Obsessi Tuan Billionaire

Obsessi Tuan Billionaire
Meremehkan


__ADS_3

Beberapa bulan terakhir, Kaesang benar-benar tak memiliki kesempatan untuk keluar dari sangkar emasnya.


Dari sidang skripsi sampai rapat direksi, semua kegiatan itu harus dilakukan secara khusus di kediaman keluarga besar ayahnya.


Begitu mendapat kesempatan pergi dari Amas, Derry dan Virza, Kaesang membawa Luna lari.


Mungkin, saat ini orang-orang Rayden sedang kalang kabut mencari Tuan muda yang lepas dari pengawasan.


"Jadi kapan kalian bercerai? Aku mau cepat menikahi mu saja setelah itu."


Kaesang kembali memastikan hubungan Luna dan Mike.


Sejujurnya Kaesang sendiri tak peduli meski Mike masih berstatus suami Luna, Kaesang tetap akan menikahi gadis pujaannya.


Laut lepas lah arah ke mana manik hijau Kaesang menatap.


Luna menghela. "Dengan Mike, aku sudah tidak ada hubungan apa pun lagi, kau tahu Kaes, Kak Lira sudah mulai membaik dan dia sendiri yang meminta Mike mempermudah semua prosesnya," terangnya.


Kaesang menoleh pada Luna. "Jadi, sekarang kalian sudah bukan suami istri lagi kah?"


"Iya," angguk Luna. Kaesang tersenyum manis setelah itu. "Kalau begitu, secepatnya aku mau menikahi mu!" cetusnya.


Luna menggeleng. "Izin dulu Kaes, setelah orang tua mu setuju, baru aku terima lamaran mu," katanya.


Senyum Kaesang memudar. "Percuma saja, mereka tidak akan pernah mau menyetujuinya, aku yakin itu," sanggahnya.


"Kalau begitu jangan lanjutkan hubungan ini, karena tidak mudah melawan keluarga kaya raya seperti ayah mu," tutur Luna.

__ADS_1


"Kau hanya akan mendapatkan kesulitan saja Kaes, mungkin juga nama kamu akan dicoret dari daftar ahli warisnya."


"Aku tidak peduli," sela Kaesang. "Aku cuma butuh kamu Luna, cukup sudah aku menuruti semua kemauan mereka, sekali saja dalam seumur hidup, aku mau menuruti kemauan ku sendiri," imbuhnya.


"Aku bisa hidup sederhana dengan mu, asal memiliki mu, sudah cukup bagiku!"


"Hidup tidak semudah itu Kaes," ketus, Luna memotong ucapan kekasihnya. "Percayalah, Kamu nggak akan betah hidup di rumah yang sempit," tuturnya kembali.


"Kamu anak bangsawan, kau terbiasa dengan makanan mahal, gaya glamor, ruangan luxury yang luas, mobil mewah dan lain sebagainya, sementara aku tidak bisa menjamin kebahagiaan mu," lanjutnya.


"Bilang saja kau tidak mencintai ku," sergah Kaesang, tudingan matanya begitu menusuk hati Luna. "Kau tak pernah suka padaku!"


"Anggap saja begitu." Luna tahu betul, sikap kanak-kanak yang dimiliki Kaesang berasal dari kungkungan keluarga besar yang terlalu memanjakan pemuda itu.


"Kita diciptakan berbeda, dari latar belakang, prinsip dan lainnya, kita tidak cocok Kaes."


"Ough Shitz!" Rupanya orang orangnya telah datang bersama Rayden dan Alula.


"Kita lari dari sini!" Segera Kaesang meraih tangan Luna yang lalu menepisnya.


"Aku yang memanggil mereka, lebih baik kamu pulang saja Kaes, aku tidak bisa menerima lamaran mu."


"Lun!" Kaesang mendelik. "Gimana bisa kau mengkhianati ku?" tanyanya.


Amas, Virza dan Derry terpaksa mengapit kembali tubuh sang tuan muda. "Kita pulang Bos," ucapnya.


Luna tersenyum. "Semoga secepatnya kamu bisa melupakan semua obsessi mu padaku," ucapnya lalu pergi.

__ADS_1


"Luna!" Kaesang menggeleng. "Kalau kau menolak lamaran ku, kenapa kau membalas ciuman ku hah? Munafik!" umpatnya.


Rayden dan Alula semakin geram dengan tingkah laku putranya. Dini hari begini, Kaesang hanya mengenakan kaos singlet.


"Luna!" Semakin keras panggilan Kaesang, punggung Luna semakin menghilang dari pandangannya. "Argh, SIAL!"


"Lebih baik kita pulang Bos," tegur Virza.


"Aku tidak mau!" Kaesang meronta dari apitan tangan ke tiga asisten setianya.


Geram, Rayden mencetuskan kata-kata yang mungkin akan membuat Kaesang berubah pikiran.


"Selangkah lagi saja kau bergerak, jangan pernah berharap nama mu masih bertengger di daftar ahli waris ku," ancamnya.


"Pi!" Alula menegur. "Gimana bisa Papi bicara seperti itu?" herannya.


"Biar putra mu tahu, dia tanpa uang ku, bukan siapa-siapa!" caci maki Rayden.


Kaesang menatap ayahnya. "Aku bukan anak kecil lagi, aku tidak akan urung hanya karena Papi menghapus nama ku dari daftar ahli waris," ungkapnya.


Rayden terkekeh. "Kau yakin wanita mu akan menerima mu setelah miskin hmm?"


"Kita lihat saja nanti." Melangkah arogan, Kaesang menjauh dan berlalu dari hadapan semua orang.


Sempat anak buah Kaesang ingin mengejar, namun Rayden mencegahnya.


Alula bisa apa, selain hanya terdiam menatap berlalunya punggung bidang sang putra.

__ADS_1


Rayden menatap Virza. "Tetap awasi tuan muda mu, satu hari saja tanpa sepeserpun uang, anak manja itu pasti merengek minta pulang," katanya meremehkan.


__ADS_2