipika cipiki dengan seorang pria. Dikejarnya wanita itu, sampai turun ke parkiran basement.


Quick Quick....


Lanie menekan tombol di remote control mobilnya. Melihat itu, Brian menyelonong masuk dan duduk di kursi penumpang bagian depan.


Bersamaan dengan tertutupnya pintu, Lanie menoleh ke kiri. Matanya membulat, dirinya baru sadar, kalau ternyata langkah kakinya diikuti mantan kekasihnya; ayah dari putranya.


Ilustrasi dalam mobil...



"Bri!"


Brian tampak santai. "Siapa yang kau temui barusan? Kalian cipika cipiki? Apa pemuda itu kekasih barumu, Tante?"


"Bukan urusan mu!" Tudingan Brian memperlihatkan kecemburuan. Tapi, apa pedulinya? Mereka sudah bukan siapa-siapa.


"Keluar!" ketus Lanie.


"Aku tidak mau." Agar lebih intens, Brian mengikis jarak mereka dengan mencondongkan tubuhnya. "Aku mau di sini."

__ADS_1


Lanie tergelak. "Jadi begini kah kelakuan mu setelah hidup di luar negeri, Brian? Kau jadi kehilangan kesopanan mu!"


"Sudah kubilang, hanya aku yang mengenal mu, kau tidak sama sekali, karena hanya aku yang punya perasaan padamu."


Lanie terkekeh. "Jangan kekanak-kanakan!"


"Untuk urusan ini tidak!" Brian mengecup bibir wanita itu, menghirup aroma seksi leher itu, lalu turun ke bawah lagi mengenai dadanya.


Kali ini Lanie terdiam, membiarkan ulah pemudanya. Biar saja ia nikmati, untuk sekejap rasa yang tak boleh ia miliki.


"Brian ahh eugh..."


Brian mengangkat pandangannya, mulai menatap wanitanya dalam-dalam. "Kenapa diam saja? Tante masih menikmatinya kan?"


Lanie menggeleng pelan. Bukan soal nikmat ini, tapi, lebih kepada 'lelah terus berteriak sementara teriakannya tak digubris sedikit pun'.


"Kamu punya kekasih, Brian. Coba lebih setia padanya. Kalian cocok, dari usia juga kasta kalian sepantar, lupakan yang terjadi di antara kita, mulailah hidup barumu bersama kekasih mu."


"Kamu pikir semudah itu?" sela ketus Brian. Satu tahun sudah dirinya menuruti kemauan Lanie, satu diantaranya menerima perjodohan yang diatur keluarga besarnya.


Bukan melupakan Lanie, bahkan setelah sekian lama berusaha beralih dari wanita itu, dia masih menggilainya. Gila akan aromanya, sentuhannya, desahnya, semuanya masih meng-candunya.


"Ada Carla yang kemarin kau kenalkan ke semua orang."


Brian terkekeh kecut. "Kau yang buat aku mencari gadis lain kan? Sekarang, kau yang gantian menjadi simpanan ku."


Sekali lagi, Brian arahkan bibirnya pada setangkup rona merah wanita itu. Tangan kirinya, telah lancang menyelusup masuk ke dalam rok ketat Lanie.


"Jangan konyol!" Lanie menepis, dan kali ini ia sedikit meronta, perlakuan Brian sudah tidak bisa ditolerir. Namun, pemuda itu seolah tak peduli penolakan, Brian tetap memaksakan kehendaknya.


Tok tok tok...


Lanie menoleh. Di luar, pria tinggi berpakaian scurity mengetuk pintu kacanya. Tak ingin wajah Brian dilihat, Lanie menekan kepala pemuda itu untuk berbaring di atas pangkuannya.


"Iya Pak..." Lanie menurunkan jendela kacanya. Dan scurity itu tampak mencurigai mobil bergoyang-goyang miliknya.


"Anda tidak apa-apa, Nyonya?"


Lanie maklum, pasti scurity tersebut curiga karena melihat adanya ketidak harmonisan antara dirinya dan Brian. Bisa saja kan, pria di samping Lanie orang asing yang ingin berbuat jahat?


"Tidak," geleng Lanie menyengir. "Dia kekasih ku, Pak, biasalah, kami lama tidak bertemu, makanya sedikit tidak tahu tempat," kilahnya Lanie yang membuat Brian tersenyum.


Demi apa, rupanya Lanie masih begitu peduli padanya. Lihat saja, Lanie tak mau melihatnya mendapat masalah.


"Maaf ya Pak." Pak scurity pergi, setelah mendapat penjelasan Lanie.


Di atas pangkuan Lanie, Brian mengusap paha mulusnya, lalu mengecupnya. "Biar aku seperti ini, di sini," pintanya.

__ADS_1


Lanie mendengus, kasihan Clay; harus memiliki ayah yang bahkan masih bersikap kanak-kanak padanya.


__ADS_2